HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Persidangan.



*Beberapa hari kemudian*


TOK! TOK! TOK!


Hakim telah mengetuk palu dengan sah dinyatakan bahwa Yanuar akan menjalani hukuman penjaranya dengan tuduhan pelecehan seksual, percobaan perdagangan manusia. Selain itu, ia juga kehilangan hak asuh atas Adit. Hal itu tentu saja membuatnya mengamuk dipersidangan, dia berteriak memaki Elif juga Zehra atas apa yang terjadi padanya, setelah itu ia memohon pada Adit untuk meninggalkan Zehra dan Elif. Entah apa yang ada dipikiran Yanuar, tapi yang jelas pikirannya kacau.


Ada perasaan iba dan tidak tega melihat sosok pria yang selama ini Elif kenal sebagai Ayahnya itu berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Namun atas apa yang dia lakukan selama ini, Elif mencoba untuk menguatkan hati. Apa lagi Adit sendiri yang menolak bersama ayahnya. Dalam hati, Elif berdoa, semoga dendam yang ditanam dalam hati Yanuar perlahan bisa ia lepaskan, karena pada akhirnya dendam itu lah yang menghancurkan hidupnya, membuatnya kehilangan segalanya.


Suasana persidangan yang awalnya cukup terkendali menjadi sedikit kacau karena Yanuar memberontak saat dipegangi petugas dan hedak menyerang Zehra dengan tatapan matanya yang diselimuti amarah. Jika saja Ardan tidak sigap melindungi calon ibu mertuanya itu, mungkin pukulan tangan Yanuar telah mendarat pada wajah Zehra, tapi karena Ardan berdiri di depan Zehra jadi Ardan yang terkena pukulan itu. Ardan tidak menunjukkan emosi meski Elif dan Zehra memekik takut, Ardan hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah kemudian menyeringai tipis pada Yanuar yang langsung diamankan lagi oleh petugas.


"Apa kau ingin memperpanjang masa hukumanmu?" tanya Ardan dengan santai.


"Terdakwa Yanuar! Saya peringatkan jika Anda tidak bisa bersikap tenang, maka hukuman akan diperberat!" ucap hakim dengan lantang dan tegas.


Setelah itu, Yanuar malah tersungkur sampai membuat petugas kesulitan membawanya, ia menangis, meraung-raung, suara tangisnya pilu terdengar hingga ke luar ruang sidang.


"Bawa terdakwa ke tempatnya!" Titah hakim pada kedua petugas yang memegangi Yanuar.


"Adit! Adit! Anak Ayah! Maafkan Ayah! Maafkan Ayah! ADIT!"


Suaranya semakin lama semakin samar.


Adit mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, tatapannya penuh dengan emosi yang tertahan. Begitu Hakim keluar dari ruang sidang, Adit segera berlari keluar.


"Adit!" Elif memanggil dan hendak menyusulnya, tapi Ardan menahan.


"Biarkan dia sendiri dulu. Aku akan minta Teddy untuk mengawasinya dari jauh."


Elif mengangguk sebagai tanda setuju.


***


Jika saja bukan karena Elif yang selalu menenangkannya, sejak dulu pasti Adit sudah menjadi anak yang pembangkang karena ayah selalu saja menuntutnya untuk menjadi apa yang ayahnya mau. Jika saja bukan karena hati Zehra yang penuh kelembutan dan kasih sayang dengan sangat adil, mungkin Adit telah menjadi adik dan anak yang sangat egois. Jika saja ayah dapat membuka hatinya untuk Zehra dan juga Elif, ia akan menyadari bahwa hidupnya sangatlah beruntung mempunyai dua malaikat tak bersayap disisinya. Tapi sayangnya Yanuar lebih memilih untuk memupuk dendam dan membiarkan dendam itu kini menghancurkannya.


Tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya, Adit langsung buru-buru mengusap air matanya yang sempat menetes. Ia memalingkan wajahnya sebentar dan melihat Ardan yang duduk santai tepat disebelah kanannya.


Ardan tersenyum simpul, menepuk bahu Adit.


"Tidak apa kalau kau menangis, itu wajar."


"Aku menangis karena kesal, Bang." Adit beralasan. "Kenapa Ayah masih saja menyalahkan ibu dan kakak? Padahal ia tahu, selama ini dia telah sengaja melukai ibu dan kakak."


"Karena selama ini ayahmu telah memilih pilihan yang salah, dan membiarkan pilihannya itu menuntunnya begitu jauh sehingga membenarkan segala perbuatannya." jawab Ardan. "Ia tidak membicarakan kekecewaannya pada siapa pun sehingga timbulah kebencian dan dendam itu. dan membutakan hatinya."


Adih membuang napas kasar. "Iya Bang, Abang benar. Padahal kalau saja ayah menggunakan hatinya, kami adalah keluarga yang sangat harmonis."


Ardan mengangguk setuju.


"Kalau saja tadi Abang tidak berdiri di depan Ibu, pasti Ibu sudah kena pukulan ayah. Terima kasih Bang, Abang sudah melindungi Ibu, dan juga maaf Abang jadi luka."


Mendengar itu membuat Ardan gemas mengacak puncak rambut remaja itu. Lalu berkata, "Kau tahu, kau adalah anak remaja yang paling bijak dan dewasa yang pernah kukenal."


"Itu karena Ibu dan Kakak, kalau tidak ada mereka, mungkin aku sudah menjadi anak yang pembangkang."


"Kau tahu, saat seusiamu dulu, aku anak yang cukup membangkang, karena aku tidak pernah mau mengerti dengan segala yang telah direncanakan untukku. Aku pernah kabur dari rumah, aku tidak tahu kepada siapa aku bisa menceritakan kekesalanku, beban yang ada pada pundakku, tapi kemudian aku bertemu... eh bukan, mungkin lebih tepatnya aku menyelamatkan seseorang. Dan orang tua dari orang yang aku selamatkan itu begitu terpukul dan juga berterima kasih padaku. Dari matanya aku akhirnya menyadari betapa takutnya orang tua kehilangan anak mereka. Dan aku pun sadar, apa ya g orang tuaku lakukan semata-mata untuk kemapanan masa depanku. Karena aku anak tunggal, aku tidak mempunyai kakak atau adik, nantinya aku akan berdiri sendiri bahkan kelak aku akan menjadi tempat bersandar, karena itu orang tuaku membekaliku sejak seusiamu dengan segala macam urusan bisnis."


"Kau tahu, terkadang sedikit membangkang diusiamu adalah hal yang lumrah, karena terkadang disaat itu kau menemukan jati dirimu. Tapi aku begitu salut padamu, kau begitu mempunyai hati yang besar sehingga kau tidak perlu menjadi anak yang pembangkang untuk bisa menemukan dirimu." Ardan kembali menepuk bahu Adit. "Good boy."


Dari kejauhan, Elif, Zehra dan Teddy melihat bagaimana dua punggung pria itu duduk berdampingan. Bagaimana Ardan menenangkan Adit, membuat adiknya kembali tersenyum, memberikan kekuatan untuk anak laki-laki Zehra membuat dua wanita itu begitu tersentuh dan terharu juga bersyukur.


Begitu pun dengan Teddy, ia sangat tidak percaya melihat begitu banyak perubahan pada diri Ardan setelah mengenal Elif dalam hidupnya. Tidak ada lagi Ardan yang dingin, tidak ada lagi Ardan yang minim senyum, tidak ada lagi Ardan yang sinis. Ia benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih hangat dan bersahaja. Tidak pernah terbayangkan Teddy sebelumnya kalau bosnya itu ternyata mempunyai sisi hangat dan bisa menenangkan bocah remaja. Ia yakin, tuan besar dan nyonya besarnya akan sangat bangga dengan Ardan.