HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Malu tapi Mau. (21+)



Malam menjelang, Zehra dan Adit pun berpamitan pulang, meski Elif dan Ardan menawarkan untuk menginap, tapi Zehra dengan sangat pengertian menolak tawaran pasangan suami istri baru itu yang belum juga bisa menikmati malam pertama. Tentu saja Tuan Ardan sangat berterima kasih atas pengetian Ibu Zehra yang disampaikan dengan sangat sopan.


Setelah menutup pintu Elif bingung karena tidak ada Ardan di ruang keluarga, padahal tadinya pria itu ada disana.


"Kemana dia?" Gumam Elif. Ia beranjak ke dapur untuk memasukkan piring-piring yang sudah kering setelah dicuci ke dalam kitchen set, melap seluruh permukaan meja dapur, setelah memastikan semuanya rapih dan bersih, Elif mematikan lampu dapur dan beranjak mematikan layar televisi yang masih menyala tanpa ditonton siapa pun.


Lalu ia mengetuk pintu, sesaat kemudian ia terkekeh sendiri, "Untuk apa aku mengetuk pintu?" Kebiasaan lama saat dulu masih dikerjai Ardan, setiap pagi Elif harus membangunkan Ardan dengan mengetuk pintu kamar itu. Ah, siapa yang akan menyangka, bahwa akhirnya Elif akan menempati kamar itu bersama pria yang dulu sangat ia benci kini berstatus suami.


"Ardan?" Elif membuka pintu, melongokkan kepala, tapi sepi. Tidak ada Ardan di dalam kamar. Elif mengernyitkan dahi, ia mengedarkan pandangan pada kamar, tidak ada yang aneh. Elif hendak membuka pintu kamar mandi tepat saat Elif memegang kenop pintu, pintu itu terbuka.


Seperti adegan slow motion pada film-film, Elif melihat pemandangan menakjubkan yang membuat Elif untuk sesaat menahan napasnya. Ardan berdiri tepat di depannya, hanya mengenakan handuk yang melilit pada pinggang, menunjukkan secara terang-terangan bagian dadanya yang bidang, bahunya yang kekar, lengannya yang kuat, dan perutnya yang terdapat potongan-potongan roti sobek terpampang nyata sempurna, tetesan-tetesan air dari rahangnya yang basah menetes pada dada Ardan.


Elif yang tingginya hanya sebatas dada Ardan susah payah untuk bergerak, sejujurnya ia tergoda untuk menyentuh permukaan di hadapannya itu.


"Kau ingin menyentuhnya, sayang?" Suara Ardan yang berat membuyarkan fantasi Elif, menarik kembali wanita itu pada dunia nyata dan tempatnya berpijak.


"Ehm... lukamu... lukamu tidak apa-apa?" tanya Elif tanpa melihat wajah Ardan. Ia malu, karena pasti wajahnya sudah semerah kepiting rebus.


Ardan bergerak maju alih-alih menjawab pertanyaan malu-malu istrinya. Seiring dengan langkahnya yang bergerak maju, langkah Elif bergerak mundur hingga punggungnya menyentuh lemari pakaian. Elif tidak lagi kabur ketika kedua lengan Ardan mengunci Elif pada sisi kanan dan kiri.


"Kenapa kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan juga, sayang?" ujar Ardan dengan suara yang rendah. Membuat Elif merinding, bukan merinding yang menyeramkan namun merinding yang membuat perutnya seperti dihinggapi banyak kupu-kupu.


"Per... pertanyaan yang mana?" Elif masih malu untuk memandang wajah suaminya.


"Kau ingin menyentuhnya?" ulang Ardan pertanyaanya.


Susah payah Elif membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba menjadi kemarau, kering!


"Me-ehm-menyentuh apa?"


Ardan meraih tangan Elif, membawa tangan mungil itu untuk menyentuh permukaan dada, perut, pinggang dan semakin ke bawah...


"A-aku m-mau mandi dulu!" Dengan secepat kilat melihat salah satu tangan Ardan yang terlepas dari sisi kirinya, Elif langsung melesat pergi dari hadapan Ardan dan masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar jelas Ardan tertawa disana. Sementara di balik pintu kamar mandi, Elif memegangi dadanya, ia bisa merasakan detak jantungnya yang bertalu-talu, napasnya yang tersenggal dan perutnya yang bergelenyar aneh. Ia tidak menyangka melihat Ardan dengan bertelanjang dada seperti itu bisa membuat dirinya kehabisan napas.


Oh, Ardan begitu sempurna. Tampan, gagah, berkecukupan. Sementara dia?


Elif memandangi pantulan wajahnya pada cermin. Ia hanya seorang anak gadis yang tidak diinginkan ayahnya, jelek, bahkan tidak mempunyai harta yang berlimpah. Sementara di luar sana banyak sekali wanita-wanita yang jauh lebih cantik dan kaya raya. Bagaimana bisa nantinya Elif bisa menyeimbangi dirinya dengan Ardan? Ah, apakah sudah terlalu telat untuk merasa minder seperti ini? Tapi, sejujurnya ini yang sudah Elif takutkan semenjak beberapa hari sebelum akhirnya ia menjadi istri.


Elif akhirnya memilih untuk mandi di bawah guyuran shower air hangat, untuk menenangkan dirinya dari segala macam pikiran yang tidak jelas dan ketakutan yang ada di dalam kepalanya. Toh, pada kenyataannya, Ardan memilih Elif dari sekian banyak wanita sempurna yang pasti mendekatinya. Wanita-wanita cantik, kaya, pintar, memiliki latar belakang keluarga yang lengkap, tapi Ardan tetap memilihnya. Bertahan disampingnya, tetap menggenggam tangannya meski ia tahu seperti apa sejarah hidup Elif. Pria itu tetap mencintainya dengan jiwa dan raganya. Lalu apa yang membuat Elif ragu?


Cklak.


Elif membuka pintu kamar mandi, dengan rambut basah, mata menatap malu-malu pada Ardan yang sudah mengenakan kaos polos dan celana pendek, suaminya sedang bersandar pada kepala tempat tidur sambil mengecek beberapa email pada layar laptopnya yang dipangku di atas pahanya.


"Ehem, apa kau akan berdiri sepanjang hari disana, sayang?"


"A-aku mau ambil bajuku." jawab Elif.


"Lalu?"


"Bajunya masih ada di dalam koper."


"Lalu?"


"Kopernya ada disebelahmu."


"Ohhh... kalau begitu, kemari lah, ambil bajumu."


Elif menggigit bibirnya alih-alih bergerak dari tempatnya.


"Atau kau mau aku menggendongmu? Tapi kau ingat kata Fadil, kan? Aku sih tidak masalah kalau harus menggendongmu." Ardan berdiri hendak mendekati Elif, namun dengan cepat Elif mengulurkan tangannya, menyetop langkah kaki Ardan.


"A-aku bisa sendiri."


"Baiklah, silahkan." Ujar Ardan sambil menyengir lebar.


Was-was Elif melangkah, mencengkram lilitan handuknya mendekati kopor yang berada di bawah kaki kasur, dengan sedikit membungkuk, Elif berusaha membuka resleting kopornya dengan satu tangan, dan entah kenapa resleting kopor itu tiba-tiba seperti orang meledek, susah sekali dibukanya, sampai mau tidak mau Elif harus menggunakan dua tangannya untuk membukanya, tapi seketika gerakannya terhenti ketika sepasang lengan kekar melingkar pada pinggangnya dari belakang.


Elif memejamkan mata, menggigit bibirnya, ia bisa merasakan hembusan napas hangat Ardan menyapu permukaan kulitnya, rasanya menggelitik dan menimbulkan sensasi yang hanya Elif yang tahu. Dengan lembut sebuah ciuman mendarat pada bahu polos Elif, lalu pada tengkuknya, lalu pada lehernya, pada telinganya. Sumpah demi apapun, Elif menikmatinya. Sensasi yang tidak pernah ia tahu sebelumnya bahwa tubuh manusia bisa mempunyai respon seperti itu.


Perlahan Ardan memutar tubuh Elif hingga mereka saling berhadapan. Ia tersenyum melihat mata Elif yang sayu terbuka melihat Ardan. Ia kembali mendaratkan ciuman-ciuman mesra nan lembut pada kening, mata, pipi, hidung dan pada akhirnya bibir. Pelan dan lembut Ardan mencium bibir Elif. Semakin memberikan sensasi yang membuat Elif tidak lagi menghindar.


Tangan Elif bergerak, melingkar pada leher Ardan, ia memejamkan mata, dan membuka mulutnya sedikit. Elif telah menyerahkan dirinya. Ardan menyunggingkan senyuman, ia pun langsung mengabsensi setiap rongga mulut istrinya, dari lembut dan akhirnya memburu hingga keduanya terpaksa melepaskan pagutan bibir mereka karena kehabisan napas.


"Kau... cantik sekali, istriku." ujar Ardan sedikit berbisik pada telinga Elif.


"Ardan apa yang kau.. hhhmmppphhh."


Kini tidak ada lagi kesempatan untuk Elif menghindar atau menutupi apa yang telah menjadi miliknya.


Dengan posisi mereka yang memang berdiri tepat di tempat tidur, tidak sulit bagi Ardan untuk akhirnya bisa membuat wanita yang sangat dicintainya itu jatuh di atas kasur dengan bibir mereka yang masih saling mengunci. Dan hasrat yang telah lama terpendam pun tidak mampu lagi bersembunyi.


Akhirnya.... Ardan belah duren!!