Heavenly Magician

Heavenly Magician
Bab 83 : Metode Penanganan



Semua orang sangat bersyukur karena di pagi harinya situasi sudah mulai dapat kami kendalikan. Walaupun Ksatria masih sibuk dengan pekerjaan mereka, tapi itu sudah lumayan membaik daripada situasi kemarin.


Saat ini aku sedang berada di tenda utama yang berada tepat di lapangan utara.


Untuk menyimpulkan situasi yang terjadi di ibukota, aku mengumpulkan semua orang penting di struktur Kerajaan.


"Maaf sudah mengumpulkan kalian di tengah situasi kita sekarang." Ujarku untuk membuka rapat darurat kami.


Semua yang hadir mendengar pembukaanku dengan sangat serius.


Walaupun ini rapat yang menentukan nasib Kerajaan kami. Tapi terkadang, perasaanku merasa tertekan hanya karena ditatap oleh banyak orang dengan wajah serius mereka.


"Karena ini merupakan keadaan darurat, kita mulai saja rapatnya. Pertama, Komandan Lain, bagaimana situasi saat ini?"


"Situasi memang sudah lumayan membaik, tapi kami sangat kekurangan anggota, Yang Mulia. Perbandingan jumlah penduduk dengan jumlah Ksatria terlalu jauh untuk bisa kami atasi dengan baik."


"Memang benar, perbandingan kita terlalu jauh."


Entah kenapa aku tidak dapat membantahnya, jadi aku hanya menganguk untuk membenarkannya.


"Yang menjadi pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi?" Wakil Komandan Nikola memberikan pendapat yang masih menjadi pertanyaan.


Situasi yang mendadak saja mengamuk membuat semua orang panik. Tentu saja ini merupakan pertanyaan yang harus dipertanyakan.


"Situasi ini sungguh merupakan keanehan, tiba-tiba saja seluruh penduduk Kerajaan bertingkah aneh." Balas Norn.


"Memang benar, tapi apa yang membuatku heran adalah kenapa hanya penduduk saja yang berubah, Ksatria kita dan pelayan istana tidak ada yang menunjukkan keanehan sama sekali."


Semua orang hadir di rapat itu mengangguk saat mendengar perkataanku, bagaimanapun juga pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang memang harus di perhatikan.


"Mungkin ada sesuatu yang menjadi faktor untuk itu, Yang Mulia."


Kazuo yang duduk di sebelah kiriku memberikan saran yang bagus. Dipicu oleh saran Kazuo, semua orang di ruangan itu mulai memikirkan sesuatu.


Namun, sebanyak apapun kami memikirkannya, tidak ada satupun yang terlintas dipikiran kami akan itu.


"Kazumi, bagaimana situasi Strom dan Gardio?" Tanyaku.


"Mereka sepertinya belum mengetahui tentang situasi kita saat ini, Yang Mulia."


"Baguslah, kita tidak bisa langsung meminta bantuan mereka. Bagaimanapun juga, ini adalah masalah internal Kerajaan."


"Tapi menurut saya, lebih baik kita meminta bantuan, Yang Mulia. Karena Kerajaan kita berada tepat di tengah-tengah Gardio dan Strom. Mungkin saja insiden ini juga dapat menyebar ke luar Kerajaan."


Kazuo memberikan pendapatnya kepada kami dengan suara yang agak serius.


Perdana Menteri Kazuo memang layak untuk menyandang gelar tersebut. Saat terjadi masalah di Kerajaan dan aku sedang tidak ada, dia akan mengambil alih dengan sangat hati-hati.


Kesigapannya Itu mungkin muncul karena dia merupakan mantan orang dengan jabatan tinggi di masa lalu.


"Memang benar. Kita lihat saja nanti setelah rapat." Ujarku.


Setelah memberikan tanggapan akan perkataan Kazuo, aku kembali menatap Lain untuk mengkonfirmasikan sesuatu.


"Lain, bagaimana dengan jalur keluar masuk Kerajaan?"


"Sudah kami awasi, Yang Mulia. Kami sudah meminta semua orang yang ingin masuk ke dalam Kerajaan untuk putar balik."


Beberapa saat yang lalu. Setelah memikirkan apa yang harus diakukan untuk menangkal penyebaran ini, aku kemudian memutuskan untuk memblokir seluruh pintu masuk ke dalam Kerajaan, Khususnya yang menuju ibukota.


Semua orang dilarang masuk ke dalam Kerajaan, baik itu penduduk biasa, turis ataupun pedagang. Semuanya dipuar balikan olah Ksatria.


Tapi khusus untuk penduduk Glory yang datang dari luar, mereka diperbolehkan masuk, tapi tidak diperbolehkan memasuki ibukota.


Jadi mereka yang merupakan penduduk ibukota yang datang dari luar akan di persilakan untuk tinggal sementara di luar ibukota.


Mungkin itu terlihat sedikit kurang ajar, tapi aku memikirkan itu dengan dengan sangat hati-hati.


Apa sebenarnya yang menjadi penyebab ini. Apa yang menjadi faktor orang-orang ini menjadi seperti itu.


"Lain. Bagaimana keadaan penduduk di lapangan utara?"


"Tidak terlalu berubah, Yang Mulia. Penduduk masih berteriak dan memberontak, ada banyak juga yang masih mencoba untuk kabur."


"Komandan. Apa memang benar kalau hanya penduduk saja yang berubah?"


Tiba-tiba saja orang yang ikut rapat bersama kami melontarkan pertanyaan kepada Lain.


Dengan pakaian yang lumayan menggoda dan rambut yang terurai, itu menambah kecantikannya. Di dadanya juga ada sebuah logo Guild yang sangat familiar bagi seluruh penduduk dunia.


Dia adalah Kepala Guild Relisha, dia memutuskan untuk ikut hadir dalam rapat sebagai perwakilan pihak Guild cabang Glory.


Dia memang hadir sebagai perwakilan Guild, tapi sebenarnya dia memiliki niat lain. Semua orang yang ada di dalam ruangan ini pun tahu niat lain yang Kepala Guild itu sembunyikan.


Dia datang kepadaku dan meminta untuk ikut dalam rapat dengan wajah sedihnya. Aku awalnya tidak tahu menau tentang penyebab kesedihannya, tapi sekarang berbeda. Aku sudah mengetahui apa yang sangat dia cemaskan.


Mendengar pertanyaan Relisha membuat Lain menatap langit seolah-olah dia sedang memikirkan jawabannya.


"Hmm. Itu benar."


Merasa belum puas dengan jawaban Lain, Relisha bertanya sekali lagi, tapi sekarang dia seperti tidak bisa menahannya. Relisha sedikit memukul di meja rapat, dan itu membuat semua orang kaget termasuk aku.


"Apa Ksatria juga ikut berubah?" Tanya Relisha dengan suara tinggi.


Mendapat pertanyaan mendadak membuat Lain sedikit tersentak dari kursinya.


"Heh. Me-memang benar, ada beberapa Ksatria yang tidak bertugas pada saat itu. Dan sepertinya mereka juga ikut berubah.


Dengan jawaban memuaskan yang dia terima, Relisha memperbaiki pakaiannya yang berantakan dan kembali duduk di kursinya.


Kami semua yang menyaksikan tingkahnya yang berubah seketika hanya dapat menelan ludah dalam diam.


Sikap kami itu mungkin mencerminkan kepanikan kami saat melihat sikap anggun seorang Kepala Guild yang berubah tiba-tiba.


"Ja-jadi apa yang ingin anda sampaikan, Kepala Guild?" Yang bertanya kepada Relisha dengan berani itu adalah Wakil Komandan Nikola.


Suasana canggung yang terjadi selama beberapa menit berhasil dihancurkan oleh pertanyaan Nikola. Semua orang yang awalnya masih melamun akhirnya tersadar dan menatap Relisha.


"Ini hanya kemungkinanku. Berdasarkan dari perkataan Komandan Lain barusan, dapat kita simpulkan kalau Ksatria yang tidak bertugas pada saat itu pasti berbeda dari Ksatria yang bertugas kan."


".........."


Kami semua hanya diam atas perkataannya, bukan karena kami tersipu oleh kecantikannya, melainkan karena kami memang benar-benar tidak tahu apa yang dia maksudkan.


"J-jadi?" Ujar Kazumi.


"Maksudku. Coba pikirkan ini.Apa yang dimiliki oleh Ksatria yang bertugas, tapi tidak dimiliki oleh Ksatria yang tidak bertugas saat itu. Itu mungkin bisa menjadi petunjuk kita."


Hah. Itu ada benarnya juga.


Seperti mendapat percerahan saja, kami semua mulai memikirkan apapun itu untuk dijadikan bukti kuat.


Aku juga ikut memikirkannya. Sambil berharap kalau hasil dari rapat ini dapat menentukan keputusan yang akan kami ambil.


"Terlalu banyak hal yang dapat dijadikan target, tapi tidak ada yang bisa aku simpulkan." Ujar Nikola


"Banyak yang berbeda dari mereka." Sambung Norn.


"Hmm. Memang benar sih, itu terlalu banyak."


Karena satu per satu dari kami mulai sudah mulai menyerah untuk memikirkannya. Melihat itu membuat Relisha yang memberikan usul juga ikut menyerah, mungkin karena dia berpikir akan sulit kalau hanya dia saja yang memikirkan itu.


"Mungkin kita sebaiknya memikirkan hal lain dulu." Saranku untuk mengubah suasana.


"Yang Mulia."


Begitu saranku diterima semua orang, tiba-tiba saja Komandan Lain angkat bicara.


"Ada apa, Lain?"


"Saya hanya ingin memastikan tindakan kita selanjutnya, Yang Mulia."


"Hmm. Apa yang kamu maksudkan itu perbandingan jumlah kita?"


"Be-benar, Yang Mulia."


Jumlah ya. Mungkin aku bisa meminta bantuan Strom ataupun Gardio, bagaimana pun ini masalah yang sangat serius.


"Mengenai apa yang aku katakan tadi. Kita sepertinya memang tidak mempunyai pilihan lain lagi. Kazuo, hubungi Gardio dan Strom. Minta bantuan mereka dalam menangani masalah penduduk."


"Terus apa yang harus kita jelaskan kepada mereka, Yang Mulia?" Balas Kazuo.


"Katakan saja kalau Kerajaan sedang dalam masalah besar, dan aku meminta bantuan secara langsung kepada mereka."


"Akan saya laksanakan, Yang Mulia."


"Dan, Lain."


Komandan Lain menatapku saat aku memanggil namanya.


"Pertahankan lapangan utara, jangan sampai ada penduduk yang melarikan diri!"


"Baik, Yang Mulia."


"Sementara itu, aku akan memikirkan cara untuk menyembuhkan mereka semua."


Mengatakan sesuatu yang belum pasti membuatku merasa sedikit tidak nyaman. Sambil melihat semua orang yang hadir, aku kembali memikirkan masalah lain yang juga sedang menimpaku.


Aku harus mencari tahu panyebab melemahnya sihirku. Para Dewi juga masih belum bisa dihubungi.