HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
"Susahnya mau belah duren."



DOR!


Suara tembakan terdengar. Satu peluru dilepaskan!


Ardan memeluk Elif tepat saat suara tembakan itu terdengar. Baik Ardan mau pun Elif keduanya memejamkan mata, mencoba merasakan apa yang terjadi pada tubuh mereka setelah tembakan terjadi, namun mereka berdua tidak merasakan apa pun.


Ardan dan Elif membuka mata, saling menatap penuh khawatir.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ardan.


Elif mengangguk. "Siapa yang tertembak?" Elif mengalihkan pandangannya pada Kinan yang terjatuh, darah sudah membasahi gaunnya, pistol yang tadi dipegangnya jatuh.


"Kinaaaan!" Pekik Daniel, ia merangkak mendekati sepupunya yang tumbang.


"Angkat tangan!" Teriak seorang petugas polisi yang masih mengarahkan pistolnya pada Kinan dan Daniel.


"Kinan, bertahan lah!" Masih menahan nyeri karena dua jarinya yang patah, Daniel berusaha menekan luka tembakan pada perut Kinan. Sementara Kinan sudah tidak bisa bernapas teratur. Tubuhnya tidak segila pikirannya untuk bisa menahan rasa sakit dihantam peluru.


"Ja... ngan... bi... ar... kan... me... re... ka... lo... los..." Pinta Kinan disela-sela napasnya yang tersenggal sambil menunjuk Ardan dan Elif.


Dengan tangan kirinya Daniel menyambar pistol yang tergeletak di dekat Kinan dan langsung melepaskan beberapa peluru ke arah Ardan dan Elif.


DOR! DOR! DOR! DOR!


"Aakkhh!"


"ARDAN! ELIF!" teriak Gavin.


"BOS! NYONYA ELIF! Teriak Teddy.


Akhirnya satu tembakan tepat di jantung Daniel mendarat, seketika menumbangkan pria yang katanya mirip dengan Park Seo Joon itu tumbang. Gantian Kinan yang berteriak histeris, masih berusaha bangkit untuk ambil pistol, dan mengarahkan pistol ke arah polisi, namun dengan cepat tembakan kedua mendarat pada tubuhnya, dan akhirnya nyawa kedua sepupu itu berakhir disana.


Sementara itu, Gavin dan Teddy sudah mendekati Elif yang memeluk tubuh Ardan, rupanya salah satu dari peluru yang dilepaskan Daniel mengenai lengan Ardan.


Elif tentu saja sudah berderai air mata, melihat bagaimana darah merembes dengan cepatnya.


"Pak, Anda tidak apa-apa?" tanya Teddy.


"Menurutmu bagaimana, heh? Kenapa kalian lama sekali?" Omel Ardan, berusaha berdiri dibantu Gavin dan Teddy.


"Aku tidak apa-apa, sayang. Ini hanya luka tembakan."


"Jangan bercanda! Ayo cepat kita ke rumah sakit!" Kata Elif dengan sangat ketakutan.


"Iya, kita harus cepat keluarkan peluru itu." Timpal Gavin.


Mereka berempat pun beranjak dari tempat, Ardan dan Elif saling merangkul, Gavin dan Teddy mengikuti dari belakang.


"Terima kasih atas bantuannya, Pak." kata Ardan pada komandan yang memimpin petugas-petugas polisi yang mengamankan lokasi.


"Sudah menjadi tugas kami, Pak Ardan." jawab komandan itu. "Mungkin besok, setelah keadaan Anda dan istri lebih tenang, kami akan datang untuk meminta keterangan."


"Tentu saja, Pak. Kami akan tunggu." sahut Ardan.


Gavin dan Teddy segera membawa Ardan dan Elif menuju rumah sakit. Di dalam perjalanan, Elif terus menekan luka tembakan pada lengan Ardan dengan sangat khawatir, sementara Ardan memandangi wajah istrinya dengan perasaan yang campur aduk. Ia menyentuh luka pada sudut bibir Elif akibat tamparan yang dilakukan Daniel sebelumnya.


"Apakah ini sakit?" tanya Ardan lembut.


"Sedikit." jawab Elif jujur. Ia masih fokus dengan luka Ardan. "Wajah mu juga luka-luka." kata Elif dengan suara yang mulai gemetar, tanda-tanda akan menangis lagi.


"Sssh, jangan nangis lagi." Ardan mengusap pipi Elif. "Mendekatlah." Bisik Ardan pada Elif.


Cup.


Satu ciuman mendarat begitu wajah Elif mendekat pada wajahnya. Mencuri kesempatan sekali orang ini!


Elif seketika memundurkan wajahnya. "Ada Pak Teddy dan Kak Gavin!" Cicit Elif.


"Kenapa memangnya?" tanya Ardan santai. "Kita kan sudah sah, sudah halal, tidak apa-apa kan?"


"Malu tahu!


"Harusnya kita sudah nyaman peluk-pelukan di dalam selimut, berkeringat dan..."


"Astaga, Ardan, kau sedang terluka, bisa-bisanya pikiranmu kesana! Kita baru saja mengalami hal yang buruk."


"Tapi sudah berakhir, sayang. Tidak ada lagi Kinan atau sepupunya yang sama gilanya."


Gavin dan Teddy geleng-geleng kepala, ternyata luka tembakan tidak membuat Ardan kehilangan hasratnya saat ini.


"Kau tidak dengar apa-apa, kan, Ted?" tanya Gavin.


"Saya tuli, Pak." jawab Teddy.


***


Ardan membuka matanya dan langsung mendapati istrinya, Elif, yang masih meringkuk tepat disampingnya, dengan tangan yang memeluk dada bidangnya. Mereka tidur pada satu ranjang rumah sakit, yah, ini memang bukan kali pertama mereka berbagi ranjang rumah sakit, hanya saja keadaannya terbalik.


Lengannya yang tidak apa-apa menjadi bantal untuk kepala istrinya yang semalam diminta Ardan untuk tidur bersama di ranjang dari pada melihat Elif tidur di sofa ruangan VVIP itu. Efek bius paska operasi ringan membuatnya begitu lelah semalam dan langsung terlelap begitu Elif juga merebahkan dirinya. Ditambah lagi aroma kesukaan Ardan dari rambut Elif yang membuatnya begitu nyaman meski tangannya baru saja dihantam peluru.


Ardan menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening Elif, mengecup lama kening itu sampai membuat Elif terbangun.


"Günaydın karım." (Selamat pagi, istriku)


"Günaydın kocacığım." (Selamat pagi, suamiku)


Elif mengecup malu-malu pipi Ardan sebelum turun dari atas ranjang, tapi tentu saja Tuan muda itu tidak akan semudah itu melepaskannya.


"Apa?"


"Kenapa hanya di pipi?"


"Mem-memangnya mau dimana?"


Ardan memajukan bibirnya dengan konyol, Elif malah tertawa dan mencubit pinggang Ardan alih-alih mencium bibir Ardan.


"Jangan aneh-aneh deh, kita lagi di rumah sakit, kalau ada dokter atau perawat yang masuk bagaimana?"


"Ya biarkan saja, toh mereka tahu kita suami istri yang sah hukum negara dan agama."


"Ya, tapi tidak etis. Harus tahu tempat dan waktu ya, sayang." ucap Elif lembut.


Ardan menghela napas pasrah. "Baiklah, Nyonya Demir."


"Tapi nanti kalau kita sudah pulang, jangan salahkan aku kalau kau tidak akan bisa kemana-mana."


"Memangnya kau mau mengurungku?"


"Iya, aku akan mengurungmu dengan kedua lengan ini." Ujar Ardan sambil menggerakkan lengannya dengan arogan, namun sedetik kemudian ia meringis merasakan bekas jahitan berdenyut.


"Tuh kan, kebanyakan gaya sih." Kata Elif seraya turun dari ranjang dan mendekati sisi kiri Ardan. Ia membantu Ardan duduk dan mengelus perban yang melilit lengannya.


"Maafkan aku, karena aku kau jadi tertembak." ucap Elif lirih.


"Hei, kenapa jadi sedih begitu." Ardan mengusap pipi Elif. "Kau tidak salah, lagi pula, nantinya bekas jahitan ini akan membuatku terlihat... apa ya, macho?"


Mereka tertawa kemudian.


"Tapi, kau jadi punya dua bekas luka jahitan gara-gara aku, yang pertama ini, lalu sekarang ini." Elif menunjuk bekas luka Ardan yang dulu tertusuk pisau lalu yang baru saja dioperasi.


"Selama kau mencintaiku, luka-luka ini akan menjadi bertambah keren."


"Ish, kenapa kau tidak pernah serius?"


"Aku serius."


Elif berdecak. "Sudahlah, ayo aku bantu kau bersihkan diri, sebelum dokter dan perawat dan petugas pengantar makanan dan..."


"Banyak sekali dan nya." Potong Ardan.


"Dan... polisi datang untuk minta keterangan dari kita."


"Oke, jadi kita mandi bersama?"


"Aku bantu kau bersihkan diri, lalu kau duduk manis di atas tempat tidur menunggu perawat dan dokter datang sementara aku membersihkan diriku juga." Ucap Elif dengan tegas seperti menjelaskan pada anak usia lima tahun untuk tidak bermain di dapur sementara ibunya kebelet pipis.


"Huh, susahnya mau belah duren." Gumam Ardan.


Malah sontak membuat Elif tertawa.


"Jangan tertawa seperti itu, kau membuatku ingin melahap mu sekarang juga."