
Keadaan saat ini sangat berbahaya. Shin disini terpojok oleh pertanyaan dan tatapan para gadis.
Situasi saat ini lumayan mengcekam. Di satu sisi aku ingin mengatakan yang sebenarnya, di sisi lain aku tidak tahu cara mengatakannya.
"A-anu!?"
"Coba jelaskan!" Kata Miku.
Bagaimana sekarang. Apa yang harus aku lakukan. Ini bukan waktu yang pas untuk mengatakannya.
"Se-sebenarnya.... Ah. Oh ya, kenapa Asha dan Chika bisa berada disini? Aku dari tadi sudah penasaran, kenapa ya?"
Dengan putus asa, aku berusaha mengalihkan topik ke arah Asha dan Chika.
Miku sekali lagi menatapku dengan tatapan tajam, setelah itu dia menghela nafas dan menatap Asha dan Chika.
"Kapan kalian akan mengatakan padanya?"
"Heh. Ah.. Y-ya. Ka-kami akan mengatakannya nanti."
"O-oh, y-ya. Saat orang tua kami selesai dengan pestanya."
Walaupun wajah mereka merah merona, tetapi mereka tetap berusaha menjawabnya dengan nada biasa.
Apa yang mereka ingin bicarakan ya.
"Huhhh. Baiklah." Ujar Miku sambil menatapku sesekali.
Syukurlah mereka tidak menanyakannya lagi.
"Shin!!"
"Y-ya." Responku sambil menatap Miku dengan cepat.
"Kami akan menunggu jawabanmu nanti."
"Y-ya. A-aku pasti akan mengatakannya."
"Baguslah."
Akhirnya selesai juga situasi mencekamnya.
"Permisi."
"Ya. Silakan masuk!"
Ada apa lagi ini.
Setelah ketukan pintu itu berakhir, pintu mulai terbuka dan menampakkan sosok Ksatria yang sudah lama tidak aku lihat.
"Mohon maaf atas gangguannya Yang Mulia, Yang Mulia Ratu dan Nyonya."
"Tidak apa-apa. Apa ada sesuatu?"
"Saya ingin mengatakan kalau sudah saatnya Yang Mulia memberikan pidato di depan penduduk dan para tamu."
"Pidato!?" Responku.
"Oh ya. Aku lupa mengatakan itu tadi. Bagaimana Shin? kalau kamu tidak bisa, akan aku katakan kepada penduduk dan tamu."
Pidato di depan semua orang ya.
Sudah lama aku tidak melakukannya.
"Ba-baiklah. Akan aku lakukan."
Setelah mendapat persetujuan dariku, semua orang mulai keluar satu persatu untuk bersiap-siap sebelum pidato.
Aku yang akan berpidato, kenapa mereka yang sibuk ya.
Ya. Biarlah.
Puluhan menit habis untuk persiapan mereka semua. Sementara aku hanya mengganti bajuku dengan baju yang selayaknya dipakai oleh seorang Raja.
Baju mewah yang berhiasan logo Glory dan lencana yang melambangkan seorang pemimpin menghiasi tubuhku.
Sementara untuk para gadis dan ketiga kakakku memakai baju yang selayaknya mereka pakai.
Tunggu. Kenapa Asha dan Chika juga ganti baju ya.
Dan dari mana mereka mendapatkan baju yang serasi dengan baju gadis lainnya.
Ya. Nanti akan aku tanyakan saja.
"Semua sudah siap?" Tanyaku sebelum pintu balkon dibuka.
"Ya." Jawab serentak semuanya.
Aku, para gadis, dan ketiga kakakku berdiri di belakang pintu sambil menunggu aba-aba dari Kazuo.
"Ya. Baiklah. Yang kita tunggu-tunggu telah hadir. Mari kita beri sambutan kepada Yang Mulia Glory."
Sesuai aba-aba Kazuo. Pintu balkon akhirnya terbuka dan kamipun keluar menuju ke ujung balkon.
Sorak-sorakan dari semua orang mulai memenuhi seisi halaman. Mulai dari penduduk, pengawal maupun bangsawan Kerajaan.
Walaupun Raja dan Ratu hanya duduk sambil bertepuk tangan dengan elegan, tapi itu sudah sangat bagus kalau melihat status mereka.
Beberapa saat kemudian, suara gemuruh akhirnya mereda dan digantikan tatapan serius dari semua orang yang menungguku untuk berbicara.
Kenapa aku jadi gugup ya. Padahal dulu aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Anuu. Apa kabar penduduk Glory?"
"Kabar kami baik." Jawab serentak dari semua orang.
"Pertama. Terima kasih kepada para Raja sekalian yang sudah mau meluangkan waktunya untuk mengunjungi Kerajaan kami ini."
"Kedua. Terima kasih juga kepada penduduk Glory yang sudah mau mengkhawatirkanku selama ini."
"Maaf sudah membuat kalian khawatir." Kataku sambil menundukkan kepala.
"Hah!?"
"Tolong angkat kepala anda, Yang Mulia!"
"Yang Mulia tidak pantas untuk menundukkan kepala kepada kami."
Para penduduk yang panik saat melihat Rajanya menundukkan kepalanya membuat mereka semua langsung melontarkan kalimat untuk meminta Rajanya kembali mengangkat kepalanya.
Shin yang menyadari kebaikan seluruh rakyatnya kembali mengangkat kepalanya dengan bangga.
Setelah menunggu selama beberapa menit sampai situasi kembali kondusif. Shin akhirnya kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Kami atau bahkan saya sendiri masih belum tahu cara untuk mencegah Failer itu kembali menyerang dunia."
"Mungkin kita akan mendengar kabar selama beberapa waktu tentang insiden yang sama seperti dulu. Tapi itu mungkin tidak akan sebanyak sebelumnya."
"Saya saat ini masih sedang berusaha mencari cara untuk untuk menghentikan ivansi mereka. Namun itu tidak akan mudah."
"Kita berharap saja, semoga peristiwa ini segera cepat menghilang dan kedamaian dunia kembali lagi."
"Tentu saja, saya bersama dengan beberapa Kerajaan akan terus menjaga kedamaian dunia kita dari Failer."
"Untuk sekarang kita bisa bernafas lega, tapi itu tidak akan lama."
Setelah cerita suramku selesai, aku langsung mengubah topik untuk mencairkan suasana karena mereka keliatan seperti ketakutan.
"Nah. Silakan nikmati pesta yang ada, makanlah apa saja yang kalian suka."
Senyuman para penduduk perlahan mulai kembali, mereka mulai mengangkat kepala dan menatapku.
Beberapa detik kemudian, penduduk mulai berbicara satu sama lain. Tentu saja apa yang mereka bicarakan tidak aku ketahui karena suaranya terlalu kecil.
Setelah mereka selesai berbisik-bisik. Mereka kembali menatapku dengan tatapan bahagia, mulai membuka mulutnya secara serentak dan.
"Yang Mulia!!"
"Y-ya?" Gumamku dengan panik.
"Selamat atas kesembuhannya, dan terima kasih karena telah melindungi dunia."
"Kami bangga memiliki Raja seperti anda, jadi mohon kerja samanya untuk sekarang dan seterusnya." Teriak mereka dengan sangat keras sampai-sampai terdengar ke seluruh penjuru istana.
Bukan hanya aku saja yang kaget, para Raja yang turut hadir juga menunjukkan ekspresi keterkejutannya pada apa yang telah rakyat katakan.
Walaupun itu hanya kalimat pendek dari penduduk Kerajaan, tapi itu sudah cukup untuk membuatku sangat bahagia. Dengan mata berkaca-kaca aku tersenyum bahagia dan menatap semuanya.
"Yah. Terima kasih semuanya."
➖➖➖➖➖
Sekarang aku sedang berada di dalam kamarku, mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu setelah banyak beraktivitas.
Para gadis dan kakakku sedang bersama dengan para Raja dan Ratu. Membicarakan apa saja yang menurut mereka pantas dibicarakan.
Walaupun banyak hal yang bisa mereka jadikan topik pembicaraan. Tapi tetap saja aku berfirasat bahwa mereka saat ini sedang membicarakanku.
Hahhhh. Cukup merepotkan ya, menjadi topik utama pembicaraan orang lain itu.
"Sepertinya Tuan sedang kesulitan ya."
"Ehh??"
Tiba-tiba saja lamunanku terhenti akibat suara yang datang tiba-tiba. Disaat aku menemukan sumber suara itu.
"Ohh, kalian ya."
Itu adalah suara dari makhluk yang sudah lama tidak aku dengar.
Mereka adalah Haku, Kaku, Kaitur dan Luli.
"Apakah Tuan baik-baik saja?" Tanya Haku.
"Ya. Aku baik-baik saja. Maaf ya, karena aku tidak sadarkan diri, itu membuat kalian kembali lagi ke alam kalian berempat."
"Itu bukan salah Tuan." Jawab Haku.
"Aku mau minta tolong, bisakah kalian memerintahkan bawahan untuk kembali melakukan tugasnya."
"Sesuai keinginan Tuan."
Walaupun tubuh mereka seukuran kucing, tapi aku tahu kalau mereka saat ini sedang menundukkan kepalanya di hadapan tuannya.
Tunggu. Bukannya memang ada kucing diantara mereka ya.
"Bodohnya aku." Gumamku
"Apa ada sesuatu, Tuan?"
"Bukan apa-apa. Kalau begitu kalian boleh istirahat dulu."
"Baiklah. Kalau begitu kami izin permisi, Tuan."
Satu per satu mulai beranjak dari kamarku, menghilang di balik pintu.
Setelah memastikan mereka telah pergi, aku kembali berbaring di tempat tidur.
Nah. Waktunya kembali istirahat.
"Permisi."
Baru saja aku akan tidur, tiba-tiba pintu kembali mengeluarkan suara.
"Ya. Silakan masuk."
Ketika disuruh masuk, pintu mulai terbuka. Memperlihatkan seorang Kepala Pelayan.
"Ada apa Laim?"
"Yang Mulia Ratu memanggil anda, Yang Mulia."
"Memanggil!?".
Tumben dia memanggilku, biasanya dia akan langsung kesini tanpa mempedulikan apapun.
"Baiklah. Aku akan kesana."
"Jalau begitu saya permisi dulu."
Sesuai perkataannya, dia menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan ruanganku.
Semoga ini bukan masalah lagi.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...