HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Kesempatan Langka.



"KAU?!"


"PENCULIK!"


"Hei, siapa yang penculik?! Jangan asal menuduh!" Protes Ardan.


"Kau lah! Kalau bukan, kenapa tiba-tiba waktu itu aku ada di mobilmu? Dan kenapa kau ada di atasku? Kau pasti mau melakukan pelecehan kan?!" Tuding Elif.


"Astaga! Otakmu geser atau apa? Kau bahkan bukan tipeku. Lagi pula mana ada penculik yang membawamu ke rumah sakit?"


"Mana kutahu! Mungkin kau berniat mau menjual organ tubuhku secara ilegal!"


"Hei, kalau aku mau menjual organ tubuh secara ilegal, aku pasti sudah membawamu ke pasar gelap, bukan rumah sakit legal."


"Penjahat selalu mempunyai segala macam cara licik!"


"Kau!" Ardan mengepalkan tangannya, aroma manis yang menguar dari gadis itu membuatnya sedikit menahan diri untuk tidak meledak dituduh sebagai peculik dan penjahat. Ardan menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma itu untuk membuatnya tetap tenang meski si gadis di hadapannya itu tidak tahu bahwa apa pun minyak wangi yang dipakainya membuat Ardan merasa rileks.


"Dengar, saat itu kau berada di mobilku karena aku tidak sengaja menabrakmu saat kau tiba-tiba keluar begitu saja dari sebuah gang kecil. Lalu kau pingsan, dan aku sebagai pria yang bertanggung jawab tentu saja langsung membawamu ke rumah sakit terdekat, dan ketika kau sadar saat itu aku mau mengangkatmu keluar dari mobil untuk aku bawa ke UGD. Begitu kronologisnya!"


Gadis itu tetap menatap Ardan penuh dengan kecurigaan dan kewaspadaan tingkat tertinggi yang ia punya sepertinya.


"Lalu dimana sepedaku?" tanyanya sinis.


"Sepedamu rusak, jadi kubuang." jawab Ardan sangat enteng.


Siapa yang menyangka jawaban enteng itu malah membuat gadis dihadapannya itu melotot nyalang dan bergerak mendekati Ardan kemudian...


BUG!


Gadis bertubuh mungil itu menendang kaki Ardan tepat pada tulang keringnya.


"Aaakkkhhh!" Ardan mundur beberapa langkah, kesakitan. "KAU SUDAH GILA YA?!"


"Itu untuk sepeda ku yang kau buang begitu saja!" Teriak gadis itu kemudian pergi dari hadapan Ardan, ia berlari melewati lift menuju tangga darurat.


"Dasar gadis aneh! Harusnya kubiarkan saja dia pingsan dijalan. Akh! Sial, sakit juga tendangannya."


***


Benar-benar menyebalkan. Mungkin bagi sebagian orang membeli sepeda adalah hal yang mudah, apa lagi sepeda miliknya bukanlah sepeda mahal, hanya sepeda biasa. Namun Elif harus bekerja dan menabung untuk bisa mempunyai sepedanya sendiri, karena ayahnya tentu saja tidak perduli.


Dan pria tadi, sudah menabraknya, membuat sepeda satu-satunya rusak, lalu dibuang begitu saja! Sungguh keterlaluan!


Tapi, bukan salah pria itu juga, mungkin dia tidak tahu kemana harus mengembalikan sepedanya karena saat itu Elif pergi begitu saja saat di rumah sakit. Bahkan tas miliknya pun dikembalikan oleh petugas keamanan.


Elif mendengus. Merasa kesal, juga merasa bersalah. Entah bagian mana yang membuatnya merasa bersalah, menuduh pria itu sebagai penculik atau sudah menendangnya tadi.


"Elif?"


Seketika Elif menengok kearah suara laki-laki yang memanggilnya.


"Kak Gavin?"


"Kau melamar kerja disini? Kenapa tidak telepon aku dulu?" Gavin mendekat. Mereka berdiri di tengah lobi menuju keluar.


"Memangnya Kak Gavin kerja disini?" Elif balik bertanya.


"Kau tidak baca kartu namaku?"


"Eeh?" Elif menggaruk. Astaga aku benar-benar lupa Kak Gavin memberikanku kartu namanya. Elif membatin. "Maaf Kak, aku lupa." Elif menyesal dan rasa tidak enak.


Gavin terkekeh. "Tidak apa. Jadi bagaimana hasilnya hari ini? Aku yakin kau pasti lolos ke tahap selanjutkan bukan?"


Elif tersenyum masam juga terlihat sorot kesedihan. "Aku tidak lolos karena aku bukan lulusan universitas."


"Apa?" Gavin terkejut.


"HRD bilang itu adalah satu-satunya kekuranganku, CEO nya punya peraturan sendiri."


Gavin mendengus. "Alasan konyol!"


"Sudahlah tak apa, Kak. Mungkin belum rejeki kerja disini." ucap Elif pasrah. "Ah senang bisa bertemu Kakak lagi."


"Ya aku juga. Sebenarnya aku ingin ngobrol banyak denganmu, tapi ada meeting sebentar lagi."


"Ya tidak apa-apa, Kak. Lain kali saja. Aku permisi pulang ya Kak."


"Apa kau dijemput?"


***


"Tidak sekarang." Tolak Ardan seketika dengan tangan ketika melihat Gavin datang mendekat dengan ekspresi wajah yang sangat jelas terlihat ingin membicarakan sesuatu. "Kita meeting sekarang." sambungnya berlalu begitu saja.


Gavin menatap Teddy dengan tanda tanya, tapi Teddy hanya menggeleng pelan. Teddy sendiri tidak yakin apa yang menyebabkan bos nya itu tiba-tiba menjadi bad mood padahal baru saja mencari angin. Biasanya setelah mencari angin saat kesal selalu membuat Ardan merasa lebih baik. Apakah kabar kedekatan Marsha dengan aktor naik daun itu benar-benar mengganggunya?


Gavin menghela napas panjang. Ah... meeting kali ini akan berlangsung menegangkan. Batinnya.


***


Keesokan harinya semakin membuat Ardan kesal. Bagaimana tidak, kandidat-kandidat pengganti Sonya yang diloloskan dari tahap-tahap sebelumnya sama sekali tidak ada yang cocok dengan Ardan. Mereka yang datang lebih fokus pada penampilan dan dandanan. Tidak ada yang fokus pada pertanyaan yang diajukan Ardan. Semua jawaban yang diberikan adalah jawaban-jawaban standar yang dilakukan sebisa mungkin untuk mendapatkan pekerjaan. Dan yang paling membuat jengkel, tidak ada kesungguhan, mereka malah sibuk bersikap imut di hadapan Ardan.


"Panggil HRD kesini sekarang!" Perintahnya pada Teddy.


Teddy keluar. Tak berselang lama setelah Teddy keluar, Gavin masuk membawa sebuah berkas tipis.


"Apa itu?" tanya Ardan langsung.


"CV salah satu kandidat yang tidak lolos kemarin." Gavin langsung meletakkan begitu saja dokumen di dalam map plastik ke atas meja Ardan. "Aku mengenal salah satu dari kandidat yang tidak lolos kemarin. Aku ingin merekomendasikannya padamu."


Ardan tertawa mencibir, "Kau tahu, mereka yang baru saja ku wawancarai adalah yang lolos kemarin, tapi semuanya tidak ada yang kompeten. Bagaimana bisa kau merekomendasikan yang tidak lolos padaku?"


"Karena gadis ini tidak lolos bukan karena ketidakmampuannya, bukan karena tidak memiliki potensi dan bukan karena tidak kompeten, kekurangannya hanya karena dia bukan lulusan universitas."


"Lupakan saja, aku akan mencari pengganti Sonya dengan caraku sendiri."


Gavin menghela napas, mencoba bersabar menghadapi bos sekaligus sahabatnya yang keras kepala jika menyangkut soal peraturan.


"Ar, coba pikir, mereka yang lulusan universitas saja tidak kompeten seperti yang kau harapkan. Itu artinya, kompeten atau tidaknya seseorang tidak diukur dari lulusan universitas atau bukan. Ayolah, longgarkan sedikit saja peraturanmu, beri kesempatan pada gadis yang aku rekomendasikan ini."


"Apa kelebihannya sampai kau merekomendasikannya padaku?"


"Dia cekatan, cepat belajar, ramah, cerdas dan gigih. Aku yakin dia pengganti Sonya yang tepat."


Tok. Tok. Tok.


"Masuk!" ucap Ardan.


Herdi kepala HRD masuk menghadap Ardan dengan wajah khawatir.


"Siapa nama orang yang kau rekomendasikan?" tanya Ardan, masih belum membuka CV yang dibawakan Gavin.


"Elif." jawab Gavin.


"Kau ingat ada nama Elif yang kau wawancarai kemarin?" tanya Ardan beralih pada Herdi.


"Iya Pak. Ada."


"Apa alasan kau tidak meloloskannya?"


"Sebenarnya hanya satu kekurangan dari gadis itu, yaitu bukan lulusan universitas. Selebihnya, saya rasa dia adalah satu-satunya kandidat yang terbaik."


"Apa kubilang." ucap Gavin dengan ekspresi wajahnya tanpa bersuara.


"Aku merekomendasikan gadis itu pada Pak Ardan, aku rasa gadis itu pantas untuk mendapatkan kesempatan. Apa kau setuju?" Gavin bertanya pada Herdi.


"Sangat setuju Pak." jawab Herdi sambil menganggukkan kepalanya.


"Baiklah! Baiklah! Telepon gadis itu, suruh datang sekarang untuk wawancara denganku. Aku beri waktu dia satu jam!"


"Baik Pak!" Herdi langsung permisi dan keluar dari ruangan Ardan dengan langkah-langkah panjang.


Gavin tersenyum bangga dan senang dengan keputusan Ardan untuk memberikan kesempatan orang yang direkomendasikannya. Ia tahu, meskipun terlihat kaku dan dingin dari luar dengan segala peraturan yang dibuatnya, jauh didalam hatinya Ardan adalah seseorang yang berhati baik dan tidak sedingin itu.


"Jangan senyum-senyum seperti itu padaku, kau membuatku takut!"


Gavin terkekeh.


"Sana kembalilah ke ruanganmu!" Ardan mengibaskan tangannya.


Gavin membungkuk sedikit memberikan penghormatan hiperbola pada Ardan dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya. "Selamat bekerja Bapak Ardan Mahesa Demir."


Ardan mendengus malas bercampur kesal dengan apa yang terjadi sepagi ini. Malas-malasan dia ambil CV yang diberikan Gavin sebelumnya. Halaman pertama terdapat data pribadi dan sebuah pas poto berukuran 3x4 dengan latar belakang berwarna biru. Seorang gadis bermata bulat, pipi yang agak tembam, tersenyum manis.


Kening Ardan berkerut, ia melihat lebih dekat poto tersebut, beberapa kali matanya mengerjab. Detik berikutnya, sudut bibirnya bergerak naik, menyeringai begitu menyadari dan yakin poto siapa yang sedang dilihatnya itu.


"Kita lihat apa kau masih bisa menendang kakiku lagi nanti."