
Setelah perayaan singkat usai, Mona, Yura, Ardan dan Teddy pun akhirnya beranjak pulang karena hari beranjak malam. Elif khawatir, jika ayahnya datang melihat kehebohan ini akan marah-marah lagi. Ia hanya tidak tahu bahwa ayahnya kini mendekam di balik jeruji besi.
Elif naik ke atas kasurnya setelah mengaplikasikan skincare malam dan mengenakan piyama tidurnya, Ia menarik selimut tipis sampai ke dagu. Tapi ada sesuatu yang mengganggunya. Entah kenapa ia merasa khawatir akan sesuatu. Setiap kali ia mencoba untuk memejamkan matanya, jantungnya seketika berdedup cepat, seperti orang yang berada di bawah tekanan ketakutan. Cepat-cepat Elif membuka matanya, menyalakan lampu duduk pada meja kecil di samping tempat tidurnya dan langsung melihat ke arah pintu.
"Tidak ada apa-apa." ucapnya sendiri.
Ia kembali mematikan lampu duduk tadi. Menarik selimutnya, dan memejamkan matanya. Dan lagi-lagi degupan jantungnya bertalu-talu, bukan hanya itu, ada sebuah rekaman yang berputar dalam kepalanya, sepasang kaki yang masuk ke dalam kamarnya, perlahan mendekat dan kemudian ia mendengar teriakan.
"Hah!" Elif seketika duduk, menyalakan lampu dan hendak melemparkan lampu itu ke arah pintu. Tapi, lagi-lagi hanya kekosongan yang dilihatnya. Pintu kamarnya masih tertutup rapat dan hanya ada dia seorang diri di dalam kamar.
"Aku kenapa sih?" Elif mengelus-elus dadanya. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam lewat sepuluh menit. Matanya sudah mengantuk, tapi ia tidak mengerti dengan tubuh dan pikirannya. Bahkan kini ia berkeringat dingin.
Elif mengatur napas, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang ketakutan tanpa sebab. Setelah ia rasa dirinya sudah cukup tenang, Elif kembali mematikan lampu, merebahkan diri, menarik selimut dan memejamkan mata.
Satu detik.
Dua detik.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Elif kembali menyibak selimut, bergerak dengan spontan ke sudut kasur. Memicingkan mata pada cahaya temaram. Tangannya pelan-pelan terjulur untuk menyalakan lampu, dan ya, ruangan masih dalam keadaan yang sama. Tapi kali ini napasnya bahkan tersenggal-senggal. Dan entah bagaimana, hatinya merasa sakit. Bukan sebuah sakit karena adanya penyakit, tapi lebih ke rasa sakit yang tidak ada luka fisiknya.
Ada yang tidak beres dengan diriku.
Akhirnya Elif memutuskan untuk keluar dari kamarnya, mungkin minum segelas susu hangat akan membantunya. Begitu ia keluar dari kamar, Adit masih ada di ruang keluarga, sedang menonton sambil menikmati sisa kue coklat.
"Ayah belum pulang?" tanya Elif pada Adit.
"Eng... belum. Lebih baik tidak usah pulang, rumah lebih damai tanpa ada ayah disini."
"Hush! Jaga ucapanmu! Biar bagaimana pun ayah adalah kepala rumah tangga ini, pelindung kita semua." Elif menegur dan menasihati adiknya sambil membuat segelas susu hangat.
Adit hanya tersenyum masam. Tidak mau menanggapi, ia kembali pada layar televisi.
"Ibu sudah tidur?"
"Sepertinya belum. Ibu sedang merapihkan sesuatu di kamar."
Elif meletakkan susunya di atas meja makan karena masih terlalu panas untuk bisa langsung di minum. Ia pun mendatangi kamar Zehra, setelah mengetuk pintu, Zehra menyahut.
"Ibu sedang apa malam-malam begini? Apa perlu aku bantu?"
"Ah, eh, tidak usah. Ini juga sudah beres. Ibu hanya memeriksa dokumen untuk.... persiapan Adit daftar sekolah menengah setelah lulus nanti. Supaya tidak repot saja nantinya." jawab Zehra dengan mengarang bebas.
"Oh begitu."
Zehra memasukkan surat gugatan cerai yang baru saja ia tanda tangani ke dalam amplop cokelat polos, kemudian memasukkannya ke dalam tas bersama dokumen-dokumen pribadi lainnya agar tidak menimbulkan curiga.
"Kau kenapa belum tidur, Nak?"
"Tidak tahu, aku tidak bisa tidur."
"Kenapa? Kau lapar? Ingin dibuatkan sesuatu?"
Elif menggeleng. "Aku tidak lapar, tapi tidak tahu kenapa, setiap kali aku memejamkan mata, aku selalu ketakutan, seperti ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku dan berniat jahat padaku."
Zehra memandang Elif dengan tatapan sedih, namun dengan cepat ia memalingkan wajahnya sebelum Elif menyadarinya.
"Hmmm, mungkin sebaikkan kau coba hubungi Nak Ardan."
"Ha?" Sontak pernyataan Zehra membuat Elif terlonjak heran. "Apa hubungannya dengan Ardan?"
Zehra tersenyum hangat, menatap putri kesayangannya, putrinya yang tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri, dibenci oleh ayah angkatnya, namun sangat dicintai oleh seorang pria yang Zehra yakin mampu memberikan apa pun yang selama ini tidak pernah didapatkan oleh Elif, seorang pria yang dapat menenangkannya dan melindunginya.
"Entahlah, Ibu hanya mempunyai firasat Nak Ardan bisa mengusir semua keresahanmu."
"Ibu, aku dan Ardan..."
"Kalian saling mencintai, Ibu bisa melihat itu. Jangan kau tutupi dan ingkari perasaanmu sendiri hanya karena ayahmu. Kau pantas untuk bahagia, sayang. Kau pantas untuk dicintai dan mencintai sebesar hatimu."
"Tapi Ardan..."
"Dia sangat mencintaimu. Sangat. Dia akan memburu siapa saja yang menyakitimu, memastikan kau tidak akan pernah bertemu dengan orang yang menyakitimu. Ibu bisa melihatnya melalui matanya. Kau tahu, kata-kata terkadang bisa dimanipulasi, sikap bisa dibuat-buat, tapi mata... mata tidak akan bisa berbohong."
"Apa Ibu seyakin itu?"
"Tentu saja. Ibu tidak pernah melihat cinta seseorang sebesar Ardan melakukannya. Kau hanya perlu melihat dan merasakannya dengan hatimu. Jangan lagi terpaku pada ayahmu. Ia sampai kapan pun tidak akan..."
"Tidak akan apa, Bu?"
"Ibu hanya minta satu hal padamu, sudah waktunya kau temukan kebahagiaanmu, sayang. Jangan lagi terpaku pada ayahmu."
"Tapi kenapa? Aku juga ingin membuat ayah bangga padaku, aku ingin ayah juga menyayangiku. Aku ingin..."
"Cukup Elif!" Tiba-tiba Zehra membentak. "Jangan lagi kau memanggilnya ayah. Dia bukan ayahmu! Dia membencimu! Dia bahkan tidak menginginkanmu. Jangan lagi kau berharap pada pria itu, dia tidak pantas mendapatkan kasih sayangmu!"
"Ibu! Apa yang Ibu baru saja katakan?" Elif melangkah mundur, matanya menatap Zehra dengan tatapan tidak percaya.
"Ada apa, Kak? Bu?" Adit masuk begitu mendengar suara Zehra. "Ada apa ini?" Adit mengulangi.
Zehra sudah meneteskan air matanya, sementara Elif tidak percaya dengan apa yang barusan saja dikatakan ibunya. Tanpa menjawab pertanyaan Adit, Elif segera keluar dari dalam kamar Zehra, masuk ke dalam kamarnya sendiri, memakai hoodie, mengambil dompet dan handphone, kemudian keluar dari rumah.
"Kau temani ibu saja." Dan Elif pun pergi meninggalkan rumah begitu saja.
"Adit, cepat hubungi Nak Ardan, katakan apa yang terjadi."
***
Malam semakin larut, udara malam pun mulai terasa dingin. Ia duduk pada salah satu ayunan yang ada di taman kecil, taman yang berada tidak jauh dari kavling rumahnya, taman yang biasa ramai oleh anak-anak kala sore hari. Elif tidak tahu harus kemana. Dia tidak mau mengganggu Yura atau pun Mona dengan kisah hidupnya.
Elif menghela napas, dadanya terasa sesak. Elif tidak tahu lagi apa yang ia rasakan saat ini. Dia tidak mengerti mengapa ibunya mengatakan hal konyol itu? Apa maksudnya?
Tiba-tiba ponselnya bergetar tanpa suara, nama Ardan tertera pada layarnya. Elif ragu untuk menjawabnya, entah apa yang harus ia katakan pada Ardan. Jadi, Elif membiarkannya sampain panggilan itu terputus. Kemudian, kembali lagi bergetar, dan Elif tidak menjawabnya. Ia malah meletakkan ponselnya pada kursi ayunan disebelahnya. Kepalanya tertunduk, melihat kakinya yang hanya memakai sandal jepit, bergerak-gerak pelan seirama dengan gerakan tubuhnya yang berayun pelan di atas ayunan itu sampai sepasang kaki tiba-tiba masuk dalam bingkai penglihatannya hingga membuat Elif nyaris terjatuh dari ayunannya karena saking kagetnya.
Tapi tentu saja, sepasang tangan kokoh menariknya, menyelamatkan Elif dari jatuhnya. Pria itu sudah berdiri di hadapan Elif. Rambutnya tidak tersisir rapih seperti biasa. Tidak ada setelan jas dan sepatu pantofel. Hanya kaus polos berlengang pendek yang menampilkan sedikit banyak otot kokoh pada lengannya, celana olahraga dan sandal rumahan.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Suara bariton yang sudah sangat melekat dalam benak Elif, yang entah bagaimana suara itu bekerja dengan cara yang paling misterius memberikan sensasi menenangkan.
"Ardan? Kau disini..."
"Ya, aku disini." jawab Ardan. Tidak ada penekanan dalam intonasi suaranya. Ia berjongkok, mensejajarkan pandangan mata mereka. Mata tajam Ardan menatap intens pada Elif, tidak mengintimidasi, tapi hanya kelembutan yang terpancar dari sorot mata tajam itu. Ah, bagaimana bisa, mata itu memandang tajam, intens dan lembut sekaligus?
Elif tidak memungkiri, melihat sepasang mata itu membuat hatinya terenyuh dan tiba-tiba menangis. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.
"Hei, ada apa? Kenapa menangis?" Ardan mengusap air mata Elif. Tapi ia tidak menjawab, melainkan terus menangis. "Menangislah, ceritakan padaku setelah sesakmu hilang." ujar Ardan seraya memeluk tubuh mungil Elif yang bergetar karena tangisnya.
***
Mereka tidak lagi berada di taman sepi tadi, setelah Elif melepaskan tangisnya yang membuat kaus Ardan basah, Ardan membawanya ke minimarket dua puluh empat jam. Sementara Ardan membeli minuman dingin dan beberapa makanan ringan, Elif menunggunya di dalam mobil.
Tak lama kemudian, Ardan datang dengan membawa apa yang telah dibelinya. Ia membukakan minuman kaleng dingin untuk Elif, kemudian untuk dirinya.
"Terima kasih." ucap Elif.
"Untuk apa?"
"Menemaniku dan..."
"Dan?"
"Kau... membuatku merasa tenang."
"Apa? Coba ulangi..."
"Tidak ada siaran ulang." Tukas Elif, malu, ia menundukkan kepala. Dan merasa aneh dengan dirinya sendiri karena merasa malu di depan Ardan.
Ardan terkekeh. "Aku senang bisa menjadi tempat untukmu merasa tenang."
Elif masih menunduk, memainkan pinggiran kaleng minumannya.
"Jadi, ada apa? Kenapa kau di taman itu sendirian malam-malam begini?"
"Sebelum aku menjawab, bagaimana bisa kau ada di taman itu? Bagaimana kau tahu aku ada disana?" tanya Elif.
"Anggap saja aku mempunyai indra ke enam yang bisa tahu kau sedang bersedih sendirian di taman."
Elif melempari Ardan dengan tatapan malas.
"Hahaha, jangan melihatku seperti itu, kau jadi terlihat menggemaskan!" jawab Ardan dengan sangat spontan, karena memang itu kenyataannya.
Elif berdecak, memalingkan wajahnya padahal ia merasa tersanjung.
"Adit menghubungiku, ia bilang kau dan ibu ada sedikit pertengkaran. Lalu kau pergi."
"Oke, tapi bagaimana bisa kau langsung tahu aku ada di taman? Dan bagaimana bisa kau secepat itu datang?"
"Oh itu... hmmmm, rahasia."
"Ardan!"
"Baiklah, baiklah. Hmmm, kau tahu tiga rumah dari rumahmu itu ada yang dikontrakkan?"
Elif mengangguk.
"Aku membelinya."
"Apa? Kau membeli rumah yang dikontrakkan?"
"Ya."
"Untuk apa? Jangan bilang kau pindah ke situ?"
"Hm, iya, baru semalam aku pindah, jadi aku belum sempat lapor ke RT dan RW, tapi sepertinya Teddy akan mengurusnya besok."
"Astaga! Tapi untuk apa?" Elif meninggikan suaranya.
"Untuk dekat denganmu, tentu saja."
"Tapi kenapa?" suara Elif tidak lagi meninggikan suaranya. Suara itu kini lebih terdengar sendu.
"Aku tidak lagi bisa jauh darimu, Elif. Apakah kau tidak menyadarinya? Apa kau masih meragukan hatiku?"