Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 87 : Mengambil Alih Tugas



Insiden yang menimpa Glory membuat semua orang panik dan cemas. Bagaimana mungkin semua orang tidak panik, baik itu keluarga, saudara maupun teman mereka berubah menjadi monster.


Di sisi lain, kepanikan itu bertambah buruk setelah mengetahui Raja mereka tidak sadarkan diri. Bisa dikatakan kalau itu merupakan berita yang paling mengejutkan semua orang.


Setelah Shin tidak sadarkan diri. Para gadis yang saat itu tidak bisa berpikir jernih langsung mengirim surat ke ayah mereka masing-masing.


Sebelumnya, Shin juga telah meminta bantuan Kekaisaran Gardio dan Kerajaan Strom. Jadi kemungkinan besar pasukan mereka sudah mulai bergerak.


Kerajaan Halman memang berbatasan langsung dengan Glory, tetapi mereka bukan Kerajaan yang berpatisipasi langsung dalam pendirian Glory, jadi Shin tidak terpikir untuk meminta bantuannya.


Dan benar, Kaisar dan Raja yang mendapat pesan darurat sudah mulai bergerak dengan pasukan mereka sendiri menuju Glory.


Sementara para Raja anggota aliansi hanya akan diam menunggu info selanjutnya. Tapi mereka tetap bersiaga di Kerajaan mereka, kalau saja Glory meminta bantuan, mereka akan langsung mengirim pasukan ke Glory tanpa pikir panjang.


Saat ini di kamar Shin, ada para gadis yang duduk di sekeliling Shin dengan wajah cemas.


Setelah Shin tidak sadarkan diri, Komandan beserta Ksatria langsung menerobos ruangan untuk menolong. Awalnya Komandan dan Ksatria juga panik saat melihat Raja mereka tergeletak tidak sadarkan diri di lantai, tetapi kepanikan mereka tidak berlangsung lama. Dengan cepat mereka langsung menolongnya.


Setelah istirahat satu hari penuh, Shin akhirnya sadar walaupun seluruh tubuhnya masih kesakitan. Dia tidak bisa pergi dari tempat tidurnya karena tubuhnya yang melemah.


"Shin. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Airi.


Shin hanya memandanginya sebentar sebelum dia kembali memegangi dadanya kerena kesakitan. Melihat itu membuat wajah cemas para gadis tidak kunjung membaik.


"Apa yang harus kita lakukan?" Hana bergumam sambil terus menatap Shin.


Kepala Dokter yang menanganinya Shin bingung dengan apa yang terjadi, tubuhnya stabil tanpa adanya gangguan tetapi Rajanya terus merasa kesakitan dan melemah.


'Sihir penyembuhan sepertinya tidak berguna pada beliau.' Hanya itu yang dapat disimpulkan oleh Dokter.


Shin memandangi keselilingnya hanya untuk menemukan wajah para gadis yang di cintai dalam keadaan pucat. Itu membuat Shin sedih, tapi sayangnya dia tidak bisa mengatakan apapun saat ini.


Mendapat tatapan tidak biasa dari Shin membuat para gadis bertanya-tanya akan apa yang diinginkannya. Namun itu tak berhasil karena Shin tidak bisa mengatakan apapun.


Tapi berbeda dengan Ryou, sebagai gadis yang sensitif dengan perasaan seseorang. Dia bisa dengan cepat mengerti apa yang dimaksudkan Shin.


"Untuk sekarang, kita hanya bisa membantu Kerajaan. Kalau Shin bisa berbicara, dia pasti juga akan mengatakan hal itu." Ujarnya ke semua gadis.


"Ryou benar. Apa sebaiknya kita mengurus masalah Kerajaan terlebih dahulu." Balas Miku.


"Tapi bagaimana mungkin kita meninggalkan Shin disini."


Sarannya memang bagus, tetapi Hilda memberikan pernyataan yang tidak bisa diabaikan juga.


Para gadis mulai terdiam saat mereka merasa kalau Hilda ada benarnya. Tapi itu bukan apa yang aku maksudkan.


Aku menatap semuanya dan mengangguk kecil dalam diam untuk menyetujui perkataan Ryou.


Melihat itu membuat para gadis tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran mereka. Dengan langkah yang terasa sangat berat, mereka mulai meninggalkan kamarku.


Walaupun mereka sesekali menatapku disaat mereka keluar, aku hanya memberikan mereka sebuah senyuman kecil tanda kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Ya ampun. Aku menyerahkan semuanya pada mereka. Tapi syukurlah disana ada Kazuo dan yang lainnya, jadi itu akan baik-baik saja.


Ughru.


Mendadak dadaku kembali kesakitan, tapi bedanya sekarang sakitnya tidak terlalu parah.


"Apa yang terjadi padaku. Apa melemahnya sihirku ada hubungannya dengan insiden Zombie." Gumamku dengan tubuh yang kesakitan.


➖➖➖➖➖


Keesokan harinya. Semua struktur penting di dalam Kerajaan berkumpul untuk melakukan rapat darurat atas perintah Ratu mereka.


Shin yang tidak bisa hadir karena penyakitnya menyerahkan semua tugasnya kepada para gadis. Jadi saat ini di depan anggota rapat bukan hanya satu orang saja yang duduk, tetapi ada sembilan orang gadis dengan gelar Ratu yang mereka punya.


"Maaf meminta kalian hadir mendadak disini."


Miku selaku Ratu paling tua membuka rapat dengan permintaan maaf atas nama semua gadis yang ada disana.


"Mo-mohon angkat kepala anda, Yang Mulia Ratu. Ini memang tugas kami, jadi tidak seharusnya Yang Mulia Ratu meminta maaf."


Tapi semua orang yang mendengar permintaan maaf itu malah menunjukkan kepanikan mereka saat Ratu mereka menundukkan kepalanya dihadapan mereka.


"Terima kasih semuanya." Kesembilan gadis itu mengangkat kepala mereka dan berterima kasih.


Karena dibuka dengan ucapan permintaan maaf Ratu, semua orang diruangan itu tiba-tiba saja menjadi canggung untuk memulai pembicaraan.


Merasakan kalau situasi ini tidak akan berubah membuat Kazuo menghela nafas dan menatap semuanya.


"Baiklah. Kita mulai rapatnya!"


Semua orang yang mendengar teguran dibalik nada bicara Kazuo dengan cepat tersadarkan. Mereka mulai membalik-balikkan kertas yang ada di depan mereka untuk mencari laporan.


"Pertama Komandan Lain. Bagaimana keadaan penduduk saat ini?"


"Penduduk yang berubah saat ini tidak mengalami masalah. Mereka terkadang memberontak, tapi itu masih bisa kami atasi."


"Bagaimana dengan perbatasan?"


"Perbatasan aman terkendali, Yang Mulia Ratu."


"Baiklah. Kazumi, bagaimana posisi pasukan Gardio dan Strom saat ini?"


"Laporan dari bawahanku mengatakan kalau kedua pasukan saat ini sudah mulai bergerak. Kalau tidak ada masalah, mungkin mereka akan tiba disini nanti siang, Yang Mulia."


Shadow Wings adalah pasukan bentukan Glory dibawah pimpinan Kazumi. Mereka juga berisikan orang-orang yang memiliki kemampuan pengintaian terbaik.


Mengenai jumlah, tidak ada yang mengetahuinya pasti kecuali Raja Glory dan Perdana Menterinya. Kalaupun kita tahu jumlah pastinya, menemukan posisi mereka juga akan sangat menyusahkan karena mereka semua tersebar ke seluruh dunia.


Nama pasukan juga diberikan dengan menilai arti dan anggotanya. Shadow Wings bergerak dengan kecepatan kilat dibalik bayangan musuhnya. Itu merupakan semboyan mereka saat ini.


"Itu bagus. Tanpa kekuatan Shin, kita tidak bisa memindahkan semua pasukan bantuan."


"Tapi, Yang Mulia. Bukankah Liora juga bisa menggunakan [Gate] Kenapa tidak minta bantuannya saja?"


"Dia memang bisa, tetapi itu tidak banyak. Dia tidak bisa memindahkan ribuan pasukan dalam sekejap seperti Shin."


Sekuat apapun kekuatan Liora dalam memindahkan, dia tidak akan sanggup memindahkan pasukan yang jumlahnya ribuan.


Itu karena kekuatannya merupakan pinjaman dari tuannya, jadi dia hanya bisa menggunakannya sedikit tanpa bisa menyamai kekuatan tuannya.


Semua orang mengerti akan perkataan Miku, jadi mereka tidak melanjutkan pertanyaan.


"Sekarang yang masih menjadi misteri adalah penyebab penduduk itu bisa berubah."


Ruangan tersebut menjadi hening seketika saat Miku menggumamkan sesuatu yang juga menjadi misteri bagi semua orang.


"Aku merasakan sesuatu yang janggal disini. Awalnya aku tidak menyadarinya, tetapi sekarang."


"Apa itu Kepala Guild?"


"Entah kenapa aku merasakan semacam energi sihir sekitar sini."


Relisha menatap semua orang setelah di mengatakan apa yang ada dipikirannya. Tapi semua ekspresi hanya menunjukkan kebingungan atas itu.


"Jangan dipikirkan. Itu hanya pikiranku saja."


Karena tidak ingin membebani semua orang, Relisha menyangkal perkataannya sendiri. Semua orang hanya mengangguk dalam diam.


Tapi keheningan yang terjadi dalam sekejap itu membuat semua orang di dalam ruangan tersebut dapat mendengar suara langkah kaki.


Langkah yang mendekati mereka itu semakin cepat dan semakin tidak beraturan.


Brukk


"Permisi."


Ksatria yang tiba-tiba saja masuk itu dengan cepat berlutut saat dia melihat para Ratunya didalam ruangan tersebut.


"Apa yang terjadi. Kenapa harus belarian?" Ujar Kazuo.


"Maafkan saja, Yang Mulia Ratu. Tetapi ada masalah."


"Masalah apa?" Tanya Miku.


Keadaan apa lagi yang lebih buruk dari ini.


Ksatria itu awalnya enggan untuk melaporkannya, tetapi dia merasa harus segera melaporkan kalau tidak mau masalahnya bertambah parah.


"Penduduk yang ada di lapangan utara berhasil melarikan diri."


"Apa!? Bagaimana mungkin."


"Kami tidak tahu penyebab pastinya, tetapi saya baru saja mendapat laporan kalau di kota utara ditemukan sepuluh orang penduduk zombie."


Semua orang tercengang saat Ksatria itu melapor. Tapi Ksatria tersebut tidak berhenti menjelaskan hanya karena melihat semuanya tercengang.


Dari penjelasannya. Saat beberapa Ksatria yang bertugas di luar ibukota akan mengunjungi kota utara, mereka mendapat laporan dari penduduk kalau ada penduduk yang mulai bersikap aneh.


Menanggapi perkataanya, Ksatria tersebut langsung bergegas ke kota utara. Dan benar saja, ada beberapa penduduk yang berubah. Menurut keterangan penduduk. Awalnya yang berubah cuma bertiga, tetapi lama-kelamaan itu bertambah menjadi sepuluh orang.


Khawatir kalau orang yang sama akan terus bertambah, beberapa orang penduduk berinisiatif untuk mengurung sepuluh orang itu di sebuah bangunan tak terpakai


Ksatria yang bertugas juga langsung bergegas kembali ke ibukota untuk melapor.


"Hmm. Bertambah ya."


"Kal. Apakah perilaku zombie ini bisa menular?"


"Setahu saya tidak, Yang Mulia. Sejauh pengamatan saya, kalau memang mereka bisa menular, Ksatria kita yang bertugas pasti akan berubah juga."


Kal selaku kepala Dokter istana memberikan pemikirannya yang masuk diakal.


"Itu ada benarnya juga."


"Apa yang harus kita lakukan, Yang Mulia Ratu?" Komandan Lain bertanya.


Tapi masalahnya Miku juga tidak sepenuhnya mengerti dengan apa yang terjadi. Dia baru saja mendapat kebenaran itu dari Shin, karena itulah dia belum bisa mencernanya dengan baik.


Kalau aku adalah Shin, keputusan apa yang akan aku ambil.