HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
The Rescue Team!



"Ayo cepatlah... cepatlaahhhh." gumam Ardan.


*Flashback*


Ardan melihat ekspresi wajah Teddy berubah saat Daniel membisikkan sesuatu padanya, entah karena tidak sempat atau apa pun itu, Ardan dapat melihat jelas Teddy memberikan pesan tersirat semacam kode rahasia yang hanya Ardan, Teddy dan Gavin yang tahu, yaitu Teddy mengepalkan tangannya kemudian mengeluarkan jari telunjuknya. Kode yang mereka buat sebagai tanda ada sesuatu yang mencurigakan dan harus waspada tingkat tinggi, secepat mungkin siapa pun yang mendapatkan kode itu harus melakukan penjagaan meski belum pasti.


Karena itu, Ardan langsung mengirimkan pesan singkat pada Gavin untuk menyalakan akses GPS yang menghubungkan pada jam tangan Ardan. Dan meminta Gavin untuk diam-diam mengikuti Teddy yang pergi bersama Daniel, dan lakukan apa pun tindakan apapun yang diperlukan.


GPS bukan hanya terpasang pada Ardan, tapi juga pada Gavin dan Teddy. Tiga pentolan perusahaan itu memang mempunyai kode-kode rahasia yang hanya mereka bertiga yang tahu dan digunakan hanya dalam keadaan-keadaan darurat.


Gavin segera menajamkan pandangannya, ia melihat langsung Daniel bersama Teddy menjauh dari mobil, Gavin diam-diam dari jauh mengikut dengan alasan ingin ke kamar mandii. Daniel dan Teddy menuju bagian gerbang kecil belakang rumah besar yang jarang digunakan, sesekali digunakan untuk membuang sampah, dimana tak jauh dari sana ada sebuah mobil van hitam sudah menunggu.


"Sial, ada apa ini?!" Gumam Gavin. Dengan inisiatif yang sudah terlatih sangat tinggi, Gavin langsung mengeluarkan handphonenya dan merekam kejadian dengan kemampuan kamera handphone pintarnya yang sangat mumpuni untuk merekam dalam keadaan gelap ataupun jarak jauh.


Dua orang berbaju hitam keluar dari dalam mobil langsung mengambil alih Teddy, Teddy sempat membela diri, bertarung tapi kalah jumlah dan kalah badan.


"Main keroyokan, payah!" Gerutu Gavin. Ia tahu betul kemampuan bela diri Teddy, jika saja satu lawan satu, mereka bertiga pasti tumbang. Lah ini, dua orang badannya segede gajah dengan otot-otot yang membuat kaus hitam yang mereka kenakan menjadi sangat ngetat, mengunci tangan Teddy kanan dan kiri, tentu saja Daniel yang sempat menjadi pujaan baru di kantor itu bisa dengan leluasa memukuli Teddy.


Dua orang berseragam hitam itu menahan tubuh Teddy yang memberontak, lalu Daniel menghajar perut dan wajah Teddy. Tapi Teddy tetap menegakkan kepalanya, ia terlihat memaki Daniel, tapi Daniel terlihat ketawa-ketawa dan santai saja. Kemudian salah satu orang berbaju hitam itu mengikat tangan dan kaki Teddy kemudian memaksa Teddy masuk ke dalam mobil meski Teddy meronta-ronta lalu menutup kepalanya dengan sebuah kantong kain hitam.


Daniel merogoh saku Teddy, setelah mendapatkan handphone, ia langsung melemparnya dan menginjaknya sampai hancur dan mati.


Lalu pria itu terlihat memberikan instruksi kepada dua orang baju hitam, lalu ia pergi, melenggang dengan santainya sambil merapikan setelan jasnya.


"Tidak beres nih orang!" Gerutu Gavin sambil menghentikan rekamannya. Ia melihat layar GPS pada handphonenya, tak lama kemudian titik hijau yang menandakan keberadaan Ardan pun bergerak.


"Oke, bertahanlah kawan, aku akan bebaskan Teddy dulu, lalu kami selamatkan kalian." Gavin mengirimkan pesan singkat pada Ardan, kemudian bergerak dari tempat persembunyiannya, ia menghubungi beberapa saudara sepupu laki-laki Ardan yang masih ada di rumah orang tua Ardan, ia menjelaskan singkat dan empat orang laki-laki bertubuh tinggi seperti perawakan Ardan pun datang.


Empat orang sepupu Ardan tadi bersama Gavin pun langsung menuju van, memberikan kejutan untuk dua pria berbaju hitam yang sukses terkejut dengan kedatangan empat lima orang bewokan.


"Kejutan!" Gavin dengan kuat langsung menghajar satu orang yang duduk tepat di samping pintu dengan batu yang dia ambil di samping tong sampah, dan dua orang sepupu Ardan juga langsung menghajar satu orang yang duduk di kursi kemudi, juga dengan batu yang mereka ambil di bawan pohon pisang.


"Siapa orang-orang ini, Abi?" tanya sepupu Ardan, yang memanggil Gavin dengan sebutan 'Abang' ala Turki.


"Aku juga tidak tahu." jawab Gavin, sambil mengikat tangan dan kaki orang yang tadi dihajarnya. Begitu pun dengan orang yang dihajar oleh kedua sepupu Ardan. Dua orang itu akhirnya tidak berdaya dibawah lima orang laki-laki yang meskipun tidak mempunyai badan besar, tapi ternyata jago berkelahi, atau jago menghajar dengan batu.


Gavin kemudian membuka tutup kain hitam pada kepala Teddy. "Halo, Ted." sapa Gavin, kemudian melepaskan ikatan tangan dan kakinya.


"Kenapa lama sekali? Pak Ardan pasti sudah jauh!" Omel Teddy.


"Tenang, Bung, Ardan sepertinya sadar ada yang tidak beres, dia sudah menyuruhku menghubungkan GPS pada arlojinya."


"Huh, syukurlah, ayo kita berangkat sekarang."


"Tunggu dulu." Cegah Gavin. "Apa yang dikatakan Daniel sebelum dia pergi tadi? Aku lihat dia seperti memberikan instruksi."


"Ya, si cecunguk itu bilang akan vidiocall mereka untuk memperlihatkan keadaanku pada Pak Ardan. Aku benar-benar mempunyai firasat tidak baik."


"Aku rasa aku punya ide." Gavin melihat keempat sepupu Ardan dengan ide cemerlang.


***


Bersama polisi yang diminta oleh Gavin untuk tidak menyalakan sirine, karena mereka akan membuntuti diam-diam dan memberikan kejutan kepada siapa pun yang membawa sahabatnya. Mereka melewati mobil pengantin yang awalnya ditumpangi Ardan dan Elif pada sebuah jalan yang sepi. Lalu terus mengikuti arah titik pada layar GPS itu bergerak. Lurus, belok, masuk ke dalam jalan tol, keluar tol, berhenti pada lampu merah, belok ke kanan, lurus saja sampai mereka memasuki area yang jauh dari pemukiman.


Langit sudah gelap, jadi polisi memberikan instruksi untuk mematikan lampu mobil.


"Titik berhenti pada bagunan yang ada di depan sekitar 10 meter." Gavin memberikan informasi.


"Baik, kita berhenti di depan, lalu turun pelan-pelan, kepung lokasi, tutup semua akses jalan keluar, selamatkan Tuan dan Nyonya Demir."


Semua keluar dari mobil, para petugas polisi sudah siap dengan pistol dan rompi anti peluru, begitu pun dengan Gavin dan Teddy yang diberikan rompi anti peluru.


*flashback off*


"Tiga... dua..."


"Tunggu dulu!" Potong Ardan, "Tunjukkan padaku keadaan Teddy dulu!"


"Kau tidak percaya padaku?" tanya Kinan.


"Tentu saja!"


Kinan pun menyuruh Daniel menghubungkan panggilan vidio pada orang-orangnya, dan begitu layar terhubung, terlihat seorang pria duduk tak berdaya dengan tangan dan kaki diikat dan kepala yang ditutup kain, ia mengenakan stelan jas yang dipakai Teddy, jelas secara garis besar itu adalah baju yang dikenakan Teddy, tapi tunggu dulu, mata Ardan menyipit. Sebuah senyum tipis terbentuk.


"Kau lihat, asistenmu tidak berdaya." kata Daniel pada Ardan.


"Hei kalian, apa dia masih pingsan?" tanya Daniel, dan sebagai jawaban atas pertanyaanya, layar panggilan vidio itu bergerak naik dan turun.


"Apa-apaan jawaban kalian, hah?!" Protes Daniel.


"Sekarang apa kau masih tidak percaya padaku kalau aku sudah memegang asistenmu itu?" ucap Kinan penuh percaya diri.


"Aku tidak punya alasan untuk percaya pada... makhluk seperti kalian."


"Apa kau bilang? Makhluk?" Suara Daniel meninggi.


"Kau pikir kami ini apa?"


"Mana aku tahu, yang jelas kalian bukan manusia!"


Kinan tertawa, "Baiklah, Daniel, suruh mereka buka penutup kepalanya. Supaya Ardan bisa melihat jelas bagaimana asisten kesayangannya juga kehilangan nyawanya."


Daniel pun memerintahkan orangnya untuk membuka penutup kepala. Lalu layar bergerak, terlihat seperti sedang nge-vlog dengan kamera gopro yang ditempelkan pada helm. Hanya tangan saja yang terlihat hendak membuka penutup kepalanya dan....


"Tadaaaa! Suprise!" Emre, saudara sepupu Ardan pun berteriak, sambil tertawa!


"Kurang ajar! Siapa kalian?!" Daniel dan Kinan pun otomatis terkejut dengan kejutan yang diberikan oleh sepupu Ardan.


"Kami adalah.... the rescue team!" Kamera pun langsung menyorot empat wajah pemuda bewokan tipis yang tertawa-tawa, lalu menyorot dua laki-laki berbadan besar yang diikat tidak berdaya, disekitar mereka sudah ramai oleh penduduk dan beberapa polisi.


"Kurang ajar!" Daniel hendak menampar Elif lagi tapi betapa terkejutnya saat tiba-tiba tangannya langsung ditarik oleh Ardan.


Ya, Ardan berdiri di hadapannya, dengan senyum bengisnya ia mencengkram tangan Daniel dan...


Kletak! Kletak!


Dua jari dari tangan itu ia patahkan dengan mudah.


"Itu karena kau sudah berani menyentuh istriku!" Bentaknya. Ia langsung kalap menghajar Daniel yang kalah tenaga.


Kinan pun tak kalah terkejutnya melihat Ardan yang dapat melepaskan ikatan pada tangannya begitu pun dengan Elif, Kinan langsung mencoba mengambil salah satu senjata pada kantong hitam di atas meja, dan kemudian ia mengeluarkan pistol.


Awalnya ia mengarahkannya pada Ardan.


"TIDAK!" Teriak Elif, "Ardan!"


Lalu arah pistol pun berubah, kepada Elif. Ardan yang melihat Kinan hendak menarik pelatuk langsung melepaskan Daniel dan berlari menuju Elif.


DOR!


Suara tembakan pun terdengar. Satu peluru dilepaskan!