Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 19 : Pertempuran di Pantai



Dihari yang cerah ini para ksatria baru kerajaan Glory sedang berkumpul di tempat pelatihan karena Kazuo akan mengumumkan pembagian tugas mereka.


Aku berencana membagi para ksatria menjadi dua kelompok yang terbagi atas pasukan keamanan istana dan pasukan keamanan penduduk.


"Sekarang kami akan membagi kalian menjadi dua kelompok." Ujar Kazuo kepada para ksatria.


"Pertama pasukan keamanan istana dan kedua pasukan keamanan penduduk. Kalian bisa melihat daftar di kelompok mana kalian berada di papan pengumuman itu." Kata Kazuo kepada ksatria sambil menunjuk papan pengumuman di dinding.


"Dan jangan lupa." Sambil menyuruh Lain, Norn dan Nikola menaiki panggung.


"Perkenalkan mereka adalah komandan dan wakil komandan kalian." Ujar Kazuo dengan cukup tegas.


"Perkenalkan namaku Lain. Komandan ordo ksatria Glory."


"Perkenalkan namaku Nikola. Wakil komandan satu ordo ksatria sekaligus komandan pasukan keamanan penduduk."


"Dan aku Norn. Wakil komandan kedua ordo ksatria sekaligus komandan pasukan keamanan istana."


Mereka bertiga memperkenalkan diri dengan kebanggaan di dalam hati mereka sebagai komandan dan wakil komandan ksatria Glory.


"Kalau kalian sudah mengerti, kalian boleh bubar sekarang." Perintah Kazuo di tanggapi oleh ksatria, mereka mulai membubarkan diri dan berjalan ke papan pengumuman untuk melihat di pasukan mana mereka berada.


➖➖➖➖➖


Aku yang sedang bermimpi dalam tidur setelah sarapan karena kelelahan langsung terjatuh dari tempat tidur akibat goncangan kuat.


"Aghuwh." Kepalaku jatuh terlebih dahulu ke lantai dengan keras.


"Hah... Shin apa kamu baik-baik saja."


Aduhhh. Kepalaku sakit sekali, apa salah kepalaku ini


Kepalaku yang masih kesakitan mencoba berdiri walaupun isi kepalaku masih gemetar hebat.


"Y-ya.... Aku baik-baik saja. Hanya geger otak ringan." Gumamku dengan suara yang setengah-setengah sambil masih memegang kepalaku.


Kenapa mereka semua bisa kepikiran melompat ke tempat tidurku secara serentak itu di pagi hari yang tenang ini.


"Geger otak ringan?" Ryou yang tadi bertanya keadaanku sekarang hanya memiringkan kepalanya sambil bergumam.


"Ti-tidak usah dipikirkan lagi."


Kalau ini dilanjutkan gak akan ada habisnya. lebih baik aku hentikan aja


"B-baiklah."


"Jadi mau ngapain kalian ke kamarku pagi-pagi ini."


Setelah mendengar pertanyaanku mereka semua langsung memerah di wajah dan telinganya.


Kenapa mereka jadi bersikap seperti itu.


Disaat aku masih memikirkan penyebabnya, Miku langsung membuka mulutnya.


"Karena biasanya kamu selalu sibuk mengurus kerajaan dan mengabaikan kami, jadi kami disini ingin minta ganti rugi."


"Ganti rugi!?"


Hey. Bukan seharusnya aku yang bilang begitu, kalian sudah membuat isi kepalaku berngiang-ngiang.


"Ya. Ganti ruginya itu adalah temani kami seharian kemanapun kami mau." Miku kembali mencoba meledakkan bom di kepalaku.


Hmmm. Apa yang harus aku lakukan, kalau ikut dengan mereka bagaimana kerjaanku, tapi kalau gak ikut mereka akan sedih.


"Ba-baiklah. Aku akan menemani kalian kemanapun." Menghela nafas tidak membantuku sama sekali.


Aku temani aja lah. Kalau urusan kerajaan nanti aku berikan saja pada Kazuo.


"Seriuss." Keterkejutan Rin memicu memerahnya wajah mereka sekali lagi.


"Ka-kalau begitu kami akan bersiap-siap." Atas perintah mendadak dari Miku, semua tunangan itu langsung berlari ke luar kamarku.


Hmmm. Apa kata orang nanti liat aku bawa banyak gadis...."Hei, liat tuh ada bajingan beruntung " pasti itu yang akan mereka katakan.


Setelah aku menunggu selama yang mereka inginkan, akhirnya mereka semua keluar dari kamar masing-masing dan langsung menghampiriku.


"Apa kalian sudah siap?"


"Ya. Kami sudah selesai. Sekarang kita mau kemana Shin?" Airi bertanya padaku.


Hah.... Kenapa harus aku yang memikirkannya, bukannya kalian yang mengajakku..... Hmm, aku tidak bisa mengatakan itu pada mereka.


"Kalian maunya kemana?"


"Hmm. Bagaimana kalau kita ke pantai." Rin memberikan masukan yang masuk akal.


"Tapi pantai mana?" Miku bertanya lagi ke Rin.


"Hmmm. Pantai kerajaan sions sepertinya bagus." Aku mengatakan itu karena aku sudah melihat pantai dari mata burung dulu.


"Hah....."


"Kalian berdua kenapa?" Kami yang terkejut langsung bertanya.


"Tidak ada apa-apa."


Kenapa Ryou dan Kyou kaget seperti itu ya.


"Ka-kalau begitu ayo kita pergi." Dengan senyumannya yang dipaksa Kyou berbicara pada kami.


Aku dan para tunangan lain yang masih bingung hanya ikut dengan apa yang dikatakan mereka berdua.


➖➖➖➖➖


"Wahh. Pantainya luar biasa."Kata pembuka dari Hana langsung memicu pujian dari gadis lainnya.


"Sepertinya ini pantai yang bagus ya."


"K-kamu benar Shin." Jawab Ryou.


Kenapa dia sekarang menjadi gugup ya.


"Shin." Tatapan Miku langsung menyadarkanku tentang apa yang harus aku lakukan sekarang.


"Hah!? Oh ya, aku lupa."


Aku langsung membuka penyimpananku dan mengeluarkan dua tenda, yang satu besar untuk para tunangan dan satu lagi kecil untukku.


"Liora. Kamu juga masuk ke dalam." Seru Miku sambil menarik tangan Liora ke dalam tenda.


Aku juga membawa Liora kesini supaya dia bisa sedikit istirahat dari pekerjaannya. Jadi aku senang kalau dia senang.


Aku memilih masuk tenda dan beristirahat sebelum bermain air bersama para tunangan.


Di dalam tendaku, aku tidak bisa tenang karena mendengar suara mereka yang memecah konsentrasiku.


Di dalam tenda tunanganku :


"Ryou. Kenapa punyamu sangat besar sih." Kata Airi.


"Hah... Jangan di pegang." Teriak Ryou.


"Maaf. Hmm. Aku harap punyaku juga akan besar suatu hari nanti."


"Aku juga." Curhatan Airi dan Hana sambil memegang entah apa itu.


"Kenapa punya adikku lebih besar dari punyaku." Gumam Kyou kepada dirinya sendiri di sudut ruangan tampa di dengar oleh orang lain.


"Kamu juga Liora. Walaupun kamu robot tapi punyamu yang paling besar disini."


"Itu hanya dokter yang tahu kanapanya." Jawab Liora dengan wajah datar.


Di dalam tendaku :


"Apa sih yang mereka bicarakan disana." Aku yang sendirian hanya bisa memerah mendengar pembicaraan para gadis muda itu.


Setelah aku selesai ganti baju dan keluar, disana masih belum ada siapa-siapa.


Apakah mereka belum selesai ya.


Disaat aku masih berpikir, tiba-tiba tirai tenda mereka terbuka.


"Shin. Bagaimana dengan baju renangku?" Pertanyaan Airi mengejutkanku.


"Ya. Kamu sangat imut." Senyum lepasku memberi tanda kalau pakaiannya sangat bagus.


"S-shin. Bagaimana dengan pakaian kami?"


Disaat aku akan melihat baju renang mereka sesuai aba-aba Ryou, seketika wajahku memerah.


"Hah.. Hmmm. Sa-sangat cocok dengan kalian semua." Suaraku dipaksakan karena masih terkejut melihat baju renang mereka.


"Be-benarkah."


"Cocokk!?"


"Apa iya Shin? "


"Makasih."


"Makasih Shin. Kamu juga cocok."


Respon Ryou, Kyou, Rin, Hana dan Miku langsung membuatku merah padam lagi sambil melihat surga dunia ini di depan mataku.


Pak Banri, aku sangat berterima kasih padamu karena sudah membuatkan baju renang ini. Persis seperti baju renang yang ada di duniaku.


"Ka-kalau begitu ayo kita main air."


"Ba-baiklah."


Aku bertanya pada mereka di saat wajahku masih memerah dan memilih langsung berlari ke laut setelah bertanya.


Disaat sedang asyiknya bermain, tiba-tiba ada semacam gelembung aneh yang keluar dari permukaan laut.


"Sh-shin. Lihat apa itu."


Merespon teriakan Rin aku langsung memutar kepalaku menghadap ke arah yang ditunjuk olehnya.


Disaat aku melihatnya, ditengah gelembung mulai muncul makhluk yang sangat besar.


"Krakenn!?"


Kenapa dia bisa ada disini, bukannya wilayah air itu kekuasaan Kaitur ya, apa mungkin dia bahemoth.


Dia mulai mengeluarkan suara yang sangat keras, disaat dia selesai memekakkan telinga kami, dia mulai berjalan dengan tentakelnya.


"Dia menyerang Shin." Sesuai apa yang dikatakan oleh Miku dia memang mulai menyerang.


Aku langsung membuka penyimpanan dan mengeluarkan Glory dan katanaku.


"Sepertinya dia tidak bisa dibawa tenang ya." Gumamku.


Disaat aku menerjang ke depan monster itu, ternyata ada juga monster kecil-kecil yang muncul dari belakangnya.


"Kalian semua. Sepertinya ada juga yang kecil, tolong kalian urus mereka."


Apa yang akan terjadi ya saat mereka bertempur dengan memakai bikini, apa gunungnya akan terjadi gempa dahsyat.


"Baik Shin. Serahkan pada kami." Jawaban Miku langsung membuat para gadis lainnya memasang mode tempur mereka.


Sepertinya aku bisa menyerahkannya pada mereka semua.


"Baiklah. Sekarang lawanmu adalah aku."


Aku mulai menyerang ke arah monster itu dengan menggunakan katanaku, disaat aku mencoba menebasnya dia sama sekali tidak merespon.


Mustahil.... Kulitnya sangat keras seperti kulit failer.


Apa dia adalah failer. Kalau begitu aku coba jurus modifikasiku saja.


Aku langsung mengeluarkan pecahan-pecahan kulit failer dari penyimpananku dan memberi kulit itu sihir yang banyak supaya mereka menjadi sangat keras.


"Ayo kita coba."


Mulai aku buka gerbang setinggi dua puluh kilo meter diatas langit dan mengirim kulit itu di tambah dengan sihir [Gravitasi] supaya bertambah berat.


Disaat mengenai monster itu, kulitnya hancur tapi tidak mati.


"Sial."


Apa yang harus aku lakukan.


Disaat aku masih berpikir gelisah. Dilangit tiba-tiba muncul retakan, retakan itu mulai membesar bersamaan dengan tubuh monster itu yang sedikit demi sedikit terangkat ke atas.


"Kenapa dia terbang ke arah retakan itu."


Hmm.... Apa jangan-jangan dia terhisap lagi ke celah dimensi. Kalau memang begitu aku pastikan kalau dia itu adalah failer.


Ketika tubuhnya mulai terangkat, aku melihat juga kalau tubuh monster yang kecil itu juga terangkat ke atas.


"Shin. Mereka kenapa?" Tanya Ryou.


"Hah.... A-aku juga tidak tahu mengapa." Wajahku langsung memerah saat menatap gunung yang hampir erupsi itu dan memilih untuk langsung memalingkannya dari pada keadaan semakin memburuk.


Kami hanya berdiam diri sambil melihat failer itu terbang secara sedikit demi sedikit ke arah retakan itu.


Failer sudah memasuki retakan dan kemudian retakan itu mulai menutup perlahan-lahan.


Kami yang kebingungan dengan apa yang terjadi hanya dapat diam.


Apa yang sebenarnya terjadi disini sih. Kenapa mereka mendadak muncul namun seketika langsung pergi.


Apa ini semua adalah peringatan, tapi dari siapa.. Hmmm. Apa jangan-jangan dari raja iblis itu.


Tidak-tidak. Aku tidak boleh berspekulasi sembarangan tampa ada bukti dulu.


"Tuan. Apa kamu bisa mendengarku."


"Hah.... A-ada apa Kougyaku?" Sepertinya aku disadarkan oleh suara kougyoku.


"Saya mendapat kabar dari para burung yang berpatroli kalau muncul monster besar di kerajaan Strom, Kaltis, Orphen, Pandora dan Felsen."


"Apaa!?"


Kenapa dia juga menyerang kerajaan lainnya.


"Apa ada kehancuran yang dibuatnya."


"Tidak tuan. Mereka semua muncul di laut dan menghilang sebelum sampai ke kota terdekat."


Hmm. Syukurlah kalau begitu.


"Syukurlah. Apa kerajaan juga aman?"


"Kerajaan aman tuan."


"Baiklah. Terima kasih atas laporannya kougyoku."


"Bukan masalah tuan."


Setelah menutup telepon dari Kougyoku aku hanya duduk dengan pikiran yang udah mau meledak memikirkan alasannya.


"S-shin. Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja."


"Iya shin. Dari tadi aku perhatikan kamu gelisah, apa ada yang kamu pikirkan" Bersamaan dengan pertanyaan Miku, Hana juga bertanya.


"Hmmm."


Mereka mulai mengerumuni ku untuk meminta jawabanku.


"A-aku baru saja menerima pesan dari Kougyoku."


"Pesan?" Hana bingung.


"Kougyoku mengatakan kalau monster yang tadi menyerang kita juga menyerang tempat lain."


"T-tempat lain!? Dimana itu." Ryou bertanya pula padaku.


"Mereka muncul di kerajaan Felsen, Pandora, Orphen, Kaltis dan Strom."


"Apaaa!?"


"Apa kerajaan Strom baik-baik saja?" Hana langsung panik.


"Tenang saja. kerajaan Strom tidak apa-apa, mereka menghilang sebelum mencapai kota terdekat."


"Syukurlah." Hana langsung terduduk menghela nafas dalam saat mendengarnya.


Disaat mulai tenang, kami memutuskan untuk pulang ke kastil dan melanjutkannya di lain hari.


➖➖➖➖➖


Di kastil. Aku merenungkankan apa yang harus aku lakukan sekarang.


Surat mulai berdatangan dari kerajaan Strom dan Orphen yang merupakan aliansi kepadaku sebagai pemimpin. Isi suratnya yaitu meminta bantuan atas kerusakan dan menanyakan tentang monster itu.


Apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus mengatakan kebenaran itu sekarang kepada para pemimpin.


"Shin. Apa kamu melamun?"


"Hah. Ti-tidak, aku baik-baik saja Miku."


Aku tidak bisa memikirkan itu sekarang.


Aku dan para tunangan lainnya melanjutkan sarapan kami sampai selesai.


Dan disaat kami selesai sarapan, aku meminta para tunangan untuk ke balkon karena aku ingin menceritakan semua hal tentang failer kepada mereka.


"Apa yang ingin kamu bicarakan." Tanya Miku.


"Aku berpikir sepertinya aku harus menceritakan tentang monster yang selama ini muncul."


"Monster!?" Rin sedikit memiringkan kepalanya.


"Apa itu sama dengan yang kita lawan kemarin?" Tanya balik Miku.


"Ya. Mereka satu spesies."


Disaat mereka sudah tidak menanyakan apapun lagi. Aku mulai menarik nafas bersiap bercerita panjang lebar.


"Baiklah. Pertama, monster itu bernama failer dan pernah menghancurkan dunia sepuluh ribu tahun yang lalu. Pemimpin mereka menyebut dirinya sebagai Sovereign."


"Failer? Sovereign? Sepuluh ribu tahun yang lalu?"


"Begitulah."


"Dari mana kamu tahu itu?"


"Aku mengetahuinya dari buku di FIB dan yah sebagian berar dari informasi dari seseorang." Aku langsung menjawab pertanyaan Ryou dan Kyou.


"Si-siapa orang itu Shin. Bagaimana dia bisa tahu insiden dari sepuluh ribu tahun yang lalu?" Sekarang malah Airi yang bertanya.


Aku tidak bisa mengatakan kalau aku tahu semua itu dari Dewa Semesta.


"Orang yang cukup penting tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang, maaf."


"Ba-baiklah kalau begitu." Hembusan kesabaran Airi terdengar olehku.