HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Kedatangan Zehra dan cerita masa lalu.



Yanuar menerima panggilan telepon dan bergegas ia keluar, menerima panggilan tersebut di teras. Tanpa ia sadari kuping tajam Adit yang sedang bermain game di ruang tamu mendengar setiap ucapan ayahnya. Lima belas menit berlalu dengan Adit yang tercengang mendengar rencana yang sedang dibicarakan Yanuar dengan seseorang di panggilan telepon tersebut.


"Oke, oke, kita bertemu nanti lusa ya." ucap Yanuar mengakhiri panggilan teleponnya.


Sebelum ayahnya masuk, Adit sudah lebih dulu melesat dari ruang tamu menuju kamar Elif. Di dalam sana, Zehra yang masih menemani Elif, cukup kaget dengan Adit yang masuk dengan sangat tiba-tiba.


"Gawat! Gawat! Gawat!" kata Adit panik, namun dengan suara rendah.


"Ada apa?" tanya Zehra khawatir. Tapi Elif tetap meringkuk tak perduli.


"Barusan saja aku dengar Ayah bicara dengan seseorang, entah siapa, mungkin temannya."


"Lalu?"


"Pokoknya intinya ayah dan temannya itu mau menjodohkan Kak Elif dengan teman mereka yang sudah duda!"


"Apa?!" Pekik Ibu.


"Ssst! Jangan berisik, Bu. Nanti Ayah dengar."


Barulah Elif bergerak dari ringkukkannya. Ia menatap nanar pada ibu dan adiknya. "Kenapa Ayah tidak menyayangiku, Bu? Kenapa? Apa salahku?"


"Oh, Elif." Zehra pun langsung menarik tubuh Elif, memeluknya erat. Adit pun ikut memeluk tubuh kakaknya.


"Aku akan melindungi Kakak!" ucap Adit.


***


Pagi-pagi sekali Zehra sudah keluar dari rumah. Bukan untuk ke restorannya, tapi ke MD Group Building. Dengan modal nekat ia memasuki gedung pencakar langit tersebut dengan langkah yang sedikit minder melihat bagaimana orang-orang disana berpakaian sangat formal dan rapih.


"Maaf, Anda ingin kemana?" tanya salah satu staf keamanan yang menahan langkah Zehra di tengah lobi.


"Ng... maaf, Pak, saya ingin bertemu dengan Nak...eh, Pak Ardan." jawab Zehra.


Staf keamanan itu pun melihat bagaimana penampilan sederhana Zehra dan sanksi bahwa Zehra adalah klien dari CEO-nya. Staf keamanan tersebut tidak ingin kecolongan lagi seperti saat beberapa hari lalu seorang pria mengaku sebagai klien dari Ardan Mahesa Demir ternyata malah membuat keributan di tengah-tengah lobi.


"Maaf, tapi apakah Anda sudah membuat janji dengan Pak Ardan?"


"Be...belum Pak." jawab Zehra. "Apa tidak bisa bertemu dengan Pak Ardan kalau belum buat janji?"


"Iya Bu, maaf. Buat janji saja terlebih dahulu, setelah itu bisa menemui beliau."


"Tapi bagaimana caranya? Saya bahkan tidak punya nomer teleponnya."


Staf keamanan tersebut mengerutkan dahi.


"Lalu dari mana Anda tahu Pak Ardan ada disini?"


"Oh, saya ini Ibunya Elif, Elif pernah bekerja disini-"


"Nona Elif?!" Staf keamanan itu pun terkejut. "Maaf Ibu, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau Ibu adalah ibu dari Nona Elif."


"Elif?" Suara seseorang membuat si staf keamanan itu dan Zehra berpaling kepada arah suara tersebut.


"Selamat pagi Pak Gavin." siapa staf keamanan itu.


"Pagi. Ada apa ini?" tanya Gavin.


"Begini, Pak, Nyonya ini adalah ibu dari Nona Elif, dan ingin bertemu dengan Pak Ardan."


Gavin pun ikut terkejut dengan keberadaan Zehra disana setelah kejadian empat hari lalu menghebohkan satu gedung. Kabar berakhirnya hubungan Elif dan Ardan pun menjadi berita gosip yang sangat hangat di kalangan staf.


"Selamat pagi, Tante. Saya Gavin, teman Elif." Gavin menyalimi tangan Zehra dengan sangat sopan.


"Oh, eh, iya. Saya tahu."


"Tante tahu siapa saya?"


Zehra mengangguk. "Mona dan Yura yang memberitahu Tante untuk ehm, mungkin bisa meminta tolong pada Nak Gavin dan juga Nak Ardan."


"Meminta tolong?" Gavin mengerutkan kening. "Apakah Elif..."


Zehra mengangguk cepat.


"Baik Tante." Gavin meresponnya dengan sangat cepat.


"Apa Pak Ardan sudah datang?" tanya Gavin pada staf keamanan tersebut.


"Sudah Pak, bersama Pak Teddy tadi."


"Kenapa tidak kau langsung antar Beliau bertemu dengan Pak Ardan!" Tegur Gavin.


"Maafkan saya, Pak. Maafkan saya Nyonya."


"Ti-tidak apa-apa." sahut Zehra cukup canggung dipanggil 'Nyonya' hanya karena diketahui sebagai ibu dari Elif. Apakah Elif begitu dikenal di gedung sebesar ini?


Ah, Ibu Zehra hanya tidak tahu saja, cerita hubungan Elif, Ardan dan Gavin sudah cukup viral di sana.


Tidak menunggu lama, Gavin dan Zehra pun segera menuju ruang kerja Ardan. Sonya mengatakan bahwa Ardan sedang meeting bersama seorang klien dari Jepang di dalam ruangannya. Tapi Gavin mengatakan urusan yang ia bawa lebih penting dari kliennya Ardan saat ini.


Gavin mengetuk pintu sebentar, tanpa menunggu sahutan, ia pun mendorong pintu dan mendapati Ardan yang sudah memasang ekspresi dingin dengan tatapan tajam kepada siapa pun yang mengganggu meeting mereka pagi itu.


"Pagi," kata Gavin dengan sangat santai memotong pembicaraan bisnis bos besarnya.


"Apa kau sudah bosa bekerja bersamaku?" tanya Ardan dingin.


"Aku tidak sendiri, ada tamu yang datang dan tidak bisa ditunda." jawab Gavin.


"Apa kau tidak lihat kami sedang meet-"


"Ibu Zehra?"


"Maaf mengganggu, Nak. Tapi Ibu bisa menunggu kalau-"


"Tidak, tidak, ehm, maksudku, lima menit. Lima menit saja, aku akan menyelesaikan meeting ini. Bagaimana?"


"Baiklah."


Gavin pun tersenyum. Ia tahu betul bagaimana karakter sahabatnya itu.


***


Hampir setengah jam berlalu bagaimana Zehra menceritakan kondisi Elif dan bagaimana suaminya diam-diam berencana untuk menikahkan Elif dengan seseorang yang lebih pantas menjadi ayahnya. Jangan ditanya bagaimana geramnya Ardan mendengar apa yang disampaikan Zehra. Wanita itu pun bercerita sambil tidak bisa membendung air matanya.


"Ibu juga tidak tahu lagi harus bagaimana membuat suami Ibu bisa menyayangi Elif seperti anaknya sendiri..."


"Tunggu, maksud Tante?" Gavin mengernyitkan dahi.


Seketika Zehra pun menjadi gugup. Sebuah kalimat yang apa kita bilang 'keceplosan' lolos begitu saja dari bibirnya. Ia tidak menyadari bahwa emosinya telah membuatnya tanpa sadar melepaskan sesak yang selama ini ia simpan.


Tidak seperti Gavin yang bingung dengan pernyataan keceplosan Zehra. Ardan dan Teddy justru terlihat tidak bingung apa lagi sampai terkejut.


"Apa hanya aku yang bingung dengan pernyataan Tante Zehra?" tanya Gavin seraya memandang Ardan dan Teddy.


Sebenarnya Zehra pun juga heran melihat Ardan yang tidak terkejut atau meminta penjelasan padanya.


"Sebenarnya, aku sudah tahu latar belakang Elif dan Pak Yanuar." kata Ardan.


"Ap-apa?" Malah kini Zehra yang terkejut.


"Apa maksudmu?" Gavin bertanya.


"Apa kau bisa menjaga rahasia?" tanya Ardan pada Gavin.


"Astaga! Sudah berapa lama kau mengenalku?"


"Baiklah." Ardan menghela napas. Ia kemudian meminta Teddy untuk mengeluarkan sebuah amplop dari dalam brangkasnya dan memberikannya pada Zehra.


Zehra pun membuka dan membacanya. Tak menunggu lama, wanita itu terlihat semakin gugup dan salah tingkah di hadapan Ardan.


"Pak Yanuar bukanlah ayah kandung dari Elif. Benar begitu, kan, Bu?" ujar Ardan.


"Apa?" Gavin melebarkan matanya karena keterkejutannya.


Zehra pun mengangguk, meski gugup dan takut.


"Ibu mohon, Nak Ardan, Nak Gavin, jangan salah sangka dengan kedatangan Ibu kesini. Ibu kesini bukan untuk mencari keuntungan atau apa pun. Elif memang bukan darah daging Yanuar, tapi Elif adalah darah dagingku. Bertahun-tahun aku mencoba untuk membuat Yanuar menerima Elif sebagai anaknya, tapi ia selalu membenci Elif, meski pun Elif selalu menyayanginya. Ibu sangat sedih dan sakit setiap kali Yanuar bersikap kasar padanya. Tapi Ibu tidak bisa apa-apa. Tapi kali ini, Yanuar sudah keterlaluan. Ibu rasa Ibu tidak lagi bisa tinggal diam, Ibu tidak bisa membiarkan masa depan anak Ibu hancur karena kebencian Yanuar terhadap..."


"Terhadap?" Ardan bertanya.


"Terhadap keluarga Ibu." jawab Zehra. Air mata kembali menetes. Teddy kembali menyodorkan kotak tisu.


***


*Dua puluh tahun lebih yang lalu*


Hati Zehra begitu hancur dan sakit. Ia baru saja mendengar kabar bahwa pria yang menjadi ayah kandung Elif telah pergi, Elif baru saja menginjak usia sebelas bulan, tapi keluarga Zehra tiba-tiba memaksanya menikahi seorang pria. Bukan sekedar menjodohkan, tapi memaksanya tanpa memberikan pilihan apa pun. Dengan alasan, keluarga Zehra terlilit hutang pada keluarga pria yang akan dinikahinya, bernama Yanuar.


Tentu saja mereka tidak saling cinta. Yanuar sendiri juga sudah mempunyai kekasih saat itu, mereka terpaksa putus karena pernikahan Yanuar dan Zehra yang diadakan dengan sangat tiba-tiba.


Yanuar tidak pernah menyukai Elif, bayi mungil itu sama sekali tidak bisa menyentuh hati keras Yanuar. Ia bahkan tidak perduli saat Elif sakit. Ia tidak pernah menemani Zehra ke rumah sakit jika Elif sakit atau pun dirawat, ia malah menggerutu karena itu malah membuatnya harus mengeluarkan biaya untuk anak orang lain. Ia bahkan tidak pernah memasukkan nama Elif di dalam daftar kartu keluarga, sampai Yanuar mengeluarkan pernyataan bahwa jika Zehra belum bisa memberikannya keturunan, maka jangan harap Yanuar akan bisa menerima Elif sebagai anaknya.


Akhirnya beberapa tahun kemudian, lahirlah Adit. Dan Yanuar pun menepati janji, menerima Elif sebagai bagaian dari keluarganya, tapi ternyata itu hanya sekedar nama di dalam daftar kartu keluarga. Sikap Yanuar tidak sama sekali berubah.


Zehra berinisiatif untuk membuka usaha menjual makanan, menabung untuk biaya sekolah Elif, karena seperti yang dia takutkan, Yanuar sama sekali tidak mau membiayai keperluan dan kebutuhan sekolah Elif. Pria itu sama sekali tidak perduli. Kerja keras Zehra dan ketulusannya membuahkan hasil, ia bisa menyekolahkan Elif tanpa sepersen pun uang dari Yanuar. Bahkan ternyata Elif tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berprestasi. Sering kali ia mendapatkan bantuan beasiswa.


Tapi ternyata prestasi Elif pun sama sekali tidak menyentuh Yanuar. Ia tetap menanggap Elif adalah sebuah benalu dalam rumah tangganya. Itu sebabnya Yanuar selalu berusaha untuk membuang Elif dengan cara menjodohkannya dengan orang lain. Tapi ia juga tetap ingin Elif menikahi pria kaya agar ia tetap bisa mendapatkan keuntungan.


Selama ini Elif selalu bersabar, ia selalu mengalah. Ia tetap menyayangi Yanuar sebagai Ayahnya. Sementara hati Zehra begitu sakit, hancur dan perih. Ia tidak bisa memberitahukan kebenaran siapa ayah kandung Elif, karena sebenarnya Elif pun lahir di luar nikah. Ayah kandung Elif sempat meminta Zehra untuk mengugurkan kandungannya, tapi Zehra menolak. Ia memutuskan untuk melahirkan Elif. Meski pria yang menghamili Zehra kabur dan tidak bertanggung jawab.


Lalu sampai kapan Zehra harus melihat Elif selalu berkorban?


*Kembali ke masa sekarang*


Tiga pria di dalam ruangan itu sampai tidak mengerti bagaimana kuatnya hati seorang wanita. Sekaligus geram dengan dua pria yang telah merenggut kesucian Zehra tanpa mau bertanggung jawab, dan yang telah memperlakukan Elif dengan sangat tidak berhati.


Teddy menyodorkan kembali kotak tisu, kali ini Zehra menyomot tisu itu lebih banyak.


"Maaf, Ibu malah curhat panjang lebar dan menangis seperti ini di depan kalian."


"Tidak apa-apa, Tante. Anggaplah kami anak-anak Tante juga, Tante bisa meluapkan apa yang Tante tidak bisa ungkapkan pada orang lain." ucap Gavin dengan sangat tulus.


"Terima kasih, Nak." kata Zehra. "Kalian pemuda-pemuda yang baik. Ibu beruntung Elif mempunyai orang-orang yang baik disekelilingnya."


"Baiklah, lalu bagaimana kita bisa menyelamatkan Elif dari perjodohan itu?" tanya Gavin melihat Ardan. "Apa kau tidak bisa langsung menikahi Elif saja?"


"Tentu saja bisa! Kalau perlu aku bisa saja membawa penghulu sekarang juga ke rumah Elif. Tapi, tidak semudah itu, walaupun Pak Yanuar bukan ayah kandung Elif, namun dia adalah kepala keluarga disana."


"Karena itu, Nak Ardan, Nak Gavin, Ibu datang untuk meminta bantuan kalian untuk menyelamatkan Elif. Ibu mempunyai sebuah rencana."


"Rencana?" tanya Ardan dan Gavin bersamaan.


Zehra mengangguk.


"Apa itu?"