HATE Before LOVE

HATE Before LOVE
Penantian yang berbuah manis.



Elif termangu.


Mereka terdiam cukup lama, keheningan yang canggung mengisi ruang kosong diantara keduanya. Masing-masing berkutat dengan pikiran mereka.


"Apakah kau begitu membenciku, Elif?"


"Aku..."


"Apakah aku tidak pantas mendapatkan kepercayaanmu?"


"Bukan begitu..."


"Baiklah, aku tidak ingin membebanimu, aku akan pergi, aku tidak akan muncul lagi dihadapanmu, jika memang ketidakberadaanku bisa membuatmu nyaman dan bahagia. Mungkin juga kau akan merasa jauh lebih tenang tanpa kehadiranku lagi dalam hidupmu. Yang perlu kau lakukan hanyalah memintaku untuk pergi, dan aku akan pergi."


"Apa kau ingin meninggalkanku? Bukankah kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku?"


"Tentu saja aku tidak ingin meninggalkanmu. Aku begitu frustasi ingin menghabiskan setiap detik hidupku bersamamu, tapi aku juga tidak bisa egois, memaksakan hati dan perasaanku padamu yang aku takut akan menjadi beban untukmu."


"Kalau begitu jangan pernah pergi dariku. Jangan mengingkari janjimu."


"Ten-tentu saja. Tapi apa ini artinya kau..." Ardan menggantungkan kalimatnya, menatap Elif penuh harapan.


Elif mengangguk, ia menundukkan kepalanya. Ia yakin kini pipinya pasti sudah merona, merah seperti udang rebus.


"Ya Tuhaaan! Akhirnyaaa!" Sontak Ardan berteriak kegirangan di dalam mobil, kemudian tiba-tiba Ardan keluar dari mobil, berlari memutari parkiran minimarket sambil kedua tangannya ke atas seperti pemain bola yang selebrasi setelah mencetak gol, senyum lebar terlukis pada wajah tampannya, petugas minimarket sampai menggelengkan kepala melihat tingkah Ardan dan begitu ia kembali masuk ke dalam mobil, refleks ia langsung memeluk Elif, mengecup puncak kepala Elif, kening, pipi kanan, hidung, pipi kiri dan bibir...


"Eh, maaf! Maafkan aku! Aku... aku hanya terbawa suasana, aku terlalu senang, aku-"


"Tidak apa-apa." Potong Elif.


Ardan menarik napas dan menghembuskannya penuh kelegaan.


"Tapi..." Tiba-tiba Elif berubah sendu.


"Tapi apa?"


"Apakah kau akan tetap mencintaiku, tetap berada disisiku kalau kau tahu apa yang baru saja Ibu katakan padaku?"


"Memang apa yang Ibu Zehra katakan?"


"Ibu bilang... ayah bukan ayahku."


"Ibu Zehra bilang begitu?"


Elif mengangguk. "Tapi aku tidak percaya."


"Kenapa kau tidak percaya?" tanya Ardan hati-hati. Ia cukup terkejut Zehra sudah mengatakannya dengan sangat cepat.


"Tentu saja, di akta lahirku jelas ayah dan ibu adalah orang tuaku, kartu keluarga dan dokumen-dokumen lainnya menunjukkan ayah adalah ayahku. Aku tidak mengerti kenapa ibu bisa berkata seperti itu. Padahal ibu tahu aku sangat mengharapkan ayah bisa menyayangiku, aku sangat ingin membuat ayah bangga padaku, tapi ibu menyuruhku berhenti mengharapkan harapan kosong. Aku tidak mengerti!" Suara Elif mulai bergetar, air mata menggenangi pelupuk matanya.


Ardan tentu saja tidak bisa tidak memeluk tubuh mungil Elif saat wanita yang sangat dicintainya itu merasa begitu terpukul dan sedih. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Elif bisa mengingat semuanya, akan seperti apa nantinya hati Elif menjadi hancur untuk kedua kalinya.


"Sshh... tenanglah." Ardan mengusap lembut rambut keriting Elif yang megar. "Apa kau sudah bertanya pada ibu apa alasannya ibu berkata seperti itu?"


Elif menggeleng.


"Baiklah, begini saja, tenangkan dulu hatimu. Dinginkan kepalamu. Setelah itu, kau bisa bertanya apa alasan ibu berkata seperti itu. Aku yakin ibumu bukan hanya sekadar asal bicara."


"Tapi aku takut, entah kenapa aku merasa takut untuk bertanya."


"Apa yang mambuatmu takut?"


"Aku takut, bagaimana kalau ternyata ayah memang bukan lah ayahku? Lalu siapa ayahku? Apakah masih hidup? Apakah ayah kandungku menyayangiku? Atau membenciku juga?" Elif mengangkat kepalanya, menatap mata Ardan. "Lalu apakah kau masih bisa menerimaku? Keluargamu apakah bisa menerimaku jika kenyataannya aku dibuang oleh ayah kandungku?"


"Benarkah?"


"You have my word."


"Tapi bagaimana dengan keluargamu?"


"Hm, bisa dibilang mama dan papa bukan penganut sistem mencari calon suami atau istri itu harus lihat dari bibit bebet dan bobot. Yang terpenting bagi mama dan papa adalah kepribadian orang itu sendiri, latar belakang apa lagi status sosial bukan lah hal yang menjadi tolak ukur untuk mama dan papa. Yang terpenting adalah, anaknya saling mencintai dengan hati dan ketulusan." Ardan menjelaskan dengan santai.


"Benarkah?"


"Ya, aku bisa menjaminnya. Siapa pun ayahmu, kau pantas dan berhak untuk bahagia dan dicintai." Ardan merangkum wajah Elif dengan kedua telapak tangannya.


"Tapi aku tetap takut. Bagaimana jika selama ini ayah membenciku karena memang aku bukan darah dagingnya?"


"Kalau memang kenyataannya seperti itu, maka ada dua hal yang kau dapatkan. Pertama, kau akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaanmu selama ini, kenapa ayah tidak menyayangimu. Kedua, kau tidak perlu lagi berkorban atau berusaha keras untuknya, kau tidak perlu lagi mengecewakan hatimu dengan harapan kosong."


"Jika memang benar, apakah aku bisa lebih hidup bahagia?"


"Mungkin, karena selama ini kau hanya tertekan karenanya, kau selalu bersedih karenanya, kau selalu kecewa karenanya."


"Apakah kau pikir aku bisa menerima kenyataannya jika benar seperti itu?"


"Dengar sayang, kau... hei kenapa pipimu jadi merona aku memanggilmu sayang? Apa jantungmu juga berdebar?"


"Ardan, bukan waktunya menggodaku!" Omel Elif sambil memukul lengan Ardan dan memundurkan tubuhnya. Karena jantungnya memang berdebar mendengar Ardan memanggilnya dengan 'Sayang'.


"Maaf, kau hanya jadi membuatku gemas jika merona seperti itu." Ardan mencubit pelan pipi Elif. "Baiklah, kembali ke topik. Apa kau bisa menerima kenyataannya nanti? Hm, aku rasa siapa pun yang berada di posisimu awalnya pasti akan merasa sangat terpukul, sedih dan tidak percaya, tentu saja. Kau pasti akan membutuhkan waktu untuk sendiri. Tapi aku yakin, jika kau mampu melapangkan hatimu, mengikhlaskan semua dan menerimanya, kau akan mengerti."


Elif menarik napas panjang kemudian menghembuskannya panjang. Sorot matanya tidak menampik dia sangat takut dan bimbang. Ardan meraih tangan Elif, mengusapnya dan menggenggamnya, mengalirkan kehangatan dan ketenangan untuk Elif.


"Kau tidak akan sendirian, sayang. Ada aku, Adit, sahabat-sahabatmu, ibu. Jangan bersedih sendirian, oke?"


Elif mengangguk.


"Berjanjilah padaku, apa pun nanti alasan ibu, kau tidak akan memendam kesedihanmu sendirian."


Elif mengangguk lagi.


"Baiklah, aku antar kau pulang sekarang, lihat sudah jam satu pagi."


"Tapi, aku merasa tidak ingin pulang."


"Jangan bicara begitu, kau akan membuatku tersiksa kalu seperti itu."


"Kenapa memangnya?"


"Aku sedari tadi sudah menahan diri untuk tidak menelepon Teddy."


"Apa hubungannya Pak Teddy dengan ini semua?"


"Karena aku ingin memintanya membawa seorang penghulu saat ini juga, jadi aku bisa langsung menghalalkanmu menjadi milikku seutuhnya dan membawamu langsung ke apartemenku."


"Ardan!" Elif memukul lengan Ardan, sedikit keras walaupun tidak memberikan efek apa pun. "Baiklah, ayo kita pulang." kata Elif akhirnya sambil menggelengkan kepala atas pikiran Ardan yang sungguh random.


"Pulang kemana? Ke rumahmu? Ke apartemenku? Atau ke rumah baruku?" Goda Ardan. Ah, dia suka sekali melihat pipi pada wajah Elif merona imut seperti itu.


"Ardan! Astaga! Antar aku pulang ke rumahku sekarang, pikiranmu semakin halu."


Ardan tertawa. Ia mengacak puncak kepala Elif dengan sayang, sampai membuat Elif ikut tertawa. Dan mobil pun meninggalkan pelataran parkir minimarket.


Ibu benar, Ardan bisa membuatku merasakan lebih tenang. Aku bahkan tidak lagi merasakan keresahan saat tangannya yang besar dan hangat itu membawa tanganku di dalam genggamannya.