HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Satu sama!



Teddy selalu melaporkan perkembangan pencarian Kinan sejauh ini, meski entah bagaimana orang-orangnya benar-benar kehilangan jejak wanita itu. Tentu saja hal itu membuat Teddy gusar, apa lagi Ardan, ia bahkan kini menyewa pengawal pribadi untuk keamanan Elif, meski Elif sudah menolaknya, tapi Ardan tidak menerima penolakan.


"Yang benar saja Ted, ini sudah berapa bulan?" tanya Ardan gusar. Ia masih di kantor, di ruang kerjanya meski waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Saya minta maaf, Pak." hanya itu jawaban yang bisa diberikan Teddy.


"Apa kau yakin wanita itu tidak keluar kota atau keluar negri?"


"Saya yakin, Pak. Saya sudah hubungi pihak semua perjalanan udara, laut dan darat. Hasilnya nihil. Saya juga sudah tempatkan orang-orang kita pada beberapa negara terdekat, tapi tetap tidak ada hasilnya."


"Kurang ajar! Kemana wanita itu?!"


"Atau mungkin dia sudah..."


"Mati?" Ardan menggeleng. "Firasatku mengatakan dia masih hidup, sehat, bersembunyi dan mentertawai kita karena belum berhasil menemukannya!"


"Saya tidak akan putus asa untuk terus mencarinya, Pak."


"Ya, tentu saja, aku percaya padamu, Ted." Ardan mengusap wajahnya, masih gusar.


Tok! Tok!


Seorang pria bertubuh tinggi, berpenampilan yang membuat hampir semua staf perempuan terpukau, masuk ke dalam ruangan Ardan, ia membungkuk sebentar pada Ardan, dan menganggukkan kepalanya pada Teddy.


"Ya, ada apa Daniel?" tanya Ardan.


"Maaf Pak, apa ada yang bisa saya bantu lagi? Atau perlu saya kerjakan lagi?" tanya Daniel, sekertaris baru Ardan yang mirip dengan Park Soe Joon, begitulah kata para staf perempuan di kantor.


"Jam berapa memangnya sekarang? Ah, sudah jam lima ternyata." Ardan melihat jam tangannya sendiri. "Baiklah, kau bisa kembali pulang, Dan, sebenarnya aku mau minta tolong kau susun daftar para kolega yang akan aku undang untuk pernikahanku, tapi besok saja."


"Kalau Anda ingin saya kerjakan sekarang, saya bisa kerjakan sekarang, Pak. Tidak masalah." jawab Daniel.


"Tidak perlu, besok saja. Kau bisa pulang sekarang. Aku juga ingin menemui calon istriku."


Teddy tersenyum melihat bagaimana Ardan kini bukan lagi robot penggila kerja.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi."


"Ya."


Daniel kembali membunggukkan tubuhnya pada Ardan, dan menganggukkan kepalanya pada Teddy sebelum ia keluar dari ruangan Ardan.


"Aku menyukai anak itu, Ted. Kerjanya bagus."


Teddy mengangguk.


Tapi....


Ada sebuah firasat yang mengatakan kalau Teddy harus mengawasi Daniel, meski Ardanterlihat begitu menyukai pemuda itu.


***


Setelah membersihkan diri di rumah barunya yang mungil, Ardan menuju ke rumah Elif, dimana ada Adit yang sedang bermain game di teras saat Ardan datang.


"Kakak sedang mandi, Bang." kata Adit tanpa perlu Ardan bertanya.


Ardan mengangguk santai, padahal pikirannya melayang mengingat saat ia tak sengaja mellihat Elif yang hanya berbalut handuk, ingatan itu membuatnya jadi senyum-senyum sendiri.


"Kenapa Bang senyum-senyum gitu?" tanya Adit.


"Tidak apa-apa." jawab Adran seraya menetralkan lagi ekspresi wajahnya. "Ibu masih di restoran?"


Adit mengangguk.


"Kenapa kau tidak bantu-bantu Ibu di restoran?"


"Ibu menyuruhku pulang. Sebentar lagi juga Ibu pulang."


"Kenapa Kakakmu itu baru mandi jam segini?"


"Kakak juga baru pulang."


"Dari restoran?"


Adit menggeleng. "Cari kerja."


Ardan mengernyitkan dahi. "Cari kerja?"


Adit mengangguk, dari tadi mata dan jarinya tidak lepas dari game tembak-tembakan zaman sekarang di handphonenya.


"Sejak kapan Elif cari kerja?"


"Memangnya Abang tidak tahu?" Adit balik bertanya.


"Tidak."


"Dari dua hari yang lalu."


"Ardan, kau sudah datang?" Suara Elif menginterupsi perbincangan Ardan dan Adit.


Ardan langsung melihat Elif dengan tatapan penuh pertanyaan yang tajam, sampai membuat Elif kebingungan.


"Sudah makan? Mau kubuatkan makan malam?" tanya Elif dengan sangat lembut. Di atas kepalanya masih terlilit handuk yang menutupi rambutnya yang basah.


"Kau cari kerja?" Ardan menjawab pertanyaan Elif dengan pertanyaan yang terdengar nada tidak suka.


Elif melirik Adit yang tetap fokus pada permainannya, ia yakin mulut Adit yang telah membocorkan dirinya mencari kerja.


"Dit, bisa kau pindah ke dalam? Kakak dan Bang Ardan mau bicara."


"Kenapa kau cari kerja?" tanya Ardan, masih dengan nada tidak enak.


"Karena aku harus bantu Ibu, aku tidak mungkin membiarkan Ibu mencari nafkah sendirian sementara ada aku yang sehat yang bisa membantu mencari uang."


"Kenapa kau tidak menghubungiku? Aku bisa membantumu. Aku dengan sangat senang hati membiayai pendidikan Adit, kebutuhan hidup Ibu, kau dan Adit. Kenapa kau tidak menghubungiku?" tanya Ardan, kini terdengar nada tidak suka.


"Ardan, aku tahu kau pasti bisa memenuhi semua kebutuhan keluargaku. Aku yakin itu. Tapi, biar bagaimana pun, kami bukan tanggung jawabmu." jelas Elif.


"Tapi kan kau bisa meminta bantuanku, aku bisa merekomandasikan perusahaan-perusahaan bagus untuk kau bisa bekerja dengan cepat tanpa harus mencari-cari. Kau tahu kan, sampai saat ini Kinan masih belum ditemukan, bagaimana kalau kau bertemu dengannya di jalan?"


"Ardan, aku ingin mendapatkan pekerjaan dengan jerih payahku sendiri, aku tidak ingin diterima kerja karena dianggap mempunyai hubungan denganmu. Lagi pula, pengawal yang kau pekerjakan sangat ketat sekali, dia sudah seperti bayanganku."


"Lalu bagaimana dengan kelanjutan kuliahmu di luar negri? Kau belum memberikan jawaban."


"Ah ya, aku juga ingin membahas soal itu." jawab Elif dengan sangat kalem. "Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menerimanya."


"Kenapa?" tanya Ardan. "Kenapa begitu sulit membuatmu bergantung padaku? Padahal aku memiliki segalanya, kau bisa memanfaatkan aku kalau perlu." Ardan berdecak.


"Apa kau mengenalku sebagai orang yang memanfaatkan kebaikan orang lain?"


"Tentu saja tidak." jawab Ardan lemah.


"Karena itu aku tidak bisa menerimanya. Ada beberapa alasan. Pertama, pendidikanku bukan tanggung jawabmu, kecuali jika kita sudah menikah. Kedua, aku tidak akan bisa jauh dari Ibu dan Adit, tidak bisa. Ketiga, aku juga tidak bisa jauh dari satu orang lagi."


"Siapa?" Ardan mengerutkan dahi.


"Ada deh." jawab Elif seraya berdiri kemudian hendak masuk, tentu saja Ardan yang super protective itu tidak akan melepaskan perempuannya yang mengatakan tidak bisa jauh dari satu orang lagi. Ardan menarik tangan Elif sampai Elif kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di pangkuan Ardan.


"Ih, apa yang kau lakukan, jangan sampai ada tetangga yang lihat, nanti berpikiran macam-macam."


"Biar saja! Biar kita bisa langsung diinikahkan pak RT."


"Ish, jangan aneh-aneh!" Elif berusaha untuk berdiri, namun tangan Ardan menahannya.


"Katakan dulu siapa dia? Siapa yang membuatmu tidak bisa jauh?"


"Memangnya kau mau apa?"


"Aku akan menghajarnya dan menyuruhnya untuk menjauh darimu!"


Elif mendengus. Kemudian berdecak, "Kenapa sih pria suka sekali kekerasan."


"Katakan saja siapa dia?" Ardan mulai tidak sabar. Wajahnya mulai memerah yang membuat Elif benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak, tapi ia menahannya, dan tetap bersikap sesantai mungkin.


"Baiklah, sebentar, lepaskan aku dulu, aku harus ambil sesuatu dulu di kamarku supaya kau tahu siapa dia."


Ardan melepaskan lingkaran tangannya pada pinggang dan perut Elif, dengan wajahnya yang gusar dan memberengut, ia membiarkan Elif masuk ke dalam rumahnya. Ardan mengusap wajahnya kasar, menghembuskan napas kesal. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di atas lantai teras yang kecil dan bersih.


Kemudian Elif kembali, ia membawa benda kecil di tangannya.


"Kau siap menghajar orang itu?"


"Tentu saja!"


"Baiklah." Benda kecil yang dibawanya diberikannya pada Ardan.


"Apa ini?" Ardan menerimanya.


"Buka kalau kau ingin tahu siapa orang itu."


Ardan membuka benda itu, yang ternyata ada cermin lipat, Ardan mengerutkan dahi tidak mengerti.


"Nah sekarang kau bisa menghajarnya." jawab Elif santai kemudian berbalik hendak masuk ke dalam rumah.


Ardan kembali menatap pantulan wajahnya pada cermin lipat itu, lalu menyadari apa yang dimaksud Elif.


"Sayang! Sayang! Apa orang itu aku?" tanya Ardan dengan senyuman lebar.


"Tergantung siapa yang kau lihat di cermin itu." jawab Elif acuh.


Ardan langsung meraih pinggang kecil Elif, menahan perempuan itu dengan tangan kekarnya hingga wajah mereka saling berhadapan meski tinggi Elif hanya sampai sebatas bahu Ardan.


"Kenapa tidak kau katakan sejak awal?" tanya Ardan, kini dengan suaranya yang lembut, dan terdengar seksi. Astagaa!


Tangan Elif bergerak menyentuh bulu-bulu halus yang membingkai rahang tegas pria tampan di hadapannya, sentuhan lembut itu kemudian menjadi cubitan geregetan pada pipi Ardan.


"Satu sama!" Elif melepaskan dirinya dari Ardan, menjulurkan lidahnya meledek kemudian tertawa senang.


Sungguh membuat Ardan terpesona dan tergoda untuk mencium bibir yang sedang mentertawainya itu, semakin Elif tertawa, semakin Ardan tidak bisa menahan dirinya dan akhirnya, tangan Ardan pun kembali bergerak, menarik pinggang Elif dan tawa Elif pun berhenti tepat saat bibirnya di tutup oleh bibir Ardan.


Bukan kecupan, Ardan menciumnya dengan sangat lembut dan seketika membuat lutut Elif begitu lemas, sensasi yang ia rasakan tidak bisa Elif jelaskan. Itu adalah ciuman pertamanya, meski Ardan bukan lah kekasih pertama Elif. Ia memejamkan mata, melingkarkan tangannya pada leher Ardan, lingkaran tangan Ardan pun semakin erat menahan tubuh Elif.


KRING! KRING! KRING!


"Somaaaay!" Suara penjual somai keliling dengan sepeda akhirnya menyadarkan dua insan yang sedang dimabuk asmara. Ciuman manis itu pun berakhir, Elif melepaskan diri dari Ardan.


"Somaaaay!" Penjual somai melewati rumah Elif. Ia terus berteriak menjajakan dagangannya sepanjang jalan sampai ia melewati rumah Elif.


Elif menunduk, ia malu. Pipinya pasti sudah merah karena saking malunya.


Dagunya kemudian diangkat oleh jari Ardan, benar saja pipi Elif sudah seperti menggunakan blush yang sangat menor. Ardan tersenyum, mengusap lembut pipi Elif. Ia menatap intens ke dalam mata perempuan yang sangat ia cintai itu, kemudian bertanya,


"Benimle evlenir misin?" (Will you marry me?)


"Evet." (Yes)