Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 80 : Hancurnya Ibukota Glory




"Masalah apa?"


"D-di ibukota saat ini sedang ada banyak keributan." Sambil terus berusaha menjaga tempo nafasnya, dia memberitahuku.


"Keributan!?"


"Iya, Yang Mulia. Kami sudah berusaha menenangkannya, tapi situasinya malah bertambah gawat."


Sial.


"Kalian semua tinggal disini, jangan kemana-mana, oke?"


"B-baiklah, hati-hati Shin."


Setelah memberitahukan apa yang ingin aku katakan kepada para gadis, aku dan Komandan Lain pun berlari secepat yang kami bisa.


➖➖➖➖➖


"Hei, berani-beraninya kau."


"Kau yang mulai dulu."


Mereka berdua mulai saling memukul satu sama lain, tapi masalahnya adalah tidak adanya yang mau menghentikan pertengkaran mereka sama sekali.


"Hei kalian. Berhentilah!"


Beberapa Ksatria yang tiba disana juga kesusahan menghentikan mereka, penyebabnya adalah status mereka yang masih penduduk sipil Glory, jadi para Ksatria tidak bisa berbuat seenaknya.


"Kau, diam saja!"


Seberapa sopannya ksatria menghentikan mereka, tapi mereka malah membentaknya tanpa ampun.


Penduduk lainnya juga tidak ada yang mau menghentikan mereka, itu bukan karena mereka takut dengan orang yang sedang berkelahi, melainkan karena situasi yang sama juga sedang terjadi di sekeliling mereka.


"Apa yang harus kita lakuka_" Gumam Ksatria tersebut.


"Heii!!!"


"W-wakil komandan!"


Disaat para Ksatria menjadi bingung, Norn dan Nikola tiba di tempat kejadian.


Mereka berdua mulai memperhatikan keseliling, sesekali mereka menggosok mata untuk memastikan kalau penglihatan mereka baik-baik saja, tapi seberapa banyak pun mereka menggosok, pemandangan itu tidak hilang sama sekali.


Tepat di depan mata mereka saat ini terpampang pemandangan dimana perkelahian penduduk sejauh mata memandang.


Penduduk memenuhi jalanan hanya untuk berkelahi, pukulan demi pukulan, jambakan demi jambakan mulai tak terkendali, jalanan sekarang sudah mulai terlihat seperti tawuran anak sekolah.


Tidak hanya berkelahi dengan tangan kosong, penduduk juga berkelahi menggunakan peralatan yang ada disekitar mereka, baik itu kursi, meja, pot bunga, balok kayu, semuanya melayang kemana-mana.


"Apa-apaan ini." Nikola mengepalkan tangannya sambil menggumamkan sesuatu.


"Apa yang terjadi?"


Sementara Nikola yang keliatan sangat marah, Norn hanya dapat terpaku dengan tangan yang masih menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Wakil Komandan Nikola."


Mendengar sebuah suara membuat kesadaran Nikola kembali lagi ke dirinya, dia dengan cepat memutar kepalanya dan menatap seseorang yang tadi memanggilnya.


"Ada apa?"


Ternyata yang memanggil Nikola adalah seorang Ksatria, dengan nafas berat dia, mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


"Maaf, ta-tapi.."


"Tapi apa. Apa yang terjadi?"


Nikola yang tidak mau mendengar masalah lagi langsung membentak ksatria yang ingin melapor itu.


"Ke-kejadian yang sama terjadi di seluruh ibukota Kerajaan, Wakil Komandan."


Baru saja Nikola berusaha untuk mengembalikan ketenangannya, tapi sekarang ketenangannya itu malah di hantam oleh batu yang lebih besar dari sebelumnya.


"Apaa!?"


Bukan Nikola yang merespon laporan Ksatria itu, tetapi Norn. Dia dengan wajah tegang kembali menatap perkelahian yang sedang berusaha dihentikan oleh Ksatria di depan matanya.


"Dimana Komandan Lain?" Tanya Nikola.


"Komandan sedang melapor kepada ,Yang Mulia, mungkin saja mereka sedang kesini."


Mendengar kalau Raja akan segera datang membuat Nikola kembali berpikir untuk setidaknya mengubah situasi ini walaupun cuma sedikit.


"Norn, aku memiliki sebuah ide."


"Apa itu?"


Mulailah Nikola membisikkan rencananya ke telinga Norn, Setelah mendengarkan selama beberapa saat, Norn kemudian mengangguk kepala tanda kalau dia mengerti dengan rencananya.


"Baiklah, akan aku lakukan." Jawab Norn.


Mendapat persetujuan dari Norn, Nikola kemudian mengeluarkan smartphone dari sakunya.


Beberapa jam setelah smartphone diberikan kepada para gadis, secara bertahap smartphone juga mulai di berikan kepada anggota penting di struktur Kerajaan


Mereka semua awalnya menolak untuk menerimanya karena merasa tidak berhak, tetapi aku dengan sedikit paksaan tetap memberikan mereka dengan alasan untuk memudahkan ku saat ingin menghubungi mereka semua.


Nikola mulai menggeser layarnya kebawah, setelah mendapatkan nomor yang diinginkan, dia langsung menelponnya.


Setelah pembicaran singkat selesai, Nikola menutup telponnya dan menatap semua Ksatria yang berada di sekitarnya.


"Yoss. Kalian semua."


Menanggapi teriakan Nikola, semua Ksatria yang masih sibuk, menghentikan usaha mereka untuk menenangkan penduduk dan mulai menatap Nikola.


"Bagi kelompok menjadi dua. Devisi pertama dibawahku tolong kembali dan ambil tali yang disiapkan istana di gerbang dan bawa kesini." Ujar Nikola.


"Tali!? Untuk apa Wakil Komandan?"


"Kita tidak bisa menyakiti penduduk biasa, tapi kita memiliki cara untuk menghentikan perkelahian mereka."


"Bagaimana caranya?"


"Kita tidak memiliki pilihan selain mengikat mereka semua."


"Mengikat mereka?"


"Iya. Hanya itu caranya. Jangan banyak bicara lagi, pergi laksanakan tugas, beritahu juga Ksatria devisi pertama lainnya."


"B-baik. Laksanakan."


"Dan untuk devisi dua dibawahku, pergi berpencar ke seluruh ibukota dan amankan anak-anak." Perintah Norn untuk bawahannya.


"Siap, laksanakan." Jawab perwakilan devisi kedua.


"Baiklah. Berpencar sekarang!!" Teriak serentak Nikola dan Norn.


"Baik."


➖➖➖➖➖


Aku yang sedang berlarian dari istana bersama Komandan Lain mulai merasakan firasat buruk.


Dengan wajah yang mulai tegang dan jantung yang berdetak kencang, aku menambah kecepatan lariku. Lain yang merasakan kalau lariku bertambah cepat juga mulai menambah kecepatannya untuk menyimbangiku.


Saking paniknya kami tadi, aku sampai lupa untuk berteleport, jadi kami hanya berlari sekuat tenaga saja.


Perjalanan kami akhirnya berakhir di jalan utama ibukota. Pemandangan yang menyesakkan dada terlihat olehku di sepanjang jalan.


Apa yang tidak pernah terbayangkan olehku terjadi tepat di depan mataku.


Apa yang terjadi.


Menatap sekeliling sebentar dengan mata terbelalak, aku langsung mengalihkan pandanganku ke hadapan Lain.


"Lain. Apa sebenarnya yang terjadi?"


"Saya tidak tahu Yang Mulia, tiba-tiba saja situasi sudah seperti ini"


Apa-apaan ini.


"Yang Mulia!? Komandan!?"


Sebuah suara tiba-tiba saja terdengar di telingaku, disaat aku melihatnya, ternyata yang menyapaku itu adalah Nikola dan Norn.


"Bagaimana situasinya?" Tanya Lain dengan terburu-buru.


"Situasinya sudah tidak terkendali, Komandan, tapi." Balas Norn.


"Tapi apa?"


"Untuk mengurangi kerusakan, kami berdua sudah memerintahkan devisi pertama untuk mengikat penduduk yang berkelahi dan devisi kedua untuk menyelamatkan anak-anak yang terjebak perkelahian." Sambung Nikola.


"Bagus." Nafas Komandan Lain yang tadinya tidak karuan sekarang sudah mulai tenang setelah mendapat laporan yang membuatnya lega.


Tapi tidak denganku, setelah mendengar laporan Wakilnya, wajahku semakin gelap saat memikirkan situasi yang terjadi.


Bagaimana mungkin ibukota kacau dalam sekejap.


Dengan pikiran yang masih terjebak, aku sampai tidak menyadari kedatangan beberapa Ksatria yang sedang berlarian kearahku sambil membawa tali.


Sesampainya di depan kami, mereka mulai mempersiapkan tali dan berlarian untuk menangkap penduduk satu per satu.


Mengabaikan kesulitan Ksatria saat mengikat penduduk yang memberontak, aku pun berpaling dan memerintahkan seekor burung untuk terbang di atas ibukota.


Begitu penglihatanku terhubung dengan burung itu, apa yang kulihat memang tidak bisa kupercaya. Seluruh ibukota saat ini sedang kacau balau, kebakaran dimana-mama, perkelahian memenuhi jalan, Ksatria juga sedang berusaha mengikat penduduk.


Apa-apaan ini. Kenapa dengan situasi ini.


Kemarahanku sudah berada di ujung tanduk, tapi itu berhasil ditekan saat sebuah suara berhasil memasuki pikiranku.


"Shin. Apa kamu mendengarkanku!"


"Y-ya, aku mendengarnya. Dimana kamu kak?"


Yang menghubungiku saat ini menggunakan telepati adalah kak Kaori, si Dewi Cinta.


"Aku, atau lebih tepatnya kami bertiga saat ini sedang berada di alam Dewa."


"Alam Dewa!?"


"Ya. Apakah keadaan disana baik-baik saja, aku merasakan firasat buruk di sana."


"Hmm. Memang, keadaan ibukota saat ini sedang kacau balau, perkelahian penduduk terjadi dimana-mana."


"Sudah kuduga. Maaf Shin, tapi kami tidak bisa membantumu."


"Kenapa??"


"Akan kujelaskan rincihannya nanti, tapi untu_ Ughrr...."


"Apa yang terjadi?" Mendengar suara aneh membuatku sedikit panik dengan apa yang sedang terjadi padanya.


"Na-nanti aku jelaskan, untuk sekarang aku minta maaf."


Tiba-tiba saja sambungan telepatiku diputus olehnya, aku dengan wajah bercampur antara bingung dengan sikapnya atau marah karena disaat dia diperlukan, dia malah menghilang.


Apa yang terjadi dengannya. Hmm, yang lebih penting saat ini adalah ibukota.


"Yang Mulia!?"


Suara lain kembali terdengar di olehku, tapi sekarang suara itu bukan telepati, melainkan suara sungguhan. Disaat aku menatap sumbernya, ternyata itu berasal dari Wakil Komandan Norn.


"Ada apa, Norn?"


"Barusan saya mendapat laporan kalau Kepala Guild dan beberapa petualang sedang menuju kesini."


"Relisha, apa mereka tidak apa-apa?"


"Ya, sepertinya mereka baik-baik saja, Yang Mulia"


Relisha dan petualang lain baik-baik saja, terus kenapa penduduk menjadi seperti ini.


"Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan dengan penduduk yang diikat saat ini?" Suara pertanyaan lain datang dari Nikola.


Lain, Norn dan Nikola menatapku saat pertanyaan Nikola diucapkan.


"Hmm. Pindahkan mereka ke lapangan utara. Akan jauh lebih aman untuk mereka kalau berada disana." Tanya balik Nikola.


"Dan bagaimana dengan anak-anak, Yang mulia. Entah kenapa hanya anak-anak dan beberapa orang saja yang tidak bermasalah."


"Untuk anak-anak, bawa mereka ke istana dan minta Lain untuk mengurusnya!"


"Baik."


Nikola dan Norn kembali berlari setelah mendapat tugas lanjutan dariku, sementara itu aku dan Lain memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami mengamati situasi.


Ini lebih parah dari dugaanku.


Ibukota saat ini sudah sangat kacau, pemandangan yang beberapa jam lalu aku lihat sekarang sudah berubah drastis.


Kebakaran dan kehancuran sudah menjadi satu di ibukota kerajaan Glory saat ini. Bahkan aku juga bisa melihat tetesan darah berceceran di jalanan.


Selagi aku masih mengamati, sebuah pemikiran terintas dibenakku, aku dengan cepat menatap Lain yang mengikutiku di belakang dengan wajah tegangnya.


"Lain. Bagaimana dengan penduduk di luar ibukota?"


"Kami masih menunggu informasi dari Ksatria yang ditugaskan. Tapi kemungkinan besar, kejadian ini tidak terjadi di tempat lain selain di ibukota, Yang Mulia."


"Begitu ya."


Setelah memastikan keraguanku, aku dan Lain pun memutuskan untuk menuju ke lapangan utara.


Sepanjang perjalanan, yang kulihat hanyalah Ksatria yang sedang menuntun penduduk yang masih memberontak ke lapangan utara, dan Ksatria lainnya yang sedang berusaha untuk memadamkan api.


Ibukota saat ini benar-benar hancur.