
Setelah menyerahkan Tuan Putri kepada para gadis, seluruh ksatria Kerajaan Colder dan Kerajaan Holter dikirim ke Kerajaan nya lagi menggunakan gerbang yang dibuat oleh Liora.
Dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa mereka sedang berada si dalam kesedihan, mereka tetap duduk diam disana tanpa mengatakan apa-apa.
Jam juga sudah menunjukkan pukul 10:37
"Asha, Chika. Ayo kita tidur." Saran Miku untuk mengubah suasana hati mereka.
"Hana, Airi. Kita juga harus tidur." Sambung kyou.
Tidak ada respon sama sekali dari mereka, tanpa mempedulikan sekitarnya, mereka tetap duduk di sebelah Shin.
"Huhhh." Miku menghembuskan nafasnya tanda bahwa ia mengerti maksud ke empat gadis itu.
"Bagaimana kalau kita tidur disini saja?"
"Itu ide yang bagus." Sambung Ryou.
Mendengar kalimat dari Miku, membuat ke empat gadis itu langsung berbalik.
"Serius." Ujar kaget mereka.
"Apa kita akan tidur disini." Tanya Airi dengan penuh semangat.
"Ya, tentu. Kita bersama akan menjaga Shin disini." Sambil mengeluarkan senyumannya, Miku berhasil menenangkan para gadis kecil itu.
Setelah semuanya sepakat untuk tidur di kamar Shin. Miku memanggil pelayan dan memintanya untuk menyusun tempat tidur kecil yang dulu sering dipakai Shin dengan alasan dia tidak nyaman tidur di kasur besar.
Mereka juga pergi ke kamarnya masing-masing untuk mengganti pakaian biasa menjadi pakaian tidur.
Setelah mereka selesai mengganti baju, kedelapan gadis itu berkumpul di lorong sebelum pergi ke kamar Shin.
"Ya-yang Mulia Ratu!? Me-mengapa anda berada disini? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tidak ada. Kami hanya ingin tidur di kamar Shin."
"Be-begitu ya."
"Oh ya. Besok tidak usah menyusun makannya di meja makan, bawa saja makanannya ke kamar Shin."
"Bak-baiklah."
"Terima kasih. Kalau begitu kami pergi dulu."
"Y-ya, Yang Mulia Ratu."
"Kamu juga jangan lupa tidur."
"Te-terima kasih atas perhatiannya."
Pelayan itu menundukkan kepalanya kepada para gadis, dia terus melakukannya sampai para gadis sedikit menjauh darinya.
Sesampainya di kamar Shin. Kasur yang berjumlah delapan buah sudah tersusun rapi di lantai tepat didepan tempat tidur Shin.
"Tempat tidurnya sudah saya siapkan."
"Terima kasih.
"Baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Ketika pelayan itu sudah meninggalkan kamar Shin.
"Kalau begitu, ayo cepat tidur." Ujar Miku.
Sesuai apa yang dikatakan Miku, mereka semua mulai menyebar menuju tempat tidurnya masing-masing. Namun, ada salah satu dari mereka yang tidak bergerak sama sekali.
"Ada apa, Airi?"
Mendengar Miku memanggilnya membuat Airi langsung menatap Miku.
"Sampai kapan Shin akan terus tidur?" Dia mengatakan itu sambil berlari ke arah Miku dan menggoyang-goyangkan tubuh Miku untuk meminta jawaban.
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Airi. Bukannya mereka tidak bisa menjawab, tapi karena mereka juga tidak tahu jawabannya.
Dari delapan gadis yang berada di kamar Shin itu, hanya Airi seorang yang tidak diberi tahu tentang keadaan Shin. Semua orang takut itu akan membuatnya syok karena dia masih terlalu kecil untuk mengetahuinya.
Miku sedikit merendahkan tubuhnya supaya bisa menatap mata Airi, lalu ia berkata.
"Shin saat ini masih kelelahan, jadi mungkin di akan tertidur cukup lama. Tapi tenang saja, dia baik-baik saja kok. Kita yang akan menjaganya sampai dia bangun, ok."
"Y-ya. A-aku mengerti." Kata Airi.
"Kalau begitu. Ayo kita tidur."
"Iya. Selamat malam."
"Selamat malam juga." Jawab lembut Miku dan gadis lainnya.
Airi berjalan pelan ke arah kasurnya dan langsung tertidur pulas.
Hana, Asha dan Chika juga sudah tertidur bahkan sebelum Miku berbicara dengan Airi.
"Sepertinya mereka sangat kelelahan ya." Ketika Rin akan menatap Miku saat mengatakan itu, Rin melihat Miku yang sama sekali tidak bergerak dari sana.
Rin yang berdiri hanya dapat diam tanpa mengatakan apa-apa, namun akhirnya ia menyadari apa yang sedang terjadi setelah ia melihat tetesan air mata di lantai kamar.
"Miku. Kenapa kamu menangis?"
Rin, Kyou dan Ryou menghampiri Miku yang masih tidak bergerak dari tempat itu dan langsung memeluknya.
Mereka juga membantu Miku berdiri dan membawanya ke balkon supaya tidak mengganggu tidur gadis yang lain.
"Tidak apa-apa, lepaskan saja." Sambung Ryou.
Mendengar kalimat itu membuat Miku tidak bisa lagi menahan tangisannya. Dia akhirnya dia pun menangis sejadi-jadinya
Dia juga sudah tidak peduli lagi dengan pendapat orang lain kalau mereka mendengarnya sedang menangis, yang dia inginkan sekarang hanyalah menangis.
"Apa yang sebenarnya terjadi Rin, Kyou, Ryou. Kenapa sampai sekarang Shin masih belum bangun?"
"Dokter mengatakan kalau dia baik-baik saja, tapi kenapa dia masih belum bangun juga."
"Apa dia sudah tidak peduli lagi dengan kita."
"Semua orang mengatakan kalau aku gadis kuat yang bisa menerima cobaan ini. Tapi aku sudah tidak kuat lagi menahannya."
"Baik kita, penduduk Kerajaan, maupun dunia. Apa Shin sudah tidak peduli lagi."
"Kalau Shin memilih untuk meninggalkan kita, lebih baik aku mati saja. Tidak ada gunanya untuk hidup di dunia ini kalau tidak bersama Shin. Kalian juga setuju kan?"
"Sudah-sudah. Tidak ada yang kuat di sini sekarang, baik kita maupun penduduk Kerajaan. Semuanya sedang berada di dalam kesedihan."
"Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menjaga Shin sampai dia bangun." Kyou mengatakan itu sambil terus mengelus kepalanya Miku.
"Kakak benar, hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang. Tapi..." Ryou yang juga tidak bisa menahannya lagi akhirnya juga ikut menangis.
Melihat Ryou juga menangis membuat Rin dan Kyou menjadi tidak bisa menahan kesedihannya lagi dan akhirnya mereka ber empat larut di dalam tangisan.
Setelah beberapa menit berlalu, mereka akhirnya menjadi cukup tenang karena telah mengeluarkan apa yang selama ini mereka pendam.
"Ayo kita tidur."
"Hmmm."
Ajakan Ryou dianggukan oleh ketiga gadis lainnya, mereka mulai berdiri dan berjalan pelan-pelan ke arah tempat tidurnya masing-masing.
➖➖➖➖➖
"Aku tidak kuat lagi mendengar Yang Mulia Ratu menangis seperti itu."
"Aku juga."
Di balik pintu kamar, para pelayan, koki dan ksatria yang bekerja malam sedang berkumpul bersama.
Ternyata mereka semua berkumpul karena mendengar suara tangisan yang sangat keras dari arah kamar Rajanya.
Sama seperti para gadis, tangisan para pelayan juga tidak bisa dibendung lagi, baik itu pelayan, koki maupun ksatria yang memiliki jiwa bertempur, semua larut dalam tangisan.
"Aku sama sekali tidak menyangka kalau Yang Mulia Ratu juga tersiksa karena terus menahan kesedihannya."
"Itu sudah pasti kan. Coba bayangkan, apakah kamu dapat menahan diri saat melihat calon suamimu terbaring di tempat tidur."
"Tidak. Aku tidak akan kuat kalau berada di posisinya."
Di saat yang sama, ada seorang ksatria yang juga ikut menangis bersama yang lainnya. Dia menangis tanpa mempedulikan posisinya lagi sebagai ksatria Kerajaan.
"Kenapa kau menangis?"
"Kita seharusnya merasa bangga memiliki Raja dan Ratu seperti Yang Mulia dan Yang Mulia Ratu. Kerajaan ini pasti akan hancur kalau tidak di pimpin oleh Yang Mulia."
"K-kau benar." Dia menjawab dengan tersedu-sesu.
"Yang dapat kita lakukan sekarang hanyalah menjaga Kerajaan ini bersama sampai Yang Mulia sadar."
Mendengar kalimat temannya membuat ksatria itu berusaha menghentikan tangisannya dan berkata.
"Benar. Kita tidak bisa terus bergantung pada kekuatan Yang Mulia. Kalau kita terus bergantung pada Yang Mulia, kita pasti akan hancur kalau Yang Mulia tidak berada di Kerajaan saat kita diserang."
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Sebuah suara dari kejahuan tiba-tiba terdengar oleh mereka semua, disaat mereka menatap sumber suara itu.
"Pe-perdana Menteri, Kazuo." Seru kaget mereka.
"Maafkan kami, Perdana Menteri."
"Bukan itu. Apa yang kalian lakukan di depan kamar Yang Mulia?"
"Ta-tadi kami mendengar suara tangisan keras yang berasal dari kamar Yang Mulia."
"Jadi akhirnya mereka tidak bisa lagi menahannya ya." Gumamnya.
"Ap-apakah anda mengatakan sesuatu?"
"Tidak ada. Ayo cepat tidur! Besok kalian ada tugas kan."
"Ba-baik."
Para pelayan dan koki kembali lagi ke kamarnya masing-masing, sementara para ksatria kembali lagi ke pos keamanannya. Sekarang yang tinggal sendirian disana hanyalah Perdana Menteri.
"Yang Mulia Ratu, anda sudah menahannya selama ini dengan cukup baik. Sekarang sudah cukup, lepaskan saja semuanya."
"Anda tidak sendirian Yang Mulia Ratu. Para tunangan Yang Mulia lainnya juga ada, para pekerja istana juga ada dan seluruh penduduk Kerajaan juga bersama anda. Jadi anda tidak perlu lagi menahannya seorang diri." Gumam Perdana Menteri sambil memegang pintu kamar Shin.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...