
Elif memberengut dengan dress berbahan brukat sepanjang lutut berwarna peach yang manis melekat sempurna pada tubuhnya. Tak lupa sebagai pelengkap Teddy juga membelikan sepasang sepatu high heels yang dihiasi payet dengan tinggi heels hanya 7 cm.
"Kenapa bersungut seperti itu? Kau terlihat sangat cantik, sudah kuduga Teddy akan sangat pintar mencarikanmu pakaian." kata Ardan yang menggeleng kagum dan terpesona melihat penampilan Elif. Sebenarnya gaun yang dibelikan Teddy termasuk gaun yang sederhana, begitu pun dengan sepatunya. Dibandingkan dengan apa yang sering dipakai Marsha. Mungkin gaun dan sepatu itu hanya akan dipakai Marsha ke minimarket.
"Ini mewah sekali, aku seperti mau pergi kondangan."
Ardan dan Teddy saling berpandangan, di mata dua pria itu Elif terlihat sangat berpenampilan sederhana, sama sekali tidak seperti hendak kondangan.
"Elif, kau terlihat sangat cantik, manis dan tetap terlihat sederhana. Sama sekali tidak berlebihan."
"Mungkin di matamu, tapi tidak dengan keluargaku. Ayah dan Ibu tahunya aku baru saja pulang dinas kerja. Bukan pesta."
"Begini saja, biar nanti aku yang jawab kalau ayah dan ibumu bertanya tanya. Bagaimana? Kau tidak perlu menjawab apa-apa."
Elif mendengus. "Baiklah."
Kemudian Elif mengambil tasnya, ia mengeluarkan cermin kecil, lalu mencari lip cream kemudian menyapukan kuas lip cream itu pada bibir mungilnya, warna nude seketika menutup warna pucat bibir Elif.
"Pak," Bisik Teddy. "Liur Anda menetes."
Ardan terkesiap dan refleks menyentuhkan tangannya pada bibirnya sendiri. Lalu melempari Teddy dengan tatap setajam golok.
Teddy membungkuk sebentar kemudian keluar dari kamar itu, membiarkan bosnya terpesona dengan penampilan sederhana wanita yang sangat keras kepala dan cuek seperti Elif.
Jauh-jauh sekolah keluar negeri, mengurus bisnis diberbagai negara, digandrungi banyak wanita-wanita cantik yang anggun dan seksi, pada akhirnya hanya kesederhanaan yang tampil apa adanya yang membuatmu melabuhkan hatimu, Boss! Proud of you, Sir! Batin Teddy dengan rasa bangga telah menjadi asisten Ardan.
***
Mobil sedan mewah itu berhenti di depan rumah Elif, Yanuar, Zehra dan Adit sudah berada di depan teras saat Elif mengatakan dirinya akan sampai beberapa menit lagi. Keluarganya tersenyum lebar menanti kedatangannya, seolah Elif baru saja datang setelah menghadiri ajang penghargaan bergengsi di luar negeri. Tidak pernah Elif melihat ayahnya tersenyum dan menunggunya pulang.
"Ayah sudah terlihat sehat." ujarnya saat masih di dalam mobil dengan senyuman sendu menghiasi wajahnya.
"Kau siap? Kita akan memberitahukan semuanya pada keluargamu."
Elif menghela napas panjang. Ia tidak siap, kalau boleh jujur. Ia akan kehilangan lagi semua senyum dari Ayahnya yang selama ini ia impikan. Tapi, dia juga tidak bisa menjalani sebuah hubungan sandiwara bersama Ardan. Itu akan lebih menyakitkan nantinya.
"Ayo kita turun." ujar Elif akhirnya.
Elif turun setelah Teddy lebih dulu membukakan pintu untuknya, tidak ada protes karena terlalu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi nanti setelah ia memberitahukan kebenaran dari hubungan dirinya dan Ardan.
Ardan berjalan tepat disisi Elif untuk masuk ke dalam rumah.
"Elif!" Yanuar merentangkan tangannya, menyambut Elif dengan pelukan yang hangat, setelah itu, pria itu pun juga memeluk Ardan.
"Kalian pasti sangat lelah, ayo kita masuk, Ibu sudah siapkan makan siang." kata Ibu sambil merangkul Elif setelah memeluknya dan menghujaninya kecupan.
"Ibu dan Ayah masak makan siang sudah seperti akan hajatan, banyak sekali, Kak!" Sahut Adit.
"Tentu saja!" kata Yanuar terkekeh. "Kita akan kedatangan banyak tamu hari ini."
"Tamu, Yah?" Elif bertanya.
"Iya, Ayah mengundang Om Syarif, Tante Lusi, Om Hendra, Tante Ana, Om Rizal, Tante Yanti dan semua sepupumu, oh dan Mona juga Yura. Mungkin sebentar lagi mereka sampai."
"Ehhh, tidak apa-apa, Ayah sudah sangat sehat. Ini juga berkat Nak Ardan." Yanuar kembali terkekeh.
Ardan hanya tersenyum.
"Tapi untuk apa mengundang semua om, tante dan sepupu? Kita ada acara apa?" Elif berusaha untuk terdengar normal-normal saja.
"Ayahmu bersih keras ingin segera mengenalkan Ardan pada keluarga, tadinya malah ingin mengundang keluarga ibu juga, tapi ibu rasa tidak perlu, karena kan keluarga Ibu semuanya ada di Surabaya. Jadi keluarga ayah saja yang datang." Ibu menjelaskan. Penjelasan yang membuat nyali Elif seketika menciut. Bagaimana mungkin dia memberitahukan sandiwara ini pada orang tuanya dengan semua keluarga, apa lagi keluarga Ayah, ada di rumah?
"Elif!" Suara Yura pun terdengar, dengan tubuhnya yang sedikit berisi dibandingkan Elif dan Mona, Yura berlari kecil menuju Elif dan yang lain masih di teras. Sementara Mona hanya berjalan namun dengan senyuman seluas samudra. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengunci tatapannya pada Yura. Pada wajah periang bundar yang tiba-tiba membuatnya hilang fokus.
"Yura! Mona!" Mereka bertiga pun berpelukan melepaskan kerinduan ala cewek-cewek. Sampai membuat Ardan sedikit khawatir perut Elif sakit karena mereka bukan hanya sekedar berpelukan, tapi ada aksi loncat-loncat nya juga.
"Ih, manis banget sih sekarang penampilanmu." Puji Yura melihat penampilan Elif.
Elif hanya tertawa.
"Ayo, ayo semuanya masuk. Kita makan siang sama-sama. Ehm, Nak Ardan, Pak Teddy juga disuruh masuk ya, jangan di mobil saja."
"Baik." Ardan mengeluarkan handphonenya dan menyuruh Teddy untuk masuk juga ke dalam rumah.
***
Semua orang terlihat begitu bersuka cita, Yura dan Mona pun ikut senang melihat bagaimana ayah Elif tidak lagi menjadi ayah yang galak, ia bahkan sangat ramah dan hangat. Benar-benar berbeda dengan ayah Elif yang selama ini Yura dan Mona kenal. Ibu dan Adit pun begitu terlihat bahagia. Ini bisa jadi adalah momen dimana mereka sudah impikan sejak lama. Kebersamaan yang hangat dan penuh cinta.
Ardan dapat melihat dilema di mata Elif, meski bibirnya menunjukkan senyuman dan tawa, namun sorot matanya tidak bisa berbohong. Ada kekhawatiran dan dilema yang sangat besar pada dirinya.
Obrolan-obrolan santai mengisi waktu makan siang mereka. Tentang Adit yang mulai jerawatan karena mulai naksir anak gadis tetangga. Mona yang mencoba makeup soft natural tidak lagi emo. Yura yang sedang mencoba senam zumba untuk menurunkan berat badannya dan lain-lainnya yang begitu menyenangkan. Hanya Teddy tentu saja yang tidak berkomentar apa pun, ia hanya diam saja sambil memperhatikan Yura.
Setelah makan siang selesai, mereka semua berkumpul di ruang keluarga, kecuali ibu dan Elif yang berada di dapur menyiapkan buah-buahan sebagai pencuci mulut mereka.
"Kapan keluarganya Ayah datang, Bu?" tanya Elif sambil menyusun potongan buah di atas piring.
"Mungkin nanti sore. Kenapa Nak?"
"Tidak apa-apa."
Zehra mengerti apa yang dirasakan Elif setiap kali keluarga suaminya itu datang berkunjung, mereka selalu saja membanding-bandingkan Elif dengan anak-anak mereka. Sebenarnya Zehra juga tidak syka, tapi Yanuar selalu saja memihak pada keluarganya sehingga Elif memilih untuk diam saja dan meminta Ibunya juga untuk tidak perlu membela dirinya karena tidak mau memancing keributan apa lagi kemarahan ayahnya.
"Mereka pasti sekarang tidak akan lagi membanding-bandingkanmu dengan anak-anak mereka yang bahkan belum ada yang bekerja. Bahkan Galih yang paling sering dibandingkan denganmu sampai sekarang belum juga bekerja, kau tahu, anak pemalas itu bahkan sama sekali tidak berniat mencari pekerjaan." ucap Zehra dengan sedikit intonasi yang terdengar kesal. Namun dengan volume suara yang pelan.
"Setidaknya dia lulus kuliah." Ucap Elif tersenyum kecut.
"Lulus atau tidak lulus bukan menjamin seseorang itu sukses atau tidak, Sayang. Lagi pula Ibu yakin, Nak Ardan pasti akan mengijinkanmu melanjutkan kuliah lagi kalau kau mau."
Elif tersenyum semakin kecut.
"Setelah kalian menikah nanti, Nak Ardan tidak mungkin membiarkan mu bekerja sebagai sekertarisnya lagi, bukan? Dia pasti akan mendukung semua impianmu yang tertunda selama ini." kata Ibu dengan sangat terharu. Matanya sampai berkaca-kaca. "Ibu benar-benar bersyukur Tuhan mempertemukan kalian. Doa Ibu akhirnya didengar dan terkabul."
*Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana mungkin aku menghancurkan kebahagiaan yang dirasakan keluargaku. Tapi, apakah Ardan benar-benar sudah jujur padaku? Apakah dia tidak sedang berpura-pura? Apakah aku bisa mempercayai ucapan dan sikapnya sekarang ini?
Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan*?