Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 10 : Akhir dari Pertemuan



Setelah keputusan yang telah di tetapkan oleh Kaisar dan Raja, aku di panggil lagi ke ruangan itu.


Apa yang akan mereka katakan padaku. Kuharap bukan sesuatu yang menyusahkan.


Tidak hanya aku. Miku dan Tuan Putri Hana dan Tuan Putri Airi juga kembali setelah mereka berbicara bertiga.


Setelah melihat semua orang sudah hadir, Kaisar akhirnya membuka mulut.


"Baiklah, semuanya sudah hadir disini."


"Kalau begitu kita mulai saja... Pertama aku dan juga Raja sudah selesai membuat perjanjian perdamaian antara Gardio dan Strom."


Syukurlah kalau perdamaian antara Kekaisaran dan Kerajaan akhirnya terwujud.


"Dan kedua, Shin. Aku sudah sepakat dengan Raja untuk memberimu gelar bangsawan."


"Gelar bangsawan!?"


Itu lagi.


"Tidak usah memberiku hadiah, aku hanya melakukan apa yang menurutku benar, aku tidak pernah mengharapkan hadiah."


"Hahahahah. Kamu tidak berubah ya, Shin." Raja Allent tertawa setelah dia mendengar jawabanku, sepertinya dia tahu kalau aku akan menolak.


"Apa maksudmu Raja Allent?" Tanya Raja Strom.


"Saat Shin menyelamatkan Putri kedua dari penculikan dan menyembuhkan Putri pertamaku dari kutukan. Aku juga menawarkan gelar bangsawan kepadanya, dan seperti yang anda lihat dia juga menolaknya." Raja agak sedih saat dia berkata itu, namun setelah itu dia kembali senang.


"Saat itu aku hanya memberinya uang, namun aku bersyukur dia juga mau menerima Putriku." Raja dengan bangga mengatakan itu kepada mereka.


Seharusnya kamu menekankan kata calon.


"Hmmm. Begitu ya, bagaimana kalau kita juga menyerahkan Putri kita kepadanya. Apa pendapatmu, Raja?" Kaisar bertanya kepada Raja Strom.


"Itu adalah ide yang bagus, bagaimana menurutmu istriku?"


"Aku pikir itu ide bagus."


Terjadi lagi.


"Tunggu. Bukannya kita disini sedang membicarakan tentang perjanjian Gardio dengan Strom. Kenapa aku jadi masuk juga ke dalam pembahasan."


Aku berdiri dan membantah apa yang mulai di bicarakan para bangsawan ini.


"Apakah kamu keberatan Shin?" Kaisar bertanya kepadaku.


"Bukan itu masalahnya. Tapi yang menjadi masalah adalah kenapa kalian bisa memutuskan untuk menyerahkan Putri kalian kepadaku begitu saja?"


"Aku sih tidak keberatan, bagaimana denganmu?"


"Aku juga." Raja langsung menjawab pertanyaan Kaisar.


"Apakah kamu tidak keberatan bertunangan dengan Shin, Airi." Kaisar bertanya kepada Putri nya.


"Aku tidak keberatan." Putri malu-malu menjawab pertanyaan ayahnya.


"Kalau kamu Hana. Apakah kamu keberatan bertunangan dengan Shin?"


"Aku juga tidak keberatan." Sama dengan sebelumnya, Tuan putri Hana juga malu-malu.


Aku yang mendengar jawaban itu langsung lemas dan menghela nafas berat.


Saat aku memikirkan kesalahanku di sini, Komandan Kerajaan Strom berbicara kepadaku.


"Itu sudah sewajarnya saja Shin."


"Apa maksudmu?"


"Kalau seandainya orang yang memiliki kekuatan sebesar ini bertunangan dengan Putri Kerajaan Allent, Kerajaan lain akan menganggap Kerajaan Allent itu harus di waspadai.


"Tapi kalau kamu bertunangan dengan Putri Kerajaan lain, itu akan menjadi bukti kalau kamu bukan milik Kerajaan manapun."


Penjelasannya masuk akal sih. tapi benarkah mereka tidak mau mendengar penjelasan ku lebih dulu.


Aku memutuskan bertanya ke Miku.


"Miku. Apakah kamu tidak keberatan dengan ini?"


Saat aku bertanya kepadanya, dia hanya tersenyum kepadaku dan menjawab.


"Aku tidak keberatan. Aku tahu kalau suatu saat hal ini akan terjadi."


"Hmmm. Baiklah. tapi sama seperti Miku, ini hanya calon. Apa tidak keberatan?"


"Aku tidak keberatan."


"Aku juga."


Kaisar dan Raja tanpa pikir panjang langsung menjawab pertanyaan ku. itu membuatku tambah pusing.


Kedua Putri itu lompat kegirangan dan berlari ke arah Miku dengan ekspresi bahagia di wajah mereka.


"Tidak hanya itu. kami juga akan memberikanmu wilayah sendiri, bisakah kamu memperlihatkan peta?"


Aku memakai sihir dan memproyeksikan peta ke atas meja. Namun yang lucunya, beberapa dari mereka masih tetap melompat kaget setelah peta keluar.


"Kami akan memberikan wilayah ini sampai kesini kepadamu." Kaisar mengatakan itu sambil terus menarik telunjuk nya di peta.


Wilayah itu di selatan, di antara perbatasan antara Kekaisaran dan Kerajaan.


"Wilayah itu subur sekali, tapi hanya saja di sana banyak sekali monster." Raja berbicara kepadaku.


Aku mencium-cium bau rencana busuk dari para pak tua ini.


Mereka tersenyum kepadaku yang membuatku tambah curiga. Setelah beberapa saat berpikir, aku akhirnya sadar maksudnya.


"Hmmm. Jadi kalian memanfaatkan ku untuk membersihkan jalur perdagangan kalian kan?"


"Tidak-tidak. Kami tidak ada niat seperti itu." Bantah Kaisar dan Raja dengan panik.


Apanya yang tidak ada niat pak tua.


Kalau itu monster, pasti bisa aku jadikan objek latihan sihirku.


"Hmm. Baiklah. Aku akan membersihkannya. Tapi kalau niat kalian memang itu, untuk apa memberiku wilayah segala." Aku menghela nafas dan bertanya.


"Supaya orang lain tidak memusuhi kamu karena bertunangan dengan tiga orang Putri, jadi jabatan mu juga harus dinaikkan." Raja Allent berbicara kepadaku dengan nada santai sambil menyeruput tehnya.


Aku yang seorang Raja menikah dengan tiga Putri akan lebih baik daripada orang biasa menikahi tiga Putri sekaligus. Mereka benar-benar memikirkan kerugian dan keuntungannya.


"Aku mengerti."


Setelah pembicaraan selesai. Aku mengirim para pemimpin beserta rombongannya ke Kerajaan mereka kembali, tetapi Hana dan Airi menolak untuk pulang, mereka mengatakan kalau mereka sudah mendapat izin pertunangan, jadinya mereka memilih untuk tetap tinggal bersamaku mulai sekarang.


Setelah itu aku pamit kepada mereka untuk melihat tempat yang dikatakan mereka, aku tidak membawa mereka karena itu merupakan tempat yang berbahaya.


➖➖➖➖➖


"Aku tidak menyangka wilayahnya akan seluas ini. Perlu berapa lama ya untuk membersihkannya."


Saat ini aku berada di wilayah yang akan di berikan kepadaku. Aku melihat sekeliling, sejauh mata memandang hanya ada daratan kosong yang di penuhi hutan dan monster.


Tapi sekarang aku tidak sendirian. aku ditemani oleh kepala guild petualang Relisha. Sebelum aku kesini, aku dipanggil oleh guild karena ada misi yang diberikan hanya untuk peringkat emas, berhubung peringkat emas yang aktif di dunia cuma aku, ya akhirnya misi ini di berikan kepadaku.


"Baiklah. Kami telah mendapat kabar kalau disini ada lima ekor bahamuth."


Lima ekor ya.


Bahamuth adalah monster kelas bencana yang biasanya muncul akibat sihir yang terkumpul di atmosfer melebihi batas dan akhirnya diserap binatang di bawahnya.


Saat kami melihat sekeliling. Aku merasakan keberadaan monster di utara, aku kembali memfokuskan sihir.


"Cari keberadaan bahamuth."


{Dua puluh ekor bahamuth terdeteksi mendekat}


Mendekat.


Apakah mereka sadar akan keberadaan kami. Lima ekor saja sudah membuat ku kaget dan ini malah dua puluh ekor.


tapi ini baik untuk latihan.


Saat aku masih terkejut. Tanpa aku sadari bahamuth mulai berlari ke arah kami.


Wujudnya bermacam-macam, ada yang berbentuk monyet, Ular, Kalajengking, Kucing dan berbagai lainnya.


Apalagi ukurannya dua kali ukuran gajah dewasa


"Apa memang sebenar itu." Tanyaku.


"Yah. Bahamuth memang sebesar itu. Sepertinya mereka berasal dari hutan di Kerajaan Halman." jawab kepala guild Relisha.


Kalau kalian tidak tahu. Kerajaan Halman adalah sebuah kerajaan di sebelah timur kera___


"Kenapa kamu malah menjelaskan tentang kerajaan Halman sekarang Author. Apakah kamu tidak melihat kondisiku sekarang."


"Aku dikejar oleh segerombolan monster raksasa yang siap membunuhku kapan saja."


"Kepala guild. Aku akan memberimu pertahanan."


"Tidak perlu memikirkan ku."


Kepala Guild percaya diri dengan kekuatannya dan orang-orang yang dia bawa.


Tapi aku tidak. Jadi aku tetap memasang pertahanan untuknya.


"[Shield]"


Perisai besar muncul melindungi kepala guild dan staf yang lain.


"Baiklah. Ayo kita mulai pertempurannya."


Aku mengeluarkan katana dari penyimpanan dan menerjang ke depan.


Jarak kami semakin mendekat, aku melompat dan menebas kepala bahamuth, dan hanya menggoresnya.


Boleh juga dia.


Aku juga mengeluarkan Glory atau itulah nama pistolku yang aku berikan dan mengganti pelurunya dengan peluru peledak.


Menembak tepat ke arah robekan yang dibuat oleh katana tadi.


Ghughh.


Tiga sudah cukup untuk uji coba.


Aku berdiam diri di tempat, menyalurkan sihir ku ke satu pusat.


Baiklah.


"Kunci semua bahamuth dan rapalkan mantra [Arrow of light] dan [Ice arrow] dan juga [Magma ball]"


Hujan berbagai elemen menghantam tanah yang dipenuhi oleh bahamuth.


Hujan kematian itu terus terjadi selama beberapa menit sebelum akhirnya menghilang.


Saat ledakan itu selesai. aku melihat keseliling ku untuk memastikan keberadaan bahamuth.


"Hmmm. Semua beres." Aku hanya dapat menghela nafas panjang dan duduk di atas tanah.


.


Kepala guild juga telah memastikan semua mayat bahamuth itu dan sekarang dia malah menatapku dengan wajah kagum.


"Kamu memang hebat, Shin."


"Aku tidak sehebat itu."


"Baiklah.. Ngomong-ngomong, apakah kamu mau menjual semua ini?"


Dia mengatakan itu sambil menunjuk segunung mayat bahamuth.


"Apakah mayat bahamuth juga bisa dijual?"


"Bisa. Kamu bisa menjualnya ke guild petualang, harga bahan-bahan bahamuth ini sangat mahal"


Aku juga tidak terlalu memerlukan uang saat ini.


"Baiklah. Aku akan menjual semuanya."


"Baguslah. Aku akan menyiapkan uang secepatnya."


Setelah mereka menyelesaikan urusannya disini, aku mengirim mereka kembali.


Saat ini aku sedang bersantai sambil melihat keadaan wilayah yang sedikit berantakan ini. Saat sedang melamun meratapi calon wilayah ku yang kuhancurkan sendiri, tiba-tiba.


"Tolong. Tolong, siapapun tolong kami."


"Apa lagi ini!?" Gumamku.


Aku memfokuskan sihir seperti biasa dan mengarahkan kekuatan ke arah sense.


Aga tiga orang dan apa itu. Apa itu monster?


Sebaiknya aku cepat. Kalau tidak mereka tidak akan bisa diselamatkan.


➖➖➖➖➖


Aku langsung berlari sambil mengeluarkan katana kesayanganku.


Saat aku sampai, aku melihat ada tiga orang gadis yang sedang bertempur melawan beberapa monster.


Sepertinya dua dari tiga gadis itu kembar, dan yang satu lagi mungkin ahli pedang karena aku bisa melihat katana di pinggangnya.


Bukannya itu katana. Apakah di dunia ini terdapat katana juga


Aku langsung berlari.


Karrna ini monster lemah, jadi aku hanya perlu beberapa menit untuk membereskannya.


Ketika aku memastikan bahwa tidak ada lagi monster di sekitarku, aku menghela nafas dan berjalan mendekati ketiga gadis itu.


"Apa kalian tidak apa-apa?"


"Eh. Hmm. Kami tidak apa-apa. Terima kasih telah menyelamatkan kami."


Mereka bertiga menundukkan kepala untuk berterima kasih.


"Kenapa kalian bisa berada disini?"


"Kami tadi minta tumpangan kepada seorang laki-laki, tetapi kami malah ditinggalkan disini." Mereka berbicara sambil menatap tanah.


Mereka tertipu.


"Kalian mau kemana?"


"Kami mau ke Kerajaan Strom."


"Ohh. Apa kalian mau pergi bersamaku, aku juga mau ke sana?"


Walaupun sebenarnya urusanku di sini belum selesai, tetapi lebih baik untuk mengantarkan mereka dulu ke tempat yang aman.


"Kamu mau mengantarkan kami?" Respon mereka akan perkataan ku.


"Ohh. Ya. Tentu"


"Terima kasih banyak." Jawaban kompak mereka.


"Ohh. Aku lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan aku Tatsuya Shin, Shin adalah namaku."


"Aku Kobayashi Kyou."


"Kalau aku Kobayashi Ryou."


"Aku Kokonoe Rin, salam kenal Shin."


Gadis kembar itu, yang sedikit pemalu namanya Ryou dan yang tomboi Kyou dan yang memakai katana itu Rin, aku paham sekarang.


"Kalau boleh tahu untuk apa kalian pergi ke Kerajaan Strom?"


"Aku dan kakakku awalnya mau pergi ke Kekaisaran Gardio. Tapi saat kami istirahat di sebuah kota, kami mendengar kabar kalau di Kekaisaran sedang ada kudeta. Jadinya kami memutuskan ke Kerajaan Strom untuk memulai kehidupan baru, di tengah perjalanan kami bertemu Rin. Sejak saat itu kami pergi berpetualang bertiga." Ryou menjelaskan kepadaku semua kejadian yang mereka alami.


Setelah beberapa menit aku menunggu, akhirnya ceritanya selesai juga.


"Shin. Berapa lama supaya kita sampai di ibukota Kerajaan?" Rin membuka mulutnya untuk bertanya kepadaku.


"Kurasa tiga detik."


"Hah!? Tiga detik." Mereka bertiga hanya mengeluarkan ekspresi kebingungan.


Hah. Aku lupa kalau aku belum memberitahukan mereka soal Gate.


Aku langsung merapalkan [Gate] dan langsung menarik mereka karena akan ribet menjelaskannya.