
Elif baru saja selesai mengeringkan rambutnya dan mengepangnya ketika pintu kamarnya diketuk dan suara Zehra terdengar memanggilnya lembut. Elif menarik napas dalam kemudian mengembuskannya pelan, ia tahu tidak bisa menghindari ibunya meski masih ada sedikit penyesalan dalam hati karena selama ini Zehra menyembunyikan kenyataan sebenarnya. Namun kembali lagi ia berpikir bahwa ibunya pasti pun juga menderita selama ini.
Elif membuka pintunya, Zehra memandangnya dengan tatapan penuh penyesalan pada putrinya, mata Zehra sembab dan penuh rindu.
"Elif... Ibu..."
Tidak tahan dengan sorot mata wanita paruh baya yang telah melahirkan dan menyebut namanya dalam setiap doa terbaik yang ia panjatkan, Elif pun langsung memeluk ibunya erat. Mencium tangan ibunya kemudian memeluknya lagi.
"Maafkan aku, Ibu, kemarin aku pergi begitu saja, padahal selama ini Ibu juga pasti terluka, dan menderita dengan perlakukan ay... perlakuan dia." ujar Elif. "Maafkan aku karena tidak mencoba mengerti posisi Ibu."
Pagi itu, suasana mengharu biru disaksikan Adit dan Ardan yang baru datang melihat dua perempuan itu saling menitikan air mata dan berpelukan.
Ardan menyenggol Adit, lalu berkata, "Mamaku pasti akan ikut menangis melihat ini."
Setelah keadaan membaik, Zehra dan Elif membuat sarapan untuk mereka berempat. Zehra sempat bertanya dimana Teddy, dan Ardan menjelaskan Teddy tidak ada karena semalam ia tidur di rumah barunya.
"Ibu tahu Ardan membeli rumah disini?" tanya Elif sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.
"Ya, kemarin pagi Ardan memberitahu Ibu dan Adit juga."
"Ya, dan Mili anaknya Pak Deni langsung kirim pesan ke aku, dia tanya apa aku kenal dengan tetangga baru kita." kata Adit sambil cengengesan.
"Lalu kau jawab apa?" tanya Ardan penasaran.
"Aku bilang, Abang calon kakak ipar aku."
"Lalu apa katanya?"
"Dia langsung kirim emoticon nangis bangak sekali."
"Belum ada satu minggu, aku sudah mematahkan hati anak orang." ujar Ardan sambil menggelengkan kepala.
Elif menepuk bahu Ardan tidak percaya.
Untuk pertama kali dalam hidup Elif, pagi itu adalah sarapan pertama yang begitu hangat dan tentram. Tidak ada yang memojokkannya, tidak ada yang menyindirnya tajam, tidak ada yang meremehkannya, tidak ada yang mencoba untuk membuat Elif tidak bahagia.
Ibu, Adit dan Ardan, mereka begitu menyayangi Elif, ya, ia bisa merasakannya. Kehadiran Ardan seperti sebuah oase yang selama ini mereka nantikan.
"Elif, ada satu hal yang ingin Ibu sampaikan padamu dan Adit.." kata Zehra setelah sarapan selesai.
"Apa Bu? Apa ada kaitannya lagi dengan Ay... orang itu?"
Zehra mengangguk. "Kemarin sebenarnya Ibu habis menemui Yanuar, Ibu akan menggugat cerainya."
"Apa?" Elif melebarkan mata. Ia jelas terdengar terkejut.
"Akhirnya." sahut Adit dengan santai.
"Adit, kenapa kau sesantai itu?"
"Memangnya aku harus bagaimana? Bersedih? Aku justru akan sangat menyesal jika Ibu terus mempertahankan ayah." Adit menggeleng.
"Tapi biar bagaimana pun, dia adalah ayahmu. Kau harus menghormatinya." Elif mengingatkan.
"Orang yang harus dihormati pun juga ada syaratnya, Kak, yaitu dia memang pantas untuk dihormati. Tapi kalau memang tidak pantas, ya sudah tidak perlu membuang energi meski ia adalah ayahku."
"Adit!"
"Kenapa? Selama ini Ayah tidak pernah bersikap adil pada Ibu dan Kakak, selama ini ayah selalu kasar, Ayah hanya baik padaku saja, apa Kakak pikir aku senang diperlakukan istimewa seperti itu oleh ayah sementara Ibu dan Kakak selalu saja dihina. Apa itu pantas dan layak disebut sebagai sosok seorang ayah? Sosok yang seharusnya bisa melindungi keluarganya dan memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya, sosok yang seharusnya bisa menjadi contoh pemimpin yang adil. Tapi apa yang dilakukannya selama ini? Ayah jelas-jelas berusaha membuatku membenci Kakak, bahkan Ibu ku sendiri. Jadi untuk apa aku menghormatinya? Dan yang parahnya lagi, dirinya bahkan mau menjual seseorang yang selama ini menganggapnya ayah, mau menodai kesucian seseorang yang selama ini menyayanginya sebgai ayah. Dia tidak pantas untuk dihormati, Kak!"
Adit sedikit meninggikan suaranya, emosi dan sedikit kesal.
"Adit..." Ardan menyentuh bahu anak itu.
"Maaf, Bang, Adit merasa gemas saja sama Kakak, kenapa masih saja baik sama orang itu." jawab Adit.
"Pokoknya kalau Ibu memang mau menceraikan Ayah, Adit dukung sepuluh ribu persen!"
"Terima kasih, Nak." jawab Zehra, "Lalu bagaimana denganmu, Elif."
"Aku setuju, karena memang apa yang dikatakan Adit benar, dan lagi pula sudah jelas kalau selama ini Ayah tidak pernah mencintai Ibu, rumah tangga ini hanya akan melukai Ibu, aku rasa sudah cukup perjuangan Ibu memperthankan semua ini." jawab Elif.
"Tapi Adit, meski kata-katamu benar, bukan berarti kau meninggalkannya, kau seharusnya bersyukur, kau memiliki seorang Ayah yang sangat menyayangimu, tidak seperti aku..." Elif tersenyum masam.
"Tapi kau memiliki kami yang sepuluh ribu persen lebih menyayangimu." Sahut Ardan meminjam sepuluh ribu persen kepunyaan Adit.
Ardan elalu saja bisa mencerahkan wajh Elif kembali.
"Lalu apa katanya saat kemarin Ibu datang?" tanya adit.
"Ayahmu menerima, namun dengan syarat."
"Syarat?" Adit mengerutkan kening.
"Ayahmu menginginkan kau berada dalam hak asuhnya."
"Apa?!" Elif melotot.
"Tidak mau! Sepuluh ribu persen tidak mau! Kumohon Bu, jangan biarkan ayah mengambil diriku. Aku tidak mau!"
"Adit, tenanglah..." ujar Zehra mulai menitikan air mata.
"Hei, bung, tenanglah..." Ardan kembali menyetuh bahu Adit, menenangkan remaja itu. "Itu lah sebabnya aku ada di sini, aku tidak akan membiarkan hak asuhmu jatuh pada pria sepertinya. Meskipun dia adalah Ayahmu, dia berhak atas dirimu, namun kau lebih berhak atas pilihan hidupmu. Lagi pula, kita mempunyai kunci yang membuat Pak Yanuar tentu saja tidak bisa menjadi sosok yang bertanggung jawab atas dirimu."
"Kunci?"
Ardan menganggukkan kepalanya pada Elif, wanita itu pun langsung gugup.
"Tentu saja," sahut Elif. "Tapi..." Elif terlihat ragu.
"Tapi apa, Kak?"
"Apakah ia tdak akan membenciku?"
Adit menganga tidak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Elif.
"Elif sadarlah, ia sudah membencimu sejak kau bayi." kata Ardan penuh kesabaran.
"Jangan katakan Kakak masih mengharapkan Ayah akan menyayangimu?"
"B-bukan begitu, maksudku, dia akan dipenjara, mungkin menghabiskan beberapa tahun hidupnya yang tidak lagi muda, dia kehilangan keluarga, dan dia juga akan kehilangan anaknya yang paling dia sayang, maksudku... akan kasihan sekali nantinya dia..."
"Elif, dia pantas mendapatkannya. Selama ini kita telah memberikannya sebuah keluarga, tapi dia selalu saja menyia-nyiakannya. Ibu tidak akan memberikan Adit padanya. Dia hanya akan membuat Adit kehilangan jati dirinya."
"Tentu saja, aku juga tidak mau Adit kehilangan jati dirinya. Aku juga ingin Adit bersama kita, hanya saja..."
"Hanya saja apa Kak?"
"Hanya saja aku merasa kasihan padanya."
"Elif," Panggil Ardan.
"Ya?"
"Berhentilah menjadi sangat baik seperti itu, atau aku akan..."
"Akan apa Bang?"
"Menikahi Kakakmu saat ini juga!"