
Ardan meletakkan kunci mobil dan dompet di atas satu-satunya meja yang ada di rumah barunya yang baru saja ditempatinya beberapa jam, tapi tentu saja Teddy sudah mengisinya dengan tempat tidur yang nyaman, AC, kulkas, kompor, dan sofa serta coffee table. Ardan yang memintanya untuk tidak mengisinya dengan banyak perabotan.
Ah, hatinya sangat bahagia, bibirnya terus menyunggingkan senyuman yang tidak ada lelahnya sambil bersenandung meski waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Kecupan singkat pada bibir Elif yang tidak direncanakannya masih memberikan sensasi getaran yang memabukkan. Ardan tidak bisa membayangkan jika ia melakukan lebih dari sekadar kecupan.
"Akkhh..." Ia merebahkan dirinya di atas kasur, ia memeluk guling, menciumi guling membayangkan guling itu adalah Elif. Astaga!
Tiba-tiba handphonenya berdering. Panggilan vidio dari Elif, seperti tidak ada lelah dan kantuk, ia langsung duduk, merapihkan sedikit rambutnya sebelum akhirnya menjawab.
"Apa kau sudah merindukanku? Elif? Kau dimana? Kenapa gelap sekali?"
"Aku ada di bawah selimut." jawab Elif. Suaranya pelan sekali.
"Kenapa kau bersembunyi di bawah selimut?" Ardan mengerutkan kening, ia sama sekali tidak bisa melihat wajah Elif.
"Karena aku takut."
"Takut? Apa yang kau takutkan?"
"Entahlah, sejak tadi, bahkan dari sebelum aku keluar bertemu denganmu, setiap kali aku mencoba menutup mata untuk tidur, aku selalu merasa ada orang yang masuk ke dalam kamarku dan berniat jahat, lalu aku mendengar suara teriakan minta tolong. Tapi ketika aku membuka mata, tidak ada apa-apa. Tapi jantungku... berdegup sangat kencang. Seperti aku yang sedang disergap."
"Be-begitukah?"
Ya Tuhan Elif... kepalamu mungkin tidak mengingat apa yang terjadi hari itu, tapi tubuhmu mengingat semuanya....
"Ardan, Ardan! Kenapa wajahmu jadi sedih begitu?"
"Aku hanya... aku hanya ingin memelukmu sekarang. Kau tahu, membuang semua ketakutan dan kecemasanmu."
"Maaf, aku jadi tidak bisa membuatmu beristirahat."
"Kenapa minta maaf? Aku senang kau menghubungiku, kau mencariku disaat seperti ini."
"Ardan..."
"Ya?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Tidak apa-apa."
"Baiklah, tidur lah sekarang, kau juga harus istirahat. Biar kutemani kau tidur, jangan dimatikan teleponnya."
"Baiklah."
"Tapi, kau jangan di bawah selimut seperti itu, nanti punggungmu sakit."
"Tapi aku takut."
"Jangan takut, ada aku. Kau sudah kunci pintu?"
"Sudah. Aku juga meletakkan kursi untuk mengganjal gagang pintu."
"Baiklah, keluarlah dari dalam selimut sekarang, agar aku bisa melihatmu."
Elif menyibak selimutnya, rambutnya semakin berantakan tidak terarah, tapi itu membuat Ardan begitu terpesona. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada sapuan make up, natural dengan kecantikan yang tidak bisa Ardan pungkiri.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa yang kau pikirkan?" tanya Elif curiga.
"Menikahimu, menjalani sisa hidupku bersamamu, melihat anak-anak kita tumbuh besar dan menemukan cintanya."
"Ardan... kau sungguh serius ingin menikah denganku?"
"Tentu saja! Pertanyaanmu aneh sekali. Sudahlah, tidur saja sekarang, besok siang aku ada hadiah untukmu."
"Hadiah?"
Ardan mengangguk. "Karena itu, tidur sekarang, supaya nanti kau tidak mengantuk saat kuberikan hadiahmu."
"Tapi hadiah apa?"
"Rahasia. It's a suprise."
"Ayolah, kasih tahu sedikit saja, hadiah apa?"
"Bukan rahasia dan suprise namanya kalau kau tahu. Tidurlah sekarang!
"Tapi-"
"iyi geceler sevgilim." (Selamat malam, sayang)
Ardan langsung memejamkan matanya walaupun bibirnya tetap menyungginggkan senyuman.
"iyi geceler sevgilim."
Suara aktifitas yang berasal dari dapur juga luar rumah samar-samar terdengar akhirnya membuat Elif memaksa membuka kedua matanya yang begitu enggan untuk membuka. Ia butuh tidur beberapa jam lagi setelah malam yang panjang dia lalui dengan kecemasan dan memandangi wajah tenang Ardan yang tertidur melalui layar ponselnya.
Elif mengerjapkan mata, malu-malu cahaya matahari yang sudah sangat terang mengintip dari celah tirai jendela kamar. Elif menggerakkan kepalanya, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Layar ponselnya sudah mati, menandakan Ardan telah memutus panggilan vidio mereka entah sejak kapan.
Elif duduk, merenggangkan otot-otot tubuhnya, menguap lebar, menggaruk kepalanya yang membuat rambut megarnya semakin megar. Ia menyingkap selimut, memaksa tubuhnya untuk turun dari tempat tidur kemudian menyeret kakinya untuk segera keluar dari dalam kamarnya.
Seumur hidup, ini adalah saaf dimana Elif mengingat dirinya bangun sangat siang.
Ayah pasti akan habis-habisan memojoki diriku. Keluhnya dalam hati.
Ia langsung menuju dapur dimana terdengar suara aktifitas memasak berasal. Ia harus segera mandi agar dirinya merasa segar, tidak seperti zombi. Ia menyiapkan mental karena yakin ayah pasti juga ada di dapur. Untuk pertama kalinya Elif menyesali keberadaan kamar mandi yang harus berdekatan dengan dapur, tapi begitu Elif memasuki dapur betapa terkejutnya ia yang dilihat disana bukanlah Zehra, bukan Adit, bukan pula Yanuar, melainkan Ardan!
"Kau sedang apa?!" Elif melotot, terkejut melihat Ardan yang memegang sutil dan penggorengan yang bertengger di atas kompor menyalakan apinya kecil.
"Oh, kau sudah bangun." Sahut Ardan santai, ia tersenyum melihat bagaimana penampilan wanita yang dicintainya saat bangun tidur. "You're gorgeous."
Elif langsung berusaha menjinakkan rambut megarnya yang menolak untuk kempes. Ardan mematikan kompor, menuangkan spaghetti ke atas dua piring lalu meletakkannya di atas meja makan. Lalu ia mendekati Elif, memandangnya dengan penuh cinta.
"Kenapa kau melihatiku seperti itu?"
"Karena aku terpesona."
"Ardan! Ish, jangan bercanda." Elif mundur sedikit. Ia merasa tidak percaya diri dengan penampilan bangun tidurnya. "Sekarang jawab, apa yang sedang kau lakukan di dapur ini?'
"Memasak spagetti."
"Ardan, aku bertanya serius."
"Aku juga menjawab serius."
Elif melemparkan tatapan sinis pada Ardan yang melihatnya dengan tatapan gemas.
"Baiklah, baiklah." Ardan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, "Aku tadi diminta Ibu untuk menemanimu sebentar di rumah, karena Ibu harus keluar. Karena aku lapar, jadi aku masak spagetti, dan karena aku yakin kau juga pasti akan lapar, jadi aku masak dua piring."
"Ibu keluar kemana?"
"Aku tidak tahu."
"Adit?"
"Sekolah."
"Ayah? Apa Ayah tahu kau ada disini?"
Alih-alih menjawab, Ardan hanya tersenyum memandangi Elif.
"Berhenti senyum-senyum seperti itu!" Cetus Elif.
"Habisnya kau menggemaskan. Sudah lah, jangan khawatir, kau mandi saja dulu, lalu kita makan. Aku sangat lapar."
"Tapi kenapa kau makan disini? Kau tidak kerja?"
"Tidak."
"Kenapa tidak kerja?"
"Kenapa memangnya kalau aku tidak kerja?"
"Kenapa kau dari tadi menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan? Menyebalkan!"
Ardan malah terkekeh.
Elif menyerah. Ia pun akhirnya langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Ardan kemudian keluar dari dapur, ia mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Teddy yang sedang mengantar Zehra menemui Yanuar.
"Bagaimana? Apa dia mau menandatangani surat itu?" tanya Ardan. "Hemm... begitu rupanya, lalu? Baiklah, kita akan cari jalan keluarnya. Tapi sebisa mungkin aku ingin pria itu tetap disana sampai Elif pulih dan bisa bersaksi."
**"
Lima belas menit berlalu, Elif baru menyadari dirinya tidak membawa pakaian ganti, sementara pakaian yang dipakainya tadi sudah masuk terendam ke dalam ember bersama pakaian-pakaian lainnya. Ia tidak mungkin memakai pakaian basah itu dari dapur ke kamarnya, seluruh lantai bisa becek. Tapi ia juga tidak mungkin hanya memakai handuk keluar dari kamar mandi sementara ia hanya berduaan dengan Ardan di rumah.
Elif membuka pintu kamar mandi pelan-pelan, mengintip sedikit mencari keberadaan Ardan. Tapi dapur terlihat kosong, tidak ada Ardan di sana. Perlahan, Elif membuka pintu dan keluar dari kamar mandi dengan tetap waspada dengan keberadaan Ardan yang bisa saja ada dimana pun. Sambil berjalan mengendap-endap, Elif keluar dari dapur menuju kamarnya yang harus melewati ruang keluarga itu, tanpa Elif sadari seseorang tak sengaja melihat pemandangan itu dengan mata membulat, tubuhnya seketika membeku, bibirnya terbuka.
Apa aku baru saja melihat bidadari yang baru selesai mandi?
Elif berhasil mencapai kamar, menguncinya dan menghela napas lega, dia berpikir telah selamat dari penglihatan Ardan. Nyatanya pria itu sedang susah payah menahan dirinya untuk tidak menelepon Teddy kembali untuk segera memanggil penghulu.