HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Pengaruh Hormon.



Ardan memasang tampang penuh kekhawatiran. Teddy seperti biasanya, tanpa ekspresi. Sementara Elif dengan selang oksigen pada hidungnya tidak menutupi tatapan galak dari gadis itu.


"Kebohongan apa lagi yang mau Anda lakukan? Apa tidak cukup dengan apa yang terjadi padaku hari ini? Apakah aku harus terluka lebih parah lagi supaya Anda tidak lagi meneruskan kebohongan ini dan membuat orang lain membenciku?"


"Elif, berapa kali aku harus katakan, perasaan ini bukan lagi kebohongan. Kau membuatku jatuh hati."


"Aku? Orang yang sama sekali bukan tipe Anda?" Elif tertawa sinis.


"Elif, aku memaklumi kalau kau tidak percaya. Karena kita memulainya juga dengan cara yang salah." Ujar Ardan. "Jadi aku minta, berikan aku izin untuk membuktikan kepadamu kalau tidak ada lagi kebohongan."


Elif hanya mendengus. "Cukup Pak. Saya mohon. Hentikan semua sandiwara ini."


"Elif..."


"Apa yang terjadi pada saya hari ini masih bisa saya terima. Tapi kalau nanti ayah kembali membenci saya dua kali lipat, saya tidak akan sanggup."


"Elif..."


"Saya akan membenci diri saya sendiri, saya tidak akan sanggup berdiri lagi, saya-"


"Cukup Elif!" ucap Ardan dengan suaranya yang meninggi.


Elif pun terkesiap.


"Harus aku katakan berapa kali, tidak ada lagi sandiwara, tidak ada lagi kebohongan, karena kau telah mengetuk hatiku, membukanya dan memasukinya meski bukan dengan cinta. Tapi aku jatuh cinta karena itu. Kau apa adanya, kau tidak menutupi siapa dirimu dan apa yang kau rasakan padaku semuanya nyata. Dan aku rasa aku sudah jatuh cinta padamu bahkan sebelum aku tahu itu kau."


Elif tertegun, bukan karena pernyataan Ardan, melainkan Elif melihat tidak adanya kebohongan atau kepura-puraan dalam sorot mata pria itu. Yang ada hanya kejujuran disana, dan ketulusan. Sorot mata seorang pria yang selama ini selalu melihatnya dengan tatapan meremehkan, kini tidak ada lagi.


Apakah aku harus mempercayainya?


"B-baiklah, anggaplah Anda benar-benar seperti itu. Lalu bagaimana dengan saya? Saya tidak menyukai Anda, apalagi bisa membalas perasaan Anda. Bukan kah sama saja ini akan tetap menjadi sebuah sandiwara?"


"Karena kau menyukai Gavin?"


"Eh, i-iya." jawab Elif jujur. Ya, dia tidak sungkan menunjukkan apa yang dia rasakan pada Gavin di depan Ardan.


"Baiklah, aku tidak akan memaksakan perasaanku padamu. Tapi seperti yang sudah aku katakan, Gavin sudah memiliki seorang kekasih. Yang aku tahu, dia sangat mencintainya."


Elif menunduk, ia tahu perasaannya pada Gavin yang bertepuk sebelah tangan. Tapi, ia juga tidak bisa membohongi perasaannya.


"Bukan maksudku membuatmu sedih, tapi itu lah kenyataannya."


"Tidak apa, saya bisa menyimpan perasaan ini untuk diri saya sendiri."


"Apa tidak ada kesempatan untukku?"


"Maafkan saya, Pak."


"Baiklah. Aku tidak akan lagi membebani dirimu dengan perasaanku." kata Ardan. "Aku akan membebaskanmu dari semua hubungan yang kau anggap pura-pura ini."


Elif seketika mengangkat kepalanya. "Benarkah?"


"Ya. Dengan dua syarat."


"Dua syarat?"


"Ya."


"Apa saja?"


"Pertama, jangan pernah mencoba untuk membayar apa pun. Kedua, biarkan aku merawatmu sampai kau benar-benar pulih. Setelah itu, barulah kita bicara pada orang tuamu."


Elif terdiam. Ia terlihat berpikir. "Untuk syarat yang pertama, apa kah bisa saya membayarnya setengah-"


"Tidak ada tawar menawar. Kalau kau masih ingin membayar sepersen pun, aku akan panggil penghulu sekarang juga."


"Baiklah, saya setuju dengan syarat-syaratnya."


"Good girl."


"Tapi Pak, kalau saya boleh tahu, maksud Anda merawat saya itu apa?" tanya Elif. "Saya rasa saya akan baik-baik saja dengan perawatan di rumah sakit ini."


Ardan menggelengkan kepalanya. "Selama kau di rumah sakit, aku juga akan berada disini, menemanimu, dan kau tidak perlu sungkan untuk meminta tolong apa pun padaku."


"Tapi Pak-"


"Tidak ada tapi-tapian." Tukas Ardan. "Dokter bilang ada beberapa bagian pada usus besar dalam perutmu yang mengalami memar dan untuk itu kau harus dirawat dan bed rest."


"Benarkah?" Elif menyentuh perutnya.


"Karena itu, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu sendirian di kamar VVIP ini. Lagi pula, Kinan kabur, dan keberadaan nya masih belum ditemukan."


"Tapi Pak-"


"Ini perintah. Kau tidak boleh menolaknya. Sudah cukup kau menolak perasaanku saja." Pria itu malah terkekeh.


Elif pun jadi merasa tidak enak.


Kenapa pria menyebalkan ini jadi berubah 180 derajat seperti ini? Tidak, tidak, aku tidak akan tertipu oleh sandiwaranya. Ingat Elif, bagaimana dia bisa meyakinkan Ibu, Adit, Yura bahkan Mona. Dia pasti bersikap seperti ini hanya untuk menarikku dan membuatku percaya padanya agar sandiwara ini tetap berlangsung, jadi aman bagi dirinya untuk tidak lagi dijodoh-jodohkan oleh mamanya. Ya, pasti begitu. Aku tidak akan termakan omongan-omongannya!


***


Keesokan paginya, Teddy datang kembali membawakan pakaian Ardan. Seperti yang diminta Ardan, Teddy hanya membawakan pakaian kasual saja. Tidak ada setelan jas, kemeja, dasi atau pun sepatu pantofel. Pagi ini, ia mengenakan kaus hitam polos berlengan panjang, celana jins, dan sepatu kets. Namun penampilan sederhananya sama sekali tidak melunturkan ketampanan pria itu, justru ketampanannya terlihat lebih mencolok.


Elif sampai harus berpura-pura tidur lagi saat Ardan mendekati tempat tidur Elif untuk menuangkan minum dari botol air mineral yang juga dibawakan Teddy. Sambil mengecek suhu tubuh Elif dengan menempelkan telapak tangannya pada kening Elif.


"Elif, bangun, kau harus sarapan dan minum obat." ujar Ardan dengan sangat lembut. Bahkan helaan napasnya terasa mengusap permukaan pipi Elif dengan hangat.


Sesuatu membuat dadanya berdesir. Dan aneh. Entah apa.


Gadis itu pun pura-pura menguap dan terkejut begitu melihat wajah Ardan yang super tampan itu tepat berada di depan wajahnya.


"Ap-apa yang Anda lakukan?"


"Tadinya aku akan menciummu lagi kalau kau tidak terbangun." katanya dengan santai dan terkekeh.


"Apa maksudnya?" Elif mengerutkan dahi. Tapi belum sempat Ardan menjawab, pintu kamar diketuk dan kemudian dibuka.


"Selamat pagi." Seorang dokter dan seorang perawat perempuan datang.


"Selamat pagi, Dokter." sahut Elif dan Ardan.


"Bagaimana pagi ini, Nona Elif? Apakah ada keluhan?" tanya dokter tersebut yang terlihat sangat ramah.


"Ehm, saya merasa nyeri dibagian sini, Dokter." Elif menunjuk bagian perutnya yang terasa sakit itu.


"Ya, memang dibagian sana yang terjadi memar." kata dokter. "Karena itu, saya meminta pada Tuan Ardan, sebisa mungkin agar Nona tidak melalukan aktifitas terlebih dahulu. Kecuali untuk ke kamar mandi. Itu pun harus tetap dibantu oleh Tuan Ardan, ya."


"Tentu saja Dokter. Saya akan siaga 24 jam." sahut Ardan. Tanpa ia sadari perawat perempuan yang berdiri disamping dokter tidak berkedip memandangi Ardan dengan penuh keterpesonaan. Seakan akan sangat rugi jika ia berkedip sekali saja.


"Baiklah kalau begitu. Kita lihat lagi 2 hari lagi, kalau masih memar maka perawatan Nona Elif masih belum saya ijinkan untuk rawat jalan. Namun jika sudah ada perubahan yang baik, maka Nona sudah bisa rawat jalan dengan prosedur yang harus dijalani." kata dokter sambil menempelkan stetoskop pada perut, kemudian perawat mengecek tekanan darah Elif.


"Baik Dokter."


"Untuk sementara ini, harus makan-makanan yang lembut dulu ya."


Elif mengangguk.


Setelah itu, dokter dan perawat itu meninggalkan kamar Elif. Dari ekor matanya Elif dapat melihat bagaimana enggannya perawat itu meninggalkan ruangan.


"Apa Anda harus berpenampilan seperti itu?" tanya Elif pada Ardan yang sedang menyiapkan sarapan untuk Elif yang datang beberapa saat sebelum dokter dan perawat tadi datang. Ia melepaskan plastik yang menutupi mangkuk dan piring makanan.


"Seperti apa? Apa yang salah dengan penampilanku?"


Elif mendengus.


Benar juga, apa yang salah dari penampilannya. Kaus, celana jins, sepatu kets semuanya terlihat normal. Kecuali wajahnya! Ini pasti karena pengaruh obat dan sakit ini, makanya wajah Pak Ardan jadi terlihat lebih tampan dari biasanya. Ah, aku pasti sudah gila. Tidak ada yang bisa menyamai Kak Gavin!


"Aku lihat orang-orang disini juga seperti ini penampilannya. Apakah aku harus memakai stelan jas saja?"


"Tidak, begitu saja."


"Lalu kenapa kau terlihat kesal?" Ardan mendorong meja ke depan Elif.


"Suster tadi melihat Anda sampai tidak berkedip." Elif mulai mengambil sendok dan mengaduk buburnya.


Mendengar itu sontak membuat Ardan terkekeh lucu. Dan itu semakin membuat Elif kesal tidak jelas.


Aku pasti mau datang bulan nih, jadi kesel-kesel tidak jelas gini. Apa urusanku si suster tadi tidak berkedip atau berkedip melihat Pak Ardan. Itu hak nya dan wajar saja, karena Pak Ardan memang setampan itu. Tapi aku tidak suka cara suster tadi melihat Pak Ardan, apa lagi ada aku dan- eh tunggu dulu, memangnya kenapa kalau ada aku? Oke, fix, sepertinya ini hormon menjelang datang bulan. No debat!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo semuanya, kok dikit ya hari ini? Kemaren juga ga up bab. Ada apa sih Thor?


Maaf ya teman-teman ku yang baik hatinya, author juga lagi mau datang bulan nih, jadi hormon lagi ga stabil gitu, bawaannya pengen pakan indomi rebus pedes ditambahin sawi sama cabe rawit mulu tiap hari, tapi kan ga boleh ya, nanti ususnya keriting 👀


Karena itu, jangan lupa untuk vote dan komen ya, biar Author ga merasa kesepian dan tetep semangat gitu menjalani hari ❤️❤️


Masih ada bab lainnya kok, tapi masih ada yang kurang kayaknya. Jadi pembaca diharap bersabar hehehe.


Love you all ❤️❤️❤️❤️