HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Kenapa jadi begini?



Elif lebih banyak diam setelah pulang dari rumah orang tua Ardan. Banyak pertanyaan yang jadi memenuhi isi kepalanya yang tidak bisa Elif dapatkan jawabannya. Seperti sikap Nyonya Hanna yang menjadi begitu peduli dengannya, padahal kali pertama mereka bertemu, Nyonya Hanna selalu membandingkan Elif dengan Marsha yang meninggalkan kesan Elif bagaimana pun tidak akan bisa sebanding dengan Marsha, tapi kali ini berbeda. Nyonya Hanna malah terang-terangan merestui hubungan Elif dan Ardan, bahkan sudah menyiapkan segala sesuatunya.


Lalu keputusannya mengatakan bahwa ia akan segera menikah dengan Ardan di depan keluarga Ayahnya justru malah membawanya pada sebuah dilema baru. Ia selalu menghindari kepura-puraan, lalu sekarang malah dirinya sendiri yang menciptakan kepura-puraan itu sendiri. Dan terjebak di dalamnya. Orang tuanya kini pasti juga mengharapkan pernikahan Ardan dan Elif. Orang tua Ardan juga sudah sangat menyetujui hubungan mereka.


Lalu bagaimana jika akhirnya mereka benar-benar menikah? Apakah Elif bisa menjalaninya? Ia memang tidak lagi membenci Ardan, tapi bukan berarti ia menerima Ardan dan memberikan hatinya pada pria yang tidak ia cintai. Hatinya sudah dimiliki pria lain walaupun dia tahu hatinya hanya bertepuk sebelah tangan.


Elif menghela napas kasar, kusut sekali isi kepalanya.


Begitu pun dengan Ardan. Ia tahu betul Elif masih meragukan ketulusannya. Walaupun dirinya benar-benar tulus mencintai Elif. Ah, kenapa begitu sulit membuat Elif melihat dan merasakan ketulusannya. Ia ingin semua berjalan pelan-pelan, karena itu ia memutuskan untuk berteman dengan Elif, tapi siapa yang akan menduga Elif malah mengatakan mereka akan menikah dalam waktu dekat. Siapa juga yang menduga Nyonya Hanna sudah gerak cepat melampaui batas.


Tiba-tiba Teddy menepi dan menghentikan laju mobil.


"Ada apa Ted?" tanya Ardan.


"Maaf Pak, saya rasa perjalanan ini tidak bisa diteruskan." kata Teddy.


"Kenapa?" Elif dan Ardan bertanya bersamaan.


"Saya rasa Pak Ardan dan Nona Elif harus meluruskan dahulu kekusutan pikiran Anda supaya perjalanan bisa dilanjutkan kembali dengan selamat sampai tujuan." ujar Teddy dengan cepat lalu mengangguk sebentar kemudian ia keluar dari mobil. Meninggalkan Ardan dan Elif yang saling berpandangan tak percaya dengan tingkah Teddy.


"Teddy memang paling sulit di tebak." kata Ardan.


"Ya, dia bisa menyebalkan kemudian berubah bisa jadi sangat sangat menyebalkan." Timpal Elif.


Keduanya kemudian tertawa.


Beberapa detik kemudian kesunyian melanda dua insan yang ada di dalam mobil itu. Masing-masing tidak tahu harus dari mana memulai meluruskan semua yang tengah terjadi.


Ardan ingin memperbaiki dirinya dengan membuat Elif percaya pada dirinya. Sementara Elif ingin terlepas dari hubungan yang dia yakini tidak ada cinta di dalamnya ini.


Tapi keduanya terjebak dalam permainan mereka sendiri. Ardan jatuh cinta pada Elif disaat Elif sudah terlanjur membencinya dan tidak mempercayainya. Sementara Elif yang ingin menyudahi sandiwara hubungan mereka malah mengabarkan dunia kalau mereka akan menikah dalam waktu dekat. Dan kini kedua keluarga pun saling merestui hubungan mereka. Sebenarnya itu bisa menjadi poin pendukung untuk Ardan, namun Ardan telah berjanji tidak ingin memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan Elif. Ia ingin jika mereka menikah, itu karena memang hati mereka yang saling memilih untuk bersama. Bukan karena keterpaksaan keadaan.


"Aku sama sekali tidak menyangka awal kesepakatan kita bisa jadi seperti ini. Walaupun sejujurnya secara pribadi aku tidak menyesalinya sama sekali." Akhirnya Ardan mengakhiri kesunyian itu.


"Apa kau benar-benar jatuh cinta padaku?" tanya Elif dengan skeptis.


"Harus dengan apa aku membuktikan kau sudah mendapatkan hatiku?"


Alih-alih menjawab, Elif malah tertawa.


"Apa yang lucu?"


"Dulu aku punya pacar, namanya Dimas, kau tahu, aku memberikannya pertanyaan yang sama persis, dan jawaban mu ternyata juga sama persis seperti jawaban Dimas. Dan kau tahu apa yang dilakukan Dimas? Dia hanya memanfaatkan ku, dia berselingkuh dua kali, terakhir kali dia tidur dengan perempuan lain, akhirnya Mona turun tangan untuk menghajarnya habis-habisan."


"Kau menyamakan aku dengan pria berengsek seperti itu?" tanya Ardan tidak percaya.


"Entah lah, aku tidak tahu." Elif memalingkan wajah.


"Kau tahu, kau tidak adil padaku, Elif." Ardan terdengar kesal.


"Maksudmu?" Elif mengerutkan dahi.


"Orang bodoh?" Elif membeo.


"Ya, aku tahu kau selalu menolak ku, kau membenciku, kau tidak menginginkanku, kau menginginkan orang lain, tapi aku tetap saja mengutarakan perasaanku padamu, menyatakan cinta dan kesungguhanku, mengharapkan suatu saat kau akan percaya padaku dan hatiku tidak lagi bertepuk sebelah tangan."


Elif terdiam.


"Lalu aku memilih untuk berteman denganmu saja jika memang dengan cara itu kau bisa melihat hatiku. Aku bahkan begitu bahagia saat kau bilang kita akan menikah, meski aku tahu kau tidak bersungguh-sungguh, tapi setidaknya aku bisa selalu bersamamu, menjagamu, melindungimu dan tidak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu. Siapa pun itu!"


"Ardan..."


"Tapi apa? Kau malah menyamakanku dengan pria berengsek yang mengkhianatimu hanya karena aku dan dia mempunyai jawaban yang sama? Kalau aku menjawab dengan kosa kata yang berbeda, akankah kau menganggapku lebih baik atau lebih buruk?"


"Aku..."


"Pikirkan baik-baik, Elif. Kau mau melanjutkan semua ini atau tidak? Jika tidak, aku akan mencari cara untuk mengakhiri semuanya. Kita hanya punya waktu kurang dari sebulan, kau tahu itu."


"Lalu kau?"


"Aku? Jika kau memilih untuk mengakhiri ini, aku akan pergi, kau tidak akan melihatku lagi. Mungkin aku akan mendelegasikan segala pekerjaan pada Gavin, dan kau akan bekerja langsung pada Gavin."


"Tapi kenapa kau harus pergi? Bukankah... kita bisa tetap berteman?"


Ardan mendengus, "Maaf, tapi aku tidak mempunyai hati sebesar itu untuk melihat wanita yang aku cintai bersama pria lain."


"Dan kau akan menjadikan aku sekertaris Kak Gavin?"


"Ya. Aku tidak bisa mendapatkan hatimu, tapi setidaknya kau bisa selalu dekat dengan orang yang telah mendapatkan hatimu."


Sebuah kekecewaan jelas tergambar pada wajah tampan Ardan, dan kesedihan bersembunyi di balik sorot sendunya. Elif telah membuatnya begitu jatuh cinta, tapi ia tidak ingin menjadi pria egois yang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan Elif, meski ia mampu untuk membuat Elif menjadi miliknya sepenuhnya.


Karena ini adalah kali pertama untuknya, jatuh cinta dan mencintai. Ia hanya ingin sekali dalam hidupnya seseorang mencintai dirinya, bukan karena jabatannya, latar belakang keluarganya, status sosialnya atau mobil yang dia kendarai. Tapi karena dia adalah dia.


Ia tidak tahu apakah dia bisa merasakan hal yang sama lagi pada wanita lain. Karena baginya yang telah berkeliling dunia, hanya Elif satu-satunya wanita yang memiliki hati paling tulus, paling besar, dan mata yang paling indah.


Ardan menyudahi waktu perbincangan yang diberikan Teddy. Elif pun tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia merasa lidahnya kelu, hatinya-entah bagaimana-menyesal melihat dirinya telah membuat Ardan kecewa seperti itu. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa semua ini justru membuat seorang Ardan kecewa dan bersedih. Tidak terpikirkan Elif sebelumnya bahwa semua ini justru membuat Ardan terluka. Tapi, bukan kah seharusnya Elif merasa biasa saja dengan apa yang dirasakan Ardan? Toh, semua ini berawal dari kesepakatan yang pria itu berikan.


Tapi kenapa, rasanya ada sesuatu yang mengganjal hati Elif, membuatnya tak nyaman, membuat hatinya terasa sakit, membuat hatinya merasa tidak rela. Tapi Elif tidak bisa mengungkapkannya. Dia hanya mampu untuk diam.


Setelah mendapat missed call dari Ardan, Teddy segera kembali masuk ke dalam mobil. Aura dingin yang penuh dengan aroma kekecewaan dan kesedihan seketika menabrak Teddy.


Ardan memalingkan wajah, begitu pun dengan Elif. Tidak ada senyuman, apa lagi tawa. Keduanya seolah memberikan batas, mendirikan perisai untuk melindungi diri dari kesedihan dan kekecewaan yang lebih besar.


Lah, kenapa jadi begini? Maksud hati ingin memberikan waktu untuk meluruskan benang yang kusut, tapi kenapa jadinya malah tambah kusut?


Teddy mulai menurunkan tuas rem tangan, dan perlahan ia menginjak pedal gas dan mobil pun kembali bergerak.


Seharusnya tadi aku tinggalkan handphone untuk merekam pembicaraan Pak Ardan dan Nona Elif. Kalau begini kan aku jadi tidak tahu apa yang telah mereka bicarakan. Huft!