
Sonya sedari tadi sibuk mencari dokumen yang sedang dikerjakan Elif sebelumnya tidak bisa menghubungi Elif karena handphonenya tidak di bawanya. Kemudian Sonya terkejut saat melihat sebuah surat pengunduran diri yang sudah ditandatangani oleh Elif. Dengan cepat Sonya menuju ruangan Ardan, tentu saja sampai dia lupa untuk mengetuk pintu dan membuat Ardan menatapnya kaget.
"Apa karena kau sebentar lagi keluar dari sini, jadi kau bisa masuk tanpa ketuk pintu?"
"Maaf, Pak, tapi ini urgent." Sonya langsung memberikan surat itu pada Ardan. "Elif tetap akan mengundurkan diri Pak! Bagaimana ini?" Sonya bertanya cemas.
"Hem," Ardan membaca surat pengunduran diri itu sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan tipis itu. Kemudian dengan santai dan tenang ia merobek surat itu begitu saja. "Case closed."
"Tapi Pak, bagaimana kalau Elif-"
"Panggil saja Elif ke sini. Sepertinya aku harus bicara dari hati ke hati padanya."
"Saya setuju Pak!"
"Tentu saja! Sekarang panggil Elif."
"Tidak bisa Pak, Elif belum kembali sejak tadi. Handphonenya juga tidak dibawa. Saya tanya di grup pun juga tidak ada yang melihat Elif."
Ardan mengerutkan dahi, ia melihat arlojinya, "Ini sudah satu jam lebih. Kemana dia?"
"Saya tidak tahu Pak, kalau saya tahu saya tidak akan bingung."
"Kemana biasanya Elif jam segini?"
"Biasanya hanya ke kamar mandi, itu pun tidak pernah selama ini. Kalau pun sedang kesal, biasanya dia menyendiri ke roof top."
"Apa? Siapa yang membuat Elif kesal sampai membuatnya menyendiri di roof top?"
"Anda, Pak." Ups! Sonya keceplosan.
"Apa virus berani Elif menularimu?"
"Maaf Pak, tapi memang begitu adanya."
Ardan hanya mendengus. "Baiklah, minta seseorang untuk memanggil Elif di roof top."
"Sudah Pak, saya sudah minta cleaning service untuk cek roof top apa ada Elif atau tidak, tapi tidak ada Pak."
Ardan mulai menegakkan tubuhnya, ia mulai khawatir.
"Apa mungkin ia pulang?"
Sonya menggeleng, "Tidak mungkin Pak, karena handphone dan tasnya ada di meja."
"Sonya ini serius! Tidak mungkin Elif menghilang di dalam gedung ini, kan?!" Ardan bangkit berdiri. Ia segera memanggil Teddy melalui telepon di atas mejanya. Secepat kilat Teddy langsung datang tanpa perubahan ekspresi pada wajahnya.
"Ted, Elif menghilang!"
"Maaf, Pak? Menghilang?"
"Iya! Sudah satu jam tidak kembali ke meja. Sonya sudah bertanya pada semua orang tapi tidak ada yang menemukannya. Di roof top juga tidak ada."
"Apakah mungkin Nona Elif pulang ke rumahnya, Pak?"
"Tidak mungkin Pak, tas dan handphonenya masih ada di meja." Sonya menjawab.
"Ted, cek semua CCTV di gedung ini, bahkan CCTV yang ada di basement juga!"
"Baik Pak." Teddy langsung ke luar dari ruangan itu.
"Dan kau, tetap tanya ke orang-orang yang mungkin tidak ada di grup, cari Elif!"
"Iya Pak." Sonya pun keluar dari dalam sana.
"Kalau sampai tidak ketemu juga, aku akan panggil detektif!"
***
Teddy bersama 3 orang staf IT memeriksa semua CCTV yang ada di gedung itu. CCTV yang totalnya ada 85 item. Mereka memeriksa rekaman satu jam sebelumnya. Sepuluh menit berlalu akhirnya salah satu dari staf IT itu menemukan keberadaan Elif yang terakhir kali dilihat.
Teddy melihat Elif berjalan di koridor menuju kamar mandi perempuan. Satu menit kemudian ia melihat tiga staf perempuan yang sedang tertawa-tawa masuk ke dalam sana, sampai dua puluh menit kemudian hanya tiga orang staf perempuan itu tadi yang tertawa-tawa keluar dari dalam kamar mandi, tapi dua diantaranya terlihat ketakutan, satunya terlihat santai saja.
Teddy memicingkan mata, melihat satu orang itu mengunci pintu kamar mandi dan memasukkannya ke dalam celah dadanya.
"Baik Pak!"
Teddy langsung kembali ke ruangan Ardan, dimana Sonya masih sibuk bertanya kesana-kemari melalui telepon yang ada di meja untuk mencari tahu keberadaan Elif.
Melihat Teddy masuk ke dalam ruangan Ardan tanpa mengetuk, Sonya pun ikut masuk, karena dia sungguh khawatir.
"Bagaimana?" tanya Ardan pada Teddy dan tidak masalah dengan keberadaan Sonya juga disana.
Teddy seperti biasa yang sedikit bicara banyak bertindak langsung menunjukkan rekaman CCTV yang didapatnya.
"KURANG AJAR!" Ardan menggebrak meja setelah melihat rekaman itu, sampai membuat Sonya kaget dan refleks bersembunyi di belakang Teddy.
Ardan segera bangkit dan hendak keluar untuk menjemput Elif. Tapi,
Tok! Tok!
"SIAPA?" Teriak Ardan karena saking kesalnya. Kemudian dua orang staf perempuan yang wajahnya ada di rekaman tadi masuk, ia melangkah masuk takut-takut, apalagi melihat tatapan tajam Ardan dan Teddy padanya seperti ujung pedang samurai yang siap membantainya dalam sekali ayunan.
"Kalian!" Ardan hendak menghampiri staf itu dengan kepalanya yang terbakar amarah. Namun Teddy cepat mencegah Ardan mendekati dua orang staf perempuan itu. Teddy tahu siapa mereka. Nanda dan Ayu. Teddy pernah mewawancarai mereka saat Ardan membutuhkan teman untuk ke acara pernikahan Marsha.
"Karir kalian berakhir hari ini!" Maki Ardan. "Panggil teman kalian yang satu lagi!"
"Ma-maafkan kami, Pak." kata Nanda takut. Tentu saja takut! Sudaj gila kali kalau sampai tidak takut.
"Tapi kami tidak bisa panggil Kinan." kata Ayu yang sama takutnya.
"Kenapa?" Sonya bertanya lebih dulu.
"Karena Kinan memang tidak tahu kami ke sini." Ayu menjawab Sonya.
"Kenapa dia tidak tahu?" Sonya bertanya lagi.
"Karena..." Ayu menggigit bibir, ia melirik Nanda, kemudian Nanda takut-takut menunjukkan sebuah rekaman dari handphonenya pada Sonya.
Sonya seketika memekik dan menutup mulutnya melihat apa yang dilakukan Kinan pada Elif.
"Kalian benar-benar tidak punya hati apa bagaimana?!" teriak Sonya.
"Apa yang terjadi?!" Ardan langsung menyambar handphone itu dari tangan Sonya.
"Bukan kami, tapi Kinan, dia yang melakukannya." Nanda berusaha membela diri.
"Apa bedanya?! Kalian diam saja tidak menolong atau mencari bantuan!"
"Karena Kinan mengancam kami!" kata Ayu. "Dia akan menyebarkan vidio vulgar kami di sebuah kelab kalau sampai ada orang yang tahu."
"Apa pun alasannya," ujar Ardan dengan suara dinginnya, "Kalian sudah tamat. Kalian bertiga! Enyah dari hadapanku!" Ardan melempar handphone pintar keluaran terbaru itu. Tidak perduli rusak atau tidak.
"Sonya! Urus surat pemecatan mereka bertiga saat ini juga!" Titah Ardan, tidak lagi perduli denga permohonan maaf atau pun penjelasan Nanda dan Ayu.
"Baik Pak!"
Ardan dan Teddy segera keluar ruangan menuju kamar mandi yang ada di lantai tempat Kinan menguncinya. Seorang cleaning service dipanggil untuk mengambil kunci cadangan kamar mandi tersebut.
"Maaf Pak, tapi sebelumnya salah satu staf tadi minta kunci cadangan kamar mandi ini, karena katanya kunci yang sebelumnya tidak ada." jawab si cleaning service itu dengan sangat ketakutan.
"Kurang ajar!" Maki Ardan.
"Biar saya panggil teknisi, Pak." kata Teddy.
"Tidak perlu, terlalu lama." tukas Ardan. "Minggir!" Bentak Ardan pada semua orang yang berkumpul disana karena keributan CEO dan asistennya itu. Semua orang yang tidak tahu apa ya g sedang terjadi pun segera memberikan ruang pada Ardan untuk bergerak bersama Teddy.
"Ted, bantu aku!"
Teddy langsung mengambil posisi di samping Ardan, dalam hitungan ketiga dua pria itu langsung mendobrak pintu itu hanya dengan sekali dobrakan.
BRAK!!
"ELIF!"