HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Ardan Naik Pitam.



//Jangan panggil aku ayah! Kau bukan anakku!//


Bentakkan Yanuar terdengar jelas oleh Ardan yang seketika membuat Ardan emosi mendengarnya. Jangan kan suara Yanuar yang berteriak, suara Elif yang bergetar pun dapat didengarnya. Dengan inisiatif Ardan langsung menekan tombol record untuk merekam apa yang terjadi.


"Ted, siapkan mobil sekarang! Kita ke rumah Elif sekarang!" Titah Ardan langsung berdiri.


"Apa yang terjadi, Nak?" tanya Zehra khawatir dan panik.


"Ada apa, Ar?"


"Pria itu memberitahukan siapa dirinya dan Elif, dia bahkan menyebut Elif anak haram! Berengs*k!" Maki Ardan.


Mereka pun langsung ke luar dari dalam ruangan menuju lift untuk sesegera mungkin bergerak menyelamatkan Elif.


//Kalau Ayah bukan ayahku, kenapa semua dokumen menyebutkan aku adalah anak kandung ayah? Bahkan akta lahirku?//


//Karena itu permintaan ibumu. Kalau saja dia tidak bisa memberikanku anak, kau selamanya akan tumbuh menjadi anak tanpa seorang ayah yang menginginkanmu.//


//Tidak...tidak... ku mohon Yah, jangan seperti ini. Kalau memang Ayah tidak menyayangiku, tidak apa-apa, tapi jangan berbohong seperti ini. Ini sangat menyakitkanku...//


//Kau pikir kalian tidak menyakitiku? Aku dipaksa menikahi ibumu yang sudah tidak terhormat, meninggalkan wanita yang aku cintai hanya karena keluarga ibumu mempunyai hutang pada keluargaku dan kalian hanya bisa memberikan seorang perempuan yang tidak berharga!//


//Ayah... tega sekali Ayah berkata seperti itu pada Ibu...//


//Sudah ku katakan, jangan panggil aku ayah! Sampai matipun aku tidak sudi menganggapmu anakku! Anakku hanya Adit seorang!//


//Baiklah, lalu apa yang harus aku lakukan?//


//Kau harus membayar kerugianku selama ini!// Suara Yanuar terdengar licik.


//Baiklah, aku... aku akan mencari pinjaman berapapun yang harus aku bayar padamu?//


//Cih, kau pikir uang bisa mengantikan kerugianku selama ini? Aku bisa mendapatkan harga yang tinggi saat nanti kau kujual! Hahaha!//


//Ap-apa?//


//Tapi sebelum itu, kau harus lebih dulu membayarku dengan tubuhmu!//


//Ap-apa? A-ayah! Jangan! Tolong! Tolong! Jangan! JANGAN!//


"Berengs*k! Berengs*k! Aku akan membunuhnya! Aku akan membunuhnya!" Maki Ardan dan bergegas menuju mobil yang berhenti sampai menimbulkan bunyi decit ban.


"Apa yang terjadi Ar?!"


Teddy langsung menginjak pedal gas begitu semua orang sudah masuk ke dalam mobil. Tidak perlu lagi Ardan memerintahkan Teddy untuk ngebut, ia dengan skill pembalap F1 melaju di atas jalanan ibu kota yang untungnya tidak terlalu padat karena mereka menuju arah kebalikan orang-orang yang berangkat kerja. Salip kanan-kiri, Teddy membawa empat nyawa termasuk nyawanya sendiri di atas roda empat itu dengan sangat lihai tanpa terlihat kesulitan. Mungkinkah Teddy adalah mantan The Transporter? Mungkinkah juga Teddy adalah muridnya Frank Martin?


Meski sangat khawatir dengan keadaan Elif, tetapi tidak menutupi ketakutan pada wajah Gavin dan Zehra dibawa terbang oleh muridnya si Frank Martin itu. Hanya dalam waktu 25 menit dari waktu normal bisa sampai 40 atau 50 menitan, mobil sedan itu kembali berhenti dengan ban yang berdecit tepat di depan rumah.


Terlihat para tetangga banyak yang berada di luar, seperti sedang mengerumpikan sesuatu yang serius. Mereka segera menghampiri Zehra begitu melihat Zehra keluar dari dalam mobil.


"Untunglah kau cepat kembali, Bu Zehra." kata Oma.


"Apa yang terjadi Oma?"


"Entah apa yang terjadi, tapi kami dengar-dengar keributan di dalam rumah kalian." jawab Oma.


"Iya, pas kami mau masuk cari tahu, eh, Elif sudah keluar dari rumah dengan bibirnya berdarah." Sahut Ibu Yanti.


"Iya, saya lihat juga tadi sepertinya lengan bajunya sobek." Sahut yang lainnya.


"Lalu Pak Yanuar keluar dan melarang kami menolong Elif, ia bilang akan menuntut kami kalau kami menolong Elif."


"Tapi Pak Yanuar juga kepalanya berdarah."


"Jadi Elif..." Zehra tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


"Iya, Elif pergi tadi, dia lari sambil nangis dan tidak pakai alas kaki. Dan kelihatannya berdarah juga."


Tangan Ardan sudah sangat terkepal kuat, emosinya mendidih, ia langsung masuk ke dalam rumah, diikuti Teddy dan Gavin.


"Ada apa sebenarnya Bu Zehra?"


"Kami khawatir sama Elif juga, maaf kami tidak bisa menahan Elif." Sesal para tetangga itu.


Keadaan di dalam rumah sangat kacau. Pecahan beling dimana-mana, jejak kaki yang berdarah pun terlihat dimana-mana. Yanuar keluar dari dalam dapur dengan handuk basah yang di pegangi pada keningnya yang luka dan berdarah.


"Apa yang kalian lakukan disini?!" Bentak Yanuar.


"Berengs*k!" Ardan langsung mendekati Yanuar dan langsung menghajarnya secara membabi buta. "Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu!" Teriak Ardan sambil menghajar wajah Yanuar.


Yanuar sudah terjatuh, ia tidak bisa melawan tenaga Ardan yang dibalut dalam emosi yang tinggi.


Gavin dan Teddy pun sampai kesulitan untuk menghentikan pukulan-pukulan yang dilayangkan pada Yanuar. Wajah itu sudah berlumuran darah, tapi Ardan tidak perduli. Ia gelap mata. Jika saja Teddy dan Gavin akhirnya berhasil menarik Ardan, mungkin Yanuar tidak akan bisa diselamatkan. Dan itu memang tujuan Ardan.


"Kurang ajar!" Yanuar susah payah bangkit berdiri. "Aku akan menuntut kalian semua!" Ancam Yanuar.


"Dan akan aku pastikan kau yang akan membusuk dipenjara!" Teriak Ardan. Masih dengan kedua lengannya di tahan oleh Teddy dan Gavin.


Jangan tanya para tetangga di luar sana sudah sangat kepo dengan keributan di dalam sana. Beberapa diantaranya menyarankan untuk melapor ke Pak RT. Beberapa diantaranya berpendapat untuk tidak mencampuri urusan keluarga orang lain.


"Dan kau! Istri macam apa yang diam saja melihat suaminya dipukuli seperti ini?" Yanuar melihat Zehra.


Alih-alih membela Yanuar, Zehra malah tetap berdiri di samping tiga pemuda itu. "Kau apakan anakku? Dimana Elif?!"


"Aku apakan anakmu?!" Suara Yanuar meninggi. "Apa kau tidak lihat kepalaku terluka? Anak harammu itu hampir saja membunuhku!"


"Dan kau memang seharusnya mati saja!" Ardan memberontak hendak akan menghajar Yanuar lagi, sampai-sampai Yanuar mundur beberapa langkah.


"Kau pikir hanya karena kau mempunyai uang, aku tidak bisa menuntutmu atas apa yang kau lakukan ini, hah?! Dasar begundal!"


"Kau pikir aku tidak bisa menuntutmu atas tuduhan pelecehan seksual?!"


"Pelecehan seksual?" Zehra menganga tidak percaya. Begitu pun dengan Gavin.


Yanuar tertawa sarkas, "Apa buktimu?"


"Lepaskan aku!" Bentak Ardan pada Teddy dan Gavin. Setelah lengannya bebas dari Teddy dan Gavin, Ardan langsung mengeluarkan handphonenya yang memperdengarkan hasil rekaman percakapan Elif dan Yanuar. Mendengar itu, wajah arogan Yanuar pun berubah panik dan pucat.


"Kau masih mau berkilah lagi? Kau tahu berapa lama hukuman untuk kasus pelecehan seksual? Aku bahkan bisa melipat-lipat gandakan masa hukumanmu dan kupastikan kau membusuk di dalam sel tahananmu!"


"Keterlaluan kau!" Plak! Zehra langsung menampar pipi Yanuar dengan sangat pedas. "Aku akan menggugat cerai kau secepatnya!"


"Dasar tidak tahu malu, keluargamu sudah menghancurkan hidupku dan mimpiku. Dan sekarang kau berkerja sama dengan mereka semua untuk menjebakku? Iya kan?"


"Tunggu, tunggu, Anda melakukan tindakan pelecehan seksual pada Elif, kenapa jadi Anda bilang kami dan istri Anda menjebak Anda?" Ujar Gavin.


"Masih mau berkilah dari bukti yang ada rupanya!" ucap Ardan dingin.


Yanuar tidak memperdulikan Gavin dan Ardan.


"Ted, segera bantu gugatan cerai Ibu Zehra dengan pria ini." Titah Ardan. "Pastikan hak asuh Adit berada pada Ibu Zehra."


"Baik Pak."


"Apa-apaan? Kau tidak bisa seperti itu!"


"Nyatanya aku bisa!" Balas Ardan.


"Ini tidak adil! Aku yang telah dihancurkan disini!" Teriak Yanuar. "Mereka telah menghancurkan hidupku!"


"Aku sudah pernah katakan padamu, jika kau tidak bersedia, kau bisa melepaskan aku pergi. Tapi kau malah bersedia dan tidak melepaskanku!' Balas Zehra.


"Tentu saja, karena aku akan menghancurkan hidupmu juga, dan anak harammu itu!"


"Cukup! Jangan sebut anakku anak haram!" Teriak Zehra.


"Dengar, kalau saja Anda membuka hati Anda, Anda bisa melihat betapa sangat baiknya Elif. Dia pintar, berprestasi, cantik, seorang anak yang patut dibanggakan, dan Anda memiliki seorang anak laki-laki juga, dan istri yang sangat penyabar. Kalau saja Anda lebih membuka hati dan pikiran Anda, Anda memiliki keluarga yang utuh dan bahagia. Tapi sayangnya, Anda memilih untuk memupuk dendam hingga meracuni hati Anda sendiri dan menjerumuskan diri Anda sendiri." kata Gavin.


Yanuar terdiam. Ia tidak mampu untuk membantah apa yang dikatakan pemuda bernama Gavin itu. Dalam hati, ia mengakui memang menimbun dendam untuk membalas apa yang ia rasakan pada Zehra dan anaknya. Ia menutup mata, telinga dan hatinya tentang Elif yang tumbuh menjadi anak yang manis, bertanggung jawab, perhatian dan sayang pada keluarga termasuk dirinya meski Yanuar selalu menyakiti hatinya.


"Ted, hubungi polisi sekarang juga, pastikan orang ini mendekam dalam waktu yang lama." ucap Ardan dengan sangat dingin.


"Tidak... jangan... kumohon... maafkan aku..." Yanuar memasang tampang penuh penyesalan yang mana sama sekali tidak menggugah hati dan simpatik Zehra apa lagi Ardan maupun Gavin.