HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Pengajuan Permohonan.



Kunjungan yang dipikir akan sangat hangat dan kekeluargaan dengan diperkenalkannya Ardan sebagai calon suami Elif ternyata malah membuat semua adik dan adik ipar dari Yanuar merasa malu, yah akibat mulut dan kesombongan mereka sendiri. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau calon suami Elif ternyata orang yang tidak bisa mereka remehkan, dan tentu saja mereka juga tidak menyangka Elif yang selama ini diam saja tiba-tiba berani melawan dan itu juga membuat mereka sangat malu.


Apa lagi Galih, dengan sangat tidak sopannya meminta Ardan untuk memasukkannya bekerja di perusahaannya sebagai manajer, tentu saja ditolak oleh Ardan tanpa basa-basi. Semakin lengkap lah rasa malu mereka. Dan akhirnya mereka memilih untuk pulang setelah berbasa basi minta maaf pada Elif, Zehra, Yanuar dan Ardan. Dan meminta agar apa yang terjadi hari ini tidak membuat siapa pun sakit hati.


"Maafkan kelakuan keluarga ayahku." kata Elif saat mereka di dalam perjalanan menuju rumah orang tua Ardan setelah kepergian keluarga Yanuar. "Tapi, kau juga tidak perlu memaafkan mereka jika memang kau tidak mau memaafkannya."


"Kau juga. Tidak perlu memaafkan mereka kalau kau tidak ingin." sahut Ardan.


Elif mendesah pasrah. "Bagaimana pun mereka adalah keluargaku, aku keponakan mereka, ada darah mereka juga di dalam tubuhku ini. Sesakit hatinya aku, aku tetap memaafkan mereka."


Ardan mengusap wajah sedikit kasar mendengar jawaban Elif. Hatinya yang geram mendengar bagaimana Elif tetap memaafkan mereka hanya karena mereka ada keluarga dari ayahnya. Atau seperti itu yang selama ini Elif pikir. Teddy dari kursi kemudinya melihat bagaimana Ardan menahan diri untuk tidak mengutarakan apa yang seharusnya tidak diutarakan olehnya.


"Jadi," Ardan mengalihkan pembicaraan. "Apa yang membuatmu akhirnya berubah pikiran? Apa karena ayahmu?"


Elif menggeleng, "Tadinya memang aku sempat ragu, aku takut, aku khawatir dengan kemarahan ayah dan ibu, mungkin juga Adit. Tapi aku tetap membulatkan tekad untuk tetap memberitahu yang sebenarnya."


"Lalu kenapa berubah?"


"Karena aku marah mereka meremehkanmu. Aku sangat kesal dan marah sekali dengan kesombongan mereka yang selalu saja menganggap diri mereka paling baik dan paling benar dalam segala hal."


"Kau marah karena mereka meremehkanku?" Ardan mengulang.


"Ya. Apa lagi mereka juga membandingkan mu dengan Galih! Astaga, itu benar-benar membuatku emosi. Kau bahkan 10.000 kali lipat lebih baik dari mereka."


Ardan berdeham, Ardan tidak memungkiri dirinya merasa begitu tersanjung dengan alasan Elif. Senyum terkulum di wajahnya. Ingin rasanya Ardan berteriak di depan Gavin kalau dirinya dipuji oleh Elif, meskipun itu tidak memberikan efek apa pun pada Gavin. "Ehm, mereka begitu karena mereka tidak tahu saja."


"Itu yang membuatku kesal, mereka tidak tahu apa-apa tapi selalu menghakimi orang lain. Mau kau CEO atau bukan, sangat tidak baik juga kalau mereka meremehkanmu seperti itu."


"Yah pada akhirnya mereka menyesal, bukan?"


"Mereka tidak menyesal, mereka hanya merasa malu. Karena itu mereka minta maaf, ck, maaf mereka pun tidak tulus." Elif berdecak sebal. "Maafkan aku juga, karena emosiku, kita jadi harus berpura-pura lagi."


"Elif," Ardan menyentuh tangan Elif. "Aku bersumpah demi apa pun yang paling berharga dalam hidupku, aku sama sekali tidak merasa berpura-pura."


"Ardan..."


"Ya, ya, aku tahu, kau tidak percaya padaku, kau tidak menyukaiku, apa lagi mencintaiku, kita juga dalam berada dalam friend zone yang kita buat. Tapi, aku juga tidak bisa memungkiri perasaanku sendiri, Elif. Aku menyukaimu, aku jatuh cinta padamu."


Elif menghela napas.


"Lihat, kau satu-satunya wanita yang sama sekali tidak besar kepala padahal aku mengutarakan perasaanku padamu dengan sangat jujur. Kau sama sekali tidak tersipu padahal ada pria sangat tampan menyatakan perasaannya entah sudah keberapa kalinya, tapi aku tidak akan bosan untuk mengatakannya."


Wah Bos... Anda benar-benar sudah tersihir oleh Nona Elif. Dan Nona Elif benar-benar tangguh melawan pesonanya Pak Ardan. Luar biasa! Teddy bergumam tanpa suara.


"Kalau kau mau, aku siap menikahimu hari ini juga."


"Ardan! Kau tahu kan, alasan menikah dalam waktu dekat itu hanya untuk menghentikan ocehan keluarga ayahku saja."


"Ya, aku tahu, tapi aku tidak berbohong saat aku menjawabmu bahwa kita akan menikah dalam waktu dekat, karena aku memang siap untuk menikah sungguhan dengan mu, tanpa sandiwara. Menikah yang resmi, sah dimata hukum negara dan agama. Aku sangat siap, Elif."


"Apakah kau masih Ardan yang sama yang pernah bilang kau tidak suka menjalin sebuah hubungan, apa lagi pernikahan?" Elif bertanya dengan nada menyindir.


"Ya, tapi itu aku yang belum mengenalmu. Aku yang tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam hatiku."


"Jadi sekarang kau sudah bisa membiarkan semua orang masuk ke dalam hatimu?"


"Hanya kau. Karena hanya kau yang berhasil menemukan kuncinya."


"Ardan... aku mohon, jangan seperti ini." pinta Elif. "Aku sungguh bersyukur kita bisa berteman."


"Aku juga. Tapi, aku juga hanya manusia, aku tidak mau lagi menyembunyikan perasaanku, atau berpura-pura lagi."


"Tapi..."


"Iya, aku tahu, hati mu sudah memilih yang lain. Aku tidak akan memaksa. Begini saja, beri waktu 3 bulan."


"Untuk apa?" Elif mengerutkan kening.


"Aku akan berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku."


"Apa?"


Apa? Aku tidak salah dengar? Pak Ardan akan berusaha membuat seorang gadis untuk jatuh cinta padanya? Astaga, padahal banyak sekali perempuan yang justru sebaliknya, berusaha sekuat tenaga untuk bertingkah hanya demi mendapatkan perhatian Pak Ardan.


"Hanya tiga bulan. Kumohon, beri aku kesempatan. Jika setelah tiga bulan aku tidak berhasil minimal membuatmu percaya padaku, aku akan pergi jika kau memintaku pergi."


"Kau akan pergi? Jika aku tidak bisa memberikan hatiku? Lalu kita tidak lagi berteman? Kita akan menjadi orang asing?"


"Tentu aja kita masih akan tetap berteman, tapi, aku rasa aku butuh jarak aman agar perasaanku tidak membebanimu dan menyakitiku. Adil bukan?"


Elif memalingkan wajah. Sejujurnya ada terbesit perasaan tidak suka saat Ardan mengatakan akan pergi jika Elif memintanya untuk pergi. Ada perasaan tidak rela untuk melihat Ardan menjauh darinya. Tapi entah kenapa begitu sulit baginya untuk percaya pada semua yang dikatakan Ardan. Bukan kah seharusnya ia merasa tersanjung hingga langit ke tujuh, seorang seperti Ardan mengutarakan perasaannya, terang-terangan mengatakan jatuh cinta, bahkan sampai akan berusaha untuk membuatnya jatuh cinta. Bukan kah itu sesuatu yang sangat langka? Bukan kah seharusnya Elif loncat kegirangan dan memamerkannya keseluruh negeri untuk membuat semua orang iri? Apakah Elif begitu bodoh? Atau hatinya yang terlalu rapat tertutup untuk Ardan?


"Baiklah, aku beri kau waktu tiga bulan."


"Benarkah?" Seketika mata Ardan berbinar.


"Tapi dengan satu syarat."


"Apa itu?"


"Tetap jadi dirimu sendiri. Jangan menjadi orang lain dalam usahamu."


"Maksudmu?"


"Hmmm, bagaimana ya aku menjelaskannya..." Elif menggaruk kepalanya.


"Ted, bisa kau bantu Elif untuk menjelaskannya?" Titah Ardan tiba-tiba. Teddy tentu saja sudah siap dengan jawabannya.


"Maksud Nona Elif adalah, jangan hanya karena Anda tahu Nona Elif menyukai Pak Gavin, lalu Anda akan berusaha untuk menjadi seperti Pak Gavin hanya untuk mengetuk hati Nona Elif. Anda harus tetap menjadi pribadi Anda, hanya saja pribadi yang lebih baik untuk bisa membuka hati Nona Elif."


"Wah!" Elif terkesima dengan penjelasan yang dijabarkan Teddy. "Pak Teddy memang patut diacungi empat ibu jari."


"Jadi, benar seperti itu apa yang kau maksud?" tanya Ardan.


"Iya. Just be your self, apa pun itu usahamu, aku ingin kau tetap menjadi dirimu sendiri."


Ardan menghela napas, memandang Elif dengan sangat lekat dan intens.


"Kenapa jadi melihatku seperti itu?"


"Entahlah, aku hanya mencari, apakah mungkin ada satu hal darimu yang membuatku tidak..."


"Tidak apa?" Elif mengerutkan dahi.


"Tidak semakin tergila-gila pada Nona Elif." Teddy menjawab.


"Benar begitu?" Elif bertanya pada Ardan.


"Tepat sekali."


"Bagaimana kalau aku bilang, saat ini rambutku sangat gatal dan mungkin saja ketombe sudah sangat menumpuk di atas kulit kepala ini. Kau lihat," Elif menggaruk kepalanya. "Ini sungguh gatal, tiga hari aku tidak keramas."


"Kau tahu, semakin kau tidak keramas, semakin kuat aroma manis yang menguar dari rambutmu. Apakah itu karena ketombemu adalah ketombe yang langka?"


"Astaga." Elif berdecak tidak percaya. "Ted, aku rasa bos mu ini sudah sangat bucin padaku."


"Anda benar sekali, Nona."


"Ted, kau fokus saja menyetir." Ucap Ardan datar dan dingin pada Teddy.


"Baik Pak." Teddy kembali merapatkan bibirnya.


Mobil pun kembali melaju menuju kediaman rumah orang tua Ardan yang megah dan besar.