Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 16 : Ilmuan Cerdas



"Shin. Apa kam__ Maaf. Sepertinya kamu sedang sibuk ya."


"Tidak. Kalian datang di saat yang tepat."


"Apa maksudmu?" Hana dengan penasaran.


"Ini perkenalkan dia ayahnya Renne, namanya......"


"Oh, aku lupa. Namaku Kazuo, ayahnya Renne."


"Jadi kamu ayahnya Renne, Baguslah kalau kamu sudah bertemu ayahmu ya Renne." Miku tersenyum ke arah Renne.


"Aku juga bersyukur, Yang Mulia Ratu."


"Ratu!?"


Entah kenapa bagi Kazuo itu terdengar sedikit aneh.


"Mereka Ratu Kerajaan ini, Ayah."


Calon Renne.


Batinku dengan senyuman canggung.


Saat mendengar perkataan anaknya, Kazuo langsung menatap para gadis.


"Maaf kalau terlambat. Perkenalkan namaku Miku Urnest Allent. Putri Pertama Kerajaan Allent."


"Namaku Hana Harlhes Strom. Putri Kerajaan Strom."


"Dan aku Airi Linde Gardio. Putri Kedua Kekaisaran Gardio."


"Aku Kobayashi Kyou."


"Kalau aku Kobayashi Ryou."


"Dan aku Kokonoe Rin."


Sepertinya mereka bertiga sudah terbiasa dengan busana dan gaya memperkenalkan diri ala bangsawan.


"Hahh!? Kamu benar-benar memiliki enam Ratu."


"Y-yaa."


Ini calon.


"Dan nona Miku, aku sangat senang kamu sudah sembuh." Dia memandangi Miku dengan mata bersyukur.


"Ini karena bantuan Shin. Aku akhirnya bisa sembuh dan berada disini sekarang." Miku menjawab dengan senyuman dan menatapku juga.


Setelah sekian lama kami mengobrol hal-hal nostalgia. Akhirnya kami mulai lagi masuk ke topik pembicaraan.


"Aku akan masuk topik. Apakah kamu bersedia menjadi perdana menteri ku?" Aku sedikit serius saat mengatakan itu.


"Kenapa harus aku?"


"Aku mendapat saran dari Raja Allent dan aku juga tahu kalau kamu dulu pemimpin klan tokugawa di Allent."


"Kalau aku menolak. Bagaimana?"


"Aku juga tidak akan memaksa. Kalau kamu menolak aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya akan berterimakasih dan mengantar mu dan Renne pulang ke Allent."


"Tidak. Aku tidak mau."


Suara Renne tiba-tiba mengisi seluruh ruangan itu.


"Kenapa Renne?" Kazuo bertanya.


"Aku sudah merasa nyaman berada di sini, aku tidak mau meninggalkan tempat ini ayah."


"Apa kamu tidak mau pulang ke rumah?"


"Aku mau. Tapi aku sudah nyaman disini."


Kazuo hanya terdiam menanggapi perkataan putrinya.


"Kalau ayah bekerja disini, kita nanti akan bisa bersama-sama lagi. Orang-orang disini juga baik-baik ayah."


"Apakah seperti itu?"


"Iya ayah." Renne dengan semangat menjawab pertanyaan ayahnya.


Melihat senyuman hangat putri nya, Kazuo mulai luluh.


Dia mulai memandangi sekitar. Melihat setiap orang yang ada di ruangan itu.


"Baiklah. Ayah akan bekerja disini." Kazuo tersenyum lebar pada Renne.


"Benarkah ayah."


"Iya."


"Horee."


Renne mulai melompat-lompat kegirangan saat mendengar keputusan ayahnya.


"Aku akan menerima permintaan mu."


"Baiklah. Kalau begitu kita sepakat."


Kami berjabat tangan tanda sepakat.


"Mohon kerjasamanya Yang Mulia."


"Aku juga." Aku tersenyum pada Kazuo.


➖➖➖➖➖


Beberapa hari kemudian.


Kerajaan ku yang di bantu oleh Perdana Menteri Kazuo langsung bertambah makmur dan sejahtera, semua rakyat hidup bahagia, aku juga tidak lupa mendirikan pusat pertokoan.


Aku juga mengirim trio kelinci Ksatria ku ke Allent karena Kazuo mengatakan kalau dia dulu memiliki seorang yang sangat berbakat di dalam klan nya, jadi aku mengirim mereka supaya bisa dilatih olehnya.


Ninja yang dulu bekerja untuk klan juga di minta oleh Kazuo untuk datang kesini.


"Yang Mulia. Aku datang kesini sesuai panggilan."


Wanita ninja itu menundukkan kepalanya saat berbicara padaku di ruang audiens.


"Apakah kamu ninja yang di panggil Kazuo kesini. Siapa namamu?"


"Iya. Namaku Kazumi, Yang Mulia."


Kalau tidak salah Kazuo mengatakan kalau umurnya enam belas tahun sama sepertiku.


"Apa kamu bersedia bekerja sebagai ninja Glory? "


"Hamba bersedia, Yang Mulia."


Dia menjawab pertanyaan ku tampa ragu-ragu.


Tekat yang kuat.


"Baiklah. Mulai sekarang kamu bekerja untuk Glory."


"Terima kasih Yang Mulia, tapi sebelumnya saya minta izin membawa anggota ku supaya bisa bekerja juga disini, Yang Mulia."


"Silakan. Dimana anggota mu."


"Mereka menunggu diluar, Yang Mulia."


"Ayo kita temui mereka semua."


Aku, Kazumi dan Kazuo keluar menemui semua ninja yang menunggu di halaman Kerajaan.


Saat aku datang, mereka sedang berbaris rapi sambil mengobrol. Ketika mereka melihat kehadiran ku, mereka diam.


Sekitar dua ratus orang ya.


Lumayan.


"Semua nya. Beliau adalah Raja disini. Dan mulai saat ini kita akan bekerja untuknya."


"Perkenalkan. Namaku Tatsuya Shin."


Saat aku selesai memperkenalkan diri, suara bisikan mulai terdengar dari mereka semua.


Perlu beberapa waktu agar mereka kembali tenang.


"Aku dengan senang hati menerima kalian semua yang mau melayani Glory. Bekerjalah dengan giat dan tekun, aku tau kalau pekerjaan kalian itu cukup berbahaya."


"Jadi pesan dari ku yaitu jangan terlalu memaksakan diri kalian saat menjalani misi, jangan pernah katakan kalau kalian akan mempertaruhkan nyawa untuk menyelesaikan misi ini, aku tidak akan menerima alasan itu. Hidup kalian lebih berharga di sini dari apa pun di dunia ini."


"Yang bersedia tetap tinggal disini dan yang tidak silakan tinggalkan halaman ini." Kazumi dengan tegas mengatakan itu pada bawahannya setelah pidatoku selesai.


Setelah menunggu beberapa menit, tidak ada yang meninggalkan tempat itu.


"Kalau begitu selamat datang di Kerajaan Glory." l


"Hidup Raja Glory." Sorakan dari mereka semua langsung menghebohkan halaman Kerajaan itu.


Setelah mendapat pidato dariku dan Kazumi. Mereka semua bubar dulu untuk beristirahat sebelum mendapat misi pertama dari Kazumi.


Aku memilih beristirahat sebentar di ruangan ku karena sangat kelelahan.


➖➖➖➖➖


Saat selesai beristirahat, aku memilih pergi ke Babel karena aku belum berterima kasih kepada Liora.


Namun saat aku tiba, Liora langsung berlari padaku.


"Shin."


"Ada apa?"


"Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan kalau sekarang sudah saatnya kamu bertemu dengan dokter."


"Dokter!? Bukannya dia sudah meninggal."


"Dokter sudah meninggal, tapi dia meninggalkan rekaman dan juga ini." Dia mengatakan itu sambil menyerahkan semacam piringan persegi panjang datar.


"Apa ini?"


"Aku juga tidak tahu, tapi kata Dokter cukup memberikan ini pada Shin dan dia akan tahu kegunaannya."


Tulisan apa ini.


'Menatap bulan berjalan?'


Apa artinya.


Butuh puluhan menit bagiku untuk menerjemahkan tiga kata itu.


"Menatap bulan berjalan, satu malam aku tersesat."


Ketika semua kata telah lengkap, tiba-tiba muncul hologram besar di depanku yang menampilkan seorang wanita berusia sekitar dua puluhan mengenakan baju laboratorium.


"Siapa dia Liora?" Aku mengatakan itu sambil menunjuk hologram itu.


"Dia adalah Dokter."


"Hai Shin. Aku Dokter Regina Babylon."


"Bukannya kamu su__"


Ketika perkataan ku belum selesai, dia langsung memotongnya.


"Video ini aku rekam lama sebelum aku meninggal."


"Untuk apa kamu merekam ini?" Aku yang masih tidak percaya langsung bertanya balik.


"Aku hanya ingin memberikan selamat saja padamu karena sudah berhasil menemukan babel."


"Hehh..."


Alasan bodoh macam apa itu coba.


"Apa-apaan itu." Aku langsung membantah perkataan mendadaknya.


"Kalau kamu mau lihat, akan aku perlihatkan gratis." Sekali lagi dia tersenyum nakal padaku.


"Tidak usah."


"Baiklah kalau kamu menolak"


"Tanggu-tunggu. Bagaimana bisa kamu menjawab pertanyaan ku padahal kamu itu hanya rekaman?"


"Karena aku bisa melihat masa depan, Aku sudah melihat sedikit masa depanmu karena itu aku tau apa yang akan kamu tanyakan padaku."


Apa-apaan kekuatannya itu.


"Aku mau tanya. Kenapa kamu mewariskan Babel padaku?"


"Itu karena aku tidak bisa memastikan apakah Failer akan menyerang di masa depan atau tidak." Dia sedikit menundukkan kepalanya.


"Disaat aku memikirkan kepada siapa aku akan mewariskannya. aku melihatmu di masa depanku, aku juga selalu memantau pergerakan mu selama aku bisa."


"Walaupun aku mempunyai Babel, bagaimana caraku menghadapi Failer?"


"Tenang saja. Aku juga sudah menyelesaikan Bilpart beserta cetak birunya. Kalau jumlahnya kurang atau kamu ingin menciptakan model baru, kamu bisa menggunakan cetak birunya sebagai dasar."


"Apa aku akan bisa menghadapi Failer."


"Pasti bisa. Karena aku percaya padamu Shin."


Misteri ini mulai terungkap satu-persatu. Mungkin cepat atau lambat aku akan tetap melawan Raja iblis itu..


"Baiklah, Aku akan berusaha. Terima kasih sebelumnya karena sudah mau percaya padaku."


"Sama-sama Shin. Kalau begitu sampai jumpa. kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat."


"Ehh. Apa mak__" Di saat aku akan menanyakan maksudnya. Proyeksinya sudah menghilang.


Apa tadi maksud perkataan Dokter itu ya.


Di saat aku masih memikirkan itu. Liora langsung menyadarkan ku


"Tuan Shin."


"Ohh maaf. Liora, apa bisa aku melihat Bilpart itu?" Aku langsung mengubah topik pembicaraanku.


"Tentu. Silakan ikuti aku."


Aku di tuntun oleh Liora ke hangar babel. di dalam itu banyak sekali barang-barang aneh yang mungkin ciptaan Dokter itu.


Ketika aku masih melihat-lihat, kami tiba di pintu besar yang terbuat dari besi yang keliatannya sangat tebal.


"Dokter menyimpan Bilpart nya disini, hanya aku dan Shin yang bisa membuka pintu ini."


Pintu benar itu terbuka. Asap putih mulai keluar dari pintu gelap tersebut.


Saat asap itu mulai menghilang, aku mulai dapat melihat beberapa robot setinggi kurang lebih lima belas meter berdiri tepat di depanku.


"Apakah ini Bilpart itu?" Aku bertanya pada Liora sambil memandang robot itu.


"Benar."


Seberapa cerdas dokter mesum itu sih, kenapa dia bisa menciptakan robot sebesar ini.


Aku tidak bisa percaya di balik sifat aneh nya, dia memiliki otak yang cerdas.


"Apakah aku bisa menaiki salah satunya?"


"Untuk sekarang tidak bisa."


"Kenapa?"


"Bilpart tidak mempunyai bahan bakar, dulu saat dokter akan mencari bahan bakarnya, tiba-tiba ada serangan dadakan. Semenjak itu sampai kini Bilpart belum pernah digunakan sama sekali."


"Bahan bakar apa yang digunakan?"


"Bahan bakarnya adalah batu Ralstone."


"Ralstone?"


"Iya. Batu itu biasanya sangat sulit untuk ditemukan oleh manusia biasa, tapi Dokter mengatakan kalau Shin memiliki sihir yang bisa menemukan nya dengan mudah."


"Apakah kamu memiliki sketsa dari batu itu?"


"Sepertinya aku memiliki itu."


Butuh beberapa saat untuknya mendapatkan sketsa itu dan ketika dia mendapatkannya dia memberikan nya padaku.


"Ini adalah gambar sketsa Ralstone."


Aku mengambil gambar itu dan memperhatikannya dengan seksama. Bentuk batunya seperti kubus seukuran dua puluh kali dua puluh centimeter.


Jadi ini Ralstone itu ya. Sepertinya aku akan mencari batu ini dulu sebelum bisa menggunakan Bilpart.


Ketika aku masih memperhatikan detail dari batu itu, sebuah telepati datang dari Haku.


"Tuanku."


"Ya Haku. ada apa?"


"Disini ada Kepala Guild tuanku."


"Kepala Guild? Ada urusan apa?"


"Katanya dia ingin menemui tuan untuk meminta izin."


"Izin? Baiklah aku akan ke sana."


Saat aku menutup telepati. Aku menyerahkan kembali sketsa itu ke Liora.


"Aku akan mencari Ralstone ini nanti."


"Baiklah."


Sebelum akan berpindah tempat, aku melupakan sesuatu dan kembali berbalik.


"Oh aku lupa. Liora, aku sudah membuatkan kamu gerbang ke arah kastil. jadi kalau kamu ingin turun ke permukaan silakan saja."


"Terima kasih banyak Shin." Dia menundukkan kepalanya padaku.


➖➖➖➖➖


Aku memasuki gerbang dan disambut Laim.


"Tuanku. Nona Relisha sudah menunggu di ruangan anda."


"Baiklah. Terima kasih Laim."


Begitu tiba di ruangan ku, aku menemukan wanita cantik itu sedang duduk di sofa.


"Lama tidak berjumpa, Shin." Dia tersenyum padaku.


"Sudah lama ya, ada urusan apa Kepala Guild kesini, apakah ada misi untukku?"


"Tidak ada. Aku kesini hanya ingin meminta izin kepadamu untuk mendirikan Guild cabang Glory di sini."


"Kenapa disini. Kerajaan ku ini masih baru, jadi tidak ada petualang yang akan kesini."


"Itu tidak mungkin. Bayangkan saja guild di Kerajaan yang didirikan oleh petualang muda peringkat emas, itu akan memotivasi para petualang baru untuk bisa menjadi sepertimu."


Dia sangat semangat sekali mengatakan itu sambil menyuruhku membayangkan juga.


Kenapa perkataannya sama dengan pak Banri dulu ya.


"Aku baik-baik saja dengan itu.."


"Terima kasih."


Setelah dia berterima kasih dan pamit dari ruangan ku, aku pun duduk santai di sofa.


"Tuanku."


"Masuk Laim."


Dia membuka pintu dan masuk ke ruangan ku.


"Tuanku. Ada salah satu penduduk yang ingin menemui mu, dia menunggu di Ruang Audiens."


Ini tidak ada hentinya.


Siapa penduduk itu.


"Baiklah. Aku akan ke sana."


➖➖➖➖➖


Dengan tubuh kelelahan, aku berjalan ke arah Ruang Audiens dengan malas.


"Maafkan hamba karena telah mengganggu istirahat Yang Mulia." Pria itu berlutut saat mengatakan itu.


"Apakah kamu Olba Strand?"


"Benar, Yang Mulia. Bagaimana Yang Mulia bisa tahu?"


"Bagaimana aku tidak tahu, angkatlah kepalamu."


Saat mereka mengangkat kepalanya. Alangkah terkejutnya mereka berdua mengetahui siapa Rajanya disini.


"Apakah kamu Shin?"


"Iya. Ini aku." Aku tersenyum lepas pada mereka.


"Jadi sekarang tuan Shin yang menjadi Raja."


"Ya begitulah. Jadi ada urusan apa kalian datang kesini."


"Hamba ingin meminta izin untuk mendirikan toko cabang Glory disini."


"Baiklah, aku izinkan. Kamu laporkan saja nanti pada pelayan ku dan nanti dia akan membantumu."


"Terima kasih yang mulia."


"Sama-sama."


Mereka berdua menundukkan kepala nya sedikit dan melangkah pergi meninggalkan Ruang Audiens.


Sepertinya akan sulit kalau penduduknya semakin banyak nanti


"Kazuo. Apa kamu memiliki orang yang bisa dipercaya membantumu dalam bertugas, aku tidak bisa membiarkan mu bekerja keras seorang diri."


"Orang yang aku percaya ya. Ada, Yang Mulia."


"Siapa?"


"Dia orang yang saat ini anda tugaskan melatih trio kelinci itu. Namanya Baba."


"Baba?"


"Apa aku harus memanggilnya kesini? " Kazuo bertanya padaku.


"Kurasa tidak sekarang. biarkan saja dia melatih trio itu dulu."


"Baiklah. Yang Mulia, apakah kita akan mengumumkan perekrutan Ksatria Kerajaan?".


"Aku lupa. Kalau begitu buat poster pengumuman perekrutan anggota Ksatria."


"Syarat apa yang akan Yang Mulia masukan?"


"Tulis saja kalau menerima siapapun yang sudah cukup dewasa. Punya tekat untuk menjadi Ksatria. Masalah ras kita tidak mempermasalahkan nya."


"Baiklah. Akan aku kerjakan."


Saat aku tidak ada kerjaan aku memutuskan untuk melihat peta dunia.


Aku sampai saat ini aku masih berpikir.........