HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Perasaan tidak rela.



Pagi ini dokter kembali datang memeriksa bersama perawat yang masih sangat mencuri-curi pandang pada Ardan yang terlihat sangat mencolok dengan kaus hitam berkerah dan celana jins hitam serta sepatu keds. Rambutnya yang agak kecoklatan selalu disisir rapih ke belakang sehingga menunjukkan dengan sempurna setiap garis wajah tegas Ardan seperti tidak ada celah kekurangannya.


"Bagus sekali Nona Elif, ini cukup mengejutkan, tapi pembengkakan nya sudah tidak saya rasakan lagi." ujar Dokter.


Elif pun tersenyum lebar, begitu juga dengan Ardan yang membuat si perawat malah jadi salah tingkah sendiri.


"Kita akan lakukan pengecekan USG setelah ini ya, untuk memastikan. Kalau memang hasilnya baik. Nona Elif sudah bisa rawat jalan mulai besok. Tapi dengan catatan harus tetap berhati-hati." kata dokter.


"Baik Dok."


Setelah selesai pemeriksaan, petugas yang mengantar makanan datang dengan menu yang masih belum banyak perkembangan.


Setelah selesai sarapan, seorang perawat laki-laki datang membawa kursi roda. Perawat itu dan Ardan membantu Elif untuk duduk di kursi sambil roda kemudian Ardan mendorong kursi itu mengikuti perawat yang berjalan di depan mereka menuju ruang USG. Tidak membutuhkan waktu lama sampai akhirnya dokter memberitahukan kalau hasil dari USG Elif sudah sangat baik. Cukup mengejutkan juga mengingat baru kemarin Elif jatuh di kamar mandi tapi kini bagian ususnya yang memar sudah pulih, tidak lagi bengkak, tidak lagi memar, tapi memang masih meninggalkan sedikit rasa nyeri.


"Ini pasti karena selama perawatan Nona Elif tidak merasakan stres dan cenderung bahagia. Karena itu pemulihan terjadi sangat cepat." ujar dokter.


Baik Elif maupun Ardan hanya tersenyum.


"Anda sangat baik dalam menjaga dan merawat Nona Elif." Dokter memuji Ardan.


Setelah dokter memberikan resep, dan beberapa hal lainnya yang boleh dan tidak boleh Elif lakukan dulu dalam beberapa minggu, Elif dan Ardan pun kembali ke kamar dengan Ardan yang mendorong Elif di atas kursi roda. Tidak ada yang bicara. Mereka sama-sama diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Yang tanpa mereka ketahui mereka tenggelam dalam pikiran yang serupa. Yaitu merasa tidak rela kehilangan momen kebersamaan mereka selama tiga hari ini.


Tiga hari yang sangat berharga bagi Ardan. Tiga hari yang membuat Elif merasa sangat spesial. Tiga hari yang telah menjadikan dua orang yang pernah saling membenci ini menjadi teman dengan perasaan yang berbeda.


Di depan pintu kamar VVIP, sudah ada Teddy disana. Berdiri seperti pengawal kerajaan. Ia membawa sebuah map cokelat dengan garis merah. Ardan tahu apa yang dibawa Teddy saat itu bukanlah dokumen pekerjaan. Itu adalah amplop yang berisi informasi apa pun yang pernah ditugaskan Ardan pada Teddy. Sama seperti amplop yang berisi informasi tentang hubungan Gavin dan Elif sebelumnya. Dan informasi-informasi rahasia lainnya.


"Sepertinya Pak Teddy membawa dokumen pekerjaan lagi." ujar Elif.


"Eh, iya, sepertinya."


"Selamat pagi Pak, selamat pagi Nona Elif."


"Pag- eh, apa barusan Pak Teddy panggil saya? Nona Elif?" Elif mengernyit.


"Iya."


"Jangan! Aduh, apaan pakai segala panggil saya Nona. Panggil Elif saja seperti biasa Pak." Protes Elif.


"Teddy." Celetuk Ardan.


"Hah?"


"Kau memanggilku Ardan, kau juga bisa memanggilnya Teddy saja, tidak perlu pakai Pak. Kalau di situasi formal saja." Ardan pun mengajukan protes.


Sementara Teddy tidak mengerti apa yang dua orang itu proteskan. Tapi Teddy tetap mematung dia seribu bahasa.


"Ah, kalau begitu Teddy juga bisa menjadi temanku?" Tanya Elif.


"Bisa, kalau dia mau." jawab Ardan.


"Bagaimana? Apa kau mau jadi temanku, Ted?" Elif nyengir lebar melihat Teddy, yang hanya dibalas dengan tatapan kosong dan ekspresi datar.


"Huh, sepertinya dia tidak mau." kata Elif sambil mengedikkan bahu. "Tapi aku tetap akan memanggilmu Teddy tanpa Pak, karena tidak sopan kalau aku memanggilmu Pak tapi aku memanggil Ardan tanpa Pak. Oke?"


"Baik Nona."


"Jangan panggil aku Nona, astaga! Elif saja!"


"Baik, Nona Elif."


"Astaga!"


Ardan pun akhirnya menjadi penengah. "Begini saja, Teddy akan memanggilmu dengan Nona saat di luar lingkungan kantor, tapi saat di kantor dia akan memanggilmu seperti biasa. Bagaimana?"


"Tapi kenapa harus tetap memanggilku Nona? Aku bahkan bukan atasannya." Elif tetap pala batu.


"Karena Nona Elif adalah gadis yang dicintai Pak Ardan, karena itu saya akan memanggil Anda Nona Elif."


"Hei, kau tidak tahu? Sekarang aku dan Ardan adalah teman. Kami berteman."


"Tetap saja Anda gadis yang dicintai Pak Ardan."


"Woah!" Elif meniup helai rambutnya yang ada dikening saking kesalnya.


"Wah, kau membuatku merinding! Ternyata Anda lebih menyebalkan dari Pak Ardan." Elif berdecak sebal. Ardan hanya terkekeh kemudian mendorong Elif masuk ke kamar, membantunya kembali ke tempat tidur.


"Istirahat lah, aku akan membahas sebentar pekerjaan di luar, tapi jangan khawatir karena aku dan Teddy akan tetap ada di depan pintu."


Elif hanya mengangguk. Mood nya terlanjur jelek gara-gara Teddy yang keras kepala.


***


Teddy memberikan amplop tersebut pada Ardan setelah Ardan menutup pintu kamar.


"Apa ini informasi yang aku minta?"


"Iya Pak."


"Apakah informasi baik atau buruk?"


"Lebih baik jangan sampai Nona Elif mengetahuinya."


Ardan mendesah lesu. Ini yang ia khawatirkan, ada sesuatu yang tidak beres diantara hubungan ayah dan anak ini.


"Baiklah. Terima kasih Ted."


"Sama-sama Pak." jawab Teddy. "Apa ada yang bisa saya bantu Pak sebelum saya ke kantor?"


"Oh ya, tolong belikan baju untuk Elif, besok ia sudah boleh kembali pulang."


"Baik Pak. Sore ini akan saya antar baju untuk Nona Elif. Ada lagi Pak?"


"Tidak ada."


"Apa Anda inginkan saya belikan Anda bubur ayam lagi?"


"Kau sedang melunjak atau apa?"


"Maaf Pak, saya hanya bertanya."


***


Elif sedang tidur saat Ardan membaca berkas informasi yang telah dikumpulkan oleh Teddy. Hatinya benar-benar mencelos membaca setiap informasi yang ada di setiap lembaran itu. Hatinya yang sakit mengetahui kenyataan tentang Elif. Jika hatinya saja bisa sesakit dan sesedih ini, Ardan tidak tahu apa yang akan terjadi pada Elif jika ia tahu kebenaran tentang dirinya sendiri yang selama ini tidak pernah diberitahukan padanya.


Ardan menutup berkas itu, ia kembali menghela napas, memandang sendu pada wanita yang sedang tertidur di sana. Wajahnya begitu tenang dan damai dan sangat cantik.


Ardan tidak tahu apakah dia bisa melepaskan Elif kembali pulang ke rumahnya? Terlepas dari penjagaannya, perlindungannya, jauh darinya. Setelah hari ini pun Ardan tidak lagi mungkin membiarkan Elif bekerja seperti dulu, tidak akan ada lagi Elif yang ikut pulang ke apartemennya hanya untuk menyiapkannya makan malam padahal sebelum ada Elif, dia jarang sekali makan malam. Hanya makan malam jika ada meeting dengan klien di restoran. Tidak akan ada lagi Elif yang pagi-pagi sudah datang hanya untuk menyiapkannya secangkir kopi dan sepotong roti bakar. Apakah Ardan siap kembali pada hari-hari sepinya? Tidak Ardan tidak mau lagi hari-hari tanpa Elif. Ia tidak bisa. Aroma Elif juga senyuman Elif, bahkan wajah juteknya sudah membuat Ardan begitu kecanduan.


Tapi ia bukan siapa-siapa, ia hanya seorang CEO yang sudah ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis sederhana yang penuh kejutan seperti Elif.


Elif menggeliat pelan, cepat-cepat Ardan menyembunyikan amplop itu di bawah berkas pekerjaan yang lainnya, agar tidak menimbulkan curiga.


"Kau lapar?" tanya Ardan berjalan mendekat.


Elif menggeleng. "Pak Teddy sudah pergi?"


"Teddy," Koreksi Ardan. "Ya, dia sudah kembali ke kantor. Dia hanya memberikanku berkas penting pekerjaan saja. Setelah itu meledekku apakah aku menginginkan bubur ayam lagi atau tidak."


Elif terkekeh. "Apakah dia bisa bercanda juga? Aku pikir dia tidak bisa bercanda."


"Bisa, tapi kau tidak akan bisa membedakan apakah dia sedang bercanda atau tidak, karena ekspresi wajahnya tetap sama."


Ardan membantu Elif untuk duduk. Ah, sebenarnya Elif tidak suka posisi ini, karena selalu menimbulkan rasa gelenyar yang aneh pada perutnya.


"Sudah nyaman?"


Elif mengangguk.


"Omong-omong kau sudah siap untuk kembali pulang ke rumah besok?"


"Iya. Ya ampun, aku baru ingat, aku tidak punya baju untuk dipakai besok pulang."


"Tenang aja, Teddy akan membelikannya."


"Oh, oke- eh apa? Teddy membelikannya?"