HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Kebimbangan Elif yang datang dan pergi.



"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Sonya.


"Yah beginilah." Elif menggedikkan bahu. "Perutku masih nyeri dan sakit kalau terlalu banyak gerak." kata Elif.


"Ah tapi aku yakin Pak Ardan benar-benar akan menjagamu, dia pasti tidak akan membiarkanmu turun dari ranjang ini sendiri, bukan?" goda Sonya membuat Elif tertawa gugup sambil melirik Gavin.


"Apa yang terjadi sebenarnya, Elif? Kenapa mereka sampai bisa melakukan itu padamu?" tanya Gavin pada akhirnya.


Elif mendesah sebentar. "Ini lebih karena aku saja yang cari gara-gara dengan biang gosip itu."


"Kau cari gara-gara atau mereka yang lebih dulu memancing emosi?" tanya Sonya. "Aku tahu betul bagaimana kelakukan tiga tukang gosip itu."


"Jadi saat kejadian di ruang meeting saat Pak Ardan memberikan waktu pada Kak Gavin, ternyata hal itu membuat mereka bertiga membuat kesimpulan sendiri tentang diriku. Yah yang pasti kesimpulan yang benar-benar membuat aku merasa tidak bisa lagi berada di kantor itu meski pun Pak Ardan dan Kak Gavin tentu tidak akan tinggal diam jika mendengarnya. Lalu kemarin itu saat aku mencuci tangan di kamar mandi mereka datang lagi, mereka seperti, apa ya... munafik kalau aku bisa bilang. Hanya karena pagi itu Pak Ardan sangat good mood dengan mentraktir semua orang, mereka langsung memuji-muji diriku."


"Huh, dasar penjilat munafik! Rasanya ingin sekalu aku pites mereka." Sonya mengepalkan tangannya sendiri.


"Sama, saat itu pun aku tidak bisa menahan emosi, karena memang mood ku sedang tidak bagus, jadi aku mengancam mereka akan mengadukan apa yang mereka gosipkan tentang aku pada Pak Ardan, dan aku bilang akan meminta Pak Ardan untuk memasukkan mereka dalam daftar hitam dunia kerja dimana pun. Yah, mungkin keterlaluan sih."


"Apanya yang keterlaluan?! Memang seharusnya langsung kau adukan saja sejak awal. Ih, aku jadi geregetan!"


"Sabar Sonya, sabar." ujar Gavin.


"Lalu mereka minta maaf, tapi aku tidak memaafkan, sampai Kinan mulai beraksi. Dia menghadangku saat aku mau keluar kamar mandi. Kami cukup adu argumen, lalu dia mulai menjambakku, tapi aku tidak menyerah. Aku tetap melawannya. Tapi rupanya itu tidak membuatnya takut, malah menjadi gelap mata. Yang aku ingat sebelum aku tidak sadar adalah, dia melemparku dan menendang perutku berkali-kali. Aku masih dengar Ayu dan Nanda memintanya berhenti, tapi Kinan tidak perduli. Dan setelah itu aku tidak tahu lagi."


"Aahhh...." Sonya kembali memeluk Elif. Wanita itu malah menangis.


"Lho kenapa Mbak Sonya malah menangis?"


"Aku merasa bersalah karena tidak langsung mencarimu saat kau tidak juga kembali ke meja. Setelah satu jam malah aku baru memberitahu Pak Ardan kalau kau menulis surat mengundurkan diri."


"Kau mau mengundurkan diri?" Gavin terlihat heran.


"Iya, karena... ehm, karena aku rasa aku tidak sanggup menerima semua gosip itu."


"Ya, padahal sudah saya bilang, Pak. Dia mempunyai Pak Ardan, seharusnya Elif tidak perlu khawatir dengan gosip-gosip itu. Iya kan Pak?"


"Sonya benar. Seharusnya malah mereka yang mengundurkan diri, bukan kau."


Elif tersenyum kecut. Ia bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan pada Sonya dan Gavin kalau dirinya dan Ardan tidak ada hubungan apa pun. Huft!


"Kau tahu, jika saja Pak Ardan tidak tahu, aargh! Aku tidak tahu bagaimana keadaan mu."


"Bagaimana akhirnya Ardan bisa tahu?" tanya Gavin.


Benar juga, Elif juga cukup penasaran bagaimana Ardan bisa tahu dan membawanya ke rumah sakit ini.


"Pak Ardan langsung menyuruh Pak Teddy untuk mengecek semua CCTV, lalu Pak Teddy tak lama datang membawa hasil rekaman CCTV. Tentu saja Pak Ardan langsung murka dong, lalu tiba-tiba Ayu dan Nanda datang, mereka memberikan rekaman sembunyi-sembunyi saat Kinan sedang menendangmu dan melucuti pakaianmu."


"Tunggu, melucuti pakaianku?" Elif bertanya tidak mengerti.


Begitu pun dengan Gavin.


"Tunggu sebentar, jadi Pak Ardan tidak cerita bagaimana dia menemukan keadaanmu saat itu?" Sonya bertanya balik.


Elif menggeleng.


Lalu Sonya mengeluarkan handphonenya, dan membuka galerinya untuk menunjukkan pada Elif rekaman yang dia dapat dari Nanda dan Ayu sebagai jaga-jaga barang bukti kalau mereka ngeles dihadapan polisi saat interogasi.


Elif menutup mulutnya sendiri melihat bagaimana kejamnya Kinan menendangi perutnya bahkan saat dirinya sudah pingsan, Kinan tetap menendangnya, Kinan bahkan hampir menginjak perut Elif dengan heels yang dipakainya. Lalu belum puas, ia membuka kemeja Elif dengan brutal dan merobek-robeknya.


"Dia... terlihat senang menendangku." ujar Elif tak percaya. "Dan Pak Ardan melihatku dalam keadaan seperti... itu?"


"Seperti apa?" tanya Gavin lagi.


"Maaf Pak, saya tidak bisa tunjukkan rekaman ini pada Anda, pokoknya setelah Elif pingsan, si jal*ng itu melepaskan kemeja Elif dan merobeknya, Elif dibiarkan tergeletak di atas lantai kamar mandi hanya mengenakan pakaian dalam dan rok saja. Orang gila kan si Kinan itu?!"


"Astaga! Itu sangat tidak manusiawi."


"Apa kau sudah gila? Tentu saja Pak Ardan tidak mungkin membiarkan tubuhmu dilihat banyak orang. Pak Ardan memakaikan jasnya padamu, menggendongmu dan aku bersumpah itu adalah pertama kalinya selama aku bekerja padanya dia terlihat begitu murka, begitu ketakutan juga, dan panik."


"Benarkah?" Gavin bertanya.


"Iya, Pak Gavin pasti tahu kan, semarah-marahnya Pak Ardan dia tidak pernah murka, dia selalu menunjukkannya dengan cara yang dingin. Pak Ardan juga tidak pernah terlihat ketakutan apa lagi panik apa pun situasinya."


"Kau benar." Gavin membenarkan.


"Lalu bagaimana dengan mereka sekarang?" tanya Gavin.


"Ayu dan Nanda sudah diamankan polisi, tapi Kinan kabur. Sampai sekarang belum ditemukan."


"Belum ditemukan?" tanya Elif.


"Iya, tapi kau jangan khawatir, aku yakin Pak Ardan tidak akan meninggalkan mu sendirian lagi."


"Sonya benar," Gavin menimpali. "Aku mengenal Ardan sejak kita sekolah, aku tahu bagaimana dinginnya dia pada perempuan. Hubungannya saat bersama Marsha pun sama sekali tidak ada manis-manisnya. Hanya saja Marsha pandai berpura-pura menjalani hubungan yang indah. Aku ingat, Ardan bahkan tidak pernah mengunjungi Marsha saat Marsha berada di Macau untuk pemotretan dan dikabarkan sakit. Dia tidak peduli."


"Makanya Pak, saya juga merasa heran, Pak Ardan bisa berubah begitu banyak." ujar Sonya. "Sampai-sampai saya tidak percaya saat tahu Pak Ardan sendiri yang menjaga Elif disini. Bahkan sampai membawa pekerjaan kesini juga."


Elif tersenyum tidak nyaman.


"Aku pikir tadinya Ardan hanya main-main saja denganmu, tapi ternyata dia serius dengan semua ucapannya." timpal Gavin. "Kau tahu, kau orang yang beruntung. Kau akan diperlakukan seperti ratu olehnya, percayalah padaku."


"Ihhh, ternyata Pak Ardan bisa sweet sweet gitu ya Pak." kata Sonya sambil terkekeh.


"Itu lah sebabnya jangan suka menilai orang dari sampul terluarnya saja."


Sonya mengangguk.


"Aku tenang sekarang. Kau berada di tangan seseorang yang sangat tepat." ujar Gavin begitu tulus pada Elif.


Elif menggigit bibirnya. Bagaimana dia bisa mengatakan kalau dirinya sebenarnya menyukai Gavin, bukan Ardan. Kalau sebenarnya juga hubungan dirinya dan Ardan sama sekali tidak nyata. Bagaimana Elif bisa mengungkapkan kan semua kebenaran ini kalau ternyata orang yang dia sukai merasa tenang karena mengira Elif berada ditangan seseorang yang sangat tepat. Bagaimana hatinya dapat menerima semua ini?


Tunggu, omong-omong soal hati, sebenarnya saat ini pun hati Elif merasakan sebuah kebimbangan yang tidak jelas dari mana datangnya dan apa tujuannya. Mendengar bagaimana Ardan menyelamatkannya, bagaimana dia panik, murka dan ketakutan, dan kenyataan bahwa selama dua hari ini Ardan benar-benar merawatnya dengan sangat lembut, perhatian dan tidak pernah terlihat mengeluh meskipun tidur hanya diatas sofa. Dia selalu menyambut Elif dengan senyuman yang hangat dan sorot mata yang teduh. Membuat hatinya bimbang. Antara rasa percaya atau tidak.


"Kak Gavin, aku minta maaf atas sikap Pak Ardan di ruang meeting saat itu."


Gavin terkekeh. "Tidak perlu minta maaf. Aku memakluminya. Karena dia cemburu. Ck, padahal seharusnya dia tidak perlu cemburu, dia tahu aku sudah memiliki kekasih dan kau adalah calon istrinya."


"Pak Ardan bisa cemburu juga ya ternyata?" Sonya tidak percaya.


"Seperti yang kau bilang, Ardan berubah banyak semenjak mengenal Elif, kurasa." kata Gavin. "Lagi pula waktu dua minggu yang diberikan Ardan bukan lah ancaman bagiku. Ardan sudah tahu aku bisa menyelesaikan proyek ini kurang dari dua minggu. Hmm, bisa dibilang itu hanya untuk membuat kesan... apa ya... dramatis begitu."


"Ya ampun, Pak Ardan memang paling selalu punya gayanya sendiri yang bikin orang-orang jadi ramai membicarakannya." kata Sonya.


"Ya dan itu membuatku jadi bahan gosipan Kinan, Ayu dan Nanda." Sungut Elif.


"Apa karena itu juga kalian bertengkar?" Sonya mulai kepo.


"Kalian bertengkar?" tanya Gavin ikut-ikutan.


"Eh, ehm... aku hanya tidak suka caranya mengancam-ancam orang seperti itu." jawab Elif berkilah.


Benarkah Pak Ardan cemburu padanya? Ah, tidak, tidak, Kak Gavin tidak tahu saja Pak Ardan sudah bilang sendiri, dia tidak suka nantinya orang-orang jadi membandingkan dirinya dengan Kak Gavin.


Nah kan, sekarang Elif bertambah bimbang lagi.


Dua jam berlalu, Elif, Sonya dan Gavin tak terasa mereka habiskan dengan ngobrol-ngobrol santai yang tak lagi membahas soal kejadian dua hari lalu. Sonya selalu bercerita dengan semangat dan nyerocos seperti kereta api super cepat sampai tak jarang membuat Elif dan Gavin tertawa. Apa lagi ia sangat ekspresif dan menjiwai apa pun yang diceritakannya.


"Sepertinya waktu berkunjung sudah usai." Ardan tiba-tiba sudah masuk ke dalam sana, tidak ada yang menyadari karena saking asiknya mengobrol.


"Bukannya VVIP jam kunjungannya bebas ya, Pak?" Protes Sonya yang langsung dilempari tatapan tajam Teddy yang berdiri di samping Ardan. "Ah, eh, iya, tapi, kan, Elif juga harus istirahat ya. Hehehe."