
Dimas menghampiri Yura dan Mona yang sedang asik menikmati jajanan siang mereka; cakwe, cilok, batagor, siomay, dan es cendol yang manis dan segar kalau masih dingin. Di salah satu gazebo taman kampus. Udara yang sepoi-sepoi karena gazebo itu tepat di bawah pohon yang rindang membuat panas siang itu tidak terlalu terasa.
Mona langsung berubah super jutek, super galak, begitu melihat sosok laki-laki yang pernah dia hajar.
"Mau apa kau?!" Tembak Mona.
"Weis, santai dong." Dimas dengan tidak peduli dengan mata Mona yang melotot. "Aku hanya ingin bilang kalau ternyata sahabat yang kalian bela itu tidak jauh berbeda denganku."
"Hei, apa maksudmu?" tanya Yura tidak senang dengan intonasi Dimas yang merendahkan Elif.
"'Coba kalian pikir, aku dan Elif belum ada dua bulan putus, tapi tahu-tahu sekarang dia sudah jadi calon istri konglomerat! Wah hebat sekali, kan!"
"Calon istri?" Yura mengerutkan dahi, melihat Mona yang juga memiliki ekspresi sama dengannya.
"Jangan ngawur deh kalau ngomong!" Mona semakin galak.
"Siapa yang ngawur. Kalian tidak tahu memangnya? Beritanya sangat viral di media sosial! Orang tua ku sampai tidak habis pikir, mereka yakin kalau selama ini Elif sudah menjadi simpanan orang kaya itu, dan setelah putus dariku, baru lah hubungannya terekspos media."
"Hei, kau ingin aku hajar lagi?" Mona langsung bangkit. Dimas pun refleks ikut berdiri. Yura juga ikut berdiri untuk menahan Mona. Dan beberapa mahasiswa di gazebo lain ikut berdiri karena ingin menonton. (Dasar netizen offline.)
"Kalian bisa cari beritanya di media, tulis saja 'Pebisnis Muda Ardan Mahesa Demir dan Calon Istrinya.'" kata Dimas. "Wah, jangan bilang kalian tidak tahu? Apa mungkin karena sudah menjadi calon istri orang kaya sahabat kalian itu lupa dengan persahabatan kalian yang seperti kepompong?" Ledeknya kemudian berlari pergi saat Mona benar-benar akan menendang dengan sepatu bootnya.
Yura langsung membuka laman internet pada handphonenya. Menuliskan kata kunci untuk menemukan berita yang dikatakan Dimas sambil daam hati berharap kalau si Dimas itu hanya mengarang bebas dan mencari gara-gara saja.
Tapi...
"Mona!" Yura memekik.
"Apa? Jangan bilang yang dikatakan Dimas itu benar?!"
Yura mengangguk. Mona membaca tagline berita tersebut, cepat ia membaca isi berita tersebut.
"Tunggu, deh." Yura ambil kembali handphonenya dari tangan Mona. "Ardan? Bukannya itu nama bosnya Elif yang dia bilang sangat menyebalkan itu?"
Mona memicingkan mata, tanda gadis tomboy itu sedang mengingat-ingat. "Ah, iya, iya, kau benar. Tapi kenapa tiba-tiba Elif jadi calon istrinya?"
"Dan dia tidak cerita apa pun ke kita. Hem, ini aneh, bukan?"
"Iya, seperti bukan Elif. Atau mungkin Elif sedang diancam oleh bosnya itu?"
"Diancam bagaimana maksudmu? Ih, jangan bikin takut gitu!"
"Ya aku juga tidak tahu. Karena berita ini sangat janggal kalau kau mengenal siapa Elif, bukan?"
"Iya kau benar."
"Kita ke rumah Elif sekarang, kita tanya langsung ke orangnya."
"Tunggu dulu, ini kan jam kerja, Elif pasti ada di kantornya."
"Oke, kita ke kantornya saja."
"Oke, cuss!"
***
Di dalam lift rumah sakit saat jam berkunjung, lima orang ibu-ibu paruh baya dan satu orang wanita berusia lanjut namun tetap terlihat segar dan sehat, menuju kamar VVIP. Tentu saja perjalanan mereka diisi dengan bahan obrolan yang sangat menarik.
"Jadi Oma benar-benar ketemu sama calon suaminya Elif yang ada di berita itu?" tanya Bu Tami.
"Iya, ganteng banget deh, kayak artis bule." jawab Oma.
"Tapi bukannya Elif masih kuliah sambil kerja ya?" tanya Bu Oci.
"Yah Bu Oci kurang update nih, Elif kabarnya sudah tidak kuliah lagi, dia kerja sekarang." jawab Bu Hani.
"Oh saya pikir Elif pergi pagi-pagi banget, pulang malem banget karena dia kerja sambil kuliah gitu." kata Bu Oci dengan polosnya.
"Kata Bu Zehra, Elif kerja jadi sekertaris. Tapi kita juga tidak tahu ya sekertaris apa yang kerjanya dari pagi buta sampai hampir tengah malam gitu." sahut Bu Tami.
"Eh sudah gitu, setiap hari diantar naik mobil mewah, anakku pernah lihat waktu lagi begadang ngerjain skripsi." timpal Bu Hani.
"Itu pasti si calon suaminya itu, ya." kata Bu Oci.
"Calon suaminya itu bosnya barangkali."
"Bisa jadi, mobilnya aja Oma lihat bagus banget, kayak yang ada di majalah-majalah gitu, ada sayapnya di belakang."
"Mobil sport itu namanya Oma." timpal Bu Hani yang disahut dengan kekehan receh ibu-ibu itu.
"Yah mudah-mudahan memang jodoh deh ya, kasihan Elif kan selama ini selalu tidak dianggap sama ayahnya."
"Padahal anaknya baik ya."
"Iya."
"Iya, baik anaknya."
"Kayaknya juga ini yang membiayai operasi Pak Yanuar dan segala-galanya itu calon suaminya Elif deh." kata Bu Hani.
"Pasti."
"Kenapa begitu?" (Bu Oci memang terlalu polos sodara-sodara.)
"Ya, kan, Pak Yanuar baru kena PHK, penghasilan warung makannya juga, yah, ga seberapa, lah. Terus si Elif kerja juga belum lama. Biaya dari mana bisa operasi dan dirawat di ruang perawatan VVIP rumah sakit mahal kayak gini, coba." Bu Retno menjelaskan dengan singkat namun masuk akal.
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka keluar dari dalam lift mencari ruang VVIP berada.
"Wuih ini dekorasi koridor rumah sakit saja sudah seperti di hotel ya." ujar Oma.
"Beruntung banget ya Bu Zehra dapat calon mantunya wong sugih." kata Bu Tami.
"Itu ruang VVIP nya, sudah ibu-ibu jangan ngerumpi lagi, tidak enak kalau Bu Zehra sampai dengar."
***
Elif memilih menyendiri di rooftop kantor, hanya berbekal sebuah roti sobek yang nitip beli pada seorang office boy. Ia benar-benar kehilangan selera makan karena pertemuannya tadi pagi dengan orang tua Ardan. Mama Ardan begitu modis seperti kebanyakan Ibu-ibu sosialita. Lalu Papa Ardan begitu berwibawa dan sangat tenang.
Elif masih ingat tatapan mata penuh penilaian yang diberikan mama Ardan padanya saat Ardan memperkenalkan Elif pada mama Ardan. Mata yang dihiasi dengan bulu mata yang panjang dan lentik dan warna eyeshadow yang senada dengan warna dress yang dikenakannya, melihat Elif dari bawah hingga ke atas. Bersyukurnya Elif ia memutuskan untuk mencepol rambutnya rapi, diberikan gel rambut dan disemprot hair spray agar tidak meronta-ronta. Entah apa yang akan dipikirkan orang tua Ardan apa bila melihat bagaimana megarnya rambut Elif.
Tapi sesungguhnya, tidak penting seharusnya bukan? Apa pun penilaian orang tua Ardan padanya seharusnya tidak perlu memberikan efek samping apa pun pada dirinya. Ya, seharusnya seperti itu.
Tapi pagi itu, Mama Ardan selalu membanding-bandingkan Elif dengan Marsha. Atau dengan gadis-gadis lain yang pernah coba ia kenalkan pada Ardan. Entah bagaimana harga dirinya sebagai perempuan terluka.
Percakapan tadi pagi pun masih saja bergema di dalam kepalanya, tidak pergi, dan semakin membuatnya terbawa perasaan.
"*Padahal Marsha sangat cantik, berkelas, pintar, berpendidikan tinggi, tapi tidak tahu kenapa Ardan malah menyia-nyiakannya. Gadis-gadis lain yang Tante pernah kenalkan pada Ardan juga bukan dari kelas sembarangan." kata Mama Ardan pagi itu di meja makan saat Elif disana bersama Ardan memenuhi undangan sarapan.
"Tapi yah, anak tante ini memang beda, dia selalu saja tidak pernah satu frekuensi sama Tante. Selalu punya pilihannya sendiri, dan yang bikin Tante heran, pilihannya itu selalu saja bertolak belakang dengan apa yang Tante mau."
"Ma, apa sih, dari tadi membandingkan Elif saja dengan yang lain." kata Ardan menegur mamanya.
"Ah kau ini seperti tidak tahu Mamamu saja. Jangankan orang, baju yang ia beli saja selalu dibandingkan dengan baju lainnya yang dia sudah beli juga." timpal Papanya Ardan.
"Maaf ya, Elis,"
"Elif, Ma, bukan Elis." Ardan mengoreksi, ke empat kalinya. Tapi sepertinya Nyonya Demir tidak peduli.
"Kau tidak tersinggung, kan?" Beliau melanjutkan*.
Tidak, seharusnya Elif memang tidak perlu tersinggung, tidak perlu ambil hati apa pun yang terjadi di dalam sandiwara ini. Karena semua kepalsuan ini akan berakhir setelah lima bulan. Lagi pula wajar saja bukan, jika Nyonya Demir menginginkan putra satu-satunya yang sangat sukses, tampan dan pintar itu mendapatkan pendamping yang setara status sosialnya. Bukan remahan biskuit seperti dirinya.
Drrt! Drrt!
Handphonenya bergetar, sebuah notif pesan singkat dari sebuah aplikasi menunjukkan Yura mengirimnya pesan.
[Aku dan Mona ada di lobi kantor mu, kita perlu bicara.
PS. Semua orang yang lewat di depan aku dan Mona, SEMUANYA membicarakan mu dan pria bernama Ardan.]
Elif mendesah pasrah. Sekarang ia harus berbohong kepada dua sahabat terbaiknya.
Oh Tuhan, apa yang akan terjadi padaku setelah semua kesepakatan konyol ini berakhir?