Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 82 : Sumpah Seorang Komandan



Setelah meninggalkan Rajanya. Lain, Nikola dan Norn pergi ke tempat para Ksatria berada.


Banyak Ksatria yang mulai kelelahan saat melakukan tugas mereka untuk menuntun penduduk yang lepas kendali.


Itu wajar saja. Para Ksatria yang seharusnya menikmati jam istirahat mereka setelah bertugas seharian sekarang malah harus bekerja lagi.


Komandan Lain dan dua wakilnya tiba ke tempat Ksatria beristirahat, Lain memandangi semua Ksatria dengan wajah tegangnya.


"Bagaimana situasinya?" Tanya Lain.


Seorang Ksatria yang mewakili para Ksatria lainnya untuk berbicara berdiri dari tempatnya.


"Lapor, situasi sudah mulai membaik dari sebelumnya."


"Baiklah."


Lain mengalihkan pandangannya dari Ksatria tersebut menuju ke arah Nikola.


"Yang Mulia sekarang dimana?"


"Tadi Yang Mulia kembali ke tenda utama." Jawab Nikola dengan sikap Ksatrianya.


"Syukurlah kalau beliau tidak apa-apa."


Lain kembali mengembalikan pandangannya ke arah Ksatria.


"Bagi yang tidak memiliki tugas lagi, silakan beristirahat, tapi tetap waspada."


"Baik."


Para Ksatria mulai berdiri, memberi sedikit hormat kepada Lain dan pergi membubarkan diri.


"Nikola, Norn. Kalian istirahatlah dulu."


"Lain?"


"Tenang saja, aku mau pergi ke ibukota sebentar."


"Ba-baiklah."


Setelah meminta wakilnya untuk beristirahat, Lain melanjutkan perjalanannya ke ibukota untuk melihat sendiri keadaan ibukota.


➖➖➖➖➖


Berjalan sendirian dengan pangkat Komandan Ksatria tetap saja tidak bisa menyembunyikan ketakutannya sendiri saat melihat ibukota yang berusaha dia lindungi sekuat tenaga sekarang hancur dalam sekejap.


Sepanjang jalan yang dia lalui, pemandangan kehancuran membuatnya sedikit merinding. Rumah, toko, semuanya hancur.


Dia juga berselisih dengan beberapa Ksatria yang masih membawa penduduk yang diikat. Mata Lain tidak dapat berhenti melihat penduduk yang tidak bersalah itu diikat, tapi mau bagaimana lagi.


Melanjutkan perjalanan, tiba-tiba saja Lain mendengar beberapa suara langkah kaki yang menuju ke arahnya. Dengan kuda-kuda Ksatria, Lain mulai mengeluarkan pedang dari sarungnya.


Dia mendengarkan suara itu semakin dekat setiap detik ke arahnya.


Satu. Bukan, seperti ada beberapa orang.


Disaat posisi yang menguntungkan untuk Lain tercapai, dia dengan sabar menunggu orang-orang itu untuk berbelok di belokan yang berada di depannya.


Beberapa cahaya mulai terlihat di jalan yang menandakan kalau orang misterius itu sudah dekat.


Satu, dua, tiga,


"Sekarang."


Lain mengayunkan pedangnya sekuat tenaga ke arah cahaya tersebut, mereka yang menyadari adanya bahaya melompat menghindari ayunan pedang Lain.


"Tenang Komandan."


Disaat Lain akan mengayunkan pedangnya sekali lagi, sebuah suara yang dia kenal terdengar dari kerumunan itu.


Dia berusaha mencari pemilik suara itu, dan pada akhirnya dia menemukan wajah yang sangat familiar baginya terpampang jelas di tengah-tengah kerumunan tersebut.


"Kepala Guild!?"


"Iya, ini aku. Apa kamu ingin menebasku?"


"Ti-tidak. Maaf."


"Tidak apa-apa." Ujar Relisha dengan senyuman lembut di wajahnya. Tapi mendadak senyuman itu menghilang dari wajahnya disaat wajah seriusnya keluar.


"Bagaimana keadaanya?"


"Seperti yang terlihat, anda seharusnya sudah melihatnya kan?"


"Ya. Sepanjang jalan, aku melihat dengan mata tidak percaya. Sepertinya beberapa wilayah ibukota hancur ya?"


Pertanyaan dari Relisha tidak mendapat jawaban langsung dari Lain, Komandan yang sedang memasukkan pedangnya itu kemudian kembali menatap Relisha dengan mata hampa.


"Bukan beberapa, tapi seluruh ibukota sudah hancur."


"T-tidak mungkin."


Relisha dan seluruh petualang yang datang bersamanya keget, beberapa dari mereka yang seorang perempuan termasuk Relisha dengan cepat menutup mulut mereka seakan tidak percaya, ada juga yang menggelengkan kepalanya untuk mengkonfirmasi apakah dia salah mendengar atau tidak.


"Begitulah keadaanya yang sebenarnya."


"Tapi saat aku mendapat laporan dari Guild, mereka mengatakan kalau beberapa bagian ibukota terjadi keributan besar."


Sekali lagi Komandan Lain menggelengkan kepalanya.


"Awalnya memang hanya beberapa, tapi pada akhirnya itu menyebar ke seluruh ibukota."


Lain menjelaskan dengan wajah yang tak hentinya menatap ke bawah.


Walaupun pangkatnya adalah seorang Komandan, tapi saat ini dia merasa seperti orang yang tidak berguna sama sekali.


Dia sekarang bahkan tidak memiliki nyali untuk menatap Rajanya setelah melihat sendiri akibat yang menurutnya itu merupakan kelalaiannya sendiri.


Disaat perasaanya sedang tidak karuan, tiba-tiba saja sesuatu bergetar di sakunya. Dia mengambil smartphone itu dan melihat layarnya.


Ternyata seseorang yang sama sekali tidak bisa dia temui sekarang malah menghubunginya. Dengan cepat tapi sedikit takut, dia mengangkatnya.


"Halo, Yang Mulia."


"Lain!"


"Apa ada yang saya bantu, Yang Mulia?" Tanya Lain dengan suara yang sedikit gemetar.


"Maaf, tapi bisakah kamu kembali lagi ke istana. Tolong lindungi para gadis dan orang-orang di istana. Jangan lupa juga untuk membawa beberapa Ksatria bersamamu!"


"Baik, Yang Mulia. Akan saya laksanakan."


"Terima kasih."


"Apa itu Shin?" Tanya Relisha setelah mendengar percakapan Lain.


"Iya, beliau menyuruhku kembali ke istana untuk menjaga Yang Mulia Ratu."


"Oh. Tapi kenapa wajahmu seperti itu?"


"Entah kenapa, aku merasa tidak bisa memperlihatkan wajahku di hadapan Yang Mulia lagi setelah ini."


Mendengar itu membuat Relisha terdiam, dia sepertinya tahu maksud dari perkataan Lain karena itu dia tidak bisa membantahnya.


Tapi kemudian Relisha berjalan mendekati Lain yang tengah murung, dia memegangi pundak Lain dan dengan lembut mengatakan.


"Kamu terlalu memikirkannya, ini bukan salahmu. Kamu juga tahu siapa Shin itu kan, jadi Shin juga pasti mengerti dengan itu."


Mungkin karena mereka sesama perempuan, jadi kalimat Relisha langsung masuk ke dalam diri Lain tanpa hambatan.


Wajahnya mulai berangsur membaik dari yang sebelumnya.


"Terima kasih."


"Bukan masalah, jadi dimana penduduk saat ini?"


"Yang Mulia mengintruksikan untuk membawa semua penduduk ke lapangan utara."


"Baiklah, kami akan kesana."


"Akan aku antar kalian kesana."


"Terima kasih."


Komandan Lain beserta rombongan Relisha kembali bergerak menuju lapangan utara tempat penduduk di isolasi.


Di depan pintu lapangan utara. Relisah merasakan sesuatu yang agak familiar, dia langsung mendonggak ke arah langit untuk melihat apa itu.


"Itu, apa itu seekor burung??"


Mendengar gumaman Relisha, semua orang termasuk Lain menatap langit dengan cepat. Karena langitnya yang gelap, mereka sedikit menyipitkan mata untuk memfokuskan penglihatan mereka.


"Itu makhluk panggilannya Yang Mulia, sepertinya Yang Mulia ingin memastikan keadaan ibukota sekali lagi." Ujar Lain setelah mengkonfirmasi identitas burung tersebut.


"Shin?" Gumam Relisha dengan suara sedih.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke dalam lapangan. Baru saja memasuki lapangan utara, suara teriakan penduduk mulai memenuhi gendang telinga mereka.


"Ini lebih buruk dari yang kubayangkan." Ujar Relisha.


Di tengah perjalanan untuk menemui Rajanya, Lain mendadak berhenti setelah melihat beberapa Ksatria yang menangis tak terhenti di samping penduduk.


Lain, Relisha dan rombongannya langsung bergegas menuju kesana.


"Ada apa. Apa yang terjadi?" Tanya Lain ke Nikola dan Norn yang juga berada disana.


Nikola dan Norn yang menyadari kedatangan Lain, mereka berdua menatap Lain sebentar kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ksatria tersebut.


"Seorang Ksatria menemukan keluarganya di tengah-tengah penduduk yang tidak terkendali, mendengar itu membuat Ksatria lainnya juga mulai mencari keluarga mereka masing-masing. Dan hasilnya."


Sambil menatap keluarganya yang memberontak di balik dinding, Beberapa Ksatria terus menangis sambil memeluk anaknya yang tidak terpengaruh. Tangisan itu tidak bisa dibendung sama sekali.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Norn.


Lain hanya diam sambil melihat beberapa Ksatria yang mulai memperhatikan keselilingnya, entah kenapa Lain merasa kalau Ksatria lainnya juga ingin mencari keluarga mereka. Tapi karena tugas, mereka terpaksa untuk diam disini.


"Kalian semua, ikutiku sekarang!"


"Kita mau kemana Komandan?" Tanya Ksatria yang tadi melihat kesana-kemari tanpa henti.


"Menemui Yang Mulia."


".........."


"Kalian terlalu fokus dengan tugas sampai-sampai mengabaikan keluarga kalian sendiri, aku tahu ini perintah, karena itulah kalian tidak bisa pergi seenaknya. Jadi aku akan menemani kalian semua untuk meminta izin ke Yang Mulia."


Mendengar itu membuat wajah para Ksatria terlihat sangat senang, mereka dengan cepat berdiri dan berkumpul di sekitar Komandan Lain.


Komandan Lain dan Wakilnya berjalan bersama menuju ke tenda utama tempat Rajanya berada.


Lain juga merasa tidak bisa memperlihatkan wajahnya lagi di depan Rajanya, tapi sekarang dia memilih untuk menahan perasaan itu dalam-dalam


Hanya tinggal satu belokan lagi untuk sampai di tempat Rajanya, tapi Lain mendadak memerintahkan semuanya untuk berhenti.


"Aghru. A-ada apa Lain?" Tanya Norn yang kesakitan ketika menabrak Nikola dari belakang.


"Huss. Kalian dengar suara itu?"


Merasa penasaran, Norn dan Nikola beserta Ksatria lainnya memusatkan indra mereka ke telinga mereka sendiri.


"Ini?"


"Aku mendengarnya, ini suara tangisan."


Karena mereka tidak mengenal suara tangisan itu, mereka semua memberanikan diri untuk mengintipnya.


"Itu."


"Yang Mulia."


Lain dan semua orang yang ingin menemui Rajanya terhenti saat melihat Rajanya sendiri bergumam dengan air mata yang tak terhenti.


"Aku seperti orang yang tidak berguna disaat seperti ini." Gumamku dengan mata yang masih terfokus pada pemandangan itu


Disaat yang bersamaan, air mata juga mulai membasahi pipi Komandan tersebut saat melihat Rajanya menangis di depan matanya.


Dia selama ini merasa tidak berguna karena gagal melindungi ibukota yang seharusnya dia lindungi.


Dia bahkan malu untuk bertemu dengan Rajanya, tapi setelah melihat Rajanya sendiri menangis membuat dirinya semakin tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


Sebenarnya bukan hanya Komandan Lain saja yang menangis, tetapi semua orang yang berada di belakangnya juga meneteskan air mata.


Aku hanya mementingkan diriku sendiri, tapi Yang Mulia tidak, bahkan beliau mungkin saat ini adalah orang yang paling menderita karena insiden ini.


Dengan tangan yang dikepalkan dan hati yang diteguhkan, Lain bergumam.


Yang Mulia, dengan jiwaku sebagai saksinya, aku sekarang bersumpah bahwa aku akan memberikan hidupku untuk Kerajaan dan menjadi ujung pedang Yang Mulia sampai akhir hayatku.


Saat dia berusaha menghilangkan jejak tangisan diwajahnya, Lain menatap Rajanya bersamaan dengan sumpah yang dia ucapkan.