
Dua piring yang tadinya diisi dengan spagetti buatan Ardan kini telah kosong, hanya tersisa saus yang tertinggal pada permukaan piring. Elif masih membungkus rambutnya dengan handuk yang ia gulung ke atas kepala, lagi-lagi pemandangan yang membuat Ardan tak ada habisnya dibuat terpesona. Mereka masih duduk di meja makan, dengan pikiran masing-masing.
"Menurutmu, Ayahku kemana?" tanya Elif.
Ardan hanya menggedikkan bahu, tidak ada niat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Elif.
"Sudah siap dengan surprise yang akan aku berikan?"
Elif mengangguk.
"Oke, tunggu sebentar." Ardan bangkit dari kursi, Ia mengeluarkan sebuah map dari dalam tas kerjanya yang ada di sofa ruang keluarga, lalu ia kembali ke meja makan dan memberikan map tersebut kepada Elif.
"Apa ini?" tanya Elif menerima map yang diberikan oleh Ardan.
"Buka saja dulu." Ardan kembali duduk di depan Elif.
Elif menuruti apa yang dikatakan Ardan. Ia membuka map itu kemudian mengeluarkan satu per satu isinya. Beberapa brosur dan formulir pendaftaran universitas-universitas ternama dari tiga negara, dan kelengkapan dokumen pelengkap dan data diri Elif.
"Ardan... ini apa?" Elif menatap semua dokumen itu dengan bingung, kemudian mengalihkan tatapannya penuh kebingungannya itu pada Ardan.
"Mimpimu, sayang."
"Apa?"
"Saat aku menerima pengunduran dirimu hari itu, apa kau ingat apa yang aku katakan?"
Elif mengangguk. "Aku harus kembali mengejar mimpiku."
"Benar sekali, karena itu aku menyiapkan semua ini, oh, secara teknis Teddy yang menyiapkan aku yang menyusun semua rencana ini."
"Tapi Ardan, ini... ini... ini sangat... too much."
"There is nothing too much for you." jawab Ardan. "Aku hanya ingikan kau meraih mimpimu, mimpi yang selama ini selalu kau korbankan demi orang lain.
"Aku sangat berterima kasih padamu atas semua ini, tapi ini... biaya untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, aku tidak akan sanggup. Aku tidak punya tabungan sebanyak itu, aku tidak mau merepotkan ibu, dan ayah sudah pasti tidak akan perduli dengan biaya ini."
"Astaga Elif, kau mempunyai calon suami yang sangat kaya raya, apa kau pikir aku akan membiarkan calon istriku kesusahan disana?"
"Maksudmu kau akan membiayai seluruh biaya sekolahku?"
"Tentu saja!"
"Tidak, tidak, aku tidak mau!"
"Ayolah Elif, jangan seperti itu." Pinta Ardan.
"Ardan, aku bukan tanggung jawabmu untuk kau biayai sekolahku dan hidupku disana."
"Hmmm begitu rupanya." Ardan menyeringai penuh arti. "Jadi, kalau kau adalah tanggung jawabku, maka aku bisa membiayai sekolahmu hingga selesai?" tanya Ardan, menahan senyuman.
"Tentu saja."
"Aku akan telepon Teddy sekarang."
Elif mengerutkan dahi. "Kenapa tiba-tiba jadi menelepon Pak Teddy?"
"Untuk membuatmu menjadi tanggung jawabku sepenuhnya." jawab Ardan santai, sementara Elif baru menyadari apa yang ada di kepala pria itu.
"Ardan! Apa kau akan meminta Pak Teddy untuk mencari penghulu sekarang?"
"Ya, dan membawanya kesini saat ini juga!"
"Jangan bercanda, Ardan!"
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"
"Tidak semudah itu menikah, Ardan! Apalagi Ayah tidak akan menyetujui pernikahan kita."
"Lalu, kalau ayahmu tidak setuju kita menikah, kau akan menyerah? Apa kau akan diam saja jika Ayahmu menjodohkanmu dengan pria lain? Apa kau tidak akan berusaha meyakinkannya?"
Ardan mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud Elif, dan dia sungguh menyesali dengan apa yang telah terjadi pada wanita yang dicintainya itu.
"Baiklah, baiklah." Ardan meletakkan handphonenya di atas meja. "Kita kembali ke topik sekolah." Ardan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, apa kau benar-benar tidak bisa menerima tawaran sekolah ini?"
"Tidak." Elif menjawabnya dengan tegas.
"Bagaimana kalau semua ini aku tawarkan dalam bentuk pernah pinjaman? Apa kau juga akan menolaknya?"
Elif menarik napas panjang, kemudian menghelanya. Ia memejamkan mata sebentar lalu kembali melihat prianya.
"Kenapa kau begitu ingin membuatku sekolah ke luar negeri? Apa tujuanmu?"
"Tujuanku?" tanya Ardan balik dengan kedua alis matanya bergerak naik. "Apakah aku terlihat seperti orang yang akan menjerumuskan wanita yang aku cintai?" Suara Ardan terdengar tersinggung, meski ia menampilkan ekspresi wajar santai. "Sedangkal itukah aku dimatamu?"
"Ardan..."
"Aku hanya ingin membuat wanita yang aku cintai meraih mimpinya, mimpi yang selama ini kau korbankan demi orang lain. Apakah aku salah kalau aku membukakan jalan untukmu? Sementara aku mempunyai kemampuan untuk bisa meberikanmu kesempatan itu, apakah sesalah itu dimatamu?"
"Bukan... bukan begitu maksudku. Aku mohon jangan salah paham."
"Lalu apa maksudmu? Apa yang membuatmu berpikir aku mempunyai tujuan tertentu padamu?"
"Aku hanya..."
"Belum mempercayaiku sepenuhnya?"
Elif tidak menjawab. Ia sadar telah membuat Ardan kecewa padanya. Tapi ia benar-benar tidak bisa menerima kebaikan Ardan seperti ini, ini hanya akan membuat masalah baru antara Ardan dan ayahnya.
"Baiklah aku mengerti. Sepertinya kau masih membutuhkan waktu lagi untuk menerima hati dan cintaku sepenuhnya, aku hanya berdoa, ketika saat itu tiba, Tuhan tidak membalikkan hatiku." Ardan berdiri.
Deg! Kenapa rasanya seperti masuk ke dalam ruangan gelap dan hampa saat Ardan mengucapkan kalimat terakhirnya. Namun lidah serta bibir Elif begitu kelu untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Ia takut, satu kata yang keluar dari bibirnya hanya akan menambah kesalahpahaman.
"Aku pergi. Kau istirahatlah." Ujar Ardan sambil berlalu kemudian keluar dari rumah Elif. Meninggalkan Elif yang terpaku duduk dengan dokumen-dokumen di hadapannya.
Maafkan aku, aku hanya ingin tidak ada lagi masalah dengan Ayah.
***
"Bagaimana Bos? Apakah Nona Elif sudah mengambil keputusan kemana Nona akan melanjutkan kuliahnya?" tanya Teddy, beberapa jam kemudian begitu Ardan memilih untuk melepaskan kekesalannya dengan pekerjaan di kantor. Teddy datang setelah selesai dengan tugas yang diberikan Ardan sebelumnya, menemani Zehra menemui Yanuar untuk menandatangani surat perceraian.
"Elif tidak mau menerimanya." jawab Ardan kesal. "Benar-benar di luar ekspektasi, khayalanku adalah Elif akan memelukku sambil menangis terharu lalu dia akan bimbang antara pergi kuliah ke luar negeri atau tetap disini bersamaku. Realitanya benar-benar jauh, jauh sekali Ted!"
Ah, sudah kuduga. Nona Elif bukan orang yang aji mumpung.
"Kau tahu apa alasannya tidak mau menerimanya, Ted? Karena katanya dirinya bukanlah tanggung jawabku." Ardan bertanya, dan dia juga yang menjawabnya. Teddy yakin seratus persen bosnya sedang teramat jengkel.
"Apakah saya perlu mengatur waktu pernikahan secepatnya, Pak?"
"Tidak semudah itu." Ardan menirukan gaya Elif saat menjawabnya beberapa jam lalu. "Dia bilang begitu saat aku katakan akan meminta kau untuk panggil seorang penghulu saat ini juga." Ardan menghela napas kasar, meletakkan pulpen yang dipegangnya dengan hentakan di atas meja."
"Pasti Nona Elif bimbang dengan Yanuar, karena Nona masih berpikir Yanuar adalah ayah kandungnya." jawab Teddy hati-hati.
"Ya, kau benar. Tapi bukan itu yang membuatku jengkel, Dia masih tidak mempercayai ku, Ted! Kau tahu, dia berpikir apa? Dia berpikir aku mempunyai tujuan tertentu dengan memberikannya pilihan untuk melanjutkan kuliahnya ke luar negeri!"
Kini Ardan berdiri, mendekati jendela besar yang menghadap pada aktifitas jalan raya ibu kota.
"Apakah sesulit itu perempuan mempercayai perasaan dan hati dan... cinta seseorang, Ted?"
Teddy memilih diam dan tidak menjawab. Ia tahu, yang dibutuhkan bosnya saat ini adalah pendengar bukan penjawab dari kejengkelannya.
"Baiklah, aku tahu aku pernah membuat kesalahan, aku pernah memanfaatkannya, memanfaatkan ketidakberdayaannya untuk menjadi calon istri palsuku dengan tujuan agar Mama berhenti menjodohkanku dengan-"
"KAU APA?" Tiba-tiba Gavin membuka pintu, dari ekspresinya tidak perlu ditanya lagi oleh Teddy dan Ardan, apakah Gavin mendengar pengakuan tak sengaja Ardan barusan. Karena jawabannya sudah sangat jelas tertulis pada wajah Gavin.