
Elif menghela napas panjang setelah kesekian kalinya membaca ulang surat kontrak kerjanya. Ia memang belum mempunyai pengalaman kerja sebagai sekertaris sama sekali, pengalaman kerja yang dia punya hanya sebatas pramusaji di beberapa restoran, itu pun tidak pernah lama. Tapi, kontrak kerja yang dibuat Ardan sungguh membuatnya jengkel tapi juga tidak bisa menolaknya.
Sonya mengatakan kalau dirinya tidak bekerja 24/7 selama ia menjadi sekertaris Ardan. Ia merasa iba dengan peraturan baru yang dibuat Ardan kali ini. Sekertaris macam apa yang kerja 24 jam dan tidak ada hari libur? Pekerjaan macam apa yang akan diberikan? Sonya jadi merasa bersalah. Ia pun membiarkan Elif menenangkan dirinya di roof top.
"AAAAAAAA!" teriak Elif melepaskan kekesalannya. Dirinya yakin peraturan yang dibuat Ardan adalah untuk membuat Elif tertekan, tapi karena Ardan tahu Elif pasti membutuhkan uang, pria itu memberikan gaji yang besar yang tidak akan Elif dapatkan hanya dengan bekerja sebagai pramusaji restoran.
"Kau akan membuat orang-orang di bawah sana kaget mendengar teriakan mu." Gavin datang. Entah sejak kapan ia sudah berada disana. Mungkin juga Gavin mendengar makian yang diberikan Elif secara suka rela untuk bos barunya itu.
"Ehh, Kak Gavin." Malu Elif. "Tahu dari mana aku ada disini?"
"Aku dengar hari ini kau diterima kerja dan langsung ikut beberapa meeting di luar. Aku tahu kau bisa. Karena itu aku ingin mengucapkan selamat padamu, tapi Sonya bilang kau sedang menenangkan diri di roof top." kata Gavin menjelaskan. "Tadinya aku tidak mengerti apa maksud Sonya, tapi sekarang aku mengerti."
"Maaf, apa aku mengecewakanmu?" tanya Elif.
"Kenapa kau mengecewakanku?" Gavin balik bertanya bingung.
"Karena yang kudengar dari Pak Ardan juga dari Mbak Sonya, aku bisa diwawancara karena Pak Herdi dan Kak Gavin merekomendasikan aku. Tapi aku malah berteriak-berteriak disini seperti Tarzan. Seperti tidak bersyukur."
Gavin malah tertawa mendengar ucapan Elif. "Kalau aku boleh tau, memang apa yang membuatmu kesal seperti ini?"
"Aku... hanya merasa kesal saja dengan peraturan yang dibuat sepihak oleh Pak Ardan."
Gavin kembali tertawa. "Begitu lah Ardan, tapi jika kau sudah bisa memahami cara kerjanya, kau akan terbiasa. Dia tidak semenyebalkan itu."
Elif tersenyum kecut.
"Apa kau jadi menyesal karena aku sudah merekomendasikan mu?"
"Tentu saja tidak. Aku sangat-sangat bersyukur. Sebagai ucapan terima kasih, nanti setelah gajian aku akan mentraktir Kak Gavin dan Pak Herdi, dan Mbak Sonya juga. Dia sudah sangat baik dan sabar menjadi mentorku."
"Baik lah, akan aku tagih nanti janjimu."
Mereka tertawa bersama. Untuk sejenak Elif melupakan kekesalannya pada Ardan. Hatinya kini merasa tentram dan aman. Tak apa lah bekerja di bawah bos yang otoriter dan aneh dan menyebalkan. Selama Elif bisa satu kantor dan bertemu setiap hari dengan Gavin.
Gavin sungguh berbeda dengan bos dan asisten bosnya itu yang dingin, semena-mena dan aneh. Mereka selalu memandang orang lain dengan tatapan tidak bersahabat. Berbeda dengan Gavin yang ramah dan bersahaja.
Ah, kontrol degupan jantungmu, Elif! Jangan kegeeran hanya karena Gavin sampai merekomendasikan mu pada atasannya. Pak Herdi juga merekomendasikan mu. Lagi pula Gavin ramah pada semua orang, bukan hanya kepadamu.
***
"Apa aku harus tinggal di kantor, Mbak?" tanya Elif sambil memerhatikan Sonya yang mulai bersiap-siap untuk pulang.
"Tentu saja tidak. Mau ngapain sendirian di gedung sebesar ini. Walaupun jam kerjamu 24 jam, bukan berarti kau tinggal di kantor." jawab Sonya.
"Kau hanya wajib menjawab panggilan Pak Ardan kapan pun beliau menghubungimu." Teddy datang sekonyong-konyong dan memberikan beberapa lembar kertas. "Ini job desk mu mulai sore ini. Pelajari dan ingat semuanya! Pak Ardan tidak menyukai kecerobohan dan kesalahan yang dilakukan berulang." Teddy menyelesaikan kalimatnya dengan penuh penekanan.
"Maaf Pak, disini tertulis bahwa saya juga harus mengantar Pak Ardan kembali pulang ke apartemennya? Menyiapkan makan malam? Bahkan belanja keperluan bulanan juga?" Elif tercengang begitu pun dengan Sonya yang mendengarnya.
"Tapi Pak, bukan kah itu sudah di luar pekerjaan kantor? Kasihan Elif kan kalau juga mengurus keperluan pribadi Pak Ardan."
"Kau ingin jawaban?" tanya Teddy.
Sonya juga Elif mengangguk.
"Silahkan bertanya langsung pada yang membuat job desk ini. Beliau ada di dalam ruangan itu." Teddy menunjuk pintu ruang kerja Ardan.
Nyali Sonya pun menciut, tapi tidak dengan Elif. Bukan, Elif bukannya mau melabrak Ardan saat itu juga atas job desk yang dibuatnya seenak jidat, tapi rasa kesal pun berubah menjadi benci. Ia melamar pekerjaan bukan untuk menjadi asisten rumah tangga!
Jika Ardan bukan atasannya langsung, sudah pasti Elif akan mengajukan protes tingkat tinggi. Sialnya, Ardan orang yang saat ini paling menyebalkan di atas tanah bumi adalah atasannya langsung. Keberlangsungan masa depannya dalam dunia pekerjaan ada ditangan pria itu.
"Jadi apakah saya benar-benar harus ikut mengantar Pak Ardan pulang mulai hari ini, Pak?" tanya Elif. Nada suaranya jelas tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya yang ditahan.
"Ya." Dan mulai hari ini juga aku akan mempunyai tugas tambahan yaitu mengantarmu pulang setelah kau menyelesaikan pekerjaan mu di tempat Pak Ardan. Huh, merepotkan saja!
"Lima menit lagi kita pulang, bersiap-siap. Pak Ardan tidak suka menunggu." Teddy pun berlalu dari hadapan dua wanita itu.
***
Ardan tidak banyak bicara, atau lebih tepatnya tidak bicara sama sekali sejak keluar dari ruang kerjanya. Wajahnya terlihat letih meski ekspresi dingin terpasang disana. Keputusan untuk membuat Elif ikut serta mengantarnya pulang ternyata sangat tepat, aroma gadis itu membuatnya tenang dengan segala kesibukan otaknya yang tak pernah ingin beristirahat sejenak saja.
Mungkin hanya Teddy yang tahu alasan sebenarnya kenapa Ardan harus membuat job desk yang tidak masuk akal untuk seorang sekertaris. Karena begitu Teddy memberitahu bahwa Elif tidak memakai minyak wangi atau merk tertentu pada tubuhnya, Ardan pun spontan langsung membuat job desk itu hanya untuk membuat Elif selama mungkin didekatnya.
Dibelakangnya Elif menahan kedongkolan hatinya pada pria yang berjalan di depannya. Padahal dia sudah merencanakan makan malam bersama keluarga juga mengundang Mona dan Yura untuk ikut makan malam bersama. Semuanya gagal hanya karena bos nya itu membuat sebuah job desk yang sangat menyebalkan dan tidak masuk akal.
Padahal ini hari pertama kerja, tapi dirinya sudah tidak menyukai bosnya sama sekali.
"Dari mana kau bisa mengenal Gavin?" tanya Ardan ketika mereka sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju apartemen.
Pertanyaan itu jelas ditujukan pada Elif, karena Teddy sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjawab pertanyaan.
"Saya dan Kak Gavin.... ehm, maksud saya Pak Gavin kenal saat Kaka Gavin adalah senior saya di universitas. Pak Gavin sangat baik, satu-satunya orang yang menolong dan tidak menghina rambut saya saat senior-senior lain menghina rambut saya. Pak Gavin bahkan langsung membantu saya untuk mengepang rambut saya saat itu juga."
"Kau menyukai Gavin?" tebak Ardan langsung tanpa basa-basi.
"Maaf Pak?" Elif terkejut.
"Kau terdengar bersemangat menjawab pertanyaanku, apa lagi saat menceritakan Gavin mengepang rambutmu. Padahal siapa yang tanya." Ardan memejamkan matanya membuat Elif ingin sekali menimpuknya.
Padahal tadi dia yang tanya dimana aku mengenal Gavin. Oke, aku tidak perlu menceritakan kebaikan Kak Gavin, orang seperti si Ardan ini tidak akan perduli dengan kebaikan orang lain.