HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Daniel dan Kinan.



Sebelum meninggalkan kediaman rumah besar Demir yang telah menjadi tempat pesta pernikahan sederhana ala nyonya Hanna untuk putra semata wayangnya, Eluf dan Ardan berpamitan pada semua keluarga dan beberapa kerabat dekat keluarga yang masih disana, termasuk Gavin dan kekasihnya. Yep, akhirnya mereka telah mengakhiri masa LDR-an nya.


Gavin memeluk Ardan erat seraya menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. Ia sangat berbahagia untuk Ardan, tulus dari dalam hatinya. Ia sangat bersyukur atas pernikahan Elif dan Ardan.


"Aku yakin kau akan selalu menjadi suami yang siaga untuknya." ujar Gavin seraya melepaskan pelukannya.


"Tentu saja!"


"Segera berikan aku keponakan-keponakan yang menggemaskan."


"Untuk yang satu itu, aku memberikan Elif kebebasan untuknya memilih, ingin langsung atau menyelesaikan kuliahnya dulu."


Gavin mengangguk setuju. Sekali lagi mereka berpelukan.


Sepasang pengantin baru itu pun melambaikan tangan pada semua orang sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Teddy, mobil sedan mewah yang tentu saja sudah dihias menjadi mobil pengantin yang menakjubkan dan cantik, bahkan bagian dalamnya pun tak luput dari dekorasi hiasan bunga-bunga.


"Nyona Hanna memang paling teliti." ujar Ardan sambil nyengir melihat bagaimana mobil itu penuh dengan bunga-bunga.


Saat Teddy hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Daniel menghampiri, membisikkan sesuatu. Wajah Teddy tiba-tiba berubah, ia mengangguk kaku, kemudian mengikuti Teddy tanpa mengatakan apa pun, namun sebuah pesan tersirat disampaikan olehnya kepada Ardan.


Tidak ingin membuat panik istrinya yang masih mengagumi dekorasi mobil, Ardan mengeluarkan handphonenya dan berinisiatif mengirimkan pesan singkat pada Gavin.


Tak lama kemudian, Daniel datang, ia masuk dan duduk di belakang setir menggantikan posisi Teddy.


"Dimana Teddy?" tanya Ardan tenang.


"Maaf Pak, ada sesuatu yang mendesak, Pak Teddy meminta saya untuk menggantikan mengantar Bapak dan Ibu ke tujuan." ujar Daniel.


"Hem," Namun dahi Ardan mengerut. Tidak biasanya Teddy menyuruh seseorang menggantikan dirinya tanpa memberitahu lebih dulu. "Kenapa Teddy tidak memberitahuku dulu? Biasanya dia selalu memberitahu kalau dirinya tidak bisa."


"Maaf Pak, Pak Teddy bilang handphonenya lowbat."


"Oh begitu. Baiklah, kita jalan sekarang saja." ujar Ardan.


Daniel mengangguk, dan mobil pun bergerak.


Karena terlalu lelah, Ardan dan Elif tak lagi bisa menahan rasa kantuk yang menyerang mereka. Mulanya Elif yang sudah lebih dulu tertidur dengan bersandar pada pundak Ardan, kemudian tak lama Ardan yang tertidur dengan bersandar pada kepala Elif.


Daniel melihat keduanya terlelap melalui kaca spion tengah.


"Pak, Pak, Pak Ardan?" Daniel mencoba membangunkan bos nya, tapi rupanya Ardan maupun Elif tidak merespon.


Lalu, Daniel membuka kaca jendelanya untuk beberapa saat, lalu menyalakan musik melalui playlist handphonenya dan menyambungkannya pada perangkat musik di mobil, sebuah alunan musik mozart terdengar, ia mulai menggerak-gerakkan jarinya pada kemudi, menggoyangkan kepalanya, dan bersenandung.


Kemudian Daniel mengeluarkan sebuah alat kecil dari saku jasnya, ia menekan tombol kecil berwarna biru pada alat tersebut, kemudian keluar sebuah angka pada layar kecil alat tersebut, lalu alat itu mulai bekerja, seperti penyendot debu, namun ini bukan alat penyedot debu, itu adalah alat yang dirancang khusus oleh Daniel sendiri untuk menyedot racun yang ada diudara tak terlihat. Sampai angka pada alat tersebut sudah menunjukkan angka seratus, barulah Daniel memencet tombol lain berwarna hijau untuk menetralkan kembali udara. Setelah itu ia membuang alat itu ke jalanan begitu saja seperti membuang kulit kuaci. Setelah itu, ia melepaskan semacam penyumbat hidung dari dalam hidungnya dan juga membuangnya ke jalanan.


Ia terus melajukan mobil dengan kecepatan sedang sambil terus memantau waktu pada arlojinya. Lalu ia mendapatkan pesan pada handphonenya, sebuah lokasi dikirimkan, ia segera menuju ke lokasi. Lima belas menit kemudian ia memasuki sebuah jalan yang sepi. Sebuah mobil van hitam sudah menunggunya juga dengan beberapa orang laki-laki berbadan besar. Mereka segera mengeluarkan Ardan dan Elif yang masih tidak sadarkan diri dari dalam mobil pengantin itu setelah mendapatkan kode dari Daniel, sementara Daniel memasang perangkap sebuah bom yang akan meledak jika salah satu pintu mobil dibuka maka mobil itu akan meledak.


Pria bertubuh tinggi itu pun melangkah dengan elegannya menuju van hitam, ia kemudian merogoh saku jas Ardan dan mendapatkan dua handphone. Yang satu milik Ardan dan yang satu lagi milik Elif.


"Mereka bahkan menggunakan casing couple, sungguh bos yang kharismatik." ujar Daniel seraya melempar kedua handphone tersebut dan menginjaknya sampai hancur. Ia masuk ke dalam mobil dan mobil pun meninggalkan lokasi.


***


Ditempat lain, sebuah gudang tua yang sudah sangat lama tidak terpakai yang letaknya sangat jauh dari pemukiman berlokasi di pinggiran Ibu kota, seorang wanita tengah menikmati segelas wine sambil berkirim pesan pada saudara sepupunya, bertanya kapan sampai. Tak lama, suara deru mesin mobil terdengar, wanita itu segera menunjukkan senyuman lebarnya, ia bahkan sempat merapihkan tatanan gaun dan rambutnya, tak lupa menambahkan kembali warna merah pada bibirnya.


Ia berdiri di tengah ruangan, menunggu. Penantiannya akhirnya tersampaikan, dua orang yang masih dalam keadaan tidak sadar dibawa oleh lelaki-lelaki berseragam hitam itu. Daniel memerintahkan mereka untuk mendudukan Ardan dan Elif pada kursi yang telah disiapkan, kemudian diikat dengan sangat kencang.


"Kau siap menyapa, sepupu?" tanya Daniel.


"I'm dying for this day." jawab wanita itu.


Daniel langsung menyiramkan air tepat pada wajah Ardan kemudian pada wajah Elif. Pengaruh bius pun hilang seketika, keduanya tersadar dan bingung dengan keadaan dan keberadaan mereka.


"Ardan? Ardan?! Apa apa ini?!" tanya Elif yang mulai ketakutan. Elif belum menyadari keberadaan orang lain disana. Ia masih terlalu shock menyadari dirinya terbangun di sebuah tempat yang asing dengan tubuh terikat kuat pada kursi.


Namun Ardan sudah menyadarinya lebih dulu sejak Teddy memberikan pesan tersirat melalui gerakan tangannya saat Daniel menghampirinya sesaat sebelum Teddy masuk ke dalam mobil. Yang ia tidak mengerti, bagaimana ia dan Elif bisa berada di tempat asing itu tanpa dirinya sadar.


Bius. Pikir Ardan.


"Tenang sayang, tenang, jangan panik. Kita akan baik-baik saja, percaya padaku. Oke?" ujar Ardan dengan tenang, tidak ingin menambah kepanikan dan ketakutan pada istrinya.


"Iya Nyonya Bos, kalian akan baik-baik saja, kalian akan sehidup semati seperti Romeo dan Juliet." Cetus Daniel.


"Daniel?! Apa yang kau lakukan?!" Bentak Ardan.


"Membawa kalian berbulan madu, Bos." jawab Daniel enteng.


"Aku percaya padamu, dan ini yang kau lakukan?"


Daniel terkekeh, lalu menjawab, "Aku memang sengaja membuatmu harus percaya padaku, dan ternyata itu bukan lah hal yang sulit." Jawab Daniel menyepelekan Ardan.


"Kau akan membayar ini semua!"


Lagi-lagi Daniel terkekeh. "Tenang, jangan terburu-buru. Ada yang ingin menyapa kalian lebih dulu."


Kemudian wanita yang sedari tadi duduk di dalam keremangan cahaya bergerak maju, menunjukkan wajah dan senyum manisnya.


"Apa kabar kalian? Selamat atas pernikahan kalian yang sayangnya tidak sampai lebih dari hari ini." ucap wanita itu dengan manisnya.


"Siapa kau?!"


Wanita itu tertawa alih-alih menjawab.


"Pantas saja mereka tidak pernah bisa menemukanmu, sepupu. Hasil karyaku benar-benar berhasil, bahkan dua orang ini tidak mengenalimu." kata Daniel.


"Apa kabar Elif? Apa kau masih ingat dengan kenangan kita di toilet beberapa bulan lalu?" Ucap wanita itu sambil mencondongkan tubuhnya sedikit rendah pada Elif.


Elif dengan matanya yang sudah membasah karena air mata yang tak tahan untuk tidak tumpah, mengerjapkan mata melihat wajah asing di hadapannya itu, namun tatapan mata itu tidak asing, Elif pernah melihatnya.


"Ki... nan?" Ucap Elif antara ragu dan yakin.


"Kinan?" Ardan mengulang, mengernyitkan dahi melihat wanita yang sudah kembali berdiri tegak di samping Daniel. "Tapi bagaimana kau..."


"Berbeda?" Wanita yang ternyata adalah Kinan itu terkekeh penuh kebanggaan. "Berilah penghargaan pada sepupuku yang sangat genius ini!" Kinan menepuk-nepuk bahu Daniel. "Tidak hanya bisa melakukan operasi plastik pada wajahku, dia juga menciptakan bius udara tanpa asap sampai kalian bisa berada disini tanpa kesulitan. Bravo sepupu!"


Alih-alih marah dan tersinggung dengan makian Ardan, kedua sepupu itu malah tertawa.


"Kau tahu, aku selalu senang dan bangga dengan julukan itu, karena hanya orang-orang genius yang bisa menyandang predikat sebagai seorang psikopat. Hahahah!"


Elif menggelengkan kepala, ia berusaha untuk tenang meski rasanya sulit.


"Kinan... apa mau mu? Kenapa kau melakukan ini?"


"Apa mauku?" Kinan membeo. Senyuman bengis terbit pada wajahnya. "Aku ingin kau dan Romeo mu mati, sama seperti kalian telah membuat jiwaku yang dulu mati."


"Ap-apa maksudmu?" tanya Elif.


"Aku sudah ingin berubah, Nyonya Elif, pelan-pelan aku mepunyai sahabat-sahabat yang membuatku merasa normal, kau ingatkan Ayu dan Nanda? Dua orang ya g malah jadi mengkhianatiku, menusukku dari belakang, semua gara-gara kau! Kau, ******!"


"Jaga ucapanmu, Kinan!" Bentak Ardan.


"Jangan memerintahku, Ardan! Kau bukan lagi bosku! Kau bukan siapa-siapa lagi sekarang!"


"Kinan, kenapa kau tidak bercermin pada kesalahanmu sendiri, kau yang memulai duluan, kau yang menyebarkan fitnah tentangku lebih dulu, kau dan sahabat-sahabat yang menusukmu dari belakang itu. Bukan aku!"


"Diam kau, ******!" Kinan menarik rambut Elif sampai membuat Elif meringis.


"Lepaskan tanganmu darinya!" Bentak Ardan, namun dengan cepat Daniel menghajar rahang Ardan dengan kuat.


"Berengs*k kau Daniel!"


"Tutup mulutmu!" Daniel balas membentak.


"Aku sangat membencimu, Elif. Sangat!" kata Kinan, melepaskan rambut Elif dengan kasar. "Kau membuatku muak!"


"Tapi kenapa? Apa salahku?" tanya Elif.


"Karena kau telah merebut Ardan dariku!" Teriak Kinan.


"Merebut? Heh, apa kau sedang berhalusinasi?" Balas Ardan.


"Apa kau tidak menyadari aku menyukaimu sejak pertama kali aku diterima kerja, aku berusaha bekerja sebaik mungkin, untuk mendapatkan perhatianmu, tapi kau tidak pernah melihatku, atau memujiku, lalu tiba-tiba perempuan jelek ini datang dan tiba-tiba dia menjadi calon istrimu!" kata Kinan pada Ardan.


"Tuhan Maha Baik karena membuatku buta untuk tudak melihat kepalsuanmu." jawab Ardan.


Lagi, Kinan malah tertawa, seolah Ardan mengatakan sesuatu yang lucu.


Daniel kemudian menyeret meja kecil yang diatasnya ada dua kantong bahan berwarna hitam. Diletakkannya di depan Ardan dan Elif.


"Kalian lihat ini? Ini adalah dua kantong yang berisi pisau dan pistol. Tapi aku tidak tahu yang mana. Yang jelas salah satu diantaranya akan aku gunakan untuk menyingkirkannya." Kinan menunjuk Elif.


"Jangan gila kau!" Teriak Ardan sambil berusaha memberontak.


"Tenang, tenang, Ardan sayang. Kau bisa menyelamatkannya dengan syarat kau menceraikannya saat ini juga, dan kau jadi milikku selamanya." jawab Kinan dengan sangat santainya.


"Apa? Kau benar-benar sudah gila!"


"Iya, kau yang membuatku gila begini." kata Kinan sambil mengibaskan rambutnya yang terurai. "Aku janji, kau tidak akan menyesalinya. Aku akan menjadi wanita paling manis dan nakal hanya untukmu."


"Kau menjijikan!" Maki Ardan. "Lebih baik aku mati."


Kinan tertawa. "Aku tidak akan membunuhmu, sayang. Karena kau pria yang aku cintai, tapi aku akan membunuh orang kepercayaanmu kalau kau menolak tawaranku."


"Apa?! Siapa?!"


"Teddy."


"Sialan! Lepaskan aku!"


"Dan aku akan membunuhnya kalau kau menerima tawaranku. Bagaimana? Perpisahan yang elegan bukan? Ditinggal mati, bukan bercerai."


"Kau benar-benar sakit!"


Kinan dan Daniel tertawa. "Kuberi kau waktu 30 detik untuk tentukan pilihanmu, sayang." ucap Kinan.


"Ardan..." lirih Elif. Tatapan Elif begitu pasrah, begitu merana, begitu putus asa. Tidak akan ada yang menyelamatkan mereka dari sini, tidak ada yang tahu keberadaan mereka. Air mata sudah sejak tadi membanjiri wajahnya. "Bagaimana ini... apakah kita harus..."


"Elif, dengarkan aku, aku tidak akan mengorbankan siapa pun demi prempuan gila itu." ucap Ardan.


"Jangan memberikan harapan palsu, Bos." Celetuk Daniel sambil tertawa.


"Diam kau orang sakit!" Maki Ardan


PLAK!


Daniel menampar keras pipi Elif.


"ELIF! BERENGS*K! AKAN AKU PATAHKAN TANGANMU! Ardan meronta-ronta dalam ikatannya.


"Kenapa kau marah sekali, Bos? Aku hanya menunjukkan padamu apa yang orang sakit bisa lakukan. Hahaha"


"Tik tok tik tok, ayolah Ardan tentukan pilihanmu, waktu 30 detikmu hampir habis, aku akan menghabisi keduanya jika kau tidak juga menentukan pilihan. Dan setelah ini akan aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu lagi dengan manusia lain selain aku dan Daniel, kau akan menjadi tawanan cintaku hingga maut memisahkan kita."


"Kalian bahkan bukan manusia!"


Kinan dan Daniel tertawa.


"10... 9..."


"Ardan..."


"Percaya padaku, percaya padaku." Ardan berusaha meyakinkan Elif. Entah apa yang membuatnya begitu yakin.


"6... 5..."


"Ayo cepatlah... cepatlaahhhh." Gumam Ardan.