
"Kami keasyikan menonton sampai lupa membantunya." Kata gadis berambut biru dengan sesekali menggaruk kepalanya.
Keasyikan menonton sampai lupa katanya, apa-apaan itu.
"Tidak baik marah-marah Shin."
"Heh. Kenapa kamu bisa tahu namaku."
"Apa jangan-jangan."
"Iya, aku Dewi sihir yang dulu pernah bertemu denganmu di alam dewa."
"Dewi Sihir ya... Sudah lumayan lama ya."
"Bagaimana kabarmu Dewi Sihir?"
"Aku baik-baik saja, kalau kamu?"
"Aku juga baik-baik saja. Sedang apa kalian disini?"
"Untukmu Shin."
"Untukku? "
"Kamu pasti sudah tahu kalau kamu memiliki kekuatan dewa kan."
"I-iya."
Aku sampai sekarang tidak mengerti kenapa aku bisa memiliki kekuatan dewa.
"Karena itu kami datang kesini untuk membantu Dewi Cinta mengurusmu."
"Hah...."
Punya Kakak seperti dia saja lumayan merepotkan dan sekarang malah bertambah.
"Aku tahu kamu sedang memikirkan hal yang tidak sopan Shin." Ucapnya sambil mencubit pipiku.
"Maafkan aku kak."
"Kakak?" Ekspresi bingung dua dewi itu membuatku sedikit tertawa.
"Ya. Aku disini sebagai Tatsuya Kaori, kakak dari raja Glory." Dengan membusungkan dadanya dia memperkenalkan diri.
"Kakak ya." Senyuman licik Dewi Pedang mulai membuatku takut.
"Ohh. Bagaimana kalau kami juga menjadi kakakmu selama disini Shin."
"Hah.... Yang boleh menjadi kakaknya hanya aku." Dengan cepat Kaori membantah saran Dewi Sihir.
"Coba pikirkan. Kami berdua bisa menjadi kakak yang kedua dan ketiga, itu berarti kami akan menjadi adikmu Dewi Cinta."
"Aku menjadi kakak dari tiga adik. Itu kedengarannya ide yang bagus."
"Tung__"
"Yoss. Sudah diputuskan." Tanpa mempedulikanku dia membuat keputusan sendiri.
Hmmm. Ya biarlah, aku juga senang kalau mereka senang.
Kakakku Kaori hanya tersenyum padaku ketika dia membaca pikiranku.
"Baiklah, Kalau begitu Dewi Sihir akan menjadi kakak keduaku yang bernama Tatsuya Viola."
"Dan Dewi Pedang akan menjadi kakak ketigaku yang bernama Tatsuya Safira."
Aku bisa tahu dia Dewi pedang karena dia selalu mambawa pedang di pinggangnya, sementara Dewi Sihir selalu membawa tongkat di tangannya.
"Wah... Nama yang bagus, apa kamu juga suka Dewi pedang?" Dewi Sihir bertanya.
"Iya, aku juga suka." Kata Dewi Pedang.
➖➖➖➖➖
Saat aku pergi, aku hanya membawa kakakku dan di saat aku pulang malah nambah dua lagi.
Itu membuat orang-orang yang ada di istana kebingungan melihatku, tak hanya pelayan dan ksatria tapi tatapan tunanganku juga membuatku tidak nyaman.
"Shin." Gaya Miku menyapa dan senyumannya itu membuat tubuhku merinding.
Tidak hanya dia, di sampingnya juga ada gadis lainnya dengan tatapan yang sama.
"Shin. Siapa gadis yang kamu bawa itu?" Tanya Kyou.
"S-Shin. A-apa kamu sudah bosan dengan kami." Suara Ryou yang takut bertanya menambah ketakutanku.
"Ka-kalian jangan salah paham dulu, mere__"
"Mereka apa! Apa kamu sekarang sudah menjadi pria hidung belang." Miku langsung mematahkan ucapanku.
"Ak-aku tidak pernah seperti itu." Jawaban yang diiringi suara tangisanku membuat ketiga kakakku tertawa.
"Ap-apa yang kalian tertawakan, apa ada yang lucu?"
"Tidak ada. Hanya tidak menyangka kamu akan tunduk di hadapan tunanganmu." Ucap Kaori padaku sambil terus mencoba menahan tawanya.
"Kamu masih tertawa kak, tolong kamu jelaskan pada mereka kalau aku bukan pria yang seperti itu."
"Ya-Ya. Akan aku jelaskan pada mereka."
Kaori menatap Dewi Pedang dan Dewi Sihir untuk meminta mereka memperkenalkan diri mereka juga. Mereka hanya menganguk dan berjalan ke depan para gadis.
"Kalian jangan seperti itu pada Shin." Kata Dewi pedang untuk menenangkan gadis itu.
"Itu benar. Supaya tidak ada kesalahpahaman lagi, biar aku perkenalkan diriku juga. Perkenalkan namaku Tatsuya Viola."
"Dan aku Tatsuya Safira."
"Tatsuya?" Mereka hanya diam dan menatapku yang masih terduduk di lantai.
"Apa kalian, jangan-jangan......" Hana hanya mengira-ngira.
"Ya. Kami kakaknya Shin, aku kakak kedua dan Safira kakak ketiganya."
"Hah....."
"K-kalian empat bersaudara?"
"Seperti itu lah."
Ketika mereka tahu kebenarannya, mereka mulai berlarian ke arahku yang masih sedih karena dituduh selingkuh.
"Ma-maafkan kami Shin"
"Maafkan kami karena menuduhmu."
"Apa kamu mau memaafkan kami?"
"Shin. Katakan sesuatu."
"Kenapa tidak kamu katakan dari tadi."
"Shin."
Miku, Kyou, Ryou, Rin, Hana dan Airi memohon diiringi tangisan sambil terus mengguncang tubuhku untuk menyadarkanku.
"Aku bukan pria hidung belang."
"Aku bukan seperti itu."
"Kalau seperti itu lebih baik aku mati saja."
Aku yang masih trauma tidak sengaja mengatakan kalimat itu dan membuat mereka tambah menangis.
"Kamu tidak boleh mati Shin. Ingat bumi."
"Hah.... Ak-aku lupa."
Aku sudah mati disana dan itu membuat keluargaku bersedih, kalau aku juga mati disini sama saja aku melakukan itu lagi pada mereka.
"Shinn." Mereka berenam langsung memelukku dengan erat.
"He-hentikan, a-aku tidak bisa bernafas."
"Ma-maafkan kami."
Aku menghela nafas berat karena tadi hampir kehabisan nafas.
"Aku kira kamu akan meninggalkan kami." Senyuman diiringi tangisan Airi membuatku bersumpah.
Aku tidak akan membiarkan siapa saja menyakiti mereka semua, siapa pun itu.
"Aku tidak akan meninggalkan kalian semua, tenang saja." Senyumanku membuat tangisan mereka semua mereda.
"Te-terima kasih Shin."
➖➖➖➖➖
Kami bersama duduk di gazebo karena sepertinya tunanganku ingin mengetahui lebih banyak tentang kakakku.
"Maafkan kami atas kelancangannya tadi." Miku yang mewakili semua tunanganku meminta maaf.
"Bukan masalah. Itu sudah biasa." Viola hanya tertawa atas apa yang dikatakan Miku.
"A-apa kami boleh memanggil kalian kakak juga?"
"Tentu saja, itu lebih baik." Safira dengan semangat menyetujui permintaan Airi.
"Makasih." Mereka semua tersenyum bebas pada kakakku.
"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang kalau kamu mempunyai tiga kakak Shin?"
"Itu karena..... Oh ya, kakakku orangnya sedikit merepotkan jadinya tidak aku beritahu."
Shiss....
Tubuhku tiba-tiba terpapar udara dingin yang sangat menyengat kulit, saat aku lihat arahnya ternyata itu berasal dari ketiga kakakku.
Maafkanlah pria yang sedang tersudut ini kak, aku sama sekali tidak mempunyai alasan lain lagi.
Berharap mereka akan mendengar suara hatiku karena Kaori biasanya bisa membaca pikiranku.
Ternyata benar, hawa dingin dari mereka mulai menghilang dan di teruskan dengan helaan nafas dari mereka.
Terima kasih kak.
"Rin."
"Y-ya." Rin yang dipanggil sontak menjawab.
"Aku merasakan kalau kamu pengguna pedang."
"ke-kenapa kakak bisa tahu?"
"Kamu bisa mengatakan kalau aku juga pengguna pedang, jadi aku tahu siapa saja pengguna pedang."
Pengguna pedang apanya. kamu itu orang yang menjadi puncak pedang di semesta ini tahu.
"Kamu juga bisa menggunakan pedang kak?" Rin mulai penasaran dengan Safira.
"Iya, aku ahli dalam pedang sementara kak Viola ahli dalam sihir."
"Kalau ada yang ingin kalian yang tidak mengerti tentang sihir bisa tanyakan padaku." Timpa kakakku Viola.
"Ba-baiklah."
Sepertinya mereka telah mendapatkan teman curhat yang lebih baik. Disisi mereka sekarang ada tiga dewi, aku jadi tenang saat meninggalkan mereka saat misi.
➖➖➖➖➖
Satu bulan telah berlalu semenjak kakakku datang :
Kabar tentang kakakku yang datang mulai tersebar ke seluruh istana bahkan sudah bocor ke luar istana.
Rumor yang tersebar itu menyebutkan kalau raja Glory mempunyai tiga orang kakak yang sangat cantik, mereka juga sangat jenius bahkan seluruh penduduk menghormatinya sebagaimana mereka menghormati raja mereka.
Semenjak kabar itu tersebar sudah banyak juga undangan berdatangan dari berbagai bangsawan dunia kepadaku untuk datang ke rumah mereka guna membicarakan proposal lamaran untuk kakakku, tapi aku secara halus menolaknya dan mengatakan kalau kakakku tidak ingin menikah dulu.
Mereka yang aku tolak akan menerimanya dengan baik tapi ada juga yang marah besar atas penolakanku, orang yang seperti itu biasanya akan aku lemparkan kembali ke kerajaannya.
Saat ini di ruanganku ada bangsawan yang datang membawa orang tuanya untuk mengajukan proposal lamaran kakakku.
Aku juga tidak bisa mengirim dia kembali karena dia membawa orang tuanya segala. Jadi aku hanya mendengarkan tujuan mereka datang kesini.
"Maaf. Tapi kakakku tidak ingin menikah dulu."
Rakus juga dia ingin melamar ketiga kakakku untuk anaknya sekaligus.
"Apa mereka tidak mau mempertimbangkan proposal kami dulu?"
"Sekali lagi aku minta maaf."
Bukannya aku berbohong tapi mereka disini untuk mendampingiku di dunia sampai aku bisa sendirian.
Berpikir bahwa mereka akan kembali lagi saat tugasnya selesai membuatku sedikit sedih.
Dewa. Aku berharap mereka akan tetap menemaniku sebagai keluarga baruku di dunia ini.
"Mereka sama sekali tidak tahu di untung, berani-beraninya mereka menolak proposalku."
Anak dari orang yang memohon supaya kakakku di nikahkan dengan anaknya akhirnya memasuki ruangan untuk menemuiku, dari nadanya sepertinya dia marah besar, bahkan dia juga membawa sebilah pedang di tangannya.
Dia berusia sekitar dua puluhan, dengan postur tubuh yang lumayan gemuk, dia berjalan ke arahku dengan amarah penuh di wajahnya.
"Anakku! Untuk apa kamu membawa pedang itu?" Ibu dan ayahnya sontak berdiri dan menahan anaknya.
Komandan kesatria Lain yang dari tadi berdiri di belakangku langsung mengangkat pedangnya.
Aku hanya mengangkat tangan supaya mereka memasukkan kembali pedangnya.
"Aku akan membuat perhitungan dengan bocah ini." Dia dengan sekuat tenaga berusaha lepas dari genggaman orang tuanya.
Sepertinya dia orang yang sangat buruk. Walaupun kakakku manusia, aku akan tetap menolaknya. Bagaimana mungkin aku izinkan kakakku yang cantik itu menikah dengan dia.
Heh..... Kok aku malah kelihatan incest ya.
"Berhenti nak. Dia seorang raja, kalau kamu mencoba melukainya kita akan di hukum kerajaan." Ayahnya mencoba memberikan alasan yang cukup adil.
"Benar anakku."
Dia yang tersadar melemparkan pedangnya dan duduk di depanku tanpa meminta maaf padaku dulu.
Orang tuanya hanya menghela nafas dan menundukkan kepalanya mewakili anaknya untuk meminta maaf padaku.
Mereka kembali lagi pada topik awal yang sebenarnya mereka sudah tahu akan jawabanku.
"Yang mulia, apa alasan mereka menolak proposal kami?"
"Kakakku mengatakan kalau mereka tidak ingin menikah sebelum aku yang menikah duluan."
"Itu alasannya?."
"Maaf, aku sudah memohon pada mereka tapi mereka memilih mendahulukan ku terlebih dahulu."
Memohon apanya, aku bahkan tidak sudi melihat dia berada disini lebih lama lagi.
"Apa kamu anak kecil yang berlindung di belakang kakakmu?" Seringainya membuatku sedikit kesal.
"Maaf tapi mereka adalah kakakku, tidak mungkin aku biarkan mereka menikah dengan orang sepertimu." Aku membalas pula dengan tawa jahat.
"Apa kamu bilang." Dia memukul meja dan berdiri untuk mengintimidasiku, tapi itu tidak bekerja sama sekali.
"Dan apa bedanya kita, kamu juga kesini untuk melamar kakakku dengan membawa orang tuamu. Apa kamu takut pergi sendirian." Nada mengejekku membuatnya sangat marah.