HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
"Gagal lagi... gagal lagi..."



"Jadi bagaimana Anda akhirnya bisa melepaskan diri Anda dan Nyonya Elif?" tanya Polisi, setelah mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.


Gavin, Teddy, Hanna, Demir, Zehra dan Adit semua berkumpul di ruangan VVIP itu untuk turut mendengarkan penjabaran Ardan.


"Sayang, bisa tolong ambilkan jam tanganku?" pinta Ardan pada Elif.


Elif mengambilkan jam tangan Ardan dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Ardan.


"Dengan ini aku bisa melepaskan ikatan tali pada tanganku dan istriku." Ardan mengangkat jam tangannya.


Gavin dan Teddy tersenyum. Mengangguk mengerti.


"Jam tangan? Bagaimana bisa?" tanya polisi itu.


"Oh, ini bukan jam tangan biasa, Pak polisi." Jawab Ardan.


"Ini adalah jam tangan yang aku pesan khusus di Jerman. Jam tangan ini bisa mengeluarkan panas tanpa asap yang bisa memutuskan ikatan tali, karet, lakban, kabel tis bahkan besi, meski tetap membutuhkan waktu tergantung seberapa tebal alat ikat yang digunakan." Jelas Ardan.


"Selain itu, pada bagian belakang ini, terdapat pisau lipat kecil, ini yang aku gunakan untuk memotong tali Elif saat Daniel dan Kinan sedang sibuk terkejut dengan keempat sepupuku di vidiocall."


"Dasar begundal," Celetuk Hanna. "Pantas saja Gavin bilang Ardan pasti baik-baik saja, si Gavin ini malah bilang mungkin kau sudah duduk-duduk santai sambil ngopi."


Gavin garuk-garuk kepala.


"Ya tentu saja, Gavin dan Teddy juga memiliki jam yang sama." jawab Ardan.


"Dari pesan singkat yang dikirimkan Gavin, aku tahu sesuatu yang tidak beres terjadi. Dan karena ikatan ku belum terlepas, jadi aku mengulur waktu untuk meminta mereka menunjukkan videocall Teddy yang mereka sekap, aku tahu Teddy sudah diselamatkan Gavin, tapi aku cukup terkejut saat ada seseorang disana memakai setelan jas Teddy, tapi aku langsung tahu itu adalah Emre, sepupuku, dari sepatu keds yang dipakainya."


"Ya, Pak Gavin yang mencetuskan ide itu, Pak." Sahut Teddy.


"Ya, itu ideku." Gavin mengaku dengan bangga.


"Bagaimana bisa kau melibatkan empat anak itu? Mereka pasti sekarang sudah sibuk menceritakan aksi hero mereka pada semua keluarga."


"Aku harus cepat melepaskan Teddy, jika aku melawan dua orang itu sendirian, akan membutuhkan waktu. Jadi aku menghubungi mereka, ternyata sangat bermanfaat." jelas Gavin.


Sesi tanya jawab dengan beberapa polisi pun berakhir setelah keterangan yang diberikan telah cukup, polisi pun meninggalkan tempat.


Tak lama kemudian, dokter Fadil datang dengan seorang perawat. "Wah, apakah aku ketinggalan sesuatu?" tanya Fadil.


"Ah, kenapa juga kau baru datang? Kau melewatkan cerita yang seru." Sahut Ardan.


"Yah, ada pasien darurat yang harus segera operasi tadi pagi-pagi sekali." Jawab Fadil sambil menempelkan stetoskop pada dada Ardan beberapa saat kemudian ia melepaskan benda itu. "Kurasa kau sudah bisa pulang. Selain lenganmu, kau baik-baik saja."


"Tentu saja."


"Aku akan resepkan obat penghilang nyeri jika luka jahitnya terasa nyeri. Dan untuk sementara jangan angkat-angkat beban berat dulu sampai lukamu kering sempurna." Fadil melirik Elif kemudian melihat Ardan lagi, seolah tahu apa yang akan dilakukan sepupunya itu saat nanti hanya berduaan dengan Elif.


***


Ardan meminta kepada semua orang untuk tidak perlu mengantar mereka ke apartemen, cukup Teddy saja. Jika Mama Hanna, Papa Demir, Ibu Zehra, Adit, Gavin ikut mengantarnya, kapan dia bisa... you know what I mean...


Jadi, kini hanya Teddy yang duduk di kursi depan, menyupir dengan fokus sementara di kursi belakang Ardan tidak hentinya menenggelamkan kepalanya pada leher Elif, menciumi, menggigiti pelan, menghidu dalam-dalam aroma manis istrinya. Tangannya pun aktif membelai lengan, perut dan mendekati dada. Sesekali Elif kelepasan mendesah lalu buru-buru ia menutup mulutnya, berusaha mendorong Ardan karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan Teddy di depan mereka.


"Ardan..." bisik Elif.


"Hm..."


"Ada Pak Teddy..." bisik Elif lagi.


"Ted, Ted, kau ada disana?" tanya Ardan.


Namun Teddy membisu.


"Kau dengar, tidak ada jawaban. Itu bukan Teddy, itu robot." kata Ardan asal.


"Astaga!" Cubit Elif pinggang Ardan dengan kuat.


"Aw!"


"Kasihan Pak Teddy kalau seperti ini. Apalagi Yura belum dihalalkan."


Seketika Teddy terbatuk-batuk.


***


Beberapa menit kemudian mereka sampai di unit apartemen Ardan. Teddy hanya mengantarkan mereka sampai ia meletakkan satu kopor milik Elif ke dalam ruang keluarga. Lalu Teddy dengan sangat pengertian meninggalkan pasangan pengantin baru itu tanpa mengulur-ulur waktu.


Elif berdiri di tengah ruangan, memandang sekeliling ruangan itu. Ia terkesiap saat tangan kekar tiba-tiba melingkar pada pinggang rampingnya.


"Ada apa?" tanya Ardan di telinga Elif.


"Apakah ini apartemenmu?"


"Apartemen kita, sayang."


"Maksudku, apakah ini apartemen yang sama dengan apartemen yang dulu sering aku datangi untuk bersih-bersih dan masak makanan untukmu?"


"Hm...."


"Yang setiap pagi dan pulang kerja entah bagaimana selalu banyak piring dan gelas kotor?"


"Hm..."


"Yang selalu berantakan padahal kau paling tidak suka ketidakrapihan?"


"Hm..."


"Apakah dulu kau sengaja mengerjaiku?"


"Ah, apa kau masih dendam?" Tanya Ardan sambil mengelitiki perut Elif.


"Sedikit." ucap Elif sambil terkekeh. Kemudian membalikkan tubuhnya hingga mereka saling bertatap. Kedua mata mereka saling beradu. Tidak ada jarak diantara keduanya, tangan Elif menyentuh dada Ardan yang bidang, perlahan wajah mereka mendekat dan...


Suara bel pintu terdengar.


"Astagaaaa!" Keluh Ardan.


Elif malah tertawa. "Mungkin memang belum waktunya, Tuan." ucap Elif sambil mengecup bibir Ardan sekilas lalu melepaskan dirinya dari Ardan untuk membuka pintu. Sebelum membuka, Elif melihat dulu dari layar monitor, ternyata Zehra dan Adit yang datang.


"Ibu dan Adit." kata Elif pada Ardan.


"Gagal lagi... gagal lagi..." Gumam Ardan.


Elif membukakan pintu untuk Adit dan Zehra.


"Ibu, Adit, ayo masuk."


"Maaf mengganggu." kata Zehra.


"Apanya yang mengganggu."


"Ibu hanya mau antar ini." Zehra memberikan paper bag pada Elif, dilihatnya ternyata isinya adalah selimut tipis yang selalu Elif pakai tidur. "Kau kan tidak bisa tidur tanpa selimut ini."


"Ya ampun, Ibu." Elif langsung memeluk Ibunya dan Adit.


"Ayolah, masuk dulu, masa langsung pulang? Kita makan siang bareng. Ya kan sayang?"


"Iya, tentu saja!" Ardan menyahut sambil menghampiri Ibu mertua dan adik iparnya. Ia mencium punggung tangan Ibu mertuanya itu lalu mengacak rambut Adit.


"Tapi pasti kami menganggu kalian." kata Zehra.


"Ish Ibu, apanya yang mengganggu sih?"


"Ya, siapa tahu Kakak dan Abang mau langsung buat ponakan untuk Adit."


Tawa seketika meledak dari mulut Ardan.


"Hush kau ini!" Tegur Zehra.


"Masuklah, jangan di pintu seperti ini."


Mereka akhirnya masuk ke dalam unit apartemen Ardan dan makan siang bersama.