HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Kesedihan Elif.



Setelah selesai dengan menu makan malam yang tidak bisa dipesan walaupun Ardan adalah anak dari pemilik rumah sakit tersebut, ia turun dari ranjangnya, kepalanya sudah tidak lagi merasakan pusing. Tekanan darahnya pun telah kembali normal, dan lengannya tidak terlalu perih. Fadil memberitahunya kalau lukanya itu sampai membutuhkan 15 jahitan. Dan Fadil memberitahunya di depan Hanna yang sontak membuat Hanna memukul kaki Ardan karena anak itu mengaku lukanya tidak serius.


"Mau kemana?" Tanya Hanna yang sedang memakai serum wajah, sambil memijat-mijat pelan ke arah atas agar kulit wajahnya tetap kencang.


"Ke ruangan Fadil, mau cabut hak ijin prakteknya karena sudah membawaku ke rumah sakit." jawab Ardan asal.


"Oh, ya sudah, setelah itu cabut juga posisimu sebagai CEO." Sahut Hanna sambil tetap melakukan rutinitas skincare malamnya.


"Hahahaha, bercanda Mama sayang." Ardan tertawa. "Aku mau ke kamar Elif. Aku rindu."


"Dasar bucin." Cetus Hanna. "Jangan lama-lama, supaya Elif tidak terganggu dengan kebucinanmu."


"Oke." Ardan membawa serta tiang infusannya.


Ardan membuka pintu kamarnya, ia berjalan normal, sekilas tidak seperti orang yang sakit atau hampir kehilangan banyak darah. Baru satu langkah ia bergerak dari pintu kamarnya, pintu ruangan sebelahnya terbuka juga. Zehra keluar dari sana dengan ekspresi panik.


Ardan segera menghampiri, "Ibu Zehra? Ada apa?"


"Nak Ardan... tolong... Elif... bisakah panggilkan dokter Fadil? Bisakah Elif diberikan penenang lagi?"


"Apa? Memangnya kenapa?"


Zehra hanya menggeleng mengusap wajahnya, "Begitu terbangun dari tidurnya, ia terus saja menangis."


"Baiklah, bisa aku menemui Elif dulu sebelum memanggil dokter Fadil?"


"Apakah Nak Ardan bisa bantu menenangkan Elif?"


"Kita coba saja dulu, ya, Bu?"


Zehra mengangguk kemudian membiarkan Ardan masuk.


Benar seperti apa yang dikatakan Zehra, di atas ranjang rumah sakit itu Elif meringkuk, tubuhnya gemetar seiring dengan suara isak tangisnya yang terdengar begitu pilu.


"Elif..." Panggil Ardan dengan sangat lembut. Ia menyentuh pelan lengan Elif hingga membuat wanita itu menengok padanya. Matanya sangat merah dan basah, seprai bantal pun juga basah karena air matanya yang tumpah ruah.


"Ardan..." Sahut Elif, suaranya lirih dan lemah. Ia masih meringkuk. "Aku takut..."


"Ssshhh..."Ardan duduk tepat ditepian ranjang, di depan Elif. Ia mengusap rambut Elif, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagaian wajahnya. "Jangan takut lagi, ada aku disini, ada Ibu juga, tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi."


"Benarkah? Aku tidak lagi sendirian?"


"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi." Ia kini mengusap lembut wajah Elif.


"Kenapa semua orang ingin menyakitiku?" Elif masih menangis. "Apa salahku?" Pertanyaan itu sungguh menyayat hati Zehra yang menahan suara tangisnya sendiri dengan menutup mulutnya dengan tangan.


"Tidak begitu Elif. Semua orang menyayangimu. Ibu, Adit, aku, Mona, Yura, Gavin, Sonya, Mama dan Papaku, bahkan Teddy."


"B-benarkah? Semuanya menyayangiku?"


"Tentu saja. Mamaku bahkan akan mencakar siapa pun untuk melindungimu dengan kuku palsunya yang tajam." kata Ardan, sedikit berusaha menyisipkan humor untuk mengalihkan kesedihan Elif.


"Tapi kenapa Ayah menyakitiku... memukuliku... membenciku... apa salahku? Apa?" Elif semakin terisak-isak.


Elif menggeleng. Ia semakin meringkukkan tubuhnya sampai membuat selimut yang menutupi tubuhnya mengkerut. "Kau bohong... Ayah tidak pernah menyayangiku. Ayah membenciku... kenapa? Kenapa Ayah membenciku? Kenapa? Ayah memukulku, Ayah juga.... Aaaa! Tidak! Tidak!" Tiba-tiba Elif terduduk dan teriak histeris sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya, seperti orang yang bertahan diri ketiga hendak diserang.


"Elif! Elif! Tenanglah." Ardan berusaha menggapai kedua tangan Elif, mengabaikan rasa nyeri pada luka dibalik perban pada lengannya. Ia berhasil menangkap kedua tangan Elif dan langsung membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Membiarkan Elif meronta disana kemudian kembali menangis terisak.


"Jangan tinggalkan aku... jangan tinggalkan aku..." Pinta Elif dalam sela tangisnya. Tangannya meremas pakaian rumah sakit yang dikenakan Ardan. "Aku takut Ayah datang. Aku takut Ayah marah lagi." Elif mengangkat kepalanya, melihat Ardan dengan mata basahnya. "Aku memukul Ayah, aku membuat kepalanya berdarah. Ayah pasti akan menghukumku..." Elif menggeleng cepat. "Aku tidak mau dihukum Ayah..."


"Ssshhh... tenanglah, aku tidak akan kemana-mana. Kau akan terus berada dalam dekapanku seperti ini, oke? Tenanglah, tidak perlu kau cemaskan Ayahmu atau yang lain. Mereka tidak akan bisa menyentuhmu lagi. Aku janji." Ardan mengecup puncak kepala Elif dengan sayang. Hatinya benar-benar teriris mendengar tangis Elif, kesedihan yang selama ini ia pendam dan ia telan sendiri.


Zehra tak lagi bisa menahan tangisnya. Ia keluar dari dalam kamar itu. Sama seperti Ardan pastinya, hatinya tidak hanya teriris, tapi juga hancur. Semua ini salahnya. Ia yang membiarkan Elif dilukai oleh suaminya. Ia membiarkan Elif hanya tahu bahwa sosok ayah adalah Yanuar. Semua salahnya karena telah membiarkan semua ini selama bertahun-tahun. Semua salahnya karena memilih untuk bertahan dengan pria yang tidak pernah menerima dirinya apa lagi putrinya.


"Maafkan Ibu, Elif... Maafkan Ibu...."


***


Pagi datang menyapa seluruh permukaan bumi yang dilihatnya. Sinarnya mengintip dari balik celah tirai jendela VVIP yang ditempati Elif. Ibu Zehra tidur pada sofa yang ada disana, sementara Elif terlelap sesuai dengan janji Ardan, terus berada dalam dekapan pria itu, hingga akhirnya Elif lelah dan tertidur. Ranjang di rumah sakit itu khususnya kamar VVIP memang cukup untuk dua orang. Jadi, tidak terlalu sempit ditempati Ardan yang tertidur juga.


Zehra terbangun saat seorang perawat datang, perawat itu tersenyum melihat bagaimana Elif bergelung dalam dekapan kekar lengan Ardan. Perawat datang untuk mengganti botol infus yang sudah hampir habis.


"Pagi, Suster." Sapa Zehra.


"Pagi Ibu." Sapa perawat itu dengan sangat ramah. "Bagaimana dengan Nona Elif, Ibu? Apakah tidak menangis lagi?"


"Oh, semalam sebenarnya saya ingin minta obat penenang lagi, karena Elif sempat histeris. Tapi Nak Ardan bisa menenangkannya." Jawab Zehra, sambil melemparkan senyuman lega pada dua insan yang masih terlelap di atas ranjang itu.


"Syukurlah kalau begitu. Saya akan gantikan botol infus Tuan Ardan juga kalau begitu."


"Baik Suster."


Setelah selesai dengan tugasnya. Perawat itu pun keluar dari sana. Zehra tak hentinya tersenyum mengingat bagaimana Ardan menenangkan Elif semalaman. Pria itu begitu sabar dan penuh sayang menenangkan Elif sampai putrinya itu tertidur dalam dekapan Ardan dan Ardan pun ikut tertidur.


Sangat terenyuh melihat keduanya. Ia begitu bersyukur ditengah-tengah badai ini, Elif menemukan tempatnya untuk berteduh yang dapat melindunginya.


Pintu kembali di ketuk, Zehra pun buru-buru membuka pintu khawatir suara ketukan pintu akan membangunkan Ardan dan Elif.


"Ah, Nyonya Hanna." kata Zehra begitu melihat Hanna di depan pintu dengan gaya yang sudah kece sepagi ini.


"Jangan memanggilku, Nyonya, Bu Zehra. Panggil Hanna saja." kata Hanna.


Sambil mempersilahkan Hanna masuk, Zehra tentu saja menolak memanggil Nyonya besar itu dengan hanya nama saja. "Bagaimana kalau, Mama Hanna?"


"Ah, boleh juga." jawab Hanna. "Jadi disini anak ini." Omel Hanna dengan suara pelan. "Sudah kubilang jangan lama-lama supaya Elif bisa istirahat, eh, dia malah tidur disana, membuat Elif kesempitan saja!" Hanna hendak membangunkan Ardan, namun dengan cepat Zehra menahannya.


"Maaf, Mama Hanna, kalau tidak keberatan, biarkan saja mereka tertidur dulu. Saya justru sangat berterima kasih karena Nak Ardan datang semalam dan membantu menenangkan Elif yang menangis semalaman."


"Ah... kasihan sekali calon mantuku... Semoga ia bisa dengan cepat melalui semua kesedihan apa pun yang membuatnya tidak berhenti menangis seperti itu."


"Ca-calon mantu?" Zehra mengulang.


"Iya, calon mantu. Bukan kah kita akan segera berbesanan, Bu Zehra?"