
Teddy dan Sonya sudah lebih dulu meninggalkan koridor, tinggallah Gavin di depan kamar dengar Ardan. Dua pria dewasa yang berbeda karakter dan kepribadian itu berdiri saling berhadapan namun dengan ekspresi masing-masing.
Ardan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya, wajahnya menunjukkan ekspresi dingin yang sulit dibaca.
Tapi Gavin malah tersenyum melihat temannya itu yang benar-benar berubah.
"Aku yakin kau sudah mencari tahu tentang aku dan Elif saat aku masih menjadi seniornya dulu saat kuliah."
"Tentu saja."
"Lalu apa yang kau temukan?"
"Tidak ada."
"Karena memang tidak ada apa-apa antara aku dan Elif, aku bisa menjamin itu."
Ya memang tidak ada apa-apa, tapi kau sudah mencuri hati Elif-ku dengan sikap perhatian dan sifat baikmu yang menyebalkan. Runtuk Ardan dalam hatinya. Tapi tunggu, kenapa dia tidak menghajarku? Kenapa dia malah menjamin tidak ada hubungan apa-apa antara dirinya dan Elif?
"Selama ini aku selalu yakin Elif gadis yang baik, karena itu aku selalu mengatakan padamu untuk tidak mempermainkannya." ujar Gavin. "Tapi setelah mendengar semua cerita Sonya, sekarang aku yakin Elif berada di tangan seseorang yang tepat."
Kening Ardan mengernyit. Menatap Gavin dengan curiga.
"Jangan melihatku curiga seperti itu. Aku berharap saat aku menikah nanti, kau dan Elif bisa menjadi pengiring pengantinnya."
"Tabii. (tentu saja.)" jawab Ardan dalam bahasa Turki.
"Please take care of her. I trust you now." kata Gavin seraya menepuk bahu Ardan, kemudian berbalik melangkah menjauh. Tapi kemudian ia berbalik lagi.
"Jangan cemburu lagi padaku, aku bukan rivalmu."
Ardan hanya mendengus.
Sementara itu di dalam kamar, Elif merasa begitu galau. Antara rasa percaya dan takut untuk percaya pada Ardan. Bukan karena takut patah hati, karena sesungguhnya Elif sudah patah hati sejak tahu Gavin sudah memiliki seorang kekasih, dan terlebih lagi Gavin tadi sudah mengatakan bahwa seharusnya Ardan tidak perlu cemburu padanya, karena Gavin sudah memiliki seorang kekasih. Huft!
Tapi bukan karena takut patah hati yang membuat Elif ragu untuk mempercayai perubahan sikap Ardan sekarang. Tapi dia takut, semua hanya permainan Ardan hanya untuk menghindari perjodohan yang selalu dijadwalkan mamanya. Elif takut jika ia percaya pada Ardan dan ternyata semua hanya permainan, yang sakit nantinya bukan hanya dirinya, tapi juga keluarganya.
Tapi...
Elif tidak menutup mata juga kalau Ardan begitu berbeda, sampai membuatnya tidak yakin, mana ada sikap orang bisa berubah secepat ini? Mana ada orang yang selama ini mengakui bahwa Elif bukan lah tipenya, tiba-tiba mengaku menyukainya dan jatuh hati padanya tepat setelah Elif mengeluarkan semua unek-uneknya dan berencana untuk melepaskan semua sandiwara ini.
Lagi-lagi, tapi...
Ardan tidak lagi memandangnya sebelah mata, tidak lagi memandangnya dengan tatapan mengejek, tidak lagi memandangnya dengan tatapan dingin. Ardan kini hanya memandangnya dengan tatapan yang penuh ketulusan yang sebenarnya dapat Elif rasakan.
Pelan-pelan Elif merebahkan dirinya, kemudian memiringkan tubuhnya ke kiri dengan sangat perlahan, terasa sakit sedikit, tapi bisa ditoleransi rasa sakitnya pada perut bagian kanannya. Ia menyangga perut depannya dengan sebuah boneka panda berukuran tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil berwarna cokelat.
Terdengar pintu terbuka dan tertutup, kemudian suara Ardan berdeham. Ia menghampiri ranjang Elif, tangannya menyentuh puncak kepala Elif dengan sangat lembut, tatapannya begitu hangat.
"Kenapa miring seperti ini? Apakah tidak sakit?"
Elif menggeleng. "Saya sudah menyangganya dengan ini."
"Boneka dari Gavin?" Ardan menarik tangannya, memalingkan wajahnya.
"Dari Sonya."
"Oooh."
"Kata Kak Gavin, Anda tidak perlu cemburu padanya."
"Ya, tentu saja, aku sudah bilang padamu, Gavin sudah memiliki seseorang di hatinya. Hanya saja, dia tidak tahu ada orang lain yang diam-diam menyukainya."
Elif tersenyum kecut. Dia tahu betul siapa yang dimaksud Ardan.
"Kupikir tadinya Gavin akan menghajarku dan Sonya akan ngomel-ngomel karena kupikir kau akhirnya memberitahu mereka. Tapi ternyata Gavin malah mempercayakan dirimu padaku. Kenapa?"
Elif mendesah lelah. "Saya juga tidak tahu."
"Apa karena akhirnya kau menyadari kalau kau hanya bertepuk sebelah tangan padanya?"
Elif menggeleng.
"Lalu?"
"Saya... tidak tahu."
"Aku tahu, kau pasti merasa ragu padaku, bukan?"
Elif mengangguk ragu. Tapi ia tetap mengangguk.
"Tak apa, aku maklum." Ardan tersenyum pasrah. Ia pun beranjak dari tempatnya dengan hati yang juga pasrah. Ah, ia merasa seperti bukan dirinya. Pasrah pada keadaan bukan lah dirinya. Dirinya yang selama ini adalah orang yang selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan, tidak ada yang tidak bisa ia dapatkan. Apa pun caranya, Ardan akan selalu keluar sebagai pemenangnya.
Tapi kali ini, ia merasa tidak bisa untuk memaksakan apa yang ia inginkan. Ia tidak ingin Elif terluka lagi. Ia ingin agar Elif bisa memilih apa pun yang menjadi pilihannya, bukan karena keterpaksaan.
Elif sudah tidak lagi sinis padanya itu sudah lebih dari cukup.
"Pak Ardan..."
"Ya?" Ardan segera berbalik badan.
"Apakah sudah makan siang?"
Elif mengangguk.
"Kenapa? Apa kau ingin makan sesuatu juga?"
Elif mengangguk.
Ardan terkekeh. Astaga, kenapa Elif imut begitu!
"Kau ingin apa? Pasta? Pizza? Steik? Ayam geprek? Sea food?"
"Saya mau seblak ceker yang pedas. Saya juga mau sayur asem, ikan asin dengan sambal terasi pakai lalapan dan nasi hangat dan makannya di pinggir sawah."
Ardan tertawa.
"Kenapa tertawa?" Elif memberengut.
"Permintaanmu random sekali." jawab Ardan.
Elif mencebik.
"Dengar, jangankan seblak dan sayur asam makan di pinggir sawah. Aku bisa memberikanmu perusahaan seblak dan membeli sawah supaya kau bisa menikmati makananmu."
"Hih, berlebihan sekali. Saya hanya mau makan, bukan mau berbisnis."
Ardan kembali mendekati ranjang. "Kau harus sembuh total, setelah itu aku janji akan mentraktir apa pun yang kau mau makan."
Elif langsung senyum sumringah.
"Mendengar akan ditraktir makan saja bisa membuat wajahmu berbinar begitu." Ardan geleng-geleng kepala.
"Permisi, makan siang." Seorang petugas rumah sakit masuk untuk mengantarkan makan siang pasien.
Ardan langsung mengambil alih baki yang diberikan petugas itu. Kemudian petugas itu pun langsung keluar lagi. Ardan dengan sigap membuka setiap plastik yang menutupi setiap wadah makanan, menyiapkannya di atas meja beroda. Setelah itu membantu Elif untuk duduk. Jarak mereka pun harus terpangkas karena mau tak mau Ardan harus setengah memeluk Elif untuk membantunya.
Aroma maskulin dan segar Ardan menguar, menyapa penciuman Elif yang diam-diam ia nikmati. Begitu pun dengan Ardan, aroma manis itu selalu ia nikmati bahkan tanpa harus berdekatan seperti ini. Aroma manis yang telah menjadi aroma terapi yang menenangkan dirinya selama beberapa minggu belakangan ini.
Mereka saling beradu tatap, tidak ada yang saling bicara dalam beberapa saat, sampai keduanya merasa canggung sendiri.
"Eh, mau kusuapi makannya?"
"T-tidak perlu, Pak, saya makan sendiri saja."
"Baiklah." Ardan beranjak. Ia harus menjauh, atau Ardan tidak bisa menahan dirinya untuk memakan Elif.
"Pak Ardan jadi sudah makan apa belum?"
"Belum."
"Kalau begitu, Pak Ardan makan saja dulu, saya bisa sendiri disini."
"Meninggalkanmu sendirian di kamar ini?" Ardan menaikkan alis matanya. "Tidak, lebih baik aku tidak makan dari pada meninggalkanmu sendirian."
"Tapi-"
"Jangan khawatir, aku sudah pesan Teddy untuk membelikanku makan siang."
"Oh begitu. Pesan makan siang apa?"
"Sesuatu yang sangat lezat. Kau pasti akan iri."
"Curang!"
Ardan tertawa.
***
Teddy kembali ke rumah sakit dengan membawa satu bungkus makanan yang dipesan Ardan. Makanan yang membuat Teddy tidak yakin Ardan akan menghabiskannya. Tapi seperti biasa, Teddy tidak bertanya atau pun menolak perintah Ardan. Ia tetap datang dengan perintah yang telah ia lakukan.
Teddy pun tiba di depan kamar, ia mengetuk tiga kali, lalu tak lama Ardan keluar untuk menerima makan siangnya.
"Apakah Anda yakin, Pak?"
"Kenapa memangnya?"
"Anda tidak suka bubur, kenapa sekarang jadi ingin makan bubur ayam?"
"Kenapa kau jadi seperti Sonya, banyak tanya."
"Maaf Pak." ucap Teddy. "Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?"
"Tidak ada."
"Baik Pak. Selamat menikmati buburnya." Teddy membungkukkan tubuhnya kemudian meninggalkan tempatnya berdiri.
Ardan kemudian memandang nanar styrofoam kotak yang berisi bubur ayam.
Mari kita coba! Aku pasti bisa!/