HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Ada apa dengan Elif....



Semua mata langsung tertuju pada Elif yang menggeliat pelan di atas ranjang. Hanna langsung menyuruh Ardan untuk berada di samping Elif lagi sebelum Elif membuka mata, tapi terlambat, sepasang mata sayu itu sudah terbuka, memicing sedikit karena sinar matahari pagi yang masuk melalui kaca jendela yang tirainya sudah di buka lebar oleh Zehra.


"Ardan? Kau sedang apa?" tanya Elif, sambil mengerutkan dahi melihat Ardan yang sebelah kakinya sudah naik ke atas ranjang. "Kau mau apa?" tanya Elif, kini pertanyaan yang penuh curiga.


Zehra dan Hanna seketika tertawa, lebih ke mentertawakan ekspresi bodoh Ardan saat dicurigai oleh wanita yang semalaman tidak ingin lepas dari dekapannya.


"Elif, jangan seperti itu. Apa kau tidak ingat bagaimana kemarin?" ujar Zehra.


"Kemarin? Ada apa dengan kemarin?"


"Ya ampun, aku rasa obat penenang yang diberikan Fadil sebelum aku datang memberikan efek samping yang membuatmu lupa sebagian hal penting." Ardan bukannya turun dari ranjang, malah mencari posisi yang nyaman untuk duduk bersandar.


"Obat penenang? Apa sih yang kau... astaga, tanganmu kenapa?" Elif meraih tangan Ardan dengan wajah yang sangat khawatir.


"Ya Tuhan, aku rasa kita perlu memanggil Fadil ke sini, Ma. Aku takut Elif sedikit amnesia."


"Jangan sembarangan! Aku tidak amnesia!" Tukas Elif.


"Lalu kenapa kau tidak ingat bagaimana kemarin kau sangat terpukul, sangat bersedih sampai menjerit-jerit dan hanya tenang saat aku memelukmu."


Elif tertawa aneh, "Jangan mengarang yang aneh-aneh, untuk apa aku bersedih sampai menjerit-jerit segala."


"Elif, baiklah, aku paham, kau pasti malu karena ada Bu Zehra dan Mamaku disini, tapi jangan khawatir, Mama bahkan sudah tahu apa yang telah terjadi."


"Benarkah? Tante tahu apa yang terjadi?"


Hanna mengangguk. "Aku sungguh menyayangkan dan menyesali perbuatan orang yang menjadi ayahmu itu." Hanna menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan.


"Maaf Tante," tiba-tiba suara Elif berubah, ada sedikit rasa tersinggung terdengar disana. "Ayah memang kasar, tapi aku yakin jauh di hatinya ia menyayangiku, karena bagaimana pun aku adalah darah dagingnya."


Jedger!


Jedger!


Jedger!


"Ya ampun, kenapa bisa ada petir sampai tiga kali padahal cerah seperti ini." ucap Elif yang kaget karena suara petir yang tiba-tiba saling menyambar.


"Elif... apa kau ingat kenapa kau bisa dibawa ke rumah sakit ini?" tanya Zehra, kekhawatiran telah merayap naik pada hatinya.


"Ya, Ayah marah padaku, tapi aku lupa karena apa. Lalu kami cukup bertengkar hebat, karena Ibu tidak ada dirumah. lalu sepertinya aku memecahkan vas bunga yang ada di atas meja, dan pecahannya melukai kakiku. Jadi, pasti karena luka ini aku dibawa ke rumah sakit." jawab Elif dengan tenang tanpa sedikit pun terlihat ketakutan atau bersedih atau tertekan.


Hanna membuka mulutnya namun tak mampu untuk berkata-kata. Begitu pun dengan Zehra. Elif terlihat baik-baik saja padahal kemarin ia begitu kacau, hancur.


"Bu Zehra, sebaiknya kita tanya ini ke Fadil." bisik Hanna pada Zehra.


Zehra mengangguk. Masih tidak mampu mengeluarkan suara.


"Eee... Ardan, sepertinya Mama dan Bu Zehra mau cari sarapan di kantin." kata Hanna pada Ardan sambil memberikan kode dengan mengusap cuping hidungnya. Kode yang hanya Ardan yang tahu sejak dulu, itu adalah kode dimana Mamanya sedang berbohong.


"Oke Ma." jawab Ardan.


"Eh, Elif apa kau mau sesuatu dari kantin?" Hanna menawari Elif agar terlihat natural.


"Tidak Tante, terima kasih, nanti juga aku dapat sarapan dari rumah sakit."


"Baiklah kalau begitu, kami ke kantin dulu ya, bye."


Hanna menarik Zehra yang masih shock dengan apa yang terjadi pada putrinya, keluar dari ruang VVIP itu, meninggalkan Elif bersama Ardan.


"Cepat turun, kenapa kau malah santai di atas kasurku." Elif mendorong tubuh Ardan, dan Ardan tidak menolak. Ia turun dengan santai. Ekspresi wajahnya pun juga ia kondisikan untuk terlihat tenang. "Kenapa kau bisa-bisa naik ke atas kasurku. Apa kau tidak malu dengan Ibu dan Mama? Apa Mama dan Paap mu tahu kita sudah putus?"


"Tahu, dan Mama langsung memukuliku karena membiarkamu pergi dariku. Karena itu, aku tidur di ranjangmu, karena aku rindu. Apa kau tidak merindukanku selama kita putus?"


"Geezzz." Elif mendesis. "Jangan aneh-aneh, kalau Ayahku tahu, ia bisa marah-marah lagi. Apa tidak kapok melihat Ayahku marah-marah di kantor?"


Ardan tersenyum masam. Ia memilih duduk di sofa tanpa melepaskan pandangannya dari Elif. Sinar matahari yang masuk membuat punggung Ardan terasa hangat, tapi tidak dengan hatinya yang diliputi kecemasan dengan apa yang terjadi pada Elif.


"Aku serius bertanya padamu, apa yang terjadi dengan tanganmu?" tanya Elif.


"Tidak apa-apa, hanya terluka sedikit."


"Sedikit? Tapi kau sampai diinfus dan diperban dan dirawat inap juga?" Elif menunjuk piyama rumah sakit yang dikenakan Ardan juga.


"Oh, ini untuk membuatmu terkesan." jawab Ardan sambil memamerkan cengiran lebar.


"Apanya yang membuatku terkesan? Dasar!" Omel Elif.


"Elif,"


"Apa?"


"Apa kau yakin tidak ingat kenapa kau dan Ayahmu bertengkar?"


"Sudah aku katakan tadi, aku tidak ingat. Kami sering bertengkar walaupun hanya hal sepele."


"Tapi apa pernah kau memecahkan vas bunga sebelumnya? Karena pertengkaran kalian membuatmu sampai memecahkan vas bunga."


Elif terdiam. Ia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi, apa yang memicu pertengkaran dirinya dengan ayahnya sampai membuatnya harus memecahkan vas bunga.


"Aku tidak ingat." hanya itu yang kemudian keluar dari mulut Elif.


"Baiklah, tidak apa-apa kalau kau tidak ingat."


Oh Elifku... ada apa denganmu?


***


Zehra menceritakan apa yang tengah terjadi pada putrinya, Hanna pun turut membenarkan semua yang dikatakan Zehra.


"Apakah itu normal, Fadil?" Tanya Hanna.


"Itu bisa saja terjadi pada seseorang yang telah mengalami suatu peristiwa yang sulit untuk diterimanya. Bisa jadi, saat sebuah peristiwa tersebut terjadi, mental pasien tidak sanggup untuk menerimanya sehingga menimbulkan sebuah trauma yang bisa jadi menyebabkan frustasi, depresi hingga lupa ingatan." Fadil menjelaskan. "Dalam kasus Elif ini, ia mengingat semua hal, tapi ia melupakan sebuah peristiwa besar yang mana peristiwa tersebutlah yang bisa menjadi pemicu terjadinya amnesia disosiatif."


"Amnesia disosiatif. Itu adalah amnesia dimana seseorang tidak bisa mengingat ingatan paling baru setelah mengalami sebuah peristiwa tertentu atau pristiwa traumatis."


"Apakah bisa disembuhkan, Dok?" tanya Zehra.


"Dalam beberapa kasus, bisa disembuhkan dengan beberapa terapi. Tapi semua tergantung kembali pada mental pasien."


Mencelos hati Zehra, tidak pernah terbayangkan olehnya, Elif yang selama ini selalu terlihat tegar, kini harus kehilangan sebagian ingatannya karena kelakuan suaminya.


Maafkan Ibu... Nak... maafkan Ibu...


Sementara itu di kamar VVIP, Elif dan Ardan menyantap sarapan mereka dari menu rumah sakit yang tidak jauh-jauh menunya dari nasi agak lembek, sayur, dan buah.


Tok! Tok!


"Masuk!" Ardan menjawab.


Teddy membuka pintu, ia membungkuk sebentar sebelum melangkahkan kakinya, ia membawa sebuah dokumen yang langsung diberikan pada Ardan. Kemudian beralih pada Elif.


"Selamat pagi, Nona Elif."


"Pagi. Kenapa Pak Teddy masih memanggilku Nona sih? Aku dan Ardan tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi panggil aku nama saja."


Teddy melirik Ardan sebentar, "Baik, Nona Elif."


"Tuh kan! Elif saja! Tidak usah pakai Nona."


"Baik, akan saya usahakan." Kemudian ia kembali pada Ardan karena sepertinya mood Nona Elif sedang tidak baik.


"Apakah Nona baik-baik saja, Pak?" Teddy bertanya dengan berbisik.


"Tidak. Dia sedang tidak baik, Ted." jawab Ardan, juga dengan berbisik.


"Lalu bagaimana dengan dokumen pendidikan Nona?"


"Tolong kau tahan dulu, Elif sedang berada pada titik yang tidak stabil sepertinya."


"Apa yang terjadi, Pak?"


"Entahlah, tapi aku rasa kejadian itu membuatnya trauma hingga kini ia mengalami amnesia, tapi hanya pada peristiwa itu saja. Dari tadi aku bertanya-tanya padanya, ia ingat semua, hanya pada peristiwa Yanuar dan dirinya saja ia tidak ingat sama sekali."


Teddy mengangguk. "Mungkin Nona Elif mengalami amnesia disosiatif, Pak."


"Apa itu?" Ardan mengerutkan dahi.


"Semacam lupa ingtan yang dikarenakan kejadian yang membuat trauma. Rasa trauma tersebutlah yang memicu hilangnya ingatan tersebut."


"Apakah bisa diobati?"


"Ada beberapa usaha yang bisa diterapkan dengan terapi. Walaupun tidak menjamin, karena semua kembali pada pasien itu sendiri."


Ardan mendesah pasrah. Ia mengusap wajahnya.


"Dokumen apa ini?" tanya Ardan, kini dengan suara yang normal.


Namun Teddy menjawabnya dengan tetap berbisik. "Dokumen yang dibutuhkan untuk gugatan cerai Nyonya Zehra."


Ardan sontak melihat Elif yang masih tenang, makan sambil menonton tanyangan televisi.


"Jangan sampai Elif tahu dulu tentang ini."


"Baik Pak." Teddy kembali berdiri. "Kalau begitu, saya pamit untuk ke kantor, Pak, jika tidak ada yang diperlukan lagi."


"Ya, baiklah. Tolong handle pekerjaan dulu, ya Ted."


"Baik, Pak."


"Oh, satu lagi, kau cukup membuatku terkesan, ingatkan aku untuk menaikkan gajimu 20%."


"Baik, Pak. Terima kasih banyak."


"Apa kau tidak ingin bertanya apa alasanku terkesan sampai menaikkan gajimu?"


"Maaf, Pak, kalau boleh saya tahu, apa alasan Anda terkesan pada saya hingga menaikkan gaji saya?"


"Kau bukan hanya bisa diandalkan, tapi juga banyak tahu, salah satunya adalah tentang amnesia yang mungkin dialaminya sekarang." Ardan melihat Elif. "Karena itu, aku rasa pengetahuan yang kau punya patut untuk diapresiasi."


"Ehh... terima kasih, Pak." jawab Teddy.


"Belajar dari mana kau tentang ilmu kedokteran itu?"


"Saya tidak belajar, Pak."


"Oh ya? Lalu, kau tahu dari mana ada amnesia yang bernama amnesia disosiatif. Aku saja hanya sebatas tahu kalau amnesia itu lupa ingatan. Tidak tahu kalau ada macam-macamnya."


"Jadi, tadi sebelum sampai ke ruang VVIP ini, saya bertemu dengan dokter Fadil, beliau menceritakan apa yang baru saja Nyonya Zehra dan Nyona Hanna bicarakan dengannya, dan dokter Fadil yang memberitahu saya kalau kemungkinan..." Teddy sedikit membungkuk untuk mengecilkan volume suaranya. "Nona Elif mengalami amnesia disosiatif." kemudian ia kembali menegakkan tubuhnya.


"Hahaha!" Ardan tertawa sarkas. "Kau tahu, terkadang kau membuatku jengkel."


"Maaf Pak. Apa nanti Anda tetap memerlukan saya untuk mengingatkan Anda tentang kenaikan gaji saya, Pak?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo semua, apa kabar? Semoga selalu sehat!


Btw, tentang amnesia disosiatif yang aku tulis itu, based on artikel-artikel yang aku baca di internet ya. Dan sedikit, sedikittt sekali aku tambahkan detil kalau penderita bisa sembuh dengan beberapa terapi tapi tergantung mental si penderita itu. Jujur, ini aku tambahkan untuk kepentingan cerita fiksi ini. Kalau ternyata kenyataannya mental tidak mempengaruhi kesembuhan dari si penderita, ya mohon dimaafkan ya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Kalau teman-teman ada yang ingin cari tahu lagi tentang apa sih itu amnesia disosiatif, bisa tanya langsung ke dokter Fadil hehehe, canda ya.. ✌🏻 Bisa tanya langsung ke dokter atau baca artikel-artikel tentang macam-macam Amnesia, jadi bisa menambah pengetahuan juga 😊


Happy reading, jangan lupa untuk dukung author ya, like, vote, tambah ke paporit juga boleeeh 💙💙


Thank you All.