
"Mau sampai kapan kau bersembunyi disini?" tanya seorang pria bertubuh tinggi itu sambil menyeduh dua cangkir kopi, yang satu kopi hitam untuknya, yang satu lagi dicampur dengan susu untuk saudara sepupunya. Sebuah dapur yang tidak terlalu besar dari sebuah rumah yang juga tidak terlalu besar.
"Sampai apa yang mereka lakukan padaku bisa kubalas dengan harga yang setimpal." jawab perempuan itu dengan nada dingin.
"Kenapa tidak kita lakukan saja sejak kemarin-kemarin, kenapa harus menunggu selama ini untuk balas dendam. Apa yang kau rencanakan sebenarnya?"
"Sepupuku yang tampan, balas dendam pun harus mempunyai seni tersendiri." Perempuan itu menyeruput kopi susunya perlahan, menikmati setiap teguknya. "Kau lihat, sudah beberapa bulan mereka yang menganggap diri hebat, tapi tidak bisa menemukanku."
"Harus aku akui, aku pandai menyembunyikan orang." Ujar pria itu pongah.
"Kau harus membantuku, waktu kita sebentar lagi."
"Tentu saja, aku akan ada disisimu." Ujar pria itu menyeringai.
***
"Kau membuka lowongan sekertaris untuk menggantikan Mbak Sonya, lagi?" tanya Elif suatu sore saat mereka, Elif dan Ardan, sedang menghabiskan waktu santai di sebuah taman kota. Ardan baru saja menjelaskan tentang lowongan pekerjaan yang dibuka untuk menjadi sekertarisnya.
"Ya, tentu saja. Aku membutuhkan sekertaris yang cekatan, seperti Sonya, atau seperti dirimu. Tapi tidak mungkin kau menjadi sekertarisku lagi bukan?" Ardan terkekeh. "Aku juga tidak lagi bisa memaksakan Sonya untuk bertahan, karena dia juga pilihan hidupnya."
"Lalu, sudah ada kandidatnya?"
"Sudah Sudah mulai bekerja malah. Kemampuannya cukup membuatku terkesan."
"Terkesan?" Elif menatap Ardan penuh selidik. "Maksudnya terkesan?"
"Kerjanya sangat bagus." Ardan masih menjawabnya dengan santai, belum menyadari perubahan wajah Elif yang penuh curiga begitu mendengar Ardan sangat dibuat terkesan oleh sekertaris barunya.
Elif menyadari memiliki seorang kekasih yang tampan rupawan dan sangat mapan akan membuatnya memiliki banyak saingan ketat, yang bersaing tentu saja tidak main-main dengan penampilannya untuk mencuri perhatian CEO muda itu. Sementara Elif? Untuk menjinakkan rambutnya saja begitu sulit, bisa-bisa Ardan dapat berpaling kalau awal-awal kerja saja sekertaris barunya itu sudah membuatnya terkesan!
"Yakin kau hanya terkesan dengan cara kerjanya saja?"
"Maksudmu?" Ardan menaikkan alis matanya sebelah seraya menatap Elif. Ia mulai menyadari kecemburuan yang disembunyikan kekasihnya itu. Namun ia pura-pura tidak tahu.
"Yaaah.... mungkin dari penampilannya, caranya mendampingimu meeting, caranya bicara, berjalan, yah yang seperti itu lah..." kata Elif sambil mengedikkan bahu, seolah-olah tidak peduli.
"Oh itu... ya bisa dikatakan penampilannya cukup, apa ya... ehm... bagus."
"Bagus?" Elif mengulang.
"Iya, bagus. Tidak ada yang salah dengan penampilannya, semuanya sangat pas."
Elif mengeryitkan dahi, "Sangat pas?" Ia mengulang.
Ardan mengangguk. "Kalau caranya mendampingiku saat meeting juga sangat cekatan. Kemampuan bahasanya sama sepertimu, dia bisa beberapa bahasa juga." kata Ardan, tak lupa dibumbui dengan tawa ringan dengan mata yang menerawang ke langit, seolah sedang membayangkan visual sekertaris barunya.
"Caranya berjalan, berbicara, bahkan saat minum membuat banyak orang terpukau. Sempurna lah."
"Sem-sempurna?!" Elif melebarkan mata.
"Iya... eh, ada apa dengamu, kenapa melotot seperti itu?"
"Tidak apa-apa! Aku kelilipan!" Tukas Elif.
"Aku baru tahu ada yang bisa melotot seperti itu saat kelilipan."
Elif mencebik. Memalingkan wajahnya. Memakan kacang kulit yang mereka beli dari pedagang kaki lima di taman itu dengan kesal.
"Kau baik-baik saja, sayang?"
"Apa Mona sudah punya pacar?" tanya Ardan kemudian, menahan tawa melihat bagaimana menggemaskannya Elif saat cemburu.
"Kenapa memangnya?" tanya Elif.
"Aku berniat ingin mengenalkan sekertaris baruku ini dengan Mona, sepertinya mereka akan cocok."
"Hah?" Elif melongo, kemudian segera menyadarkan diri. "Apa maksudmu Mona akan cocok dengan sekertaris perempuanmu yang baru?"
"Lho? Siapa yang bilang sekertarisku yang baru adalah perempuan?"
"Kau...." Elif menyadarinya akhirnya. Ia mengembuskan napas seraya memejamkan matanya sejenak, kemudian kembali membuka matanya dan menatap kekasihnya itu dengan tatapan menusuk. "Apa kau sedang mengerjaiku, Ardan Mahesa Demir?"
"Ng..... sedikit."
"Ih! Menyebalkan sekali! Sangat menyebalkan! Kau menyebalkan!" Maki Elif sambil memukuli dan mencubiti lengan Ardan tanpa ampun, sementara Ardan tertawa terbahak-bahak, sambil berusaha menghindari tanpa bangkit dari duduknya kemudian ia berhasil menghentikan aksi Elif dengan memeluk wanita itu erat-erat.
"Maaf sayang, habisnya kau sangat menggemaskan saat cemburu seperti itu. Rasanya aku ingin terus mengerjaimu seharian."
"Coba saja kalau berani!" Ancam Elif sambil mencubit perut rata Ardan.
Pria itu malah tertawa. "Lagi pula kenapa kau harus cemburu?"
"Karena aku takut, pakai segala tanya!" jawab Elif masih dalam suasana kesal.
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku takut kau akan berpaling dariku, kau pergi meninggalkan aku."
"Pergi meninggalkanmu karena aku terpesona dengan wanita lain, begitu maksudmu?"
Elif menganggukkan kepalanya di dalam dekapan Ardan sebagai jawaban. "Aku takut kau jatuh cinta pada perempuan lain."
Ardan malah terkekeh. Ia melepaskan pelukannya tanpa melepaskan kedua tangannya dari lengan Elif. Matanya menatap dalam dan intens ke dalam mata Elif, satu tangannya bergerak menyingkirkan helaian rambut Elif yang tertiup angin menutupi pipi wanita itu.
"Bagaimana aku bisa jatuh cinta pada perempuan lain kalau setiap harinya kau selalu membuatku jatuh cinta?"
"Gombal!"
"Aku berkata jujur sayang." kata Ardan.
"Lalu kalau memang sekertarismu itu laki-laki, siapa yang yang terpukau segala?"
"Tentu saja staf perempuan. Aku saja yang laki-laki paling tampan di kantor, mengakui kalau sekertarisku itu cukup... apa ya... bisa dibilang mempunyai pesonanya sendiri."
Elif mendengus kesal, "Kenapa tidak katakan saja dari awal, menyebalkan."
"Sudah kukatakan, kau menggemaskan saat cemburu seperti itu." Ardan tak tahan untuk tidak mencubit pipi Elif.
"Memangnya sebagus apa dia sampai-sampai kau bisa menerimanya?"
"Ehm... bisa dibilang cara kerjanya dia seperti perpaduan antara kau dan Sonya, benar membuatku salut. Dan kalau penampilan, banyak staf perempuan bilang dia mirip dengan aktor Korea, namanya... ehm... sun jo... so jon... son ju... ah! Park Soe Joon. Aku sih tidak tahu, tapi yang kudengar seperti itu. Apa benar Park Soe Joon sangat tampan?"
"Aku tidak tahu, aku tidak pernah menonton drama-drama Korea. Kau tahu, tidak punya waktu untuk menonton." Elif mengedikkan bahu, ia kembali memakan kacang, tidak lagi diliputi kecemburuan atau rasa penasaran meski Ardan mengatakan sekertaris barunya mirip aktor Korea yang tampan. Tentu saja itu membuat Ardan semakin jatuh cinta pada Elif.
Ya, dia sungguh-sungguh saat mengatakan Elif membuatnya jatuh cinta setiap hari.