HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Kamar Mandi.



Ardan sedang menerima panggilan telepon di luar kamar. Elif pikir itu adalah kesempatan untuknya ke kamar mandi. Pelan-pelan Elif membuka selimut, menggeser kedua kakinya.


"Akh!" Ia memegang perutnya sebentar. Menarik napas kemudian pelan-pelan lagi Elif mencoba turun dari tempat tidur yang rata-rata memang tempat tidur rumah sakit selalu tinggi.


"Akh! Kenapa ini tinggi sekali?" keluh Elif dengan suara pelan. Elif sama sekali tidak bisa bergerak cepat, bergerak sedikit saja membuat perutnya sakit. Sementara tangga kecil untuk membantu pasien naik dan turun dari tempat tidur ada di sisi lain. Itu artinya Elif harus bergerak lagi merubah posisinya.


"Oke, aku pasti bisa."


Tapi tidak secepat itu Nona, karena Ardan akhirnya menyelesaikan panggilan teleponnya dan begitu ia melihat Elif sedang berusaha untuk turun dari tempat tidur, Ardan segera berlari mendekat pada Elif.


"Kau mau kemana?" tanyanya dengan wajah panik. Sejujurnya ekspresi panik dari wajah Ardan membuat Elif ingin tertawa. Pria itu malah terlihat lucu.


Elif tertawa renyah sampai membuatnya harus memegangi perutnya.


"Hei, kenapa malah tertawa? Apa yang lucu?"


"Tidak ada, Pak. Saya hanya ingin tertawa saja." kata Elif segera menyudahi tawanya.


"Tapi kalau dipikir-pikir ini adalah tawa pertama yang aku dengan darimu." ujar Ardan, yang entah bagaimana malah membuat Elif tersipu. Buru-buru Elif memalingkan wajahnya, baru kali ini ia merasa begitu mencintai rambutnya yang megar seperti singa, karena bisa menutupi wajahnya


"Kau mau kemana?"


"Ehm, saya mau ke kamar mandi, Pak."


"Kenapa tidak tunggu aku. Kau dengar kata dokter, kan."


"Ya aku pikir aku bisa turun dan jalan sendiri kalau pelan-pelan."


"Sudahlah, ayo aku bantu. Pegang pundakku."


"Eh?"


"Kenapa jadi melongo?" Dengan sigap Ardan meraih tangan Elif dan membuat tangan Elif merangkul pundaknya yang tegap, lalu tangan yang lain mengambil tiang infusan untuk diberikan pada Elif. "Kau pegang ini."


Tanpa membantah Elif mengambil dan memegangi tiang infus beroda itu. Kemudian Dengan gerakan yang mudah Ardan mengangkat tubuh Elif.


"Eh, Anda mau apa Pak?"


"Lho, kau bilang mau ke kamar mandi?"


"Tap-tapi saya tidak perlu di gendong, Pak."


"Kau tidak boleh banyak bergerak, ingat? Ayo kita ke kamar mandi sebelum kau mengompol."


Aroma maskulin dan segar dari tubuh Ardan membuat Elif keracunan eh kecanduan. Entah sejak kapan. Tapi harus Elif akui aroma Ardan sungguh menyegarkan.


Ah, Elif tidak tahu saja kalau aroma manis dari rambutnya yang walaupun tidak keramas juga sudah membuat CEO dingin dan menyebalkan itu berubah menjadi seseorang yang hampir tidak lagi dikenali oleh asisten setianya.


"Baiklah," Ardan menurunkan Elif pelan-pelan di atas lantai kamar mandi dekat dengan closet duduk. Dan pria itu bukannya langsung keluar malah diam disana.


"Mmm-maaf Pak, saya rasa saya bisa sendiri." ujar Elif.


"Eh, ah ya benar juga. Maaf, maaf. Aku keluar sekarang. Aku akan tunggu di depan kamar mandi. Oh ya, pintunya jangan dikunci, aku berjanji dunia akhirat tidak akan menerobos masuk kecuali-"


"Kecuali?"


"Kau butuh bantuan."


"Bantuan macam apa?" Elif menaikkan sebelah alis matanya.


"Jangan berpikiran negatif, aku mohon."


"Hehehe, baiklah. Saya mengerti."


Ardan mengangguk, kemudian keluar. Menutup pintu dan menunggu tepat di depan pintu sambil memegangi dadanya dimana letak jantungnya berdegup tak beraturan di dalam sana.


Kenapa tawa Elif begitu mempesona ya Tuhaaan? Bahkan tertawa di dekat closet pun terlihat sangat indah. Astaga, aku benar-benar jatuh cinta padanya.


Sementara di dalam kamar mandi setelah menyelesaikan misi membuang panggilan alamnya, Elif tidak langsung memanggil Ardan atau pun keluar dari kamar mandi. Ia menatap dirinya sendiri di depan cermin wastafel, memandang heran. Ada apa dengan dirinya, kenapa jadi tertawa-tawa konyol di depan Ardan? Hanya karena ekspresi panik dan kegugupan bosnya itu terlihat lucu.


Ia membasuh wajahnya kemudian saat mengangkat wajahnya melihat cermin, betapa terkejutnya ia melihat ada Kinan disana!


"Aaak!" teriak Elif.


BRAK! Pintu dibuka cepat oleh Ardan.


"Elif!" Ardan segera menghampiri Elif yang jatuh terduduk di lantai depan wastafel, tiang infus sudah terjatuh, Elif menutup wajahnya sambil terus berteriak meminta tolong, selang infus pada tangannya sampai mengeluarkan darah.


"Elif, Elif, sshh... tenanglah, tenanglah, aku disini. Aku disini." Ardan memeluk Elif yang masih menutup wajahnya ketakutan.


"Dia di sini! Dia di sini!" kata Elif dengan suaranya yang gemetar.


"Kinan!"


"Dimana?"


"Di cermin itu, dia di sana!"


"Baiklah, tenanglah, tenanglah, tidak ada siapa-siapa di sana."


Elif menggeleng kuat.


"Ayo kita keluar dari sini." Hati-hati Ardan mengangkat tubuh Elif sekaligus membawa tiang infus. Begitu merebahkan Elif di atas tempat tidur, Ardan segera memencet tombol darurat untuk memanggil perawat. Tak lama kemudian perawat yang tadi pagi datang bersama dokter masuk.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya perawat itu dengan sangat lembut.


"Tolong suster, infusnya berdarah dan saya rasa Elif butuh obat penghilang nyeri sekarang, apakah bisa?"


"Nona Elif merasa perutnya nyeri?" Elif mengangguk sambil meringis.


"Kenapa tiba-tiba merasa nyeri?"


"Saya... habis dari kamar mandi dan sedikit terpeleset." jawab Elif sedikit berbohong.


"Ah, begitu, nanti kalau misalnya mau ke kamar mandi, baiknya Pak Ardan temani Nona Elifnya ya, Pak. Jangan dibiarkan sendiri di dalam kamar mandi selama kondisi Nona Elif belum sepenuhnya pulih." kata Suster itu sambil memperbaiki selang infus Elif sampai tidak ada lagi darah yang keluar.


"Baik... baik suster."


"Saya ambilnya dulu obat pereda nyerinya ya."


Elif mengangguk.


Sepeninggalan suster lemah lembut itu, suasana canggung tercipta diantara Elif dan Ardan.


Tentu saja Elif tidak akan mau aku berada di dalam kamar mandi selama dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan di dalam kamar mandi. Batin Ardan.


Mana mungkin aku pipis atau pup sementara ada Pak Ardan di dalam kamar mandi?! Apa suster tadi sudah tidak waras?! Omel Elif dalam hatinya.


Perawat tadi kembali dengan membawa obat pereda nyeri.


"Ini bisa diminum sekarang. Yang ini bisa diminum 3 jam lagi kalau masih terasa nyeri, ya. Kalau tidak, tidak perlu diminum." Perawat itu menjelaskan.


"Baik suster, terima kasih." jawab Ardan.


"Ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Tidak ada suster, terima kasih." jawab Elif.


"Kalau begitu saya permisi." Perawat itu pun meninggalkan ruangan setelah mencuri pandang sebentar pada Ardan yang sedang membuka bungkus obat pereda nyeri sebelum ia menutup pintu kamar.


Hati-hati Ardan menyuapi Elif untuk meminum obatnya, setelah itu membantu Elif kembali merebahkan dirinya, merapihkan selimutnya bahkan rambut Elif yang bertebaran di atas bantal.


"Maafkan saya Pak, sudah merepotkan." kata Elif kemudian.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti setelah apa yang terjadi padamu karena perempuan itu, aku dapat memaklumi kau mungkin menjadi trauma."


Elif mengangguk. "Saya juga tidak mengerti bagaimana bisa saya melihat Kinan disana."


"Mungkin karena apa yang terjadi padamu saat itu terjadi di kamar mandi, mungkin saat itu kau sedang mencuci tangan atau membasuh wajah."


Elif mengangguk lagi.


"Tapi sekarang bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik?"


"Saya... tidak tahu Pak. Mungkin nanti akan lebih baik."


Tiba-tiba handphone Ardan berdering, nama Teddy tertera pada layar handphone pintar itu.


"Sebentar aku terima panggilan ini dulu." Namun tangan Ardan ditarik Elif, tatapan Elif memelas bercampur takut.


"Bisakah Anda menerima panggilan teleponnya di sini saja? Tidak perlu ke luar kamar?" pinta Elif.


Melihat bagaimana ketakutan terpancar pada mata Elif, dan tangan mungil itu menggenggam tangannya untuk pertama kalinya tanpa Ardan memintanya, tentu saja Ardan tidak akan menolaknya.


"Tentu saja bisa. Kau istirahatlah, aku akan terima telepon disini, tidak perlu takut. Aku tidak akan tinggalkan kau sendirian lagi."


"Terima kasih, Pak."


Elif pun melepaskan tangannya, dan mencoba untuk memejamkan matanya.


"Ya, Ted, bagaimana perkembangannya?"