Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 84 : Pengakuan Raja Muda



Tiga hari setelah pertemuan darurat Kerajaan Glory, yang membahas berbagai hal mengenai masalah penyerbuan Zombie. Atau begitulah Kerajaan menyebut mereka.


"Shin, sudah tiga hari kamu tidak pulang kesini?"


"Maaf."


"Apakah masalahnya memang seserius itu, sampai-sampai kamu sendiri yang harus turun tangan."


Saat ini diruangan kerjaku, aku dan para gadis sedang berada di dalam mode canggung.


Situasi canggung ini memang seharusnya tidak terjadi. Tetapi semua itu mulai terjadi setelah aku bersantai untuk menenangkan diri


Bersantai memang tidak masalah. Tapi saat itu tanpa kusadari ternyata para gadis mengetahui kedatanganku di tengah malam dan mereka semua memasuki kamarku disaat aku tertidur.


Kejadian yang tidak diharapkan memang tidak terjadi, tapi dipagi harinya keadaan jantungku semakin memburuk saat menatap keselilingku yang dipenuhi oleh lautan gadis yang memakai piyama.


Piyama yang mereka pakai juga terbilang cukup berani, dibilang berani karena piyama itu terkesan agak transparan. Aku bahkan bisa melihat dan mengetahui warna apa yang sedang mereka pakai satu per satu.


Tidak hanya itu. Para gadis tidur dengan pulasnya disekelilingku. Aku awalnya bertanya kenapa tempat tidurku berukuran lebih besar dari yang lainnya. Tetapi sekarang aku mengetahui penyebabnya.


Memang benar saat pertama kali istana berdiri. Mereka mengusulkan untuk aku memakai tempat tidur yang lebih besar, tetapi aku menolaknya.


"Hmm. Tidak ada yang perlu diperhatikan. Semuanya baik-baik saja."


Aku mengatakan kalimat itu dengan senyuman, tapi setulus apapun senyumanku, hatiku masih gelisah saat memikirkan apa yang terjadi semalam.


Mungkin bukan hanya aku saja yang gelisah. Para gadis juga. Itu dapat aku ketahui dari telinga mereka yang masih memerah, tapi aku berpura-pura tidak melihatnya.


"Shin. Lebih baik kamu katakan saja apa yang terjadi pada mereka." Leen yang bersandar di dekat pintu masuk memberikan sebuah saran.


Leen yang sudah lama tidak kelihatan di Istana tiba-tiba muncul. Aku awalnya heran. Tetapi menurut penuturannya, dia menghabiskan waktunya untuk mengurus berbagai keperluan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai duta Halman.


Dan sekarang. Karena dia mengatakan kalimat itu, itu berarti kalau Leen sudah mengetahui apa yang terjadi.


"Apa yang dikatakan Leen, Shin." Ujar Hana.


"Kenapa kami tidak tahu apa pun." Sambung Kyou.


"Itu benar, setiap kami ingin pergi ke luar istana, selalu saja dihalangi oleh Lain ataupun Ksatria lain."


"Setiap kami ingin bertanya kepadanya, Lain selalu berusaha untuk mengubah topik."


Kalimat yang diucapkan Miku dan Hilda langsung membungkam mulutku. Aku sadar kalau aku tidak memiliki hak untuk menyangkal hal itu, jadi aku memilih untuk diam.


Tapi sikap diamku menambah kemarahan mereka akan apa yang sebenarnya aku sembunyikan dari mereka.


Memang awalnya aku ingin memberitahukan masalah yang menimpa Kerajaan kepada mereka, tetapi karena aku tidak pulang selama tiga hari, aku jadi lupa untuk memberitahukan mereka. Lain juga tidak mempunyai hak untuk buka suara, jadi tidak ada yang berani memberitahukan mereka.


"Shin?"


Satu kata dari para gadis menyentakkan kepalaku yang dari tadi terus menatap lantai.


"Dari raut wajahmu saja kami sudah tahu kalau masalah ini sangat buruk, bahkan untukmu. Tapi kami semua juga tidak mau kalau hanya kamu saja yang menanggung semuanya, Shin."


Saat mendengar perkataan Miku, aku secara sadar memutar kepalaku untuk menatap semua gadis yang duduk sejajar di hadapanku.


Disaat aku melihat mereka. Yang dapat aku lihat dari wajah mereka hanyalah sebuah senyuman tulus tanpa memiliki maksud apapun dibaliknya.


"Huhh Baiklah."


Aku juga menatap Leen yang berdiri di belakang para gadis. Sebenarnya aku berniat untuk memintanya keluar sebentar, tetapi aku mengurungkan niat tersebut. Bagaimanapun Leen adalah gadis baik, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Miku.


"Sebenarnya Kerajaan sedang berada dalam masalah benar."


"Masalah apa itu?" Tanya Airi.


Aku berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Airi.


"Beberapa hari yang lalu. Sesuatu yang aneh terjadi di ibukota. Mendadak saja beberapa penduduk ibukota bertingkah layaknya zombie."


"Zombie?"


"Ya. Begitulah kami menyebutnya."


"Tapi kalau hanya beberapa saja, kenapa wajahmu itu terlihat sangat khawatir?"


"Awalnya memang hanya beberapa orang. Tetapi lama kelamaan, itu menyebar dan menyebabkan penduduk lain juga mulai bertingkah aneh."


"Menyebar ya. Tu-tunggu. Apa yang kamu maksudkan?"


Kalimat Ryou terhenti saat dia merasa kalau dirinya menyadari sesuatu.


Sambil meletakkan kedua sikuku di atas lututku, aku menjawabnya.


"Ya. Semua penduduk ibukota tertular."


Dari kalimat pendekku saja sudah menjelaskan semua hal yang aku sembunyikan selama ini. Aku juga melihat ekspresi para gadis yang mulai menegang.


Ini memang merupakan kesempatan langka saat melihat ekspresi para gadis, tapi aku tidak dapat memikirkan hal tersebut untuk sekarang.


"Jadi itu penyebab kepanikan Ksatria istana ya?"


Aku hanya mengangguk saat menjawab pertanyaan Chika.


"Hanya beberapa orang yang tidak tertular. Tapi selebihnya." Kalimatku terhenti disitu, tapi aku yakin kalau para gadis sudah mengerti apa yang aku maksudkan.


"Hancur. Perkelahian antar penduduk menyebabkan kehancuran dimana-mana."


Perkelahian antar manusia biasa memang tidak akan bisa menghancurkan bangunan. Tetapi di ibukota, yang bertarung bukan hanya penduduk biasa, tetapi juga petualang. Bahkan hanya dengan petualang peringkat rendah saja sudah cukup untuk menghancurkan beberapa bangunan.


Tapi apa yang membuat semua orang bingung adalah fakta bahwa ada beberapa orang petualang yang tidak mengalami perubahan. Faktor yang menentukannya itulah yang membuat semua orang bertanya-tanya.


"Jadi itu ya."


Sekarang para gadis tidak dapat lagi menyembunyikan kekhawatiran mereka akan situasi saat ini. Melihat dari reaksi wajah mereka, dapat disimpulkan kalau mereka semua merasa bersalah karena membiarkanku menanggung semuanya sendirian.


Dilain sisi, aku sedikit merasa lega karena apa yang aku sembunyikan dari semua orang tidak ada dalam pertanyaan mereka.


"Shin. Apa kamu menyembunyikan hal lain dari kami?"


Tapi, sepertinya keberuntungan tidak berpihak padaku. Hal lain yang aku sembunyikan malah disadari oleh Miku itu sendiri.


"Hanya itu yang aku sembunyikan, tidak ada hal lain lagi."


Melihat tingkah anehku membuat para gadis mulai menyipitkan matanya dan menatapku.


"Miku benar. Aku merasakan kalau ada hal lain yang kamu sembunyikan dari kami."


"Dan melihat dari tingkahmu. Sepertinya ini masalah yang lebih serius dari masalah penduduk."


Tebakan mereka entah kenapa selalu tepat kalau menyangkut diriku sih.


Yang dapat aku pikirkan dari penyebab tebakan mereka yang selalu benar hanyalah karena mereka selalu berada di sekitarku selama hampir setahun.


"Shin. Katakan pada kami apa yang terjadi padamu?" Airi mengatakan itu sambil memegangi tanganku.


Kehangatan dari tangan Airi menyebar ke seluruh telapak tanganku. Aku bahkan dapat merasakan kelembutan seorang gadis hanya dengan menyentuh tangannya saja.


Apa ini yang dinamakan kekuatan seorang gadis.


Ya. Bagaimanapun cepat atau lambat hal ini akan terbongkar juga, jadi lebih baik aku katakan saja sekarang.


"Huhhh. Ok."


Wajah para gadis mulai menunjukkan kalau mereka semua siap untuk mendengarkan apapun yang aku katakan. Airi yang masih memegangi tanganku juga terus menatapku.


"Tepat setelah insiden zombie. Entah kenapa, sihirku tiba-tiba saja melemah."


"Melemah. Apa karena itu aku tidak melihat satupun binatang surgawi."


"Oh ya. Aku juga tidak melihat kakak, Shin. Kemana mereka?"


"Aku juga tidak tahu. Terakhir kali mereka menghubungiku, itu tepat ketika aku tiba di ibukota. Setelah itu, aku belum mendapat panggilan dan aku juga tidak bisa menghubungi mereka."


Ekspresi cemas menyebar ke seluruh wajah para gadis. Apa yang membuat mereka khawatir adalah fakta kalau sihirku yang melemah dan keberadaan kakakku yang pergi entah kemana.


Para gadis memang sudah mengetahui kalau aku bukan berasal dari dunia ini. Mereka juga mengetahui kalau ketiga kakakku bukanlah kakak kandungku, tetapi mereka tidak mengetahui kalau ketiganya adalah Dewa. Karena itu mereka merasa cemas.


Aku yang mengetahui kalau mereka itu Dewi tidak dapat memikirkan faktor yang akan membahayakan mereka. Tetapi, melihat dari nada suara mereka yang sedikit panik. Itu membuat perasaanku campur aduk.


Apa mereka di alam Dewa ya.


Tidak dapat aku pikirkan mengapa ketika Dewi itu keliatan panik, faktor apa yang membuat seorang Dewi bisa panik itu yang masih aku pikirkan.


Belum selesai berpikir, mendadak saja dadaku merasakan sakit yang luar biasa.


Brukk


"Shin?"


Saat sakit di dada itu menggoyahkan keseimbangan tubuhku, aku akhirnya tumbang tanpa banyak perlawanan.


Mataku masih bisa melihat walaupun hanya sedikit, jadi aku memusatkan penglihatanku untuk melihat ke sekeliling.


Dapat aku lihat wajah panik para gadis saat mereka menghampiriku yang telah terbaring lemah di lantai. Tapi sayangnya aku tidak bisa mengatakan apapun kepada mereka.


Dan diakhir kesadaranku yang mulai memudar, aku mendengar beberapa langkah kaki dari balik pintu.


Ksatria ya. Baguslah.


Gumamanku mengakhiri kesadaran yang berusaha aku pertahankan.


➖➖➖➖➖


"Yang Mulia??"


Seorang Ksatria berlarian menuju ke arah Rajanya yang tengah duduk di atas tahtanya.


"Ada apa. Kenapa kamu berlarian?"


Raja yang melihatnya hanya dapat bertanya-tanya.


"Ma-maafkan saya, Yang Mulia. Tapi ada masalah darurat." Ujar Ksatria dengan suara berat karena kelelahan.


"Masalah apa yang bisa membuatmu berlarian kesini. Mengamati situasi saat ini, tidak ada masalah darurat yang terjadi." Perdana Menteri yang berdiri di samping Rajanya bertanya dengan suara seriusnya.


Ksatria itu tahu apa yang dimaksudkan oleh Perdana Menteri, tapi saat ini yang dia maksudkan bukanlah masalah itu.