
Ardan membuka matanya, samar-samar ia melihat apa yang ada di depan matanya. Langit-langit putih dengan lampu bohlam panjang, dinding berwarna krem dan coklat muda dengan lis ornamen daun-daunan. Matanya menyapu sekitar. Ia tidak berada di apartemennya!
Seketika tubuhnya merespon untuk bergerak duduk, tapi kepalanya sangat pusing sampai membuatnya tidak sanggup untuk menegakkan tubuhnya.
"Akkh!" Ia merasakan nyeri pada tangannya kanannya yang diperban, dan ternyata tangan kirinya terdapat infus. Sejak kapan dia berada di rumah sakit? Bagaimana bisa? Bukan kah terakhir ia berada di apartemen, bersama Teddy, Fadil dan...
"Elif!"
"Jangan banyak bergerak!" Suara galak menggema di dalam ruang perawatan yang besar itu. Nyonya Hanna mendekat, seperti biasa, dalam segala situasi dan kondisi, ia selalu terlihat modis, meski saat ini ia tidak menyapukan warna merah merona pada bibirnya namun tidak menutupi style dan gaya elegannya. "Kau belum pulih betul, mau kemana?" tanya Hanna galak.
"Mama? Kenapa Mama-"
"Kenapa Mama ada disini?" Hanna meneruskan. "Ck, padahal dulu, kalau sakit yang kau cari adalah Mama, minta dipeluk, minta dicium, sekarang malah bertanya kenapa Mama ada disini." Omel Hanna.
"Bukan begitu maksudku, Ma."
"Kalau saja pihak rumah sakit tidak mengabari Mama kalau Fadil meminta stok darah dan segala keperluan transfusi darah diantarkan ke apartemenmu, Mama tidak akan tahu apa yang telah terjadi pada anak Mama dan calon mantu Mama!" Hanna memukul kaki Ardan gemas. "Dasar anak nakal!"
"Maaf, Ma, aku tidak mau buat Mama dan Papa khawatir."
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kau dan Elif sama-sama terluka. Apa kalian habis bertengkar lagi pakai benda tajam?"
"Tidak Ma, aku dan Elif tidak bertengkar lagi."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Panjang, Ma, ceritanya."
"Ah, kau ini. Kemarin saat hubungan kalian berakhir, kau bilang ceritanya juga panjang. Sekarang juga panjang. Sebenarnya kau mau ceritakan ke Mama atau tidak?"
"Tidak." jawab Ardan tanpa pikir lagi.
"Dasar anak nakal! Awas saja kau kalau sampai Elif pergi lagi!" Hanna menarik telinga Ardan seperti anak kecil yang ketahuan bolos sekolah.
"Awww... iya iya, Ma, kali ini aku tidak akan melepaskan Elif, sampai ke ujung dunia pun akan aku kejar!"
"Tidak usah lebay dengan kata-kata, buktikan saja dengan perbuatanmu." Tukas Hanna.
"Iya Ma." sahut Ardan. "Apa Elif masih di apartemenku, Ma?"
"Tidak, lah! Kondisinya juga lemah, harus di rawat di rumah sakit! Dia ada di kamar sebelah."
"Sendirian?" Ardan langsung panik.
"Tentu saja tidak. Ada ibu dan adiknya."
"Jadi Mama sudah bertemu dengan Ibu Zehra?"
"Iya, akhirnya Mama bisa bertemu dengan keluarga Elif, menunggu kau mempertemukan Mama dengan keluarga Elif sungguh lama sekali. Bukannya bertemu malah putus kemarin. Hih!" Sarkas Hanna yang dibalas dengan seringaian pasrah meminta pengertian.
"Lalu bagaimana keadaan Elif sekarang, Ma?"
"Tadi terakhir Mama tengok, Elif masih tidur. Fadil memberinya obat penenang." Kalimat terakhir diucapkan dengan penuh penekanan dan tatapan tajam dari balik bulu mata extension yang sangat lentik.
"Obat penenang?" Wajah Ardan kembali cemas.
"Iya, karena dia tidak hentinya menangis dan menyesali sesuatu. Dia bahkan sempat mengatakan tidak ada gunanya dia hidup."
"Elif berkata seperti itu, Ma?"
"Iya! Kau apa kan anak orang sih? Kenapa bisa Elif sampai sesedih itu?!" Omel Hanna sambil memukuli kaki Ardan.
"Ma, aku sedang sakit."
"Biar saja!"
"Baiklah, baiklah, Ma, aku akan jelaskan, tapi janji Mama tidak akan menyuruhku meninggalkan Elif?"
"Kenapa memangnya? Apa dia sama seperti Marsha? Penghisap darah?" tanya Nyonya Hanna, seraya duduk pada kursi yang ada di sebelah ranjang.
"Tidak Ma. Mama bisa lihat sendiri bagaimana Ibu Zehra dan Elif. Apa mereka sama seperti Marsha?"
Ardan tersenyum melihat Mama nya yang mengibaskan helaian rambutnya yang berwarna brunette.
"Jadi, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Hanna. "Jangan katakan "ceritanya panjang, Ma."" Hanna menirukan suara Ardan yang membuat anak satu-satunya itu terkekeh.
"Baiklah. Jadi, saat aku dan Elif sempat putus karena Elif mengetahui bahwa ternyata ayahnya adalah salah satu orang yang aku PHK dari salah satu perusahaan yang aku akuisisi." Ardan baru memulai ceritanya namun langsung membuat Nyonya besar itu melotot galak.
"Apa kau bilang? Astaga! Benar-benar deh kau ini! Kalau Mama jadi Elif, Mama juga akan melakukan hal yang sama! Apa kau tahu kalau yang kau PHK itu adalah ayahnya Elif?"
"Tentu saja tidak, Ma. Ya ampun, aku tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu. Tapi, kalau pun aku tahu, sepertinya aku akan tetap memutuskan hubungan kerjanya."
"Kenapa begitu?"
"Ya, untuk apa mempertahankan orang yang merugikan perusahaan."
"Ck, dasar kau ini. Lalu, bagaimana bisa kalian bersama lagi dalam keadaan luka-luka begitu?"
"Jadi, selama tiga hari setelah putusnya hubungan kami, ayahnya Elif berencana untuk menjodohkan Elif dengan pria seumurannya."
"Astaga? Benarkah?" Hanna melebarkan matanya karena tidak percaya dengan hal itu.
Ardan mengangguk. Kemudian melanjutkan, "Untungnya adiknya Elif mendengar percakapan ayahnya dan melaporkannya pada Ibu Zehra, dan Ibu Zehra pun meminta tolong padaku dengan datang langsung ke kantor. Sayangnya, saat rumah tidak ada Ibu Zehra dan adiknya Elif, ayah Elif malah berniat... hhhh." Ardan menghela napas, tidak sanggup untuk melanjutkan ceritanya. Hatinya masih panas mengingat kejadian itu.
"Berniat apa?" Tanya Hanna. "Kenapa setengah-setengah bercerita? Tidak baik begitu, bisa menimbulkan asumsi yang salah."
"Sabar, Ma, sabar, aku masih emosi kalau mengingatnya." Ujar Ardan, sambil mengusap wajahnya. "Ayahnya Elif malah mau melecehkan Elif setelah itu ternyata dia bukan hanya sekedar menjodohkan Elif pada pria tua bangka, tapi menjualnya."
Hanna melebarkan mata, membuka mulut menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia sampai tidak tahu harus berkomentar apa. Mulutnya bahkan sampai lupa untuk tertutup lagi saking kagetnya.
"Hati-hati ada nyamuk masuk mulut, Mama."
"K-kau pasti hanya mengarang, kan? Mana ada orang tua yang tega seperti itu? Pada darah dagingnya sendiri? Itu sangat tidak... ya ampun... Mama bahkan sampai tidak bisa menemukan kata yang pas... astaga!"
"Dan plot twist nya adalah, ternyata selama ini sosok ayah yang Elif kenal sebagai ayahnya adalah bukan ayahnya. Pria itu adalah ayah tiri Elif. Jangan tanya dimana ayah kandung Elif, karena aku tidak tahu, bahkan Ibu Zehra sendiri tidak tahu. Jangan tanya juga bagaimana semua itu bisa terjadi, karena bukan hak aku menceritakan masa lalu Ibu Zehra."
"Ya Tuhan... Ya Tuhan... Mama pikir cerita hidup semacam ini hanya ada di dunia fiksi. Ya Tuhan..." Hanna sampai berjalan mondar-mandir di dalam ruang VVIP itu saking tidak bisa menerima kenyataan yang menimpa hidup Elif.
"Dengar, Mama tidak akan meminta kau untuk menceritakan tentang masa lalu Ibu Zehra, Mama juga tidak akan bertanya padanya. Itu tidak sopan, tentu saja! Tapi, astaga, meskipun Elif bukan anaknya, bukan kah mereka telah menjadi keluarga? Itu artinya Elif tetap anaknya! Apa yang dilakukan ayahnya eh, ayah tirinya itu benar-benar... ugh... Mama ingin memakinya saja!"
"Maki saja, Ma, tidak apa-apa."
"Benar-benar berengs*ek! Bajing*n!"
Melihat Mamanya yang emosi malah membuat Ardan tertawa geli.
"Kenapa kau malah tertawa?" Hanna bertanya ditengah-tengah emosinya.
"Karena sudah sangat lamaaa sekali tidak melihat Mama memaki seseorang." Tawa Ardan. "Bagaimana rasanya, Ma?"
"Hmmm... good." Hanna kembali mendesah resah. "Lalu bagaimana Elif bisa kabur dari orang sakit jiwa itu?"
"Elif menghajarnya dengan vas bunga lalu kabur ke apartemenku. Kami sempat kehilangan dirinya karena tidak bisa menemukannya dimana pun. Aku juga tidak mengerti bagaimana Elif bisa sampai di apartemenku dengan keadaan kaki luka seperti itu dan tanpa membawa uang sepersen pun. Aku belum sempat bertanya-tanya."
"Ya... ya... Mama mengerti." Hanna kembali duduk, mengecek sebentar tampilan rambutnya pada layar handphonenya walaupun wajahnya terlihat sedih. "Malang sekali nasib calon mantuku."
"Eh... jadi Mama tidak keberatan dengan latar belakang Elif untuk tetap menjadi calo menantu masa depan Mama? Ibu dari calon-calon penerus Demir?"
"Tentu saja tidak. Memangnya kenapa? Bukan salah Elif berada dalam situasi seperti ini. Selama kau mencintainya dan dia mencintaimu bukan hartamu, Mama akan mencintainya juga."
"Ah Mama... you are the best!" Ardan sangat terharu sampai mengangkat kedua ibu jari tangannya.
"Dasar anak nakal, apa setelah selama ini kau baru menyadari Mama adalah yang terbaik?" tanya Nyonya Hanna, dengan sebelah alis terangkat.
Ardan pun malah tertawa bahagia. Tidak semua orang mempunyai kehidupan seberuntung dirinya. Sudah sepantasnya Ardan bahagia dan bersyukur.
"Pastikan siapa pun yang menyakiti Elif dihukum seberat-beratnya."
"Pasti, Ma."
"Termasuk dirimu! Kalau kau berani menyakiti calon mantuku, kau akan berhadapan denganku!"