HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Wawancara Dengan CEO.



Elif langsung melompat dari tempat duduknya saat pihak HRD dari perusahaan Nusa Mahesa Group menghubunginya dan memintanya agar segera datang ke perusahaan untuk wawancara dengan CEO.


"Baik Pak, saya segera datang! Terima kasih Pak!" Ujar Elif penuh dengan suka cita sebelum mengakhiri sambungan teleponnya. Semua orang yang berada di rumah makan ikut merasakan suka cita yang ditunjukkan Elif secara spontan itu.


"Ada apa Nak? Ada apa?" tanya Zehra melihat anaknya yang langsung melepaskan celemeknya.


"HRD tempat aku wawancara kemarin telepon aku, Bu, beliau bilang CEO nya minta aku datang untuk beri aku kesempatan wawancara dengannya!"


"Alhamdulillah!" Zehra langsung memeluk putrinya. "Sudah! Sudah! Ayo cepat pulang, bersihkan dirimu, kuncir rambut yang rapi lalu berangkat hati-hati."


Elif segera bergegas, tidak lupa ia menyalimi tangan Yanuar sebelum meninggalkan rumah makan meskipun Yanuar masih saja mendiaminya.


Elif harus bergerak cepat, ia hanya memiliki waktu satu jam untuk bisa mendapatkan kesempatan yang diberikan ini. Begitu sampai rumah dia segera mandi dengan cepat, memakai pakaian yang formal, mengikat dan mengepang rambutnya, kemudian langsung memesan ojek online.


Kurang 10 menit dari batas waktu yang diberikan, Elif sampai di tempat, gedung tinggi bernama Mahesa Tower. Setelah meninggalkan KTP dan mendapatkan kartu pengunjung dari meja represionis dari lobi utama, ia segera menuju PT. Nusa Mahesa Group yang berada di lantai 9.


Jantungnya berdegup cepat, semakin cepat setiap kali lift berhenti disetiap lantai, waktu terus berjalan, waktu yang ia miliki kurang dari 10 menit sekarang.


TING!


Pintu lift terbuka, Elif hendak berlari begitu keluar dari lift, namun tiba-tiba tangannya ditarik seseorang.


"Kak Gavin!" Elif kaget. Napasnya masih tersenggal.


"Tenangkan dirimu." Kata Gavin. "Atur napasmu. Kau harus tenang dan kepala dingin. Orang yang akan mewawancaraimu tidak akan memberikan pertanyaan-pertanyaan umum, ia akan memberikan pertanyaan jebakan untuk menguji seberapa seriusnya kau ingin bekerja dan apa niatmu bekerja." Sambil memandu Elif untuk mengatur napas tangan Gavin bergerak merapihkan helaian-helaian rambut Elif yang menolak untuk rapih.


"Sudah tenang?" tanya lelaki bermata biru itu.


Elif mengangguk.


Mereka langsung menuju ruangan CEO, Sonya seketika berdiri dari tempat duduknya begitu melihat Gavin datang.


"Ada?" Tanya Gavin pada Sonya.


"Ada Pak."


Gavin mewakili Elif mengetuk pintu, tak lama terdengar sahutan dari dalam untuk masuk.


Gavin mengepalkan tangan di depan dada, memberikan semangat tanpa kata-kata.


Elif membuka pintu di hadapannya, nuansa minimalis dan maskulin menyambutnya, warna abu-abu dan silver mendominasi ruangan yang ditempati CEO perusahaan raksasa itu. Tidak banyak furnitur, hanya ada dua sofa panjang, satu single sofa, satu meja kopi, satu rak buku yang setengahnya diisi berbagai macam penghargaan. Dan meja besar berserta kursinya. Sebuah jendela besar menjadi latar ruangan tersebut, cahaya masuk dengan leluasa ke dalam setiap penjuru ruangan.


"Selamat pagi." Elif memberikan salam formal.


Seorang pria berdiri memunggunginya, menghadap keluar jendela, tubuhnya tinggi, posturnya terlihat tegap dengan punggungnya yang nampak lebar dan gagah dalam balutan jas berwarna gelap. Ia tidak menjawab, namun ia bergerak, memutar dan detik berikutnya Elif dan pria itu saling berhadapan dalam jarak yang cukup jauh.


Elif tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria itu karena efek back light, perlahan tapi pasti dengan gerakan elegan ia melangkah, memutari meja besar kerjanya. Wajahnya pun terlihat jelas. Sangat jelas.


Deg!


Dia!


***


Ardan yakin gadis bernama Elif itu pasti terkejut melihat dirinya berdiri dihadapan gadis itu sebagai CEO yang baru kemarin ditendang tulang keringnya dan juga dituduh sebagai penculik dan penjahat yang ingin menjual organ tubuh secara ilegal. Ardan semakin memangkas jarak di antara mereka dengan aura dingin dan kepemimpinan yang mendominasi. Meskipun aroma manis yang menguar dari Elif hampir membuatnya goyah.


Ardan berdeham memecah keheningan diantara mereka. Ketika jarak mereka tersisa satu meter, Ardan menghentikan langkahnya. Ia cukup terkesima dengan gadis dihadapannya itu, Elif terlihat... profesional? Sama sekali tidak terlihat bersalah atau pun terkejut apa lagi sampai memelas untuk dimaafkan agar bisa bekerja. Dia tetap berdiri pada posisinya, tidak bergerak sedikit pun.


"Kau ingat siapa aku?" Tanya Ardan. Ia menatap lurus sepasang mata bulat dihadapannya.


"Anda yang bertemu dengan saya kemarin di roof top." jawab Elif. Suaranya bahkan terdengar tidak bergetar gugup. Reaksi Elif benar-benar diluar dugaan Ardan. Padahal Ardan sudah sengaja membuat dirinya berdiri menghadap keluar jendela agar memberikan kesan dramatis saat Elif melihat dirinya.


"Lalu, apa kau tidak merasa berhutang maaf padaku?" tanya Ardan lagi, kali ini penuh penekanan.


"Tidak."


Jawaban Elif benar-benar membuat Ardan tidak habis pikir.


"Kau sudah menuduhku penculik sampai aku harus diintrogasi oleh satpam rumah sakit itu, lalu kau menuduhku penjahat yang ingin menjual organ tubuhmu, dan kau juga menendang kakiku, kau tahu, bekasnya sampai membiru!"


"Apa saya dipanggil hari ini hanya untuk ini? HRD menghubungi saya untuk datang wawancara, beliau bilang CEO nya memberikan saya kesempatan. Jika memang Anda adalah CEO dari perusahaan ini dan menghubungi saya dengan alasan memberikan saya kesempatan untuk wawancara kerja padahal hanya untuk mengerjai saya, sangat disayangkan perusahaan sebesar ini harus dipimpin oleh seorang yang sangat kekanakan." Elif bahkan tidak mengubah ekspresi datarnya. Bahkan intonasi suaranya. Dia tetap tenang.


Malah Ardan yang terkejut dengan jawaban Elif. Sangat berani.


"Jika memang tidak berniat untuk memberikan saya kesempatan untuk membuktikan bahwa lulusan SMA juga bisa mempunyai kemampuan bekerja yang baik, lebih baik tidak perlu menghubungi dan memberikan harapan kosong pada pejuang pencari kerja seperti saya. Satu jam yang saya habiskan hanya untuk dikerjai seperti ini bisa saya gunakan untuk melamar pekerjaan ditempat lain. Karena tidak semua orang seberuntung Anda. Ada orang-orang yang harus mengubur mimpi dan cita-cita untuk tetap bisa bertahan hidup dengan hasil yang halal."


Oh, Ardan benar-benar tertampar perkataan gadis itu. Sialnya, perkataannya sangat benar.


"Jika memang Anda ingin permintaan maaf, Anda bisa menghubungi saya di luar dari hal yang bersifat resmi, bukan?"


Ardan tidak menjawab, pikirannya terlalu sibuk mencerna dan menilai satu-satunya pelamar kerja yang berani seperti ini.


"Mohon maaf jika perkataan saya terlalu lancang. Jika memang tidak ada kepentingan lainnya, saya permisi!" Elif berbalik, bergerak menjauh mendekati pintu.


"Tunggu!" tahan Ardan tepat saat Elif menyentuh gagang pintu ruangan itu. "Kau bisa duduk, kita bisa mulai wawancara hari ini." Ardan bergerak menuju kursi kebesarannya di balik meja kerjanya.


Elif menatap punggung Ardan kesal namun tidak menolak untuk duduk pada salah satu sofa.


"Apa yang kau lakukan sebelum memutuskan untuk bekerja?" tanya Ardan. Wajahnya sudah menunjukkan keseriusan. Aura kepemimpinan terpancar dalam setiap gerakan tubuhnya bahkan tatapan matanya. Dia terlihat dingin, sungguh berbeda dengan pria yang baru saja bicara dengan Elif.


Pasti punya dua kepribadian. Batin Elif.


"Saya kuliah dan kerja paruh waktu." jawab Elif.


"Kuliah? Sekarang? Masih kuliah? Kau tahu, saya tidak bisa menerima pekerja paruh waktu."


"Saya berhenti kuliah."


"Kenapa?"


"Apa pertanyaan ini ada hubungannya dengan pekerjaan?"


"Ya! Untuk menjadi sekertaris saya, saya perlu tahu latar belakang hidup. Untuk semua pertanyaan formal saya rasa pihak HRD sudah menjalankan tugasnya dengan baik."


"Lalu apa hubungannya latar belakang hidup saya dengan pekerjaan saya sebagai sekertaris Anda?"


"Kenapa kau ini terlalu banyak menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?" Ardan kesal. "Itu aturan saya. Karena dengan mengetahui latar belakang dari calon pekerja, saya bisa menilai karakter seperti apa orang yang akan bekerja dengan saya nantinya."


Elif mendengus. "Peraturan dan penilaian macam apa itu? Tapi baiklah, jika memang ini adalah salah satu peraturan Anda. Saya akan beritahukan latar belakang hidup saya."