
Pagi ini meski Elif tidak ada takut-takutnya karena tidak datang untuk melakukan tugasnya menyiapkan sarapan untuknya, hati Ardan tetap berbunga-bunga. Sepanjang pagi bibirnya terus saja bersiul, lalu bernyanyi, lalu bersiul lagi, lalu bernyanyi lagi. Bahkan sampai di dalam mobil pun Ardan terlihat begitu bahagia, sampai-sampai membuat Teddy khawatir karena melihat bosnya sebentar-sebentar senyum-senyum, sebentar-sebentar tertawa, lalu tersenyum, lalu bersenandung.
Apakah aku harus menyampaikan pemandangan ini pada Nyonya besar? Teddy berpikir.
Sesampainya di kantor, Ardan menyapa semua orang, dari sekuriti, kemudian represionis lantai dasar, cleaning service, ia juga membalas sapaan karyawan-karyawannya bukan hanya anggukan tapi dengan pertanyaan, "Kalian sudah sarapan?"
Yang ditanya malah jadi gugup dan bingung sendiri. Apakah ini CEO mereka yang terkenal dingin dan menyebalkan itu? Apakah beliau sedang kesambet jin baik apa bagaimana?
"B-b-belum Pak."
"Tidak baik meninggalkan sarapan." kata Ardan kemudian. "Ted,"
"Iya Pak?"
"Umumkan sekarang juga, aku akan mentraktir semua karyawan untuk sarapan dan makan siang di kantin kita, dan umumkan juga pada orang-orang kantin bahwa aku akan membayar semua penghasilan yang biasa mereka dapat, tiga kali lipat."
Karyawan yang gugup tadi menganga saking kagetnya, bukan kaget karena Ardan mentraktir semua karyawan atau membayar penghasilan orang-orang kantin sebanyak 3 kali lipat, tapi kaget dengan perilaku teraneh yang pernah dilihatnya.
"Baik Pak." Seperti biasa Teddy tidak pernah memprotes apa pun titah yang diberikan Ardan, meski batinnya sungguh-sungguh berisik bertanya pada dirinya sendiri apa yang tengah terjadi pada bosnya itu.
Pintu lift terbuka, sikap Ardan pun masih seramah sejak dari lantai dasar. Ia keluar dari dalam lift menuju ruangannya, dimana Sonya dan Elif sudah berada di meja sekertaris tepat di depan pintu ruangan Ardan. Sonya berdiri seperti biasa setiap kali Ardan datang, tapi tidak dengan Elif. Gadis itu masih acuh dan tetap fokus mengerjakan sesuatu.
"Selamat pagi, Pak." sapa Sonya.
"Pagi, Sonya."
Sonya sama seperti karyawan-karyawan lainnya yang terkejut dengan sapaan balik Ardan.
"Kau sudah sarapan, Sonya?"
Sonya semakin kaget. "S-sudah Pak."
"Bagus, jangan sampai tidak sarapan. Sarapan baik untuk kesehatan."
"I-iya Pak."
"Jangan lupa makan siang di kantin, aku mentraktir semua orang."
"Be-benarkah?" Sonya melebarkan matanya.
"Benar dong, apa aku terlihat seperti pembohong? Aku ini orang yang sangat jujur dan tulus, Sonya." jawab Ardan. "Entah kenapa ada saja yang menganggapku tidak tulus, itu sangat menyakitkan."
Elif tiba-tiba berdiri dan meninggalkan meja dengan acuh begitu saja pada Ardan.
"Pak Ardan, maaf, kalau saya boleh tahu, apa Pak Ardan dan Elif sedang bertengkar? Karena sejak datang tadi, wajahnya benar-benar seperti orang yang tidak tahu caranya tersenyum." ucap Sonya.
"Tenang saja, Sonya, pertengkaran dalam sebuah hubungan itu ibaratkan bumbu pelengkap." jawab Ardan dengan santainya sambil berlalu dan masuk ke dalam ruangannya.
"Pak Teddy," Sonya memanggil Teddy dengan suara rendah.
"Hem,"
"Apa Pak Ardan baik-baik saja?"
"Menurutmu?" Jawab Teddy dengan pertanyaan yang sama sekali tidak membantu, karena itu tak jarang Sonya melayangkan tinju di udara ketika Teddy berbalik. Kelakuan Sonya yang pasti terlihat Teddy dari pantulan di kaca jendela yang tidak disadari Sonya, dan membuat bibir mahal Teddy melengkung membuat sebuah bentuk senyuman.
Di dalam kamar mandi, saat Elif sedang membasuh tangannya, tiga serangkai penggosip masuk, mereka terlihat sedikit terkejut melihat Elif disana, mereka pun terlihat langsung tidak meneruskan apa yang sedang mereka bicarakan sampai membuat mereka tertawa.
"Eh, ada Mbak Elif." kata Kinan sok akrab.
"Oh iya, Mbak, tolong sampaikan terima kasih kita ya, ke Pak Ardan, sudah traktir kita semua." ujar Ayu, yang sama sok akrabnya.
"Tapi kayaknya memang semenjak Mbak Elif kerja disini, banyak yang berubah dari Pak Ardan, ya kan?" Sambung Nanda.
"Iya, Mbak Elif hebat banget bisa meluluhkan Pak Ardan, ya." Timpal Kinan.
Elif mematikan air, mengambil tisu kemudian melihat kepada tiga serangkai di depannya itu dengan tatapan tidak suka.
"Kalian ini apakah sejenis manusia munafik atau apa?" kata Elif dengan sinisnya.
Senyum-senyum palsu pada wajah Kinan, Ayu dan Nanda pun pudar.
"Eh, maksudnya apa, ya, Mbak?" tanya Kinan.
Elif menyeringai sinis. "Baru saja kemarin kalian menggunjingkan aku di kamar mandi ini. Dan sekarang kalian memujiku."
"Mbak Elif dengar dari siapa? Kita tidak pernah ngomongin Mbak Elif di kamar mandi kok." kata Nanda.
"Oh ya? Lalu dimana biasanya kalian menggunjingkan aku?"
"Duh, Mbak Elif ini kayaknya lagi sensi, ya." Ayu seperti mencoba mencairkan suasana.
"Ah, ya benar juga, karena aku sedang sensi, apakah aku harus mengadukan apa yang kalian gunjingkan tentang aku pada Ardan? Seperti yang kalian bilang, aku ini hebat bisa meluluhkan Ardan, jadi bukan hal yang sulit meminta Ardan untuk memecat kalian dan memasukkan nama kali ke daftar hitam di dunia perkantoran seluruh Indonesia atau mungkin juga keluar negeri. Kalian tahu, kan, itu bukan lah hal sulit untuk Ardan."
Kicep dah kicep tiga serangkai itu dibuat mati gaya oleh Elif yang saat itu moodnya sedang buruk.
"Mbak... Mbak Elif, pasti ini ada kesalahpahaman-"
"Aku ada di dalam sana mendengar semua yang kalian bicarakan."
Kinan, Ayu dan Nanda pun seketika terkesiap kaget. Mereka tidak menyangka ada Elif disana saat mereka begitu pulen menggosipkan hubungan antara Elif, Ardan dan Gavin.
"Maaf Mbak, maafin kita Mbak." Kinan langsung menyatukan kedua telapak tangannya, memohon.
"Iya Mbak, kami khilaf Mbak." sambung Ayu.
"Tolong maafin kami Mbak." Nanda ikut menyatukan kedua telapak tangannya.
"Berdoa saja kalian, sampai di meja nanti moodku baik, kalau tidak. Yah, kalian siap-siap saja." jawab Elif sambil berlalu hendak keluar kamar mandi, tapi dengan cepat Kinan mencegah Elif untuk keluar.
"Kau punya masalah apa sih sama kami?!" Omel Kinan.
"Aku? Dengan kalian? Bukannya kebalik ya? Kalian yang punya masalah apa sama aku sampai-sampai menyebarkan gosip dan memfitnah namaku."
Kinan tertawa galak.
Elif pun sadar, dari tiga serangkai ini, Kinan adalah ketuanya. Karena dua yang lainnya tidak berani menghentikan Kinan saat Kinan menaikkan jari telunjuknya agar Ayu dan Nanda tidak menghentikan aksinya.
"Kami tidak memfitnahmu, tapi tipe perempuan sepertimu itu mudah ditebak."
"Oh ya? Kalian bahkan tidak mengenalku!"
"Tidak perlu mengenalmu, aku sudah bisa melihat kalau kau adalah tipe perempuan yang sampai kiamat pun tidak akan bisa mendapatkan pria seperti Pak Ardan atau pun Pak Gavin, yang bisa kau lakukan untuk mendapatkannya adalah dengan melakukan sesuatu dengan tubuhmu dan mengancam mereka!"
"Astaga!" Elif terkekeh. "Kalian memang luar biasa berimajinasinya. Tidak ada bukti, tidak ada data yang lengkap, tapi kalian bisa menyimpulkan sesuatu yang dapat merusak dan merugikan hidup orang lain."
"Alah! Tidak perlu sok suci deh! Apa yang akan kau lakukan dengan mengadu pada Pak Ardan itu juga bisa merusak dan merugikan hidup orang lain!" Bentak Kinan.
"Tapi itu memang kalian pantas dapatkan!" Tak kalah Elif balas membentak. "Dengan seperti ini apa kalian pikir aku akan memaafkan kalian? Tidak! Aku akan langsung mengadukan kalian ke Ardan tanpa pikir panjang."
"Sialan! Cewek sialan!" Maki Kinan lalu tangannya pun dengan sangat ringannya menjambak rambut Elif sampai membuat Elif terjengkang. Tubuh Kinan yang memang lebih tinggi dari Elif mudah untuk menghindari gerakan Elif untuk melawan.
Ayu dan Nanda berusaha menenangkan Kinan yang sudah gelap mata.
"Jangan, Kinan, jangan!" Pekik Ayu.
"Hentikan Kinan!" Pinta Nanda.
"Jangan ikut campur kalian! Atau aku akan sebarkan vidio vulgar kalian!"
"Apa?!"
"Apa kau sudah gila?!"
"Makanya diam saja!" Bentak Kinan pada Ayu dan Nanda.
"Wah tertanya tipe perempuan yang kau sebutkan tadi lebih pas untuk kau berikan pada teman-temanmu itu, bukan aku!"
"Berisik! Mati saja kau!"
Plak!
Kinan menampar Elif dengan sangat keras sampai membuat bibir Elif pecah dan berdarah. Tak hanya itu, Kinan menjatuhkan Elif ke lantai dan menendangnya bertubi-tubi, saat Kinan hampir menginjak perut Elif dengan heelsnya, Ayu dan Nanda segera menarik Kinan.
"Cukup Kinan! Lihat, dia pingsan! Kau bisa membunuhnya!" Kata Ayu ketakutan.
Tapi sepertinya Kinan belum puas. Dia tidak peduli dengan Elif yang sudah pingsan. Dia berjongkok, melepaskan kasar kemeja Elif sampai semua kancingnya berterbaran.
Ayu dan Nanda pun sampai terkejut. Kemudian dengan santainya Kinan membawa kemeja Elif, lalu mengambil pisau kecil yang biasa untuk merapihkan bulu alis, dan dengan santainya dia merobek-robek kemeja itu. Kemudian tetawa puas melihat apa yang sudah dilakukannya pada Elif yang kini terbaring di atas lantai kamar mandi yang dingin dengan tubuh setengah telanjang.
Kinan kemudian bercermin, merapihkan rambutnya, touch up kembali warna lipstiknya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kalian tidak jadi ngeroll rambut?" tanyanya dengan sangat santai pada Ayu dan Nanda, yang dibalas dengan gelengan serempak keduanya. Mungkin tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan ketua geng mereka.
Setelah selesai dengan penampilannya, Kinan mengeluarkan handphonenya dan memotret keadaan Elif, sambil terkekeh-kekeh sendiri.
"Ingat, tidak ada orang yang boleh tahu tentang ini." ujar Kinan pada Ayu dan Nanda yang kini lebih takut pada Kinan dari pada masuk daftar hitam seluruh perusahaan di Indonesia.
Ayu dan Nanda pun mengangguk.
"Good girls!" Kinan tersenyum manis. "Rahasia kalian akan tetap aman denganku."
Ayu dan Nanda tidak tahu lagi harus bagaimana.
"Ayo kita balik, aku mau pesan kopi dulu, kalian mau?"
Ayu dan Nanda menggeleng.
"Oke." Mereka keluar dari dalam kamar mandi, dan Kinan mengunci pintunya dari luar, kemudian membawa kunci tersebut.
Disudut langit-langit yang mengarah pada jalan yang mereka lalui, kamera CCTV yang beberapa hari rusak ternyata telah diperbaiki oleh teknisi semalam. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari itu.