
"Hah. Dimana aku!?"
Tiba-tiba saja mata Miku terbuka di suatu tempat yang sama sekali tidak dia ketahui.
Dia berusaha untuk duduk. Tubuhnya sedikit berat tapi dia tetap berusaha.
Setelah penuh perjuangan untuk duduk, akhirnya bisa juga. Miku mencoba menatap sekelilingnya, yang dia lihat hanyalah hamparan padang rumput yang tiada batasnya.
"Dimana sebenarnya ini? Bukannya tadi aku masih tidur di kamarnya Shin ya."
Ketika dia masih kebingungan. Dari belakang mendadak sebuah suara yang lembut terdengar di telinganya.
"Apa kamu sudah bangun?"
Miku yang mendengar itu langsung menatap sumber suaranya. Yang terlihat olehnya adalah seorang wanita muda yang menurut Miku usianya sedikit lebih muda darinya.
Dia menggunakan pakaian yang sama sekali tidak dikenali oleh Miku, mulai dari bentuk, warna dan bahannya sama sekali tidak dia ketahui.
"Anu. Siapa kamu ya?"
"Kamu tidak usah tahu siapa aku." Jawabnya sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.
"Ba-baiklah."
"Terima kasih atas pengertiannya." Katanya sambil melontarkan senyuman lembut.
Miku yang awalnya keliatan bingung akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya setelah dia merasakan kalau gadis itu bukanlah musuhnya.
"Anu. Ini dimana ya?"
"Ohh. Saat ini kita sedang berada di alam bawah sadarmu."
"Alam bawah sadarku!?"
"Ya. Bisa dikatakan begitu."
"Kenapa aku bisa berada disini?" Tanya heran Miku.
"Kalau itu hanya kamu saja yang bisa menjawabnya."
"Apa maksudmu?"
Supaya pembicaraan ini tidak semakin panjang, akhirnya gadis itu langsung masuk ke dalam inti pembicaraannya.
"Apa kamu menderita selama ini?"
"Ehh. I-iya, beberapa hari ini aku lumayan menderita."
"Saat ini apa yang membuatmu menderita dan bagaimana caranya untuk menghilangkan penderitaanmu itu?" Tanya gadis itu kepada Miku.
Mendengar pertanyaan itu, membuat Miku hanya dapat menatap ke bawah tanpa mengatakan apapun.
Butuh beberapa menit untuk Miku supaya bisa menjawab pertanyaan gadis itu.
"Y-yang aku harapkan saat ini hanyalah kesembuhan Shin seorang." Ujarnya dengan terbatah-batah.
"Kamu memang gadis yang baik ya."
"Kalau memang itu yang kamu harapkan. Berarti saat ini hanya kamulah yang bisa menyembuhkannya." Sambungnya.
"Ehh!? Apa maksudnya?"
"Seperti yang aku katakan barusan. Yang bisa menyembuhkan Tatsuya saat ini hanyalah kamu."
"Tatsuya!?. Ba-bagaimana caranya?"
"Hmm. Bisa dikatakan kalau saat ini jiwa Tatsuya sedang terperangkap di alam bawah sadarnya. Jiwanya sama sekali tidak mau keluar atau bisa dikatakan sedikit menolak untuk keluar. Penyebabnya mungkin karena ada sesuatu yang dia sesali di kehidupannya."
"Demi bisa menarik jiwanya kembali keluar dan membantunya untuk menghilangkan penyesalannya. Aku berharap kamu bisa membantunya."
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Miku dengan nada bersemangat saat mendengar bahwa dia bisa menyelamatkan Shin.
"Saat kamu nanti bangun dari sini, cobalah untuk terus memegangi tangannya dan katakan padanya kalau dia tidak perlu lagi menyesali perbuatannya karena itu bukan salahnya."
"Salahnya!? Emangnya apa yang telah Shin perbuat?"
"Masalah itu hanya dia seorang yang bisa menjawabnya."
"Maaf. Aku sudah bertanya hal yang tidak sopan?" Gumam Miku seolah dia sudah melakukan hal yang paling memalukan.
"Itu bukan masalah."
"Katakan juga padanya kalau dia harus menjalankan kehidupannya saat ini. Tidak ada lagi yang perlu dia sesali."
"Jangan lupa katakan kepadanya kalau orang itu sangat menyesal atas perbuatannya. Dia juga sudah merelakan Shin, jadi Tatsuya tidak perlu lagi merasa bersalah."
"Orang itu juga sudah sembuh dari penyakitnya, jadi sekarang tidak ada lagi yang akan membebani pikiran Tatsuya."
Miku dengan seksama mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Gadis itu. Tidak ada satupun kalimat yang terlewatkan oleh Miku, semuanya dia serap.
Kata demi kata, kalimat demi kalimat di ambil dan susun di dalam pikirannya.
"Apa sekarang kamu sudah mengerti dengan apa yang akan kamu katakan padanya."
"I-iya. Tapi, siapa orang itu dan untuk apa aku mengatakannya kepada Shin?"
"Aku tidak bisa mengatakannya. Yang penting kalimat ini mungkin bisa untuk menyelamatkan Tatsuya."
"Benarkah!?"
"Kamu harus percaya diri sedikit." Katanya sambil membuat senyuman lembut.
Miku yang melihat senyuman itu langsung memerah di wajahnya. Bukan karena malu-malu, melainkan karena ia terpesona oleh kecantikan gadis itu.
Beberapa saat kemudian, mata terpesonanya Miku berubah menjadi mata penasaran. Merasa tidak nyaman dengan pikirannya, diapun memilih untuk bertanya.
"Si-siapa kamu sebenarnya? Walaupun kamu tidak mau mengatakannya. Tapi bisakah kamu menjawab pertanyaanku?"
"Hmmm. Silakan." Responnya.
"Ap-apa kamu sangat mengenal Shin?"
Pertanyaannya hanya membuat gadis itu terdiam. Tidak ada ekspresi yang keluar dari raut wajahnya sama sekali.
"Aku memang mengenalnya cukup lama, tapi aku bukan siapa-siapa nya." Jawabnya sambil terus menatap kebawah.
Melihat tingkah lakunya membuat Miku kebingungan. Berniat untuk bertanya penyebab dari raut mukannya, tetapi Miku tidak berani untuk bertanya. Jadinya dia hanya duduk diam di tempat sambil terus memperhatikannya.
Semakin lama Miku menunggu, semakin jelas bahwa di memiliki penyesalan di setiap ucapannya. Air matanya juga mulai menetes satu persatu dari matanya dan membasahi pipinya yang halus.
"Maaf. Sepertinya aku menunjukkan sesuatu yang tidak sopan." Ujarnya sambil berusaha menghapus air matanya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak ada."
"Hmmm. Katakan saja kal_"
"Ohh, sepertinya kita harus berpisah sekarang." Ujar mendadaknya.
"Ehh!?"
Mendengar kalimat itu membuat Miku keheranan. Selagi ia masih berada di dalam kebingungannya, mendadak pandangan Miku mulai memudar.
"Ap-apa yang terjadi?"
"Sepertinya kamu harus bangun sekarang." Katanya sambil terus bersaha menahan air matanya.
"Hahh. Aku bahkan belum berbicara banyak denganmu."
Di hanya tersenyum saat mendengar pernyataan protes dari Miku.
"Kalau ada kesempatan, kita akan berbicara lagi nanti."
"Tapi." Gumam Miku dengan wajah sedih.
"Tenang saja."
"Oh ya. Berbicara soal gadis yang aku ceritakan tadi. Namanya Aya, katakan itu pada Tatsuya."
"Katakan juga pada Tatsuya kalau ini semua adalah salahku, dia tidak harus menanggung semuanya."
"O-ok. Aku mengerti."
Setelah mendapat kalimat terakhir dari gadis itu, pandangan Miku mulai memudar dan akhirnya menghilang.
➖➖➖➖➖
Di dalam kamar Shin yang diterangi oleh cahaya bulan yang mempesona.
"Hah."
Tiba-tiba saja Miku terbangun dari tidurnya.
Hari sudah pagi. Kicauan burung pagi menambah kebingungan Miku akan apa yang terjadi padanya. Saat Miku menatap Jam, ternyata jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Ketika dia masih setengah sadar. Dia menatap keseliling dan ternyata tidak hanya dia seorang saja yang terbangun secara mendadak, tetapi para gadis lainnya juga terbangun hampir di waktu yang bersamaan.
"Apa yang terjadi?" Tanya heran Miku.
"Kenapa kita terbangun di waktu yang bersamaan?" Sambung Kyou.
"Aku tidak tahu kak. Kepalaku sakit dan.... Oh ya, mimpi itu!?"
"Mimpi!? Apa kamu juga bermimpi tentang gadis itu?" Tanya Kyou kepada adiknya dengan cepat.
"Iya."
"Kalian juga!"
Wajah Miku langsung berubah saat mendengar kata mimpi dari Ryou.
"Apa kamu juga?" Tanya Kyou kepada Miku.
"Iya. Apa kalian juga sama?" Tanya balik Miku.
Kyou dan Ryou hanya mengangguk pelan akan pertanyaan Miku.
Mendengar bahwa bukan hanya dia saja yang bermimpi membuat Miku langsung bertanya ke gadis lainnya.
"Apa kalian juga?"
"Aku juga."
"Sama."
"Itu juga terjadi padaku."
"Kenapa kalian juga sama."
Rin, Hana, Airi, Chika dan Asha menjawab perkataan Miku secara bergantian dengan wajah kebingungan.
Pertanyaan itu meninggalkan tanda tanya besar di kepala Miku dan para gadis lainnya.
Mereka mencoba untuk diam selama beberapa saat supaya bisa memikirkan dan mencoba menyusun segala macam kejadian yang terjadi selama mereka tertidur.
"Miku. Apa kita harus melakukan apa yang dikatakan gadis itu?" Tanya Rin.
"Menurutku kita harus mencobanya. Kalau memang itu alasan Shin tidak bangun-bangun, kita harus mengatakannya."
"Tapi bagaimana cara kita melakukannya?"
"Seperti yang dikatakan gadis itu. Kita harus memegangi tangan Shin dan mengatakan apa yang dikatakan gadis itu kepada kita."
"Apa benar ini akan bekerja?"
"Kita berharap saja."
Mereka semua berhenti berbicara dan menatap Shin yang masih tertidur di tempat tidurnya.
Perlahan-lahan mereka semua mulai berjalan ke arah Shin dan mengelilinginya. Tangan Shin juga mulai dipegangi oleh semua gadis yang sangat mencintai Shin.
Mata mereka saat ini hanya tertuju kepada Shin seorang. Tidak hanya matanya, tetapi hati, perasaan dan harapan mereka semua ditujukan untuk Shin.
"Shin. Apa kamu bisa mendengarkan kami?"
Kata-kata pembuka dari Miku mengawali awal perjuangan mereka untuk menyelamatkan Shin.
...Terima kasih sudah mau membaca novel ini, dan Jangan lupa untuk!!!...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Salam hangat dari My Glory...