HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Tempat Pertemuan Pertama.



Ardan masih tidak percaya memandang dan membaca ulang isi dari undangan pernikahan yang baru saja dirinya terima dari seseorang yang selama ini dia sangat percaya, orang itu berdiri salah tingkah di depan Ardan, karena Ardan tidak juga memberikan komentar, hanya berkali-kali melihat orang itu lalu membaca lagi isi undangan tersebut, lalu melihat orang itu lagi.


Ya, siapa lagi kalau bukan Teddy. Manusia paling irit senyum dan irit ekspresi.


"Wah..." Satu kata itu pun akhirnya keluar dari bibir Ardan. "Kau benar-benar mengejutkanku." Sambungnya.


"Maafkan saya, Pak, kalau sudah membuat Anda terkejut." sahut Teddy yang memang sekaku itu, tapi tidak jika bersama Yura.


"Bagaimana bisa kau meluluhkan hati gadis periang itu dengan sifatmu yang... apa ya, minimalis?" Ardan menaikkan sebelah alis matanya.


"Mungkin Pak Ardan bisa tanyakan langsung pada Yura." jawab Teddy ragu. Karena sejujurnya ia pun masih tidak percaya bahwa Yura mau menerimanya.


"Ah, jadi kau tidak tahu juga?" Ardan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kurasa aku tahu apa yang membuat Yura menerimamu. Kau mempunyai hati yang tulus dan jujur."


Teddy tersenyum kikuk, tidak tahu harus merespon bagaimana pujian bosnya itu.


"Tapi aku senang, kau akhirnya menemukan belahan jiwa mu. Dan aku, seperti yang pernah aku bilang, aku tenang Yura bersamamu. Aku yakin kau bisa menjaga dan melindunginya."


"Terima kasih, Pak." jawab Teddy.


"Hanya saja, aku tetap masih terkejut, aku pikir mungkin satu atau dua tahun lagi, tapi minggu depan? Kau sudah ngebet banget atau apa?"


Tiba-tiba pintu ruangan Ardan terbuka tanpa diketuk lebih dulu, Gavin menyelonong santai membawa serta undangan yang sama seperti yang dipegang Ardan.


"Teddy! My Bro!" Gavin merentangkan tangan, tanpa permisi ia langsung memeluk Teddy dan menepuk-nepuk punggung pria itu. "Congrats Man! Gila! Keren banget! Diam-diam menghanyutkan!" Gavin tertawa.


"Jangan ketawa-ketawa saja kau!" Potong Ardan. "Kau kapan menyusul? Sudah terlalu lama LDR-an, apa tidak takut ditikung orang?"


"Kalau sudah jodoh, ditikung pun akan kembali lagi." jawab Gavin santai.


Ardan berdecak.


"Tapi bintang hari ini adalah, Teddy, lho! Teddy! Sama sekali tidak menyangka, orang yang paling dingin, minim ekspresi, tidak pernah tertawa akhirnya menikah dengan Yura! Gadis lucu yang sangat ekspresif. Wah ajaib memang semesta ini."


"Eh-terima kasih, Pak." Sahut Teddy.


"Lalu bagaimana dengan segala persiapannya, Ted? Apa sudah beres semua?" tanya Ardan.


"Semuanya sudah diurus oleh pihak keluarga Yura, Pak." jawab Teddy.


"Baiklah, jika butuh sesuatu, katakan saja. Oke?"


"Baik, Pak."


"Astaga, apa kau sekaku ini juga saat bersama Yura?" tanya Gavin.


"Saya hanya menjadi diri sendiri saja Pak." jawab Teddy.


"Hei, mau seperti apa pun Teddy, yang penting mereka saling mencintai dan menerima." Ujar Ardan.


"Ah, ya, benar juga!"


"Baiklah, kita pulang saja hari ini." Ardan menengok jam tangannya. "Calon pengantin jangan terlalu capek, kau harus banyak istirahat menjelang hari besarmu."


"Benar itu." Gavin menimpali.


"Baik, Pak. Saya akan siapkan mobil."


"Tidak perlu mengantarku, satu minggu ini kau tidak perlu mengantar dan menjemputku. Luangkan waktumu untuk bisa beristirahat."


"Tapi Pak saya tidak-"


"Aku tidak suka dibantah, kau tahu itu." Ucap Ardan tajam.


"Baik Pak."


"Baiklah, kau bisa pulang sekarang, aku juga akan pulang, aku sudah rindu sekali dengan istriku."


"Lalu aku?" tanya Gavin.


"Kau bisa melanjutkan LDR mu sampai tua."


***


Elif mengerutkan kening saat keluar dari gedung bersama Mona dan langsung melihat sebuah sedan hitam mewah berada disana menjadi perhatian orang-orang. Ia seperti mengenal mobil itu.


"Seperti mobil Kak Ardan, bukan sih?" ujar Mona.


"Iya ya?"


"Barangkali Kak Ardan itu datang menjemputmu."


"Tidak mungkin, jam segini dia pasti masih di kantor, lagi pula Ardan tahu aku diantar supirnya."


Ya, semenjak menjadi Nyonya Demir, Elif tidak lagi naik angkutan umum. Istri sultan itu dibelikan mobil mewah dan seorang supir pribadi yang data dirinya sudah diselidiki secara detail dan juga jago bela diri, karena selain sebagai supir, juga sebagai bodyguard.


Tapi tiba-tiba seseorang dari mobil itu keluar. Seorang pria yang sangat tampan dan gagah yang seketika membuat perempuan-perempuan tercengang.


"Ardan?" Gumam Elif.


"Tuh kan benar." Timpal Mona.


"Hai, sayang." kata Ardan pada Elif, bukan pada Mona ya.


Melihat pria tampan itu menghampiri Elif, memanggilnya sayang dan begitu dekat langsung mencium pipi Elif, semua perempuan yang tercengang tadi kecewah, dan akhirnya memilih untuk pergi.


"Kok cuma berdua? Tumben tidak ada Yura?"


"Yura lagi dipingit, Kak, tidak boleh keluar rumah." jawab Mona.


"Jadi kalian sudah tahu Yura dan Teddy minggu depan menikah?" Ardan menaikkan alis matanya.


"Tahu dong!" Elif dan Mona bersamaan.


"Wah, kenapa kau tidak memberitahuku, sayang?" tanya Ardan pada Elif. "Kau tahu, saat Teddy memberitahuku, jantungku hampir lepas."


"Yura yang memintaku, katanya Teddy ingin memberi kejutan untuk bosnya."


Setelah ngobrol-ngobrol singkat, Mona pun berpamitan, begitu pun Elif dan Ardan. Mereka meninggalkan lokasi kampus.


"Kok tumben nyetir sendiri? Biasanya sama Teddy." tanya Elif dalam perjalanan.


"Aku suruh dia pulang saja, calon pengantin pria juga harus banyak istirahat." jawab Ardan sambil senyum-senyum.


"Lho, kita mau kemana?" tanya Elif menyadari jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju apartemen.


"Ke tempat pertama kali kita bertemu." jawab Ardan.


"Waktu aku ketabrak mobilmu?"


Ardan hanya mengedikkan bahu dan tersenyum misterius.


"Tapi, ini juga bukan jalannya deh." Elif mengingat-ingat.


"Sudah, kau tidur saja, nanti kalau sudah sampai aku bangunin."


Beberapa menit kemudian mobil Ardan memasuki area sebuah waduk, Elif masih tertidur, kini Elif jadi gampang mengantuk saat dimobil jika Ardan yang menyupir. Ardan menengok pada Elif yang masih nyenyak, ia mengelus rambut istrinya yang selalu beraroma menenangkan itu kemudian mengecup keningnya hingga membuat Elif akhirnya terbangun.


"Eh, sudah sampai?" Elif menyipitkan matanya. Ia melihat sekeliling, awalnya bingung namun detik berikutnya ia sadar dimana dirinya berada.


"W-waduk ini..." Gumamnya.


Ardan mengambil sebuah paper bag dari jok belakang lalu mengajak Elif ke luar dari dalam mobil.


Elif ingat sejelas-jelasnya dimana dirinya berada. Waduk yang pernah memberikan kenangan paling buruk sepanjang hidupnya. Waduk yang membuatnya mempunyai ketakutan pada wadah atau kolam atau apapun yang menampung air dengan dasar yang tidak terlihat. Termasuk lautan. Meski Elif bisa berenang, tapi sebuah kenangan pahit itu membuat dirinya takut.


"Ardan..." Elif menarik lengan Ardan saat suaminya itu membukakan pintu untuknya. "Untuk apa kita kesini? Katanya mau ke tempat pertama kali kita bertemu?"


"Bisa kah kita jalan-jalan dulu sebentar? Aku akan ceritakan kenapa kita kesini."


"Tapi aku..."


"Jangan takut lagi, ada aku."


"Dari mana kau tahu aku takut?"


Ardan tersenyum. "Ayo, kita jalan-jalan sebentar."


Akhirnya Elif pun menurut dan keluar dari dalam mobil. Ia mengamit lengan Ardan dan memegangnya sangat kuat. Ardan sangat menyadari ketakutan Elif, itu sebabnya Ardan mengajaknya ke tempat itu, untuk mengubah kenangan buruk dimasa lalu itu dengan kenangan baru yang mungkin bisa sedikit meringankan rasa ketakutan Elif.


"Kenapa kau begitu ketakutan?" tanya Ardan pura-pura tidak tahu. "Apa yang pernah terjadi?"


"Aku... pernah tenggelam di waduk ini." jawab Elif. "Kakiku tersangkut di dalam waduk ini. Dan semenjak itu aku selalu takut dengan air yang dasarnya tidak terlihat."


"Bagaimana kau bisa tenggelam?"


"Waktu itu Adit masih sangat kecil, dia berlari-lari di tembok pembatas itu, dia terpeleset dan aku langsung menyelamatkannya. Tapi sandal kesayangannya tertinggal, jadi aku mencari sandal itu dan... aku..."


"Baiklah, tidak usah diteruskan. Maaf membuatmu bersedih dengan menceritakannya."


"Tidak apa-apa, aku malah merasa lega, bisa menceritakannya padamu."


"Kalau aku boleh tahu, bagaimana kau bisa keluar dari sana?"


"Ibu bilang seseorang tiba-tiba datang, masuk ke dalam waduk dan menyelamatkanku. Ibu bilang orang itu juga langsung melakukan CPR sampai akhirnya aku sadar kembali."


"Apa kau sudah bertemu dengan orang itu?"


Elif menggeleng. "Aku berharap bisa bertemu dengannya dan berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan nyawaku."


Mereka berhenti tepat di tempat Ardan menyelamatkan Elif beberapa tahun yang lalu. Ardan meraih pundak Elif, membuat mereka kini berdiri saling berhadapan.


"Kau bisa mengatakannya sekarang pada orang itu." ucap Ardan sambil menyulam senyum.


"Apa maksudmu?" Elif mengerutkan kening. "Kau mengenal orang itu?"


"Lebih dari sekedar kenal." jawab Ardan.


Ia mengeluarkan sebuah kotak dari paper bag yang sedari tadi ditentengnya. Yang mana Elif pikir itu hanya makanan ringan.


"Bukalah."


"Apa ini?" Elif menerimanya masih tidak paham.


Elif membuka kotak itu, matanya seketika melebar, terkejut. Sebuah sandal kecil, bergambar Batman yang tidak lagi utuh gambarnya, usang. "Ar-Ardan... ini... ini kan sandal Adit yang..."


"Sandal Adit yang kau ambil di dalam waduk dengan nyawamu, tapi setelah itu kau tinggalkan begitu saja disana." Ardan menunjuk tempat dimana Ardan menemukan sandal itu tergeletak begitu saja bertahun-tahun yang lalu.


"Saat itu, aku duduk diseberang sana, sedang jenuh dengan segala aturan dirumah. Lalu aku melihat seorang gadis mengejar-ngejar anak kecil yang berlarian di pagar pembatas itu. Perasaanku sudah tidak enak, dan benar saja kalian sampai di tempat yang tidak seramai sekarang, lalu anak kecil itu tercebur. Aku melihat gadis itu langsung melompat dan menolong anak kecil itu tanpa membuang waktu berteriak meminta tolong."


"Aku sudah berlari dari tempatku duduk, sambil berlari aku melihat gadis itu kembali masuk ke dalam air, tapi tak kunjung keluar bahkan sampai banyak orang datang menenangkan anak kecil itu. Aku tahu apa yang terjadi, jadi aku langsung masuk ke dalam air, mencari gadis itu. Cukup sulit karena air yang keruh. Tapi akhirnya aku menemukannya. Kakinya tersangkut pada sampah plastik entah bagaimana, dan saat itu gadis itu sudah tidak bergerak."


"Jantungku berdegup takut jika aku terlambat menyelamatkannya, saat aku memberikannya napas buatan, saat itu aku benar-benar takut. Tapi gadis itu begitu kuat, dia membuka matanya, dan hal pertama yang dia lakukan adalah meminta maaf pada anak kecil yang menangis tadi karena hanya menemukan sebelah sandalnya."


Elif sudah berderai air mata mendengar cerita Ardan.


"Kalau kau berpikir saat aku tidak sengaja menabrakmu adalah kali pertama kita bertemu, kau salah, itu adalah kali ketiga pertemuan kita."


"Ke tiga?" Elif disela tangisnya.


Ardan mengangguk sambil mengusap air mata pada pipi istrinya. "Kita pernah bertemu tapi tidak saling melihat, saat disebuah lampu merah, aku membuka kaca jendelaky dan aku mencium dengan jelas aroma rambutmu ini, aroma yang tidak ada saingannya, aroma yang membuatku jatuh cinta bahkan sebelum aku tahu siapa pemilik aroma ini."


"Ardan... aku..."


"Ssshhh...." Ardan merangkul Elif, membawanya duduk pada sebuah bangku kayu. "Semesta sudah mengatur pertemuan kita sejak jauh-jauh hari di tempat ini."


"Dan kau sudah sejak jauh-jauh hari sudah melindungiku, menjagaku, bahkan takut kehilanganku sebelum kita saling mengenal."


Ardan mencium kening Elif lama. "Karena itu aku ingin kau mengingat tempat ini sebagai tempat pertemuan pertama kita yang penuh dengan perjuangan yang berakhir indah. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi kenangan buruk, yang ada hanya kenangan bagaimana semesta membawa aku dan kau bertemu dengan cara yang tidak biasa."


Elif mengangguk lagi. Air mata masih dengan setia membasahi mata dan wajah Elif. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata bahagia.


"Terima kasih, penyelamatku. Aku mencintaimu." ucap Elif.


"Bende seni seviyorum."


.


.


.


-Tamat-