
Mendengar kata-kata Kazumi membuat beberapa orang yang menghadiri Rapat terdiam. Beberapa dari mereka bahkan mulai menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan hawa penasaran, tetapi ada juga yang menatapnya dengan tatapan takut seakan mereka tidak ingin mendengar Kazumi melanjutkannya.
Laporan yang akan dibuat Kazumi kali ini akan menggemparkan seisi ruangan, karena bisa saja ini adalah pernyataan perang.
"Laporan apa itu, Kapten Kazumi?" Tanya Kazuo.
Kazumi menatap seisi ruangan sebelum menjawab pertanyaan Perdana Menteri.
"Penyebab masalah Kerajaan sebenarnya terletak pada Felsen, saya beberapa waktu lalu berhasil mendapatkan bukti kuat akan rencana Felsen, walaupun rinciannya tidak diketahui, tetapi ini saja sudah menguatkan bahwa Felsen adalah pelaku dibalik semua ini."
Dengan sedikit mengangkat telunjuknya untuk memberi tanda kepada bawahannya, Kazumi mulai mengambil laporan dari tangan bawahannya dan menyerahkannya kepada Miku.
Miku yang menerimanya sedikit ketakutan akan laporan tersebut, tetapi semua orang saat ini tidak mengetahui kalau Rin saat ini sudah sangat pucat, itu tidak lain karena masalah ini memiliki kaitan langsung dengannya.
Dia merasa kalau semua yang dialami oleh Kerajaannya berawal dari dia yang tidak ingin mengakui statusnya sebagai Putri Felsen.
Dimulai dari sanalah semua ini menjadi semakin rumit, keributan dan kehancuran yang tidak terkendali, semuanya dimulai dari percakapan tersebut.
Walaupun terdengar sepele, tapi dia tidak pernah menyangka masalah itu akan menjadi serumit ini.
Dan melihat semua orang yang dia percayai duduk disini dan berusaha melawan semua insiden ini membuatnya sedikit tenang. 'Dengan Shin sebagai kepalanya, semuanya akan baik-baik saja', itu yang dia pikirkan.
Kembali ke Miku. Dia membolak-balikkan laporan yang diberikan kepadanya oleh Kazumi dengan ekspresi tegang. Kepalanya tidak bisa lagi memproses apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang diinginkan oleh mereka, tapi satu yang dia tau, Kerajaan Felsen secara terang terang-terangan menyatakan perang kepada Glory.
Sama seperti Miku, Raja Strom dan Kaisar Gardio juga berpendapat sama, mereka yakin kalau Felsen seperti diam-diam menyatakan perang dengan Glory dengan tindakan yang mereka lakukan.
Setelah selesai membaca laporan singkat tersebut, Miku memandang Raja dan Kaisar, Raja dan Kaisar tau kalau keputusan ini tidak bisa diputuskan oleh Miku seorang diri, bagaimanapun Miku baru sekali ini berurusan dengan urusan Kerajaan.
"Untuk sekarang lebih baik kita menyelesaikan masalah penduduk terlebih dahulu."
Semua orang disana hanya mengangguk kecil akan perkataan Raja Strom, dia mengatakan hal tersebut diiringi dengan senyuman cerah.
"Kalau masalah ini selesai, kita akan menyelesaikan akar dari ini semua dengan Felsen."
Tapi tidak untuk Kaisar, dia secara terbuka mengatakan kalau Gardio siap membantu Glory kalau seandainya Felsen benar-benar memulai perang.
Senyuman Raja tadi juga luntur seketika saat dia mendengar pernyataan Kaisar, hilangnya senyuman cerah tersebut menandakan kalau dia sependapat dengan Kaisar akan masalah ini.
Melihat mereka berdua sangat serius akan kata-katanya membuat semua orang terdiam, tidak akan yang akan menyangka bahwa Kerajaan yang baru berdiri dengan Raja muda mereka akan segera berperang melawan Felsen yang dikenal kuat dalam hal sihir atau bahkan bisa dibilang termasuk yang terkuat di dunia.
Dulu sebelum Glory berdiri, hanya Gardio dan Strom yang mampu menyaingi mereka dalam hal kekuatan. Kalaupun harus berperang, pihak Gardio, Strom ataupun Felsen akan mengalami kerugian yang sangat besar. Karena alasan itulah tidak ada yang ingin memulai perang.
Namun setelah Kerajaan Glory berdiri dan berhasil mengalahkan kekuatan Strom dan Gardio yang telah bertahan selama ratusan tahun, Felsen disini seperti ingin mengatakan kalau merekalah yang terkuat di dunia, lebih kuat dari Glory, dan itu membuat Kaisar dan Raja marah.
Mengingat Kekaisaran Slave yang dulu dikenal sebagai Kerajaan terkuat dan termasuk Kerajaan terkejam di dunia berhasil membungkam hati setiap Raja Kerajaan lain, tidak ada yang mau mengusik Kerajaan tersebut.
Tapi sekarang, Kerajaan yang terkenal terkuat itu hancur tak bersisa di hadapan para monster yang tidak diketahui asalnya. Tidak ada yang selamat selain beberapa orang penduduk yang sebagian besar saat ini menjadi penjahat di Kerajaan lain.
Dan Glory sebagai satu-satunya Kerajaan di dunia yang berhasil menumpas semua monster yang mengancam keselamatan dunia saat ini sedang ditantang oleh Kerajaan Felsen untuk berperang.
Itu membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menjadi geram, tidak terkecuali para gadis. Mereka mulai menunjukkan sikap permusuhan terhadap Felsen yang berusaha menyakiti Kerajaan mereka.
Menyakinkan keyakinannya, Miku mengangkat kepalanya dan menatap semua orang yang hadir. Semua orang yang melihat Miku berdiri seketika terdiam, semuanya saat ini menantikan Miku berbicara.
Menarik nafas dalam-dalam, Miku mulai angkat bicara.
"Untuk sekarang, kita akan mencari alat yang dipasang Felsen di seluruh ibukota, bahkan kalaupun itu harus menjelajahi seluruh tempat di Kerajaan, kita harus menemukannya."
"Dan mengingat adanya penghalang sihir yang ditempatkan di Kerajaan, Ksatria kita yang tidak tertular tidak diperbolehkan melakukan apapun tindakan yang akan membuat mereka berubah, baik itu mengambil barang untuk dipakai ataupun melepas apapun yang ada di tubuh mereka, sampai kita menemukan cara lain, itu tidak akan diperbolehkan mulai dari sekarang."
Semua orang tercengang akan perubahan tiba-tiba dari sikap Ratu mereka, tapi itu bisa dimaklumi mengingat tindakan saat ini yang tidak bisa dimaafkan dari Felsen.
Mendengar perintah telah dikeluarkan oleh Ratu mereka, semua orang yang masih tercengang ditempat kembali ke dalam kesadaran mereka dan berdiri dengan sikap tegas.
"Baik."
Suara semua yang hadir menggema di seluruh ruangan bahkan bisa di dengar dari luar.
Para Ksatria yang berada di luar tenda sedikit terkejut mendengar suara tersebut, suara tegas dari semua orang yang berada di dalam menarik minat setiap orang untuk mengetahui alasannya.
Namun belum sempat mereka ingin bertanya, rombongan orang keluar dari tenda dengan tergesa-gesa, semuanya menunjukkan wajah marah akan sesuatu dan itu membuat Ksatria lain kebingungan.
➖➖➖➖➖
Para Ksatria yang awalnya kebingungan juga mulai bergerak dengan ekspresi marah yang sama seperti orang yang keluar dari tenda, kemarahan mereka saat ini sangat beralasan karena mereka sudah mengetahui secara kasar akan apa yang sebenarnya terjadi dengan Kerajaan mereka selama ini.
Dibantu oleh Ksatria Gardio dan Strom, semua orang mulai menyelusuri setiap sudut kota, bahkan mereka juga sudah mulai mengirim pasukan lainnya ke luar ibukota untuk mencarinya.
"Apa sudah berhasil ditemukan?"
"Belum."
"Terlalu sulit untuk menemukan benda yang bahkan kita tidak tahu bentuknya."
Saat ini Komandan Lain sedang berbicara dengan Wakilnya Nikola dan Norn.
Sejak perintah Ratu turun beberapa jam yang lalu, mereka bertiga dibantu oleh komandan Ksatria Gardio dan Strom mulai membagi pasukan dan menjelajahi semua tempat yang memungkinkan, tapi hasilnya nihil.
"Tidak ada sama sekali benda yang mencurigakan, selama kita mencarinya tanpa adanya petunjuk yang jelas tindakan kita sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami." Nikola menghela nafas kekhawahtiran.
"Kekhawatiran kami sama denganmu, tapi hanya ini yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan Kerajaan saat ini." Lain berusaha menenangkan Nikola yang gelisah.
"Itu benar, selagi Yang Mulia tidak sadarkan diri, hanya kita yang dapat melakukan tugas ini." Norn juga berusaha memberi Nikola semangat.
Dan benar saja, saat Nikola mendengar kalimat Norn, dia langsung tertegun sebentar sebelum memukul pipinya untuk menyadarkan dirinya.
"Kalian benar, ayo kita cari."
Walaupun semangat mereka kembali, tapi melanjutkan pencarian yang tak berujung ini membuat mereka sedikit kewalahan, tentu karena hal ini sudah mereka lakukan selama seharian penuh.
Dengan mental dan jiwa yang kelelahan mereka semua menghentikan pencarian dan memilih kembali setelah Ratu memerintahkan mereka untuk kembali.
Ditengah perjalanan ke ibukota. Tiba-tiba saja terjadi gempa yang sangat dahsyat. Seluruh tanah dan apapun yang ada di atasnya digoncangkan tanpa ampun.
"A-apa yang terjadi?"
Para gadis yang sedang duduk sambil menunggu prajurit mereka pulang langsung digoyangkan gempa bumi.
"Ratu."
"Kazuo."
Kazuo yang sebelumnya sedang berdiskusi dengan Raja Strom dan Kaisar Gardio berlari ke arah mereka dengan panik.
"Silakan ikuti saya, Ratu. Lebih baik kita berlindung terlebih dahulu."
Dengan wajah kekhawatirannya, Kazuo berusaha meminta Para Ratu untuk evakuasi ke tempat yang aman, tapi Ryou sepertinya tidak mau melalukan hal tersebut.
"Tidak, kita harus menyelamatkan Shin terlebih dahulu. Dan bukannya istana sudah diperkuat oleh Shin."
Para gadis yang lainnya juga berpendapat yang sama akan hal tersebut.
Pembangunan istana memang terlihat biasa dari luar, tetapi sebenarnya istana ini telah diperkuat oleh Shin menggunakan sihir, jadi seharusnya gempa biasa tidak akan membuat dinding retak sedikitpun.
Tapi itu kalau dulu.
"Maaf, Ratu. Saya berpendapat yang sama, tapi entah apa yang terjadi, pertahanan istana melemah sampai titik dimana itu akan berbahaya kalau kita terus berada disini."
Para gadis yang memberontak akhirnya terdiam membisu, mereka paham kalau menilai dari keadaan Shin saat ini itu bisa menjadi alasan kenapa pertahanan istana melemah.
Trakk.
Dan benar saja, retakan mulai terlihat di dinding tepat disamping mereka.
"T-tapi bagaimana dengan Shin?" Tanya Hilda dengan panik.
"Tenang saja, Yang Mulia telah dievakuasi bersama Raja Strom dan Kaisar Gardio. Saya kesini untuk menjemput Yang Mulia Ratu saja."
'Shin telah dievakuasi' dengan kalimat itu saja, Kazuo bisa mendengar sekilas suara hembusan nafas lega dari Ratunya.
"Tolong ikuti saya!" Lanjut Kazuo.
...Bersambung...