
Elif berjalan dengan langkah lunglai keluar dari dalam lift, kepalanya menunduk, ia tidak tahu lagi bagaimana dia harus menjelaskan semuanya pada Yura dan Mona. Dua orang sahabatnya itu, terutama Mona, bukan orang yang gampang begitu saja percaya dengan cerita yang pasti akan terdengar konyol untuk mereka. Tentu saja, Elif sudah memikirkan sebuah karangan cerita tentang bagaimana ia dan bos nya jatuh cinta, karangan yang pasti akan ditolak mentah-mentah oleh Mona.
Huuft, dia harus bagaimana? Sementara Ardan sudah memperingati tidak ada yang boleh tahu sandiwara ini. Kalau pun sandiwara ini sampai bocor, Ardan akan langsung menunjuk Elif sebagai yang membocorkannya, karena bagi Ardan, Teddy bukam makhluk yang gampang membuka mulut meski pun di todong pistol di depan jidatnya.
BUG!
Tubuhnya menabrak tubuh seorang pria berpostur tinggi, karena langkahnya yang sudah lunglai sejak keluar dari dalam lift, ia hampir terjatuh ketika tubuh lemahnya menabrak tubuh pria itu.
"Elif, kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat?" Gavin dengan sigap menahan bahu Elif. Sebuah scene yang pastinya mengundang banyak perhatian. Tatapan penuh penghakiman dari para wanita disana tertuju langsung pada Elif, mereka berpikir Elif hanya anak baru yang pasti menjual tubuhnya pada CEO mereka karena berita hubungan mereka terlalu sangat tiba-tiba.
Sonya bahkan tidak tahu lagi bagaimana harus membela anak didiknya itu, ditambah lagi keberadaan Sonya di perusahaan hanya tinggal menghitung hari, dan setelahnya Sonya harus meninggalkan Elif sendiri dengan berita skandal yang membuat Elif akan sangat kesusahan nantinya.
"Ah ya, aku tidak apa-apa." jawab Elif sambil tersenyum rikuh.
"Kau mau kemana?"
"Ke lobby, ada teman-temanku datang, em, kami mau makan siang." katanya berbohong. Tentu saja, sepotong roti yang dia titip beli saja tadi sama sekali belum disentuhnya, dia kehilangan napsu makan. "Aku permisi, Kak, eh, Pak."
"Elif," Gavin memanggilnya lagi.
"Iya?"
"Aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat, atau apakah tepat aku mengatakannya, karena tentu saja berita tentang dirimu dan Ardan membuat semua orang terkejut. Tapi kalau memang benar adanya begitu, aku ingin ucapkan selamat padamu." ucap Gavin.
Oh Tuhaaan, aku ingin tenggelam saja, tenggelam sekarang. Sekarang Kak Gavin benar-benar berpikir aku adalah calon istri orang menyebalkan itu. Hiks!
"Wah terima kasih, Gav." Bukan Elif yang membalas ucapan Gavin, tapi Ardan. Ia melangkah dengan gayanya elegan tanpa dibuat-buat, dan langsung merangkul Elif begitu berdiri tepat disampingnya. "Doakan kami lancar semuanya."
Apanya yang lancar?! Dasar sinting! Omel Elif dalam hatinya.
"Ya, pasti lah, aku pasti mendoakan yang terbaik untuk teman baikku, dan gadis baik seperti Elif."
Elif tersenyum kecut.
"Walaupun masih ada yang membuatku heran, aku tidak tahu kalian sudah bertunangan, tapi tahu-tahu Elif sudah menjadi calon istrimu?"
Alih-alih menjawab, Ardan malah terkekeh. "Kau tahu, aku dan Elif itu fleksibel,"
Apa dia bilang? Fleksibel? Ugh!!
"Kami sudah sama-sama dewasa, terbuka dengan perasaan kami masing-masing, aku pun tidak perlu membuang waktu seperti dulu. Jadi aku rasa tidak perlu ada acara pertunangan segala. Buang-buang waktu saja."
"Ya mungkin bagimu bisa seperti itu, tapi mengingat mama mu bukan orang yang sesederhana itu, aku pikir rasanya tidak mungkin Tante Hana tidak mengadakan pesta pertunangan apa lagi beliau sangat ingin kau menikah."
"Kau hanya tidak tahu saja sisi lain Mama." ujar Ardan.
"Ehem," Elif berdeham. "Maaf semuanya, kalau tidak keberatan aku mau ke lobby, ada teman-temanku menunggu."
"Teman-temanmu, sayang?"
Sumpah demi apa pun, Elif benar-benar geli mendengar Ardan memanggilnya dengan kata sayang apa lagi di depan orang. Seolah mereka benar-benar sepasang kekasih yang dimabuk asmara.
"Iya. Aku ke lobby dulu."
"Oke aku ikut."
"Eh, untuk apa?"
"Tentu saja untuk lebih dekat dengan teman-temanmu."
"Eh, tapi-"
"See you on meeting, Gav." ujar Ardan sambil berlalu bersama Elif yang tidak berkutik untuk menolak.
Orang-orang melihat bagaimana posesifnya Ardan merangkul Elif dengan tatapan iri namun tetap tersenyum dan mengucapkan 'Selamat' pada mereka berdua selama perjalanan singkat menuju lobby.
"Hei, berhenti memasang wajah masam seperti itu." ucap Ardan dengan suara sangat pelan.
Hih, lalu aku harus memasang wajah bagaimana?
"Tunjukkan senyumanmu kepada semua orang, kau tahu, orang-orang disini sekarang memperhatikanmu. Dan aku yakin Mamaku juga akan mencari tahu bagaimana hubungan kita di perusahaan."
"Memangnya harus seperti terlihat bagaimana? Apa aku harus bergelayutan di tangan Anda?" jawab Elif juga dengan volume pelan.
"Ide bagus!"
Elif segera melemparkan tatapan penuh pisau pada Ardan.
"Bayangkan, jika kau selalu bergelayutan padaku, bukan hanya orang-orang yang iri, tapi juga Marsha. dia sudah meremehkanku, kalau dia sampai tahu aku membiarkan seorang wanita bermanjaan denganku, dia pasti akan-"
"Yura! Mona!" Elif segera melepaskan diri dari Ardan dan berlari kecil menghampiri dua sahabatnya yang sudah menunggunya sedaritadi.
***
......I need somebody who can love me at my worst......
...Know i'm not perfect, but I hope you see my worth....
...Yeah, 'cause it's only you, nobody new,...
...I put you first, and for you, girl, I swear...
...I'd do the worst....
Lagu At My Worst mengisi seluruh penjuru sebuah cafe yang sangat fancy. Suasana yang tidak terbilang sepi di cafe itu membuat Yura dan Mona sesekali memalingkan wajah mereka dari dua orang di depannya yang membuat diri mereka merasa begitu canggung. Lebih tepatnya, hanya satu orang saja yang membuat suasana di meja yang mereka tempati terasa canggung dan sedikit tidak nyaman bagi tiga wanita itu. Dan satu-satunya pria di meja itu terlihat nyaman-nyaman saja apalagi sekarang salah satu tangannya sedang memainkan sulur rambut Elif yang tidak terikat karet rambut.
"Kenapa tidak dimakan kuenya?" tanya Ardan, melihat Yura dan Mona.
"Eh, iya, Pak, eh," Mona menggaruk tengkuknya, bingung, tidak yakin bagaimana dia harus memanggil bos besar yang ternyata benar adalah kekasih baru sahabatnya itu.
"Santai saja, kau bisa panggil aku 'Kak' saja. Supaya lebih akrab." kata Ardan dengan sangat santainya.
Elif rasanya sudah gemas sekali ingin membawa pergi Yura dan Mona dari depan Ardan. Elif tahu, alasan kenapa Ardan bisa ikut bersamanya, pasti karena Ardan takut Elif tidak bisa menjaga rahasia hubungan palsu mereka di depan dua sahabatnya itu. Karena itu Ardan ikut dan memutuskan untuk mengontrol situasi.
"Kalian tenang aja, Ardan tidak semenakutkan yang kalian pikir kok." ujar Elif untuk mematahkan kecanggungan dua sahabatnya itu.
"Ah ya, benar sekali, aku bisa menjadi sangat bersahabat. Jadi jangan sungkan padaku." ucap Ardan dengan menambahkan senyuman pada wajah tampannya.
Yura dan Mona pun terkekeh rikuh. Yura menyenggol Mona untuk mencicipi kue yang sudah dipesankan Ardan untuk mereka.
"Aku pesankan kalian yang paling best seller disini." ucap Ardan. Jarinya masih belum berhenti dari memainkan sulur rambut Elif, dan itu benar-benar membuat Elif jengah. Apa lagi Mona dan Yura pun juga memperhatikan bagaimana Ardan dengan sangat naturalmemainkan perannya.
"Oh, eh, iya Kak terima kasih. Kuenya enak." kata Yura setelah menyuap satu sendok.
"Kalian pasti sangat merindukan Elif, bukan? Kalian pasti rindu kumpul bersama."
"Ya, begitu lah, Kak." jawab Mona.
"Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi, meski pun Elif adalah calon istriku, tapi statusnya di perusahaan adalah tetap sekertaris CEO yang mempunyai tanggung jawab pekerjaan."
Elif memaksakan dirinya untuk tersenyum senatural mungkin.
"Aku tidak bisa mengurangi tanggung jawabnya karena akan menimbulkan kesenjangan. Dan lagi pula Elif sendiri yang tetap meminta agar tetap bekerja seperti biasa. Benar, kan, sayang?"
Benar kepalamu!
"Iya." Senyum Elif mengembang pada wajahnya.
"Tidak apa-apa, Pak, eh, Kak. Kalau Elif libur, kita bisa kumpul lagi." ujar Yura.
"Ya, tentu saja." sahut Ardan. "Sayang, kau punya sahabat-sahabat yang sangat pengertian, ya."
"Ya."
"Mungkin kalau kalian sudah lulus nanti, kalian bisa mengajukan lamaran ke perusahaan-"
"Mona dan Yura sudah memiliki cita-citanya sendiri." Potong Elif dengan segera.
"Benarkah?" Ardan melihat Yura dan Mona dengan tatapan penasaran.
"Iya, Kak, kami sebenarnya bertiga punya cita-cita akan menjadi seorang yang bekerja dibidang jurnalis seperti itu." kata Mona.
"Benarkah?" Kini Ardan menatap Elif. "Kau bercita-cita ingin menjadi jurnalis?"
"Iya."
"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku? Aku bisa membuatmu jadi jurnalis yang kau mau."
"Tidak perlu, aku memilih untuk bekerja sebagai sekertaris mu saja." jawab Elif.
"Kenapa begitu?"
"Karena dengan begitu aku bisa selalu dekat denganmu, dan memastikan mantanmu tidak akan melirikmu lagi."
Ardan seketika tertawa renyah.
Hih, puas sekali kau tertawa! Oh, Mona, Yura, maaf aku harus berbohong pada kalian. Maafkan aku.
"Maaf, Kak Ardan, Elif, kalau boleh tahu, nih, bagaimana sih ceritanya kalian bisa memutuskan untuk bersama?" tanya Mona akhirnya.