HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Isi hati yang penuh emosi.



Selama meeting berlangsung, Elif tak jarang mencuri pandang pada Gavin yang sedang mempersentasikan sebuah inovasi perkembangan proyek komputer lipat yang dipimpin langsung oleh Gavin, tanpa Elif sadari sepasang mata mengawasinya. Mata yang dapat membuat semua orang tunduk tanpa membantah, yang dapat membuat semua orang takut, mata yang dapat menjatuhkan siapa pun tanpa harus menyentuhnya. Apakah pemilik sepasang mata itu harus menjatuhkan Gavin hanya karena ia merasa mulai tidak rela?


Ditengah-tengah persentasi berlangsung, tiba-tiba Ardan mengangkat tangannya sebagai tanda aktifitas apa pun yang terjadi harus berhenti.


"Apa kau yakin dengan inovasi yang kau rancang itu bisa memenangkan kita di pasaran?" tanya Ardan. Seperti biasa, Ardan selalu beraura dingin, berkharisma, dan juga mengintimidasi.


"Tentu saja Pak." Jawab Gavin dengan percaya diri. "Saya dan tim sudah melakukan berbagai riset untuk bisa mengembangkan inovasi ini."


Elif sampai berpikir, mungkinkah Ardan memiliki dua kepribadian? Karena ia benar-benar berbeda dengan sosok Ardan yang di cafe tadi. Oke, walaupun yang di cafe itu hanyalah penipuan publik, tapi kalau memang dia memang benar-benar memiliki sifat asli yang sedingin itu, akan sulit baginya untuk bersandiwara seluwes tadi.


"Dan kau yakin itu akan berhasil?"


"Sangat yakin, Pak." ujar Gavin.


Meski Gavin dan Ardan pada dasarnya adalah teman semasa kecil, namun posisi Gavin di perusahaan tetaplah bawahan dari Ardan. Di dalam kegiatan formal seperti ini, Gavin tentu saja akan bersikap professional sebagaimana mestinya bawahan kepada atasannya. Jika memang mereka bertemu tidak dalam interaksi soal pekerjaan, maka Gavin akan bersikap layaknya seorang teman. Dan Ardan sama sekali tidak keberatan.


"Baiklah, kalau memang kau sangat yakin dan sangat percaya diri seperti itu." Ardan bangkit berdiri dengan sangat tiba-tiba sampai membuat semua orang di dalam sana heran dan juga ikut berdiri. "Aku beri kau waktu dua minggu untuk membuktikannya, jika dalam waktu dua minggu tidak ada perubahan yang signifikan, bersiaplah untuk meniti karir di tempat lain."


Semua orang tentu saja terkejut dengan pernyataan atau mungkin lebih tepatnya sebuah peringatan pada Gavin. Yang membuat terkejut adalah, ini pertama kalinya Ardan bersikap seperti itu pada Gavin. Semua orang tahu bahwa Ardan dan Gavin adalah teman dekat, lalu kinerja Gavin pun sangat baik dan tidak pernah mengecewakan. Dengan apa yang terjadi barusan membuat semua yang ada di dalam ruang meeting pun berasumsi bahwa dua orang teman itu sedang bermasalah.


Dan tunggu saja sampai meeting selesai, orang-orang keluar ruangan, gosip pun akan segera memadati setiap permukaan yang ada di dalam gedung itu.


Gavin pun cukup terkejut dengan sikap Ardan. Ia tidak pernah menembak Gavin seperti ini. Kalau pun ada kinerja Gavin yang tidak disukainya, Ardan lebih memilih untuk membicarakannya dari pada memberinya peringatan seperti itu dihadapan banyak orang. Apa yang terjadi?


Teddy dan Elif berjalan dalam diam di belakang punggung Ardan yang lebar. Meski pun bibirnya diam, namun suara di dalam kepala Elif sama sekali tidak bisa diam.


Elif pun memukul kepala Ardan dari belakang dengan laptop yang dibawanya dan meneriakinya atas apa yang dilakukannya pada Gavin tadi. Mencengkram kerah pria itu sambil mengguncangkan tubuhnya sampai membuat Teddy kewalahan untuk melepaskan Elif. Tidak berhenti sampai disitu, Elif pun mencakar rahang yang ditumbuhi rambut-rambut halus dengan kukunya.


"Apa yang sedang kau lamunkan?" Sebuah suara menyadarkan Elif dari imajinsi barbarnya untuk menghabisi Ardan.


Ardan tengah berhenti berjalan dan berdiri menatap Elif dengan tatapan tajamnya.


"T-tidak ada." jawab Elif.


"Ikut aku ke ruangan." titahnya sambil berlalu.


Elif meletakkan laptopnya di meja kerjanya saat Sonya sedang menerima panggilan telepon yang mengatasnamakan asuransi. Kemudian Elif masuk ke dalam ruang kerja Ardan dimana aura dingin seperti menusuknya hingga ke tulang.


***


"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku melakukan itu pada Gavin, bukan?" tebak Ardan, ia bahkan tidak melihat Elif saat mengucapkannya.


"Iya." Elif menjawab tanpa ragu.


"Karena aku tidak menyukai cara kau meliriknya selama meeting berlangsung." jawab Ardan dengan sangat gamblang sambil menutup dokumen yang baru saja selesai ditanda tanganinya, kemudian memberikannya pada Teddy.


"Apa?" Elif mengerutkan dahi.


"Jangan salah sangka, aku melakukannya bukan karena aku cemburu. Sampai sekarang pun kau tetap bukan tipeku."


Astaga! Apa dia pikir semua orang menyukainya? Dia juga bukan tipeku! Omel Elif dalam hatinya.


"Kau harus ingat, semua orang kini tahunya kau adalah calon istriku. Yang itu artinya kau harus berhati-hati untuk menjaga mulutmu, tingkahmu, bahkan caramu melihat Gavin." Jelas Ardan. Tidak ada seringaian atau senyuman meledek pada wajah itu. Hanya keseriusan dan ekspresi tidak suka yang terlihat disana.


"Aku tidak suka dijadikan bahan gosip. Dalam kasus ini, jika kau terus saja melihat Gavin dengan tatapan mendamba seperti tadi, orang-orang akan segera menjadikan aku, kau dan Gavin sebagai bahan gosip yang nikmat, dan aku akan dibanding-bandingkan dengan Gavin. Itu sama sekali tidak menyenangkanku."


"Lalu, mebodohi semua orang dengan sandiwara ini, apakah itu menyenangkan Anda?"


Teddy segera melemparkan tatapan tajam pada Elif.


Ardan menaikkan sebelah alis matanya.


"Apa maksudmu?" tanya Ardan.


"Anda bisa mengeksekusi apa pun dan siapa pun yang membuat Anda tidak senang. Anda juga bisa melakukan apa pun yang menyenangkan untuk Anda tanpa memikirkan orang lain!"


"Elif!" Teddy menegur Elif.


"Biarkan, Ted, aku ingin dengar apa isi hati Nona Elif." ujar Ardan.


"Jadi kau menyesal?"


"Tentu saja!" ucap Elif dengan kuat. Untungnya ruangan Ardan kedap suara.


"Anda bisa membuat skenario yang sangat meyakinkan semua orang, ibu saya, adik saya, mungkin juga nanti ayah, dan tadi sahabat-sahabat terbaik dalam hidup saya. Dan Anda menikmatinya, karena itu membuat Anda senang. Tapi Anda tidak memikirkan bagaimana Anda telah menghancurkan hidup saya."


"Menghancurkan hidupmu? Aku?" Kemudian Ardan tertawa sarkas.


"Iya Anda. Apakah Anda tidak berpikir bagaimana nanti setelah semua sandiwara ini berakhir? Siapa yang akan menjadi bahan olok-olokan? Bukan Anda, tapi saya dan keluarga saya. Dan apakah Anda pikir hubungan saya dengan Ayah akan menjadi damai? Tentu saja tidak, Ayah akan semakin membenci saya. Dan sahabat-sahabat saya? Mereka juga akan membenci saya karena saya telah membohongi mereka. Saya akan kehilangan semuanya, kepercayaan ibu, adik, sahabat-sahabat saya. Oh, saya hanya akan mendapatkan satu hal yang pasti, yaitu kebencian mutlak ayah saya." Elif mengeluarkan kekesalannya setelah ia tahan sekuat tenaga, dengan napas ia hela kasar karena saking emosinya.


"Wah, teryata kau sangat tidak tahu terima kasih, ya. Padahal aku sudah menolong ayahmu."


"Menolong? Tidak Anda tidak menolong, Anda hanya melakukan hal pamrih! Kalau memang Anda adalah orang yang dermawan dan tulus menolong orang lain, Anda tidak akan mengambil kesempatan untuk keuntungan Anda sendiri. Anda tahu saya membutuhkan biaya, yang mana orang seperti saya tidak akan mendapatkan sejumlah uang dengan cepat, bahkan jika saya harus menjual diri. Lalu Anda memberikan saya pilihan, menerima kesepakatan atau membiarkan adik saya menjadi yatim dan ibu saya menjadi janda." Entah kenapa air mata malah menetes. Rasanya sakit sekali. Tapi dengan cepat Elif mengusap air mata itu. "Apa itu yang Anda sebut, menolong?"


Ardan terdiam.


Begitu pun dengan Teddy. Ada sebuah perasaan salut padanya untuk gadis yang berdiri dengan berani menyuarakan rasa ketidaksukaannya pada Ardan. Dimana semua orang menyembunyikan ketidaksukaannya pada Ardan dan memberikan senyuman palsu kemudian membicarakan Ardan di belakang sebagai atasan yang menyebalkan dan semena-mena.


Melihat bagaimana tertamparnya Ardan dengan semua ucapan penuh emosi yang disampaikan tanpa gentar oleh Elif, Teddy sangat yakin setelah ini dirinya akan mendapatkan tugas baru.


"Apakah setelah ini Anda akan memecat saya? Tidak perlu repot, saya mengundurkan diri!"


"Apa?" Ardan mengerutkan kening.


"Ya. Saya akan cicil semua biaya yang sudah Anda keluarkan untuk Ayah saya. Saya juga akan mencicil uang pinalti karena saya mengundurkan diri sebelum masa percobaan saya berakhir."


"Apa kau tahu berapa total yang harus kau bayar?"


"Tahu! Saya akan tetap membayarnya meskipun nyawa taruhannya!"


Teddy sampai geleng-geleng kepala dengan keputusan yang diambil Elif.


"Elif, apa kau sebegitu bencinya padaku?"


"Ya!" jawab Elif dengan lantang, kemudian dengan langkah kaki yang lebar setengah dihentakkan, Elif keluar dari ruangan itu.


"Kau dengan itu, Ted? Dia membenciku dan dia mengatakannya dengan lantang. Whoa!"


"Lalu apakah Anda akan memecatnya atau menerima pengunduran dirinya, Pak?"


"Tentu saja tidak dua-duanya!" Ardan menghela napas. "Aku harus meluluhkannya."


Teddy tercengang. Dalam sejarah, mungkin ini adalah ekspresi tercengang pertama pada wajah kaku Teddy.


"Anda ingin meluluhkan hati Elif? Anda, Pak?"


"Ya. Apa kau pernah lihat ada wanita lain yang pernah bersikap seperti tadi padaku?"


"Tidak pernah ada satu pun."


"Ted! Sepertinya aku menyukainya."


"Maaf Pak? Elif maksud Anda?"


"Apa ada wanita lain yang berani bilang membenciku selain Elif?"


"Maaf Pak, saya hanya terkejut." Ya Tuhan, Nyonya besar harus tahu ini. Nyonya pasti akan menggelar syukuran 30 hari 30 malam.


"Ted, aku punya tugas baru, selidiki semua latar belakang tentang Elif. Cari tahu juga bagaimana hubungannya dengan ayahnya, apa penyebab ayahnya begitu membenci Elif, aku yakin ada cerita dibalik semua kebencian itu. Cari tahu siapa mantan Elif yang bernama Dimas."


"Baik Pak."


Sudah kuduga.


"Dan bagaimana tugas yang kusuruh sebelumnya? Tentang Elif dan Gavin?"


"Oh, ini Pak dokumen yang Anda butuhkan." Teddy memberikan map lain dari tangannya. Map yang berisi segala informasi tentang hubungan Elif dan Gavin. Dan ternyata isinya memang hanya sebatas kaka senior dan junior semasa Gavin kuliah dulu. Tidak ada yang spesial. Ya, mungkin bagi Ardan, tapi tidak bagi Elif.