Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 21 : Kemarahan Raja yang Diremehkan



Kehidupanku sebagai seorang raja lumayan baik, aku bisa mengatur kerajaanku dengan bantuan Kazuo.


Orang yang ditunjuk untuk membantu Kazuo juga sudah datang. Namanya Baba, seorang ahli pedang yang dulu pernah mengabdi pada Kazuo di dalam klannya.


Aku bersyukur semua orang berusaha untuk meningkatkan kehidupan kerajaan yang baru berdiri ini.


➖➖➖➖➖


Sesuai janjiku pada kakakku kemarin soal menemaninya mengelilingi ibukota kerajaan, Sekarang akan aku tepati.


"Kak. Apa kamu masih mau aku temani mengelilingi ibukota?"


"Ya tentu. Aku jadi tidak sabar."


Diputuskan bahwa sesudah sarapan kami akan pergi ke ibukota.


Ketika kami sedang berada di pintu gerbang istana, kami berdua ditanya oleh para penjaga gerbang.


"Pagi Yang mulia, nona Kaori."


"Pagi, apa semuanya baik-baik saja?"


"Keadaannya baik-baik saja yang mulia.. Ngomong-ngomong Yang mulai bersama nona Kaori mau pergi kemana?"


"Aku hanya ingin menemani kakakku mengelilingi ibukota."


"Apa sebaiknya kami pergi mengawal yang mulia?"


"Tidak usah, kalian berjaga saja disini."


"Baiklah kalau itu yang mulia inginkan."


"Kami pergi dulu."


"Hati-hati yang mulia, Hati-hati nona Kaori." Para penjaga itu melambaikan tangannya pada kami dan kamipun membalasnya.


"Aku yakin rakyatmu akan bahagia memiliki raja sepertimu Shin."


"Hmm. Kuharap seperti itu." Aku menghela nafas menatap tanah.


"Kamu kenapa Shin?"


"Ya sebelum raja iblis itu dikalahkan, aku tidak bisa menjamin keamanan rakyatku."


"Tenang saja Shin, kamu pasti bisa kerena Dewa Semesta percaya padamu."


"Makasih kak."


Disaat hatiku sudah mulai tenang, kami berdua melanjutkan perjalanan kami mengelilingi ibukota.


"Shin. Ayo kita pergi kesana." Dia menunjuk toko roti.


"Bukannya kita baru selesai sarapan."


"Ini untuk cemilan, ayolah Shin." Sambil memohon dia juga menarik tanganku ke arah toko itu.


"Ba-baiklah. ayo..."


Kakakku akhirnya tersenyum dan kami berdua pergi ke toko roti itu.


"Ada yang bisa saya bantu tuan dan nyonya?"


"Kami ingin membeli roti ini, itu dan itu, oh jangan lupa itu juga masing-masing dua buah." Kakakku dengan semangat membara memilih apa saja yang dia inginkan.


Apa iya Dewi Cinta serakus ini, aku sama sekali tidak percaya.


"Ba-baiklah. ini semua, totalnya dua koin tembaga." Kata penjaga toko.


"Ini dua koin tembaga." Aku memberikan uang itu padanya.


"Saya terima." Saat dia mengambil uang itu dia juga menatap kami berdua.


"Apa kalian pengantin baru ya?"


"Hah... Pengantin baru!?" Aku sontak kaget mendengarnya. Bukan hanya aku, beberapa pengunjung yang menyadari siapa aku langsung terkejut.


"Apa kami terlihat seperti itu ya." Kakakku hanya tersenyum lebar mendengar itu.


"Aku mengatakan itu karena aku melihat kalian sangat harmonis seperti pengantin baru."


"Ti-tidak-tidak. Kami bukan pengantin baru." Aku langsung menyangkal perkataannya.


Saat aku bingung cara menjelaskannya. tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri kami.


"Apakah toko roti ini masih baru disini?"


"I-iya. Kami baru saja membuka cabang di kerajaan ini." Respon dia akan pertanyaan wanita tadi.


"Wajar saja kalau begitu." Dia memengang dagunya dan juga di iringi oleh anggukan beberapa pengunjung.


"E-emangnya kenapa?" Dia bingung akan pernyataan wanita yang ada di depannya.


"Bukan maksudku seperti itu tapi coba kamu liat apa yang ada di bajunya." Wanita itu menyuruh penjaga toko melihat apa yang ada di bajuku.


Ketika dia menatap apa yang ada di bajuku, dia hanya bingung bercampur kaget.


Dia menatap aku sebentar dan memalingkan wajahnya untuk melihat wanita tadi.


"Nyonya. Apakah itu....."


"Iya. itu adalah lambang Kerajaan Glory."


"Lambang kerajaan Glory!? Dan nyonya juga memilikinya?" Saat di tahu lambang apa itu dia juga bertanya pada Kaori tentang lambang yang juga ada di bajunya.


Kaori hanya tersenyum pada penjaga toko itu dan diiringi wanita tadi yang membuka mulutnya lagi.


"Dia adalah raja kerajaan Glory dan yang di sebelahnya itu adalah kakak dari raja." Katanya pada penjaga toko sambil memperkenalkan kami.


"Raja!? Ma-mafkan atas kelancangan saya Yang Mulia." Penjaga itu sangat panik saat tahu identitasku.


"Tidak apa-apa. Angkat kepalamu." Pintakku.


"Kalau begitu kami permisi dulu." Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan toko roti itu. Penjaga toko dan wanita tadi hanya menundukkan kepalanya saat kami berdua keluar dari toko.


"Hmmm. Benar-benar merepotkan menjadi raja."


"Kenapa Shin?"


"Ketika orang lain tahu identitas kita, sifat mereka akan langsung berubah pada kita, itu yang membuatku kesusahan."


"Hahah. Kamu memang adikku yang sangat baik Shin."


Aku hanya tersenyum akan pernyataan kakakku.


➖➖➖➖➖


Tanpa kami sadari ternyata kami sudah berjalan mengelilingi pertokoan sebanyak dua kali.


Perasaan kami hanya berputar-putar disini.


"Hei-hei. Disana ada orang yang berkelahi."


"Ayo kita lihat."


Saat kami mendengar perkataan orang-orang disekitarku, aku langsung berlari bersama Kakakku ke arah suara itu.


Ketika kami tiba di tempat itu, kami melihat tiga orang dikeroyok sepuluh orang yang aku tebak mereka semua adalah petualang.


"Apa salah kami?"


"Salah kalian? Salah kalian itu adalah kalian sudah mengambil jatah guest kami di guild."


"Tapi kami dulu yang mendapatkannya."


"Emangnya kalian bisa membunuh bayi bahemoth itu." Bentaknya pada mereka bertiga.


"Kami akan berusaha."


"Berisik. Tidak mungkin kalian bertiga mampu membunuhnya, kalian hanya membuang nyawa saja ke sana."


"Kami pasti bisa. Raja Glory adalah contohnya, dia bisa membunuh dua ribu bahemoth seorang diri." Dia sekarang membawaku juga sebagai contohnya.


"Omong kosong. Kalian semua telah ditipu oleh raja licik ini."


"Apa maksudmu?"


"Mana mungkin manusia bisa membunuh bahemoth sebanyak itu, itu hanya berita bohong."


"Tidak mungkin raja kami seperti itu. Aku akan membuatmu menarik kata-katamu lagi pada raja kami."


Dia bersama dua temannya mulai menyerang dengan seluruh kekuatan yang dimiliki tapi apa daya mereka kalah jumlah dan akhirnya kalah.


Saat dia kesakitan di tanah, orang itu berjalan kearahnya dan menginjak perutnya yang terluka dan itu membuatnya menjerit kesakitan, dia hanya tertawa melihat lawannya tidak berdaya dan berkata.


"Tidak mungkin apanya, dia sebenarnya hanya menginginkan putri-putri kerajaan itu untuk dirinya sendiri... Kalau aku bisa membunuhnya, aku akan dapat memiliki semua gadis itu untuku sendiri. Aku akan sangat puas dilayani mer__"


"Aughhht." Mereka bersepuluh terutama orang yang mempunyai mulut iblis itu langsung terhempas ke dinding rumah.


"Si-siapa itu? Berani-beraninya dia membuat petualang peringkat perunggu terluka begini, aku akan membuatnya membayar dengan nyawanya."


Saat dia mulai mencari-cari siapa orangnya, yang dia lihat malah Hydra, Harimau putih, Burung api, Kura-kura hitam dan Naga biru di depan matanya dalam bentuk asli mereka.


"Apa-apaan binatang ini."


"Benar. Mereka adalah hewan panggilan yang mulia."


"Kau benar. Apa yang mulia mendengar apa yang dikatakan mereka tadi."


"Raja pasti mendengarnya."


"Kalau begitu habislah dia."


Para penduduk hanya bergumam diantara mereka sendiri sambil melihat kaisar dan empat raja surgawi di depan mereka.


Orang yang tadi ngomong sombong itu sekarang hanya dapat diam menatap para surgawi yang juga menatap tajam kearahnya.


"Apa maksud dari perkataanmu tadi, tuan." Kataku sambil berjalan bersama kakakku dari belakang kerumunan itu ke tengah. Saat orang-orang mendengar suaraku mereka langsung memberiku jalan.


"Bukannya itu Yang Mulia."


"Benar. Berarti dari tadi Yang Mulia mendengar seluruh perkataannya."


"Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padanya."


Ketika aku sampai di depan orang itu dan kaori berdiri di antara raja surgawi. aku langsung bertanya lagi padanya.


"Saya ulangi lagi. Apa maksud perkataanmu tadi tuan?"


"Anuu.... Aku....." Perkataannya yang diiringi rasa ketakutan besar mulai membuatnya tak berdaya.


Di saat dia masih ketakutan, Haku angkat bicara.


"Kami tidak akan membiarkan manusia dapat hidup dengan tenang setelah menghina tuan kami dan istrinya."


"Benar. Tidak akan semudah itu untuk lari dari kami."


"Kamu telah membuat kesalahan besar wahai manusia."


"Kau sudah membuat kami marah."


"Apa yang harus aku lakukan padamu sekarang."


Haku, Kaku, Kougyoku, Kaitur dan Luli juga ikut mengancam dia.


Setelah mendengar semua ancaman dari para raja surgawi, orang yang ada di hadapanku ketakutan setengah mati.


"Aku tidak akan membunuhmu karena telah merendahkanku."


Dia mulai memberanikan diri untuk menatapku ketika aku mangatakan itu padanya.


Sepertinya dia sudah sedikit tenang, aku juga tidak bisa membunuh orang sembarang.


"Tapi. Aku tidak mau melihatmu lagi di kerajaan ini, ingat ini. Aku dapat menerimanya kalau kamu berniat membunuhku, tapi aku tidak akan memaafkan siapa saja di dunia ini yang berani mengganggu rakyat dan tunanganku, mereka semua adalah keluargaku jadi jangan coba-coba melukainya."


Dia mulai menganguk dengan cepat sampai-sampai membuatnya mengompol.


"Kalau seandainya saya mendapat kabar lagi kamu membuat ulah pada rakyatku apalagi tunanganku, aku akan mencarimu sampai ujung dunia sekalipun. ingat itu baik-baik."


"Y-y-ya. Sa-saya mengerti."


"Kaku."


"Ya tuanku." Kaku berjalan selangkah ke arahku.


"Tolong kamu dan bawahanmu temani dia bersama teman-temannya keluar dari kerajaan."


"Baiklah tuanku."


Kaku dan delapan harimau emas lainnya langsung menuntun mereka semua ke arah perbatasan kerajaan.


Aku berharap tidak ada lagi orang-orang yang seperti itu di dunia ini.


Aku berjalan ke arah kakakku yang masih berdiri bersama para surgawi lainnya.


"Merepotkan sekali."


Dia hanya tersenyum lembut menatapku.


"Apa ada yang salah dariku kak?"


"Tidak. Aku hanya sangat senang bisa melihatmu membela rakyat dan tunanganmu Shin."


"Aku hanya reflek melakukan itu."


"Tapi tetap saja kamu anak yang baik."


Aku yang masih menatap kakakku yang terus tersenyum terkejut oleh suara dari belakangku.


"Anu..."


"Hah..."


"Maaf telah membuatmu terkejut Yang Mulia."


"Tidak apa-apa.... Oh maaf aku lupa menyembuhkan kalian."


Rapalan mantra [Recovery] langsung menyembuhkan luka mereka dan mantra [Refres] juga memulihkan kekuatan mereka yang hilang tadi.


"Te-terima kasih Yang Mulia." Mereka bertiga langsung menundukkan kepala kepadaku.


"Angkat kepala kalian. Itu bukan masalah buatku."


Ketika mereka bertiga mengangkat kepala, aku sedikit merasa asing dengan wajah mereka bertiga.


"Apa kalian bukan berasal dari sini?"


"K-kami dari kerajaan Westor dan baru saja pindah kesini."


"Westor? Kenapa kalian memilih pindah kesini?"


"Kami bertiga dulu adalah petualang di sana namun rumah kami di bakar oleh orang tidak dikenal, saat kami bingung harus tinggal dimana karena kami juga tidak memiliki uang, ada sekelompok orang yang lewat dan mengatakan kalau mereka akan pindah ke kerajaan Glory. Karena itu kami memutuskan untuk ikut juga tinggal disini."


"Hmmm. Seperti itu ya, dan apa kalian senang tinggal disini?"


"Kami sangat senang bisa tinggal disini, penduduknya sangat baik Yang Mulia."


"Syukurlah."


Sepertinya tidak akan beredar rumor "Hei, kerajaan Glory itu adalah tempat yang buruk, jangan kesana." Syukurlah kalau begitu.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya, semoga kita bertemu lagi."


"Hati-hati yang mulia."


➖➖➖➖➖


"Memang tidak salah dewa semesta membawamu kesini Shin."


"Ya. Aku juga bersyukur dapat hidup kembali."


"Seandainya Dewa Semesta tidak sengaja menjatuhkan petir mungkin kita tidak akan bertemu."


"Hah....!? Tolong jangan ungkit-ungkit itu lagi dong." Aku langsung memegang kepalaku untuk menghilangkan pikiran itu.


Aku sama sekali tidak mau mengingat bagaimana caraku mati di sana, itu tidak lucu sama sekali.


"Baiklah. Aku tidak akan membahasnya lagi."


"Terima kasih..... Sekarang kakak mau kemana biar aku temani."


"Hmmm. Kemana ya? Sepertinya kita sebaiknya pulang saja, sebentar lagi makan siang pasti tunanganmu sedang menunggu kita."


"Ya. Baiklah."


Kami berdua memilih pulang ke istana atas permintaan kakakku.


Sepertinya itu hanya alasannya, aku bisa mendengar suara cacing di dalam perutnya yang sudah berperang hebat.


"Aku tahu kamu sedang memikirkan hal yang tidak sopan Shin." Katanya sambil mencubit pipiku.


"S-sakit." Aku langsung memegang pipiku yang memerah akibat cubitan nya.


Hah... Pipiku akan meninggalkan bekas permanen kalau aku mengalami hal seperti ini terus.


➖➖➖➖➖


Saat kami tiba di istana, kami berdua di sambut oleh para tunanganku yang sudah menunggu kepulangan kami dari tadi.


"Kami pulang."


"Selamat datang." Saat mereka serentak menjawab salamku, mata mereka langsung tertuju pada pergelangan tanganku yang di peluk oleh tangan Kakakku.


"I-ini tidak seperti yang kali__"


...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...


...Like...


...Komen...


...Vote...


...Salam hangat dari My Glory...