HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Tidak ada yang bisa menahan Nyonya Hanna.



Akhirnya mereka tiba di rumah besar orang tua Ardan. Pilar-pilar putih tinggi berdiri seperti benteng-benteng yang kokoh. Jarak dari pagar utama menuju pintu rumah juga lumayan jauh. Walaupun ini adalah kali ke dua Elif datang ke rumah itu, tetap ia tidak bisa menutupi decak kagumnya melihat rumah yang besarnya seperti istana, halamannya pun sangat luas, banyak pepohonan rindang, gazebo yang nyaman dibawah salah satu pohon rindang, air mancur, bahkan ada rumah kaca juga dimana berbagai macam bunga ada di sana.


Teddy menginjak rem dan menarik tuas rem tangan begitu mereka tiba di depan pintu masuk. Pak Sukri, kepala ART rumah itu telah berdiri disana, menunggu kedatangan tuan mudanya.


"Selamat datang, Tuan Muda." kata Pak Sukri dengan sangat sopan. "Nona Elif."


"Apa kabar Pak Sukri?" tanya Elif.


"Baik Nona, terima kasih. Saya harap Nona Elif juga baik." Sahut Pak Sukri.


"Iya Pak, terima kasih."


"Mama dan Papa sedang apa, Pak?" tanya Ardan.


"Nyonya dan Tuan sudah menunggu Anda di halaman belakang, Tuan."


"Baik. Ayo." Ardan menarik lembut tangan Elif. Mereka langsung menuju halaman belakang. Betapa tercengangnya Elif melihat apa yang mereka lewati untuk menuju halaman belakang. Saat kunjungan pertama, Elif hanya langsung masuk ke dalam rumah ya sebesar istana itu, ia tidak tahu kalau di bagian belakang rumah itu lebih membuatnya terheran.


"Kau punya kandang kuda?" Elif sampai mengerjapkan matanya melihat beberapa kandang kuda lengkap dengan lapangan yang luas untuk kuda-kuda itu berlarian.


"Papa yang punya, bukan aku." Ardan mengoreksi dengan sangat santai. "Kau siap bertemu dengan Mamaku lagi?"


Elif mengangguk.


Ardan dan Elif pun mendekati sebuah gazebo di halaman belakang itu, dekat dengan sebuah kolam renang yang besar. Tuan Demir dan Nyonya Hanna terlihat sedang berbicara santai sambil menikmati jus buah mereka masing-masing.


"Ma, Pa," Panggil Ardan.


"Ah, kalian sudah datang." kata Nyonya Hanna melihat kepada Ardan dan Elif yang berjalan mendekat.


"Kemarilah, duduk disini, udara hari ini sangat enak sekali untuk bersantai. Tidak terlalu terik, tidak juga mendung." ujar Tuan Demir.


Melihat bagaimana Mama Ardan berpakaian walau hanya di rumah dan duduk santai membuat Elif merasa insecure seketika. Nyonya Hanna terlihat begitu modis dengan gaun rumah yang sangat elegan, rambutnya yang tertata begitu rapih, riasan make up yang soft membuat wanita paruh baya itu terlihat begitu cantik.


"Apa kau sehat, Elif? Kau terlihat pucat sekali." tanya Nyonya Hanna begitu Ardan dan Elif ikut duduk di gazebo bersama mereka.


"Sa... aku baik-baik saja, Tante."


"Ardan, kau ini bagaimana sih, kau bilang Elif adalah calon istrimu, masa wajahnya sampai pucat begitu? Apa kau tidak pernah ajak Elif untuk perawatan wajah?"


"Eh-"


"Iya Ma, nanti."


"Perawatan wajah itu penting lho, Elif. Bukan hanya perempuan, laki-laki juga. Kau lihat aku, siapa yang tahu kalau usia ku sudah 57 tahun. Banyak yang mengira aku masih 30-an." ujar Nyonya Hanna.


Tuan Demir terkekeh saja mendengar bagaimana istrinya nyerocos kalau sudah bicara soal kecantikan dan pentingnya merawat kulit wajah dan tubuh.


"Iya, Tante awet muda sekali." Puji Elif dengan sangat tulus, karena memang begitu kenyataannya.


"Skincare, sunscreen, banyak makan-makanan yang sehat dan banyak minum air putih, itu adalah kuncinya. Jangan meremehkan skincare sama sekali."


"Iya Tante."


"Kau juga Ardan, ajak calon istrimu ini ke salon, beli skincare. Kalian akan menjadi pasangan yang di sorot media, kalian harus tampil dengan wajah yang sehat dan glowing. Apa lagi kalau media sudah membandingkan kau dengan mantan Ardan, kau bisa habis nanti dibul-"


"Ma," Potong Ardan. "Bisa berhenti dulu ngomongin soal skincare apa lagi sampai merembet ke Marsha." Pinta Ardan. "Mama dan Papa bahkan tidak bertanya kenapa aku dan Elif datang."


"Memangnya Mama harus bertanya kepada anak Mama yang pulang, "Mau apa kau kesini?" Begitu?" Cibir Nyonya Hanna.


"Ya bukan begitu, kan aku datang bersama Elif."


"Mama mu benar, Nak. Kenapa kami harus tanya kau mau apa datang? Kan aneh kalau begitu. Hahaha Benar tidak Elif?"


Elif hanya tersenyum.


"Kau datang bersama Elif pun kami rasa bukan hal yang aneh. Elif kan calon istrimu, wajar bukan kalau kau datang bersama Elif." kata Nyonya Hanna. "Marsha yang dulu selalu kau abaikan saja sering datang ke sini sendiri tanpa kau, dan Mama tidak pernah tanya mau apa dia datang. Apa lagi ini ca-"


"Ma, kenapa selalu membandingkan Elif dengan Marsha. Mama sendiri juga tidak suka dengannya kan." Protes Ardan.


"Itu lah maksud Mama, orang yang Mama tidak suka saja tetap Mama terima disini selama itu berkaitan dengan mu. Apa lagi Elif, calon istrimu, tentu saja Mama-"


"Apa Mama merestui aku dan Elif?" potong Ardan lagi.


"Ish kau ini kenapa selalu saja memotong Mama bicara! Tentu saja Mama dan Papa merestui kalian. Kau pikir selama ini Mama berusaha menjodohkanmu untuk apa? Dan ternyata Elif datang dan menjawab doa Mama. Kau akhirnya memutuskan untuk menikah!"


"Dari mana Mama tahu aku dan Elif akan menikah?"


Tuan Demir terkekeh renyah. "Tentu saja, kau sudah memperkenalkan Elif sebagai calon istri, apa tujuannya kalau bukan untuk menikah, bukan?"


"Apa Ardan begini juga kalau dikantor, Elif?" Nyonya Hanna bertanya pada Elif.


"Tidak Tante, Ardan sangat disegani dan ditakuti." jawab Elif.


Nyonya Hanna berdecak, "Benar-benar meragukan, kau tahu, kadang Mama masih tidak percaya kau bisa memimpin perusahaan besar. Karena kadang kau suka bodoh." Sarkas Nyonya Hanna yang disambut tawa Tuan Demir dan Elif.


"Baiklah, jadi apa yang ingin kalian bicarakan siang-siang begini?"


"Seperti yang Mama dan Papa sudah tahu, aku dan Elif akan menikah."


"Tapi Mama perlu waktu." kata Nyonya Hanna.


"Bukan hanya itu, untuk menikah, Mama mau Elif melakukan perawatan dulu, minimal satu bulan."


"Perawatan, Tante?" Elif membeo.


"Tentu saja." Nyonya Hanna menyuruh Elif untuk duduk lebih dekat dengannya. Elif pun menggeser duduknya. "Kau lihat rambutmu ini."


"Iya Tante aku tahu, rambutku tidak tertolong lagi." kata Elif.


"Siapa bilang?" Nyonya Hanna menaikkan sebelah alis matanya. "Rambutmu ini sebenarnya unik, dan bisa menjadi indah kalau kau melakukan perawatan yang rutin di salon. Rambut ini bisa menjadi sangat indah. Kau tau, lembut, bersinar, dan mudah diatur walaupun dia keriting."


"Be-benarkah?"


"Tentu saja!" Nyonya Hanna terdengar semangat. "Ah, kau harus lebih sering bertemu denganku, aku bisa make over dirimu."


"Ma, aku mencintai Elif apa adanya." Celetuk Ardan. Lagi-lagi Tuan Demir tertawa.


"Kau tahu, tidak ada yang bisa menghalangi Mama mu kalau sudah menyangkut soal penampilan." Kata Tuan Demir.


"Oke Ma, terserah Mama mau bagaimana, selama itu tidak mengubah jati diri Elif." kata Ardan.


"Tentu saja tidak. Justru akan membuat Elif memancarkan sinarnya yang tersembunyi." kata Nyonya Hanna dengan sangat yakin.


"Baiklah, aku rasa kami butuh waktu tiga bulan untuk menyiapkan semuanya."


"Tiga bulan?" Nyonya Hanna memekik. "Itu terlalu lama!"


"Tapi Ma, kami perlu menyiapkan-"


"Kau pikir begitu Mama dengar berita tentang kau di acara pernikahan Marsha sudah membawa calon istri membuat Mamamu ini diam saja begitu?"


"Maksud Mama?"


"Percayalah, kalau bukan karena Elif yang harus melakukan perawatan lebih dulu, mungkin lusa kalian sudah menikah." Tuan Demir menyeruput jus buahnya. "Mama mu sudah mengurus semuanya, gedung, undangan, catering, souvenir, perias, dekorasi, wedding singer, ah, semuanya lah, kalian hanya tinggal bawa diri saja." Tuan Demir menjelaskan dengan santai.


Tapi tidak dengan Elif yang mendengarnya membuat dirinya malah ketakutan. Bagaimana kalau dirinya benar-benar menikah dengan Ardan? Bagaimana dia bisa menikah dengan seseorang yang tidak dia cintai?


"Mama hanya butuh waktu satu bulan untuk perawatan pada Elif, mengenal keluarga Elif, dan semuanya." kata Nyonya Elif.


"Tapi tetap saja Ma, aku butuh waktu tiga bulan."


"Bagaimana sih kau ini, niat atau tidak sih menikahi anak gadis orang?!" Nyonya Hanna mulai melotot.


"Tentu saja sangat niat!" Jawab Ardan.


"Lalu dimana masalahnya?"


Masalahnya adalah ada kesepakatan tiga bulan yang hanya Ardan, Elif dan Teddy yang tahu. Ardan juga tidak ingin Elif menikah dengannya dimana Elif tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Dan pastinya hal itu akan membuat Elif tertekan. Itu yang paling Ardan hindari. Dan tujuan mereka datang hari ini mengatakan bahwa mereka akan menikah adalah supaya orang tua Ardan datang menemui orang tua Elif, karena sebelumnya Ardan sudah jatuh omongan kalau orang tuanya akan datang dan bertemu dengan keluarga Elif.


Tidak sampai terpikir bahwa Nyonya Hanna sudah melangkah sangat jauh untuk mempersiapkan semuanya.Ya, benar-benar semuanya. Memang tidak ada yang mampu menandingi kecepatan tindakan Nyonya Hanna.


"Oke, karena kalian juga sudah siap, besok kami akan datang ke rumah orang tuamu, Elif." Kata Tuan Demir.


"Kita juga akan langsung saja membicarakan tanggal pernikahan kalian."


"Dan setelah itu, Elif dan aku akan rutin ke salon untuk perawatan selama satu bulan." kata Nyonya Hanna.


"Maaf Tante, tapi kan aku juga harus tetap bekerja."


"Bekerja?" Nyonya Hanna tertawa. "Kau adalah calon istri seorang sultan, untuk apa lagi bekerja?"


"Tapi Tante, aku bahkan belum genap satu bulan menjadi sekertaris Ardan."


Tiba-tiba Nyonya Hanna memukul lengan Ardan.


"Aw! Kenapa Mama tiba-tiba memukulku?"


"Kenapa kau masih membiarkan calon istrimu bekerja? Sebagai apa tadi? Sekertaris? Sekertarismu?! Benar-benar di luar nalar! Cepat cari sekertaris baru!"


"Tapi Ma, sulit mencari sekertaris yang kompeten seperti Elif. Dia cepat belajar, cekatan, dan bisa beberapa bahasa dan-"


"Dan Elif adalah calon istrimu! Hih, dasar bodoh! Apa yang akan media tulis kalau tahu calon istri Ardan Mahesa Demir adalah sekertarisnya?"


"Tapi Tante, aku tidak keberatan menjadi sekertaris Ardan, maksudku, dengan begitu aku bisa selalu dekat dengannya apa lagi dengan jadwal Ardan yang sibuk, kalau tidak sebagai sekertarisnya, mungkin kami akan jadi jarang bertemu." Elif memberikan alasan yang membuat Nyonya Hanna sedikit berpikir dan menimbangkan.


"Hmm kau benar juga." kata Nyonya Hanna akhirnya. "Baiklah, begini saja, setiap harinya saat jam istirahat kita akan ke salon."


"B-baik Tante."


"Dan kau," Nyonya Hanna menunjuk Ardan, "Berikan waktu untuk calon istrimu bersamaku! Aku rasa Teddy akan bisa menghandle pekerjaan Elif sementara dulu."


"Tamam, tamam, Hanna hanım. (Oke, oke, Nyonya Hanna)."


Sekali lagi, Ardan melihat ke dalam mata Elif, sorot kekhawatiran terlihat di dalam sana, meski berusaha disembunyikan.


"Bagus, Mama akan buat Elif menjadi shining shimmering splendid."


"A whole new world... a new fantastic point of view..." Tuan Demir pun tiba-tiba bernyanyi dengan senangnya.